Salah satu etika yang berlaku seputar kesehatan dan higienitas adalah “etika batuk”. Batuk adalah satu mekanisme yang dapat melepas kuman/patogen ke lingkungan dari seorang penderita sakit, misalnya saja tuberkulosis. Sedemikian hingga, etika batuk diterapkan untuk melindungi lingkungan akar tetap sehat, dan mencegah penularan penyakit lewat udara.
Jika Anda berkunjung ke pusat-pusat layanan kesehatan seperti Puskesmas atau rumah sakit, saat ini akan sangat mudah menemukan poster-poster terkait dengan etika batuk.
Sejumlah etika yang layak diterapkan saat batuk adalah:
Mengenakan masker, dan ini bersifat sekali pakai. Jangan menggunakan masker bekas atau bolak balik. Masker dibuang saat kotor atau setelah selesai digunakan pada tempat sampah tertutup.
Batuk dengan memalingkan wajah dari lawan bicara. Cukup diingat, jangan batuk ke arah orang lain.
Tutup hidung dan mulut dengan tisu (pilihan utama) atau lengan baju bagian dalam (pilihan terpaksa). Jangan menggunakan tangan untuk menutup hidung dan mulut, karena kuman bisa menempel pada tangan. Jadi selalu ingat untuk membawa tisu ke mana pun saat batuk, dan buang tisu habis pakai ke tempat sampah tertutup.
Cuci tangan dengan air mengalir dan sabun setelah batuk. Ini adalah standar higienitas yang tidak boleh dilalaikan.
Jika Anda merasa bahwa batuk selalu berkelanjutan dan belum membaik walau sudah membeli obat bebas, over the counter drugs, atau bahasa kerennya obat warung. Maka segera periksa ke Puskesmas terdekat.
Dan terakhir tetaplah menjaga kesehatan dengan baik.
Tulisan ini dimuat dalam menyambut hari Tuberkulosis yang jatuh pada tanggal 24 Maret.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan