Diperbarui: Maret 2025
Saat berpraktik, tidak jarang saya bertemu dengan orang tua yang ingin saya “mengesahkan” larangan mereka kepada anak: jangan makan junk food, jangan makan mie instan, jangan minum minuman manis. Pertanyaan mereka sesungguhnya sederhana namun penting: seberapa berbahayakah makanan-makanan ini?
Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan tahun 2019, dan jawabannya kini jauh lebih tegas dari sebelumnya.
Mengenal Makanan Ultra-Proses: Bukan Sekadar “Tidak Segar”
Istilah “makanan olahan” sebenarnya cukup luas. Tahu, tempe, dan keju pun adalah makanan olahan. Karena itu, para peneliti menggunakan sistem klasifikasi yang lebih terstruktur, yang dikenal sebagai Klasifikasi NOVA (NOVA food classification), yang dikembangkan oleh peneliti dari Universitas São Paulo, Brasil.
Klasifikasi NOVA membagi makanan ke dalam empat kelompok berdasarkan tingkat dan tujuan pengolahannya:
- Grup 1 – Makanan segar atau diolah minimal: Buah, sayur, daging, ikan segar, susu murni, telur
- Grup 2 – Bahan kuliner olahan: Minyak, mentega, gula, garam, tepung
- Grup 3 – Makanan olahan: Buah atau sayur kaleng, ikan asin, keju, makanan yang difermentasi
- Grup 4 – Makanan ultra-proses (ultra-processed foods/UPF): Produk yang dibuat melalui proses industri intensif dengan campuran zat aditif yang umumnya tidak digunakan dalam memasak di rumah, seperti pengemulsi (emulsifiers), penstabil, pewarna sintetis, penyedap rasa artifisial, dan pengawet
Yang termasuk dalam kelompok terakhir ini antara lain: minuman berpemanis (sugar-sweetened beverages), minuman berenergi, mie instan, camilan kemasan (chips, biskuit, crackers), sosis dan produk daging olahan (processed meat), roti pabrik, sereal sarapan, makanan beku siap saji, hingga bumbu kemasan.
Ciri khas UPF bukan hanya kandungan gula, garam, dan lemak yang tinggi, tetapi juga daftar bahan yang panjang dan sulit dipahami, rendah serat, serta dirancang sedemikian rupa agar sangat palatable (nikmat) dan mendorong konsumsi berlebihan.
Seberapa Banyak Kita Mengonsumsinya?
Di negara-negara berpendapatan tinggi seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, UPF menyumbang 50–60% total kalori harian masyarakat. Di Indonesia, situasinya tidak kalah mengkhawatirkan. Menurut data Nielsen Retail Audit 2022, penjualan produk makanan ultra-proses seperti mie instan, minuman manis, dan camilan kemasan terus meningkat dengan pertumbuhan tahunan rata-rata 6–8%. Bahkan, berdasarkan studi yang tersedia, hampir 45% dari total kalori yang dikonsumsi masyarakat Indonesia pada tahun 2020 berasal dari makanan ultra-proses.
Sebuah studi kualitatif di Yogyakarta, Indonesia, menunjukkan bahwa meskipun masyarakat perkotaan memiliki kesadaran gizi yang cukup baik, mereka dan anggota keluarganya tetap mengonsumsi UPF secara rutin, didorong oleh pertimbangan ekonomi, kepraktisan, permintaan anggota keluarga lain, serta fungsi sosial. Ini adalah paradoks yang nyata: tahu bahaya, namun sulit mengubah perilaku.
Data BPS 2023 melalui Buletin Konsumsi Pangan Pusdatin Kementan menunjukkan bahwa pengeluaran penduduk Indonesia untuk makanan dan minuman jadi mencapai 32,0% dari total pengeluaran untuk pangan, menjadi proporsi terbesar.
Bukti Ilmiah: Apa yang Sudah Kita Ketahui Sekarang?
Sejak artikel ini pertama ditulis tahun 2019, akumulasi bukti ilmiah meningkat dramatis. Kini tersedia umbrella review (tinjauan atas tinjauan) yang merangkum puluhan meta-analisis dengan jutaan peserta.
Kematian Dini (All-Cause Mortality)
Berdasarkan artikel-artikel yang diambil dari PubMed, sebuah umbrella review yang diterbitkan di BMJ tahun 2024 oleh Lane dan kawan-kawan menganalisis 45 meta-analisis yang melibatkan hampir 10 juta peserta. Hasilnya menunjukkan bukti yang sangat kuat (highly suggestive evidence, kelas II) bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dari semua sebab (risk ratio 1,21, 95% CI 1,15–1,27) dan kematian akibat penyakit jantung (hazard ratio 1,66, 95% CI 1,51–1,84).
Sebuah studi kohort besar dari Harvard yang diterbitkan di BMJ 2024 mengikuti 74.563 perempuan dan 39.501 laki-laki selama median 31–34 tahun. Peserta pada kuartil tertinggi konsumsi UPF memiliki risiko kematian dari semua sebab 4% lebih tinggi dibandingkan kuartil terendah, terutama didorong oleh kematian akibat selain kanker dan kardiovaskular (9% lebih tinggi). Produk daging/unggas/makanan laut siap santap (processed meat) secara konsisten menunjukkan asosiasi paling kuat.
Sebuah umbrella review lain tahun 2024 menggunakan pendekatan GRADE untuk menilai kualitas bukti dan menemukan bukti dengan kepastian moderat bahwa setiap peningkatan 50 gram UPF per hari berkaitan dengan peningkatan risiko kematian dari semua sebab sebesar 2% (Summary Risk Ratio 1,02), dan risiko penyakit kardiovaskular baik insidens maupun kematiannya meningkat sekitar 4–5%.
Penyakit Kardiovaskular
Sebuah studi prospektif pada 60.298 peserta dari UK Biobank menemukan bahwa konsumsi UPF yang lebih tinggi berkaitan secara signifikan dengan risiko penyakit kardiovaskular (hazard ratio 1,17), penyakit jantung koroner (HR 1,16), penyakit serebrovaskular (HR 1,30), dan kematian dari semua sebab (HR 1,22). Hubungan ini bersifat monoton sesuai dosis.
Kanker
Meta-analisis yang diterbitkan di Clinical Nutrition tahun 2023 merangkum 11 penelitian dengan temuan bahwa setiap peningkatan 10% proporsi UPF dalam diet berkaitan dengan peningkatan risiko kanker secara keseluruhan (hazard ratio 1,13), kanker payudara (HR 1,11), kanker kolorektal (odds ratio 1,30), dan kanker pankreas (HR 1,49).
Meta-analisis khusus kanker gastrointestinal yang diterbitkan di American Journal of Gastroenterology tahun 2024 juga menemukan bahwa konsumsi UPF tertinggi dibandingkan terendah berkaitan dengan peningkatan risiko kanker kolorektal (HR 1,11), kanker kolon (HR 1,12), dan kanker lambung non-kardia (HR 1,43).
Studi multinasional dari kohort EPIC yang melibatkan 266.666 peserta dari tujuh negara Eropa menemukan bahwa setiap peningkatan satu standar deviasi dalam konsumsi UPF (~260 gram/hari) berkaitan dengan peningkatan risiko multimorbiditas (komplikasi bersamaan kanker dan penyakit kardiometabolik) sebesar 9%. Produk berbasis hewani dan minuman berpemanis menunjukkan asosiasi paling menonjol.
Obesitas, Resistensi Insulin, dan Perlemakan Hati
Hubungan antara UPF dan obesitas kini didukung oleh bukti kausal langsung. Sebuah randomized controlled trial (RCT) oleh Hall dan kawan-kawan (2019) menunjukkan bahwa peserta yang mendapat diet UPF mengonsumsi rata-rata 500 kkal lebih banyak per hari dan mengalami kenaikan berat badan rata-rata 0,9 kg dalam dua minggu saja, bahkan meskipun kandungan energi yang disediakan secara teoritis sama—fenomena yang diduga terjadi karena tekstur lunak, rendah serat, dan kehadiran aditif yang mengganggu sinyal kenyang (satiety signals).
Meta-analisis yang diterbitkan di Nutrients tahun 2023 menemukan bahwa konsumsi UPF tinggi (dibanding rendah) secara signifikan meningkatkan risiko non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD/perlemakan hati non-alkoholik) sebesar 1,42 kali dengan efek dosis-respons yang jelas. Ini relevan untuk Indonesia mengingat prevalensi NAFLD dan sindrom metabolik yang terus meningkat.
Dengan kepastian moderat, konsumsi UPF juga berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 2 sebesar 12% per peningkatan 10% energi dari UPF.
Kesehatan Mental: Temuan yang Mengejutkan
Inilah dimensi yang belum banyak diketahui masyarakat umum. Umbrella review Lane dan kawan-kawan (2024) menemukan bukti yang meyakinkan (convincing evidence, kelas I) bahwa konsumsi UPF berkaitan dengan risiko gangguan kecemasan (anxiety) yang lebih tinggi (odds ratio 1,48, 95% CI 1,37–1,59) dan gangguan mental umum yang lebih tinggi (OR 1,53). Bukti kelas II juga menyatakan asosiasi kuat dengan hasil depresi (HR 1,22) dan gangguan tidur (OR 1,41).
Sebuah meta-analisis yang melibatkan 260.385 peserta dari 12 negara menemukan bahwa konsumsi UPF berkaitan dengan peningkatan risiko depresi (risk ratio 1,28), dengan hubungan dosis-respons yang linier: setiap peningkatan 10% konsumsi UPF berkaitan dengan 11% risiko depresi yang lebih tinggi.
Meta-analisis lain yang diterbitkan di BMC Psychiatry tahun 2024 menganalisis 17 studi dengan 159.885 peserta dan menemukan bahwa konsumsi junk food meningkatkan kemungkinan mengalami stres dan depresi (OR 1,15) dan berkaitan dengan 16% peningkatan risiko mengembangkan masalah kesehatan mental secara keseluruhan.
Bagaimana Mekanismenya?
Mengapa UPF bisa mempengaruhi begitu banyak aspek kesehatan? Jawabannya terletak pada beberapa jalur mekanistik yang saling berkaitan.
Gangguan Mikrobioma Usus
Tinjauan terbaru tahun 2025 yang diterbitkan di Nutrients menjelaskan bahwa UPF dengan kandungan tinggi aditif sintetis dan rendah serat berkaitan dengan penurunan keragaman bakteri usus (microbial diversity), penurunan kadar bakteri menguntungkan seperti Lactobacillus dan Bifidobacterium, serta peningkatan mikroorganisme pro-inflamasi. Perubahan ini berkontribusi pada peradangan (inflammation) persisten yang berkaitan dengan berbagai penyakit kronis, termasuk sindrom metabolik, sindrom iritasi usus, diabetes tipe 2, dan kanker kolorektal.
Peradangan Sistemik Kronik
Bahan aditif seperti pengemulsi (emulsifiers), pemanis buatan, dan pewarna sintetis dapat merusak lapisan mukosa (intestinal mucosal barrier), meningkatkan permeabilitas usus (gut permeability), dan memungkinkan masuknya endotoksin bakteri ke dalam sirkulasi sistemik—memicu respons inflamasi yang kronik dan luas.
Hiperkonsumsi Energi dan Penekanan Sinyal Kenyang
Kombinasi gula-lemak-garam serta tekstur yang dirancang untuk memaksimalkan kenikmatan (hyper-palatability) secara aktif mengganggu hormon pengatur nafsu makan seperti leptin dan ghrelin, sehingga rasa kenyang tertunda dan kalori yang masuk melampaui kebutuhan tanpa disadari.
Paparan Kontaminan dari Kemasan dan Proses Produksi
Proses produksi intensif dan kemasan plastik mengandung berbagai bahan kimia seperti bisphenol A (BPA), ftalat, dan acrylamide yang dapat bersifat sebagai endocrine disruptors (pengganggu hormon) dan berpotensi karsinogenik.
Konteks Indonesia: Tantangan Nyata di Depan Mata
Survei Riskesdas 2018 mencatat 21,8% orang dewasa Indonesia mengalami obesitas, dan prevalensi ini meningkat menjadi 23,4% pada SKI 2023. Dalam satu dekade, hampir satu dari empat orang dewasa Indonesia kini mengalami obesitas—dan ini belum menghitung yang overweight.
Faktor-faktor risiko terkait pola makan kini menjadi penyumbang terbesar ketiga terhadap kematian dan disabilitas di Indonesia. Lebih dari separuh kematian akibat penyakit jantung dapat dikaitkan dengan kebiasaan makan tidak sehat, sementara hampir sepertiga kematian akibat stroke dan hampir seperlima kematian akibat diabetes.
