Musim kampanye bagi saya adalah musim yang baik untuk berlibur dari media sosial. Saya ingat di musim kampanye tahun 2014, saya membisukan banyak pembaruan lini masa dari jejaring di sekitar saya, dan mereka masih bisa hingga saat ini – saya tak akan pernah mendengar mereka bercuap apa.
Musim kampanye itu panas kawan! Lebih panas dari kopi yang baru diseduh dan tumpah di atas celanamu.
Orang saat ini sibuk, seperti orang macam saya, tidak punya waktu untuk sering mengakses media sosial, apalagi waktu lebih untuk melakukan penulusuran kabar yang malang melintang, mana yang palsu mana yang aspalan.
Saya yakin mereka yang “gemar” menyebar berita palsu (hoax) juga sebagian besar orang-orang sibuk macam saya. Tapi mereka punya sedikit waktu untuk menyebar berita palsu, yang kemudian jadi pelampiasan mereka jika ada yang mengajak mereka berdebat karena cuapan mereka sendiri.
Debat tak akan pergi ke mana…
It will not got anywhere!
Ketika dua orang yang sama-sama tidak tahu kebenaran, hanya percaya bahwa yang mereka tahu itu adalah benar, berhadapan hanya melalui kata-kata di layar gawai cerdas masing-masing, maka mereka tidak akan pergi ke mana-mana kecuali berpusaran di sekitar kebodohannya sendiri.
Banyak yang menyukai kegiatan ini seperti ini, sayangnya, saya mungkin bukan salah satu di antaranya.
Mengapa tidak kita gunakan waktu di media sosial untuk sesuatu yang manis?
Sesuatu yang manis?
Saya hanya cukup berkata bahwa saya tidak tahu, maka saya akan dengan tersendirinya tersingkir dan menjadi penikmat dari sabung kedunguan yang dipertontonkan sebagai kehebatan dari dua pihak yang berlomba untuk mendapatkan sebongkah arum manisnya dunia maya.
Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan