Stunting adalah istilah yang makin sering terdengar dalam diskusi kesehatan masyarakat Indonesia. Namun di balik kata itu tersimpan kompleksitas yang jauh melampaui gambaran sederhana tentang tubuh anak yang pendek. Tulisan ini memperbarui dan memperluas pemahaman tentang stunting: apa sesungguhnya yang terjadi dalam tubuh anak yang mengalaminya, siapa yang paling rentan, dan mengapa upaya pencegahannya memerlukan lebih dari sekadar pemberian makanan tambahan.
Bukan Sekadar Pendek: Definisi yang Perlu Dipahami Lebih Dalam
Stunting didefinisikan sebagai tinggi badan anak yang lebih rendah dari standar usia, secara teknis ditetapkan ketika height-for-age z-score (HAZ) berada di bawah −2 standar deviasi dari median standar pertumbuhan anak WHO. Namun definisi teknis ini sering kali menutupi hakikat sebenarnya: stunting adalah tanda bahwa seorang anak telah mengalami kekurangan gizi kronis, kemungkinan besar sejak masih berada dalam kandungan.
Berbeda dengan kerdilisme (dwarfism) yang memiliki dasar genetik atau hormonal, stunting adalah kondisi yang sebagian besar dapat dicegah. Ia adalah respons tubuh terhadap paparan lingkungan yang tidak memadai — kekurangan asupan gizi, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi — yang berlangsung dalam jangka waktu panjang. Inilah yang membuat stunting sekaligus menjadi masalah kesehatan, masalah sosial, dan masalah pembangunan manusia.
Gambaran Epidemiologi: Di Mana Posisi Indonesia?
Beban Global
Pada tahun 2024, sebanyak 150,2 juta anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia memiliki tubuh yang terlalu pendek untuk usianya, sebuah angka yang setara dengan hampir empat kali jumlah seluruh penduduk Korea Selatan. Berdasarkan tren yang ada, prevalensi stunting pada anak secara global turun dari 26,4% pada tahun 2012 menjadi 23,2% pada tahun 2024 — namun ini masih jauh dari target pengurangan 40% yang ditetapkan WHO untuk tahun 2025.
Menurut data Global Burden of Disease 2023, stunting pada anak di bawah 5 tahun berkontribusi terhadap 373.000 kematian dan 33 juta disability-adjusted life-years (DALY) yang hilang secara global. Angka ini menempatkan stunting sebagai salah satu faktor risiko terkemuka morbiditas dan mortalitas anak di dunia.
Menyikapi lambatnya kemajuan, pada Sidang Kesehatan Dunia ke-78 pada tahun 2025, negara-negara anggota WHO mengesahkan resolusi untuk memperpanjang target nutrisi global dari tahun 2025 hingga tahun 2030, mempertahankan target pengurangan 40% jumlah anak di bawah 5 tahun yang mengalami stunting.
Situasi Indonesia
Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 21,5% — artinya 1 dari 5 anak balita Indonesia mengalami kekurangan gizi dalam jangka panjang yang berpotensi mengganggu pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif serta motorik, dan memengaruhi kesehatan serta produktivitas mereka saat dewasa.
Kabar baiknya, tren menurun secara konsisten. Prevalensi stunting di Indonesia telah turun sebesar 9,3 poin persentase dalam 5 tahun terakhir, dari 30,8% pada tahun 2018 menjadi 21,5% pada tahun 2023 — rata-rata penurunan 1,86% per tahun. Dengan capaian ini, Indonesia tidak lagi dikategorikan sebagai negara dengan prevalensi stunting sangat tinggi, melainkan masuk ke kategori tinggi mendekati sedang.
Namun angka rata-rata nasional ini menyembunyikan disparitas yang tajam. Lima provinsi masih mencatat prevalensi stunting di atas 30%, yaitu Papua Tengah, Nusa Tenggara Timur dengan prevalensi 37,9%, Papua Pegunungan 37,3%, Papua Barat Daya, dan Sulawesi Barat. Sebaliknya, 9 provinsi telah berada di bawah 20%, termasuk Bali, DI Yogyakarta, DKI Jakarta, dan Jawa Timur.
Pemerintah Indonesia sendiri menetapkan target ambisius prevalensi stunting 14% pada tahun 2024, namun target tersebut tidak tercapai karena prevalensi pada 2023 masih di angka 21,5%, yang hanya turun 0,1% dibandingkan tahun sebelumnya.

Apa yang Terjadi dalam Tubuh Anak yang Stunting?