Dari sisi pembiayaan, data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa total pembiayaan kasus diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit penyerta selama 2014–2023 mencapai Rp174,1 triliun—sebuah angka yang mencerminkan beban ekonomi yang luar biasa dari penyakit tidak menular (PTM) yang sebagian besar dapat dicegah melalui pola makan.
Angka obesitas pada remaja pun tidak lebih baik: hampir satu dari lima remaja Indonesia kini mengalami kelebihan berat badan.
Respons Kebijakan
Pemerintah Indonesia mulai bergerak lebih tegas dalam merespons kondisi ini.
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Pelaksanaan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, yang disahkan pada 26 Juli 2024, mengatur batas maksimum kandungan gula, garam, dan lemak (GGL) dalam pangan olahan. PP ini mewajibkan pencantuman label GGL pada kemasan dan melarang iklan serta promosi bagi produk yang melampaui batas maksimum kandungan GGL.
PP No. 28/2024 juga mewajibkan pencantuman label pada bagian depan kemasan pangan (front-of-pack labeling), pelabelan menu untuk pangan siap saji, dan reformulasi produk untuk mengurangi kadar GGL. Peraturan ini juga membatasi pemasaran pangan tidak sehat dan membuka peluang penerapan cukai atas produk-produk tersebut.
Di tingkat teknis, Peraturan BPOM No. 6 Tahun 2024 tentang Label Pangan Olahan merupakan perubahan kedua atas PerBPOM No. 31 Tahun 2018, yang terus diperbarui untuk mengikuti perkembangan standar internasional.
Meski langkah ini merupakan kemajuan yang berarti, implementasinya di lapangan masih membutuhkan waktu, pengawasan yang konsisten, dan edukasi masyarakat yang berkelanjutan.
Yang Perlu Diluruskan: Tidak Semua Makanan “Olahan” Sama
Penting untuk tidak terjebak dalam generalisasi berlebihan. Tahu, tempe, yogurt, keju, ikan asin, dan makanan fermentasi tradisional seperti bekasam atau asinan adalah makanan olahan (Grup 3 NOVA), tetapi tidak masuk kategori UPF. Bahkan beberapa makanan dalam Grup 3 memiliki manfaat kesehatan yang terdokumentasi dengan baik.
Yang menjadi perhatian utama adalah Grup 4—produk yang dirancang oleh industri pangan dengan dominasi bahan aditif, rendah nilai gizi asli, dan tinggi kalori “kosong.”
Demikian pula, tidak semua subkategori UPF memiliki risiko yang sama. Studi Harvard menemukan bahwa produk daging/unggas olahan siap santap (processed meat) menunjukkan asosiasi paling konsisten dan kuat dengan mortalitas. Minuman berpemanis dan minuman berpemanis buatan juga berkaitan dengan kematian dari semua sebab (HR 1,09). Sementara itu, roti ultra-proses dan sereal tidak menunjukkan asosiasi yang kuat dalam beberapa studi.
Bagaimana Bersikap Secara Praktis?
Berdasarkan keseluruhan bukti ilmiah yang tersedia, berikut pendekatan yang dapat dipertimbangkan:
Fokus pada pola, bukan pantangan total. Mengonsumsi mie instan sesekali bagi seseorang yang secara keseluruhan memiliki pola makan baik berbeda dampaknya dengan mengonsumsinya setiap hari sebagai makanan utama.
Prioritaskan Grup 1 dan 3 NOVA. Perbanyak makanan segar atau diolah minimal: buah, sayur, biji-bijian utuh, kacang-kacangan, ikan segar, tempe, dan tahu. Pola makan Nusantara yang kaya serat dan bahan lokal segar sesungguhnya sudah mendekati ideal.
Kurangi, bukan eliminasi total. Untuk sebagian besar orang, target realistis adalah mengurangi frekuensi dan porsi UPF—terutama minuman berpemanis, camilan kemasan, dan produk daging olahan—bukan pantang mutlak.
Baca label produk. Semakin panjang daftar bahan dengan nama yang sulit dikenali, semakin besar kemungkinan produk tersebut adalah UPF. Perhatikan kandungan gula, garam, dan lemak jenuh per sajian.
Untuk anak-anak, ekstra perhatian. Penelitian di Indonesia menunjukkan bahwa anak yang mengonsumsi UPF ≥4 kali per minggu memiliki risiko obesitas 3,2 kali lebih tinggi. Kebiasaan makan yang terbentuk sejak dini sangat sulit diubah di kemudian hari.
Untuk pasien dengan PTM. Pada pasien hipertensi, diabetes, penyakit jantung, atau gangguan hati berlemak, pengurangan konsumsi UPF—khususnya minuman berpemanis dan produk daging olahan—merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari tata laksana gaya hidup.
Keterbatasan Bukti yang Perlu Diakui
Meski bukti-buktinya cukup kuat, perlu diakui beberapa keterbatasan metodologis yang masih menjadi perdebatan ilmiah. Sebagian besar penelitian bersifat observasional, sehingga sulit membuktikan hubungan kausal secara definitif. Selalu ada kemungkinan bahwa konsumsi UPF yang tinggi sekadar mencerminkan pola gaya hidup yang lebih tidak sehat secara keseluruhan (confounding).
Selain itu, klasifikasi NOVA sendiri masih memiliki zona abu-abu—beberapa makanan tradisional yang diproses secara artisanal bisa masuk kategori UPF menurut kriteria bahan, padahal mungkin tidak memiliki profil risiko yang sama dengan produk industri skala besar.
Namun, dengan sekitar 10 juta peserta dalam meta-analisis yang tersedia, konsistensi asosiasi lintas populasi, dan mulai adanya bukti mekanistik yang mendukung, konsensus ilmiah kini jelas bergerak ke arah yang sama: konsumsi UPF yang tinggi meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan yang serius.
Penutup
Enam tahun sejak artikel ini pertama ditulis, sains tidak lagi berbicara dengan nada ragu-ragu. Bukti dari puluhan juta orang di berbagai belahan dunia kini secara konsisten menunjukkan bahwa UPF berkaitan dengan kematian dini, penyakit jantung, kanker, diabetes, perlemakan hati, depresi, kecemasan, gangguan tidur, dan obesitas.
Di Indonesia, tren konsumsi yang meningkat pesat, beban PTM yang membengkak, serta kerentanan populasi muda menjadikan isu ini bukan lagi sekadar urusan pilihan pribadi, melainkan tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan respons kolektif.
Kabar baiknya: pola makan tradisional Indonesia yang kaya sayur, tempe, tahu, ikan, dan rempah adalah modal gizi yang sangat baik. Masalahnya adalah erosi bertahap yang terjadi ketika kepraktisan dan harga murah UPF menggantikan makanan segar di meja makan sehari-hari.
Pilihan ada di tangan kita—dengan lebih banyak pengetahuan sekarang untuk membuat pilihan yang lebih baik.
Artikel ini bersifat informatif dan edukatif, bukan pengganti konsultasi medis. Selalu diskusikan kondisi kesehatan Anda dengan tenaga kesehatan yang berkompeten.
Daftar Referensi
Barbaresko, J., Bröder, J., Conrad, J., Szczerba, E., Lang, A., & Schlesinger, S. (2024). Ultra-processed food consumption and human health: An umbrella review of systematic reviews with meta-analyses. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 65(11), 1999–2007. https://doi.org/10.1080/10408398.2024.2317877
Badan Pusat Statistik. (2024). Buletin Konsumsi Pangan Vol. 15 No. 1 Tahun 2024. Pusat Data dan Informasi Pertanian, Kementan RI.