Jendela 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Stunting sering kali berakar dari kekurangan gizi kronis selama 1.000 hari pertama kehidupan yang kritis — periode dari kehamilan hingga usia dua tahun. Pada periode inilah pertumbuhan otak, tulang, dan organ-organ vital berlangsung paling pesat. Kekurangan gizi pada jendela waktu ini bukan hanya menghambat pertumbuhan fisik, melainkan memengaruhi arsitektur perkembangan seluruh tubuh.
Bukti yang ada menegaskan bahwa laju stunting dan underweight meningkat secara bertahap antara usia 0 hingga 24 bulan, kemudian menstabilkan diri. Hal ini menekankan pentingnya memusatkan intervensi pada 1.000 hari pertama kehidupan.
Mekanisme Biologis
Pada tingkat biologis, stunting melibatkan serangkaian gangguan yang saling terkait. Stunting dikaitkan dengan gangguan pertumbuhan linier, defisit kognitif, dysbiosis usus, gangguan endokrin, anemia, dan peningkatan risiko penyakit kronis di kemudian hari.
Dysbiosis usus — ketidakseimbangan komunitas bakteri dalam saluran cerna — memainkan peran penting yang semakin banyak mendapat perhatian ilmiah. Ketika mukosa usus rusak akibat paparan infeksi berulang dan gizi buruk, kemampuan penyerapan nutrisi terganggu, sehingga bahkan asupan yang tampaknya cukup pun tidak dapat dimanfaatkan secara optimal oleh tubuh.
Pada sumbu endokrin, kekurangan gizi kronis mengganggu sekresi growth hormone dan insulin-like growth factor-1 (IGF-1), dua hormon utama yang mengatur pertumbuhan tulang panjang. Inilah sebabnya stunting tidak dapat “dikejar” hanya dengan menambah asupan kalori semata setelah masa kritis terlewati.
Faktor Risiko: Jaringan Penyebab yang Kompleks
Tidak ada faktor tunggal yang menyebabkan stunting. Ia adalah hasil dari jaringan penyebab yang beroperasi di berbagai tingkatan — dari sel hingga sistem sosial.
Dari Sisi Ibu
Status gizi ibu sebelum dan selama kehamilan sangat menentukan. Berdasarkan analisis data Riskesdas 2018, faktor-faktor yang terbukti memengaruhi risiko stunting antara lain usia, jenis kelamin, berat lahir, panjang lahir, tingkat pendidikan ibu tertinggi, kebiasaan cuci tangan, dan exclusive breastfeeding.
Ibu yang sendirinya mengalami stunting semasa kecil cenderung memiliki kapasitas reproduksi yang terbatas, termasuk risiko lebih tinggi melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (BBLR). Ini menciptakan lingkaran setan antargenerasi yang sulit diputus tanpa intervensi struktural.
Dari Sisi Bayi dan Anak
Beberapa prediktor stunting yang signifikan pada anak di bawah 2 tahun di Indonesia timur meliputi berat lahir rendah (aOR 1,91; 95% CI 1,40–2,60), usia gestasi kurang dari 37 minggu saat lahir (aOR 1,14), dan jenis kelamin laki-laki (aOR 1,29). Anak yang berusia 12–23 bulan memiliki risiko dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lebih muda.
Pola pemberian makan merupakan faktor yang sangat dominan dalam proses terjadinya stunting. Sebuah studi di Ponorogo menemukan bahwa pola pemberian makan yang tidak adekuat secara signifikan meningkatkan risiko stunting, dengan odds ratio 14,54 (95% CI 3,11–67,86).
Faktor Sosial-Ekonomi dan Lingkungan
Kemiskinan rumah tangga (aOR 1,17), ibu berpendidikan rendah (aOR 1,26), dan memiliki tiga atau lebih anak balita dalam satu rumah tangga (aOR 1,32) semuanya dikaitkan dengan peningkatan risiko stunting yang signifikan.
Analisis data SKI 2023 menunjukkan bahwa status imunisasi (aOR 1,34) dan kepemilikan Kartu Perlindungan Sosial (aOR 1,13) secara signifikan berkaitan dengan peningkatan odds stunting — menandakan bahwa penerima program perlindungan sosial masih memiliki risiko stunting yang lebih tinggi, mengisyaratkan program kesejahteraan yang ada perlu diperkuat dan diintegrasikan lebih baik dengan intervensi sensitif nutrisi.