Chen, X., Chu, J., Hu, W., Sun, N., He, Q., Liu, S., … Shen, Y. (2022). Associations of ultra-processed food consumption with cardiovascular disease and all-cause mortality: UK Biobank. European Journal of Public Health, 32(5), 779–785. https://doi.org/10.1093/eurpub/ckac104
Christensen, C., Knudsen, A., Arnesen, E. K., Hatlebakk, J. G., Sletten, I. S., & Fadnes, L. T. (2024). Diet, food, and nutritional exposures and inflammatory bowel disease or progression of disease: An umbrella review. Advances in Nutrition, 15(5), 100219. https://doi.org/10.1016/j.advnut.2024.100219
Colozza, D. (2022). A qualitative exploration of ultra-processed foods consumption and eating out behaviours in an Indonesian urban food environment. Nutrition and Health, 30(3), 613–623. https://doi.org/10.1177/02601060221133897
Cordova, R., Viallon, V., Fontvieille, E., Peruchet-Noray, L., Jansana, A., Wagner, K.-H., … Freisling, H. (2023). Consumption of ultra-processed foods and risk of multimorbidity of cancer and cardiometabolic diseases: A multinational cohort study. The Lancet Regional Health – Europe, 35, 100771. https://doi.org/10.1016/j.lanepe.2023.100771
Du, Y., Zhang, S., Schjølberg, J. S., Hadden, D., Smith, J. G., Qi, L., Sonestedt, E., & Borné, Y. (2024). Ultra-processed food consumption, plasma metabolite profile, and risk of all-cause and cause-specific mortality in a population-based cohort. Clinical Nutrition, 43(12), 184–193. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2024.10.023
Ejtahed, H.-S., Mardi, P., Hejrani, B., Mahdavi, F. S., Ghoreshi, B., Gohari, K., … Qorbani, M. (2024). Association between junk food consumption and mental health problems in adults: A systematic review and meta-analysis. BMC Psychiatry, 24(1), 438. https://doi.org/10.1186/s12888-024-05889-8
Fang, Z., Rossato, S. L., Hang, D., Khandpur, N., Wang, K., Lo, C.-H., … Song, M. (2024). Association of ultra-processed food consumption with all cause and cause specific mortality: Population based cohort study. BMJ, 385, e078476. https://doi.org/10.1136/bmj-2023-078476
Grinshpan, L. S., Eilat-Adar, S., Ivancovsky-Wajcman, D., Kariv, R., Gillon-Keren, M., & Zelber-Sagi, S. (2024). Ultra-processed food consumption and non-alcoholic fatty liver disease, metabolic syndrome and insulin resistance: A systematic review. JHEP Reports, 6(1), 100964. https://doi.org/10.1016/j.jhepr.2023.100964
Henney, A. E., Gillespie, C. S., Alam, U., Hydes, T. J., & Cuthbertson, D. J. (2023). Ultra-processed food intake is associated with non-alcoholic fatty liver disease in adults: A systematic review and meta-analysis. Nutrients, 15(10). https://doi.org/10.3390/nu15102266
Isaksen, I. M., & Dankel, S. N. (2023). Ultra-processed food consumption and cancer risk: A systematic review and meta-analysis. Clinical Nutrition, 42(6), 919–928. https://doi.org/10.1016/j.clnu.2023.03.018
Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI.
Lane, M. M., Gamage, E., Du, S., Ashtree, D. N., McGuinness, A. J., Gauci, S., … Marx, W. (2024). Ultra-processed food exposure and adverse health outcomes: Umbrella review of epidemiological meta-analyses. BMJ, 384, e077310. https://doi.org/10.1136/bmj-2023-077310
Mazloomi, S. N., Talebi, S., Mehrabani, S., Bagheri, R., Ghavami, A., Zarpoosh, M., … Moradi, S. (2022). The association of ultra-processed food consumption with adult mental health disorders: A systematic review and dose-response meta-analysis of 260,385 participants. Nutritional Neuroscience, 26(10), 913–931. https://doi.org/10.1080/1028415X.2022.2110188
Meine, G. C., Picon, R. V., Espírito Santo, P. A., & Sander, G. B. (2024). Ultra-processed food consumption and gastrointestinal cancer risk: A systematic review and meta-analysis. The American Journal of Gastroenterology, 119(6), 1056–1065. https://doi.org/10.14309/ajg.0000000000002826
Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan Nomor 6 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan BPOM Nomor 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan. Badan POM RI.
Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Sekretariat Kabinet RI.
Rondinella, D., Raoul, P. C., Valeriani, E., Venturini, I., Cintoni, M., Severino, A., … Ianiro, G. (2025). The detrimental impact of ultra-processed foods on the human gut microbiome and gut barrier. Nutrients, 17(5). https://doi.org/10.3390/nu17050859
World Health Organization Indonesia. (2026, January 27). Indonesia mengembangkan regulasi baru untuk mengatasi konsumsi makanan tidak sehat. https://www.who.int/indonesia/id/news/detail/27-01-2026-indonesia-develops-new-regulations-to-tackle-unhealthy-food-consumption
Zhang, Y., & Giovannucci, E. L. (2022). Ultra-processed foods and health: A comprehensive review. Critical Reviews in Food Science and Nutrition, 63(31), 10836–10848. https://doi.org/10.1080/10408398.2022.2084359

Tinggalkan Balasan ke Berapa Ukuran Tekanan Darah yang Normal? – Bhyllabus – l'énigme Batalkan balasan