Akses terhadap air bersih dan sanitasi yang layak juga merupakan penentu penting. Infeksi berulang, terutama diare yang sering dikaitkan dengan sanitasi buruk, menjadi salah satu mekanisme utama yang menghubungkan kemiskinan lingkungan dengan gagal tumbuh.
Dampak Jangka Panjang: Warisan yang Melampaui Tubuh
Konsekuensi stunting tidak berhenti ketika anak mencapai usia sekolah. Dampaknya merambat ke seluruh siklus kehidupan.
Pada kecerdasan dan kemampuan belajar: Kekurangan gizi pada periode kritis perkembangan otak meninggalkan jejak struktural dan fungsional yang memengaruhi kapasitas kognitif, kemampuan bahasa, dan prestasi akademik. Anak-anak yang mengalami stunting memiliki risiko lebih besar menghadapi tantangan belajar dan kesulitan sosial.
Pada kesehatan di masa dewasa: Stunting meningkatkan kerentanan terhadap penyakit infeksi. Malnutrisi pada masa kanak-kanak berkontribusi terhadap peningkatan risiko infeksi saluran pernapasan, gangguan fungsi paru, dan peningkatan risiko penyakit pernapasan di masa dewasa termasuk asma dan penyakit paru obstruktif kronik. Selain itu, terdapat paradoks yang perlu diwaspadai: anak yang pernah stunting justru memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas dan penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2 saat dewasa — akibat “reprogramming” metabolisme yang terjadi selama periode kekurangan gizi.
Pada produktivitas ekonomi: Penurunan kapasitas kognitif dan fisik berkontribusi terhadap penurunan produktivitas kerja, yang pada skala makro berdampak pada daya saing ekonomi nasional. Inilah yang menjadikan stunting bukan hanya masalah kesehatan, tetapi juga investasi sumber daya manusia jangka panjang.
Strategi Pencegahan: Pendekatan Multisektoral
Intervensi Spesifik Gizi
Intervensi gizi yang terbukti efektif mencakup pemenuhan kebutuhan nutrisi ibu hamil dan menyusui, praktik inisiasi menyusu dini (IMD) dan pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan, serta pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi, beragam, dan tepat waktu mulai usia 6 bulan.
Cakupan universal intervensi gizi esensial dan paket layanan kesehatan ibu-anak harus menjadi sasaran, mencakup perawatan gizi ibu, praktik pemberian makan bayi dan anak yang tepat, suplementasi besi-asam folat, imunisasi, dan tatalaksana penyakit anak yang adekuat.
Intervensi Sensitif Gizi
Mengatasi stunting membutuhkan strategi multisektoral yang berfokus pada gizi ibu dan anak, pencegahan infeksi, peningkatan praktik WASH (Water, Sanitation, and Hygiene), dan dukungan sosial-ekonomi.
Ini berarti upaya penurunan stunting tidak bisa diserahkan hanya kepada sektor kesehatan. Ketahanan pangan rumah tangga, akses perempuan terhadap pendidikan, cakupan program jaminan sosial, dan perbaikan infrastruktur sanitasi adalah pilar-pilar yang sama pentingnya.
Konteks Indonesia: Stranas dan RPJMN 2025–2029
Indonesia telah merespons tantangan ini dengan Strategi Nasional (Stranas) Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting 2025–2029, yang merupakan kelanjutan upaya yang telah dimulai sejak 2018. Program ini mengintegrasikan intervensi dari berbagai kementerian dan lembaga, dengan Posyandu sebagai ujung tombak pemantauan pertumbuhan di masyarakat.
Untuk mempercepat kemajuan, peningkatan cakupan imunisasi perlu diprioritaskan, didukung edukasi kesehatan berbasis komunitas yang menargetkan ibu dan pengasuh. Perbaikan akses terhadap sumber air yang layak juga perlu mendapat perhatian kebijakan yang lebih besar. Terakhir, peningkatan akses terhadap layanan kesehatan berkualitas di seluruh wilayah, terutama daerah terpencil, sangat penting untuk pencegahan stunting yang efektif dan merata di seluruh Indonesia.
Pemantauan sebagai Kunci: Peran Posyandu dan Tenaga Kesehatan
Surveilans pertumbuhan anak yang berkesinambungan adalah fondasi dari seluruh upaya penanggulangan stunting. Pengukuran tinggi badan dan berat badan secara rutin di Posyandu, disertai pencatatan yang akurat pada buku KIA (Kesehatan Ibu dan Anak), memungkinkan deteksi dini anak-anak yang berisiko atau sudah mengalami perlambatan pertumbuhan.
Tenaga kesehatan dan kader kesehatan memegang peran krusial dalam menerjemahkan data antropometri menjadi tindakan nyata: merujuk ke fasilitas kesehatan, memberikan konseling gizi kepada ibu, dan memastikan anak mendapatkan stimulasi psikososial yang cukup. Berat lahir rendah, yang merupakan salah satu prediktor terkuat stunting, harus menjadi sinyal awal untuk pemantauan intensif sejak bayi lahir.
Penutup
Stunting adalah masalah yang nyata, mendesak, dan dapat dicegah. Indonesia telah membuat kemajuan yang bermakna — penurunan dari 37,2% pada 2013 menjadi 21,5% pada 2023 bukan hal yang sepele. Namun angka 21,5% masih berarti jutaan anak Indonesia yang tidak mendapatkan kesempatan tumbuh secara optimal, dengan konsekuensi yang akan dirasakan sepanjang hidup mereka.
Memahami stunting secara komprehensif — bukan hanya sebagai “anak pendek” tetapi sebagai sindrom gagal tumbuh dengan akar multifaktorial dan dampak lintas generasi — adalah prasyarat untuk tindakan yang lebih efektif. Setiap orang, mulai dari orang tua, kader kesehatan, tenaga medis, hingga pembuat kebijakan, memiliki peran dalam memastikan generasi mendatang Indonesia tumbuh dengan optimal.
Daftar Referensi
Artanti, K. D., Widhiastuti, D. S., Kurnia, D. D., Ersanti, A. M., & Hidayat, T. (2026). The feeding patterns as a dominant factor in the occurrence of stunting in toddlers in Ponorogo. Journal of Nutrition and Metabolism, 2026, 7589972. https://doi.org/10.1155/jnme/7589972
Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI. (2024). Laporan tematik SKI: Stunting balita di Indonesia dan faktor determinan. Kemenkes RI. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/laporan-tematik-ski/
GBD 2023 Child Growth Failure Collaborators. (2026). Quantifying the fatal and non-fatal burden of disease associated with child growth failure, 2000–2023: a systematic analysis from the Global Burden of Disease Study 2023. The Lancet Child & Adolescent Health, 10(1), 22–38. https://doi.org/10.1016/S2352-4642(25)00303-7
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran tata laksana stunting. Kemenkes RI. https://www.kemkes.go.id/id/pnpk-2022—tata-laksana-stunting
Mulyani, A. T., Khairinisa, M. A., Khatib, A., & Chaerunisaa, A. Y. (2025). Understanding stunting: impact, causes, and strategy to accelerate stunting reduction — a narrative review. Nutrients, 17(9). https://doi.org/10.3390/nu17091493
Nadhiroh, S. R., Hasugian, A. R., Putri, A. N. P. A., Loh, S. P., Setyaningtyas, S. W., Jannah, S. Z., & Kelly, M. (2026). Predictive modeling to identify stunting risk in children. Food and Nutrition Bulletin, 47(1), 20–29. https://doi.org/10.1177/03795721251405722
Tharumakunarajah, R., Lee, A., Hawcutt, D. B., Harman, N. L., & Sinha, I. P. (2024). The impact of malnutrition on the developing lung and long-term lung health: a narrative review of global literature. Pulmonary Therapy, 10(2), 155–170. https://doi.org/10.1007/s41030-024-00257-z
Titaley, C. R., Ariawan, I., Iwan, R. F., Tjandrarini, D. H., Nazarina, N., Widodo, Y., & Dibley, M. J. (2025). Stunting in children aged under 2 years living in the eastern part of Indonesia: analysis of the 2010–2018 Indonesia Basic Health Research. British Journal of Nutrition, 135(2), 221–231. https://doi.org/10.1017/S0007114525105771
UNICEF/WHO/World Bank Group. (2025). Levels and trends in child malnutrition: key findings of the 2025 edition. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/9789240112308
Vir, S. C., & Suri, S. (2023). Young child undernutrition: crucial to prioritize nutrition interventions in the first 1000 days of life. Indian Journal of Pediatrics, 90(Suppl 1), 85–94. https://doi.org/10.1007/s12098-023-04732-4
World Health Organization. (2025). Global nutrition targets 2030: stunting brief. WHO. https://www.who.int/publications/i/item/B09383

Tinggalkan Balasan ke Pelaksanaan Teknis Surveilans Gizi – Bhyllabus – l'énigme Batalkan balasan