Ilustrasi fiktif. Pak Darto (46), buruh bangunan di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, baru saja dinyatakan menderita TBC paru setelah tes cepat molekuler (TCM) dahaknya positif. Ia mulai minum obat dan merasa lega. Namun di rumah petak yang sempit itu tinggal pula istrinya, ibunya yang berusia 70 tahun, dan dua anak, termasuk si bungsu yang baru tiga tahun. Tak seorang pun batuk. Apakah tugas puskesmas sudah selesai?
Belum. Kuman Mycobacterium tuberculosis sangat mungkin sudah berpindah ke satu atau lebih anggota keluarga itu secara diam-diam. Di sinilah Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) berperan: memberikan obat kepada orang yang terpapar sebelum infeksi berubah menjadi penyakit.
Infeksi yang diam, risiko yang nyata
WHO memperkirakan sekitar seperempat penduduk dunia pernah terinfeksi kuman TBC, dan sekitar 5–10% di antaranya akan jatuh sakit pada suatu saat dalam hidupnya (WHO, 2024a). Risiko itu tidak merata. Dalam tinjauan sistematis dengan data individual dari 46 kohort di 34 negara, anak berusia di bawah lima tahun yang terinfeksi dan tidak mendapat TPT memiliki kejadian TBC kumulatif dua tahun sebesar 19,0%. Sekitar 83% balita yang akhirnya sakit sudah terdiagnosis dalam 90 hari sejak kunjungan awal (Martinez et al., 2020).
Pesannya jelas: waktu sangat menentukan. Menunda kunjungan ke rumah pasien berarti mempersempit jendela perlindungan bagi anak-anak. Di sisi lain, TPT terbukti bermanfaat. Pada seluruh anak yang terpapar, TPT dikaitkan dengan penurunan risiko TBC sebesar 63%, dan sebesar 91% pada anak dengan hasil uji infeksi positif (Martinez et al., 2020). Angka ini berasal dari analisis data observasional, sehingga perlu dibaca sebagai perkiraan, bukan hasil uji acak.
Dunia melaju, Indonesia masih mengejar
Laporan TBC Global WHO 2025 mencatat 5,3 juta orang berisiko tinggi memulai TPT pada 2024: 3,5 juta kontak dekat pasien TBC dan 1,8 juta orang dengan HIV (ODHIV). Jumlah kontak serumah yang menerima TPT melonjak dari 0,76 juta pada 2021 menjadi 3,5 juta pada 2024. Meski demikian, cakupannya baru 25% pada kontak serumah dan 58% pada ODHIV, padahal target Pertemuan Tingkat Tinggi PBB 2023 adalah 90% pada 2027 (WHO, 2025).
Bagaimana dengan Indonesia? Dengan perkiraan sekitar 1,08 juta kasus dan 126 ribu kematian, Indonesia menyumbang sekitar 10% beban TBC dunia dan menempati peringkat kedua setelah India (Misrohatun, 2026). Cakupan TPT pada kontak serumah per 26 Juli 2026 tercatat 10,6%. Angka ini lebih baik daripada 1,9% pada 2022 menurut profil WHO, tetapi masih jauh dari target 72% yang ditetapkan untuk 2025 (Kementerian Kesehatan RI, 2025; Misrohatun, 2026; WHO, 2023).
| Indikator | Dunia | Indonesia |
|---|---|---|
| Orang yang memulai TPT (2024) | 5,3 juta (3,5 juta kontak; 1,8 juta ODHIV) | Data nasional lengkap belum dipublikasikan dalam sumber yang dirujuk |
| Cakupan TPT kontak serumah | 25% (2024) | 1,9% (2022); 10,6% (per 26 Juli 2026) |
| Cakupan TPT pada ODHIV | 58% (2024) | 9,5% pada ODHIV yang baru masuk perawatan (2022) |
| Target | 90% pada 2027 | 72% kontak serumah (target 2025) |
Apa kata bukti tentang pilihan regimen?
Selama puluhan tahun, TPT identik dengan isoniazid harian selama enam hingga sembilan bulan, regimen yang efektif tetapi melelahkan. Dalam uji PREVENT TB, tiga bulan rifapentin plus isoniazid mingguan (3HP) sama efektifnya dengan sembilan bulan isoniazid: TBC muncul pada 0,19% vs 0,43% peserta, penyelesaian terapi 82,1% vs 69,0%, dan hepatotoksisitas 0,4% vs 2,7% (Sterling et al., 2011). Regimen yang lebih singkat lagi, satu bulan rifapentin plus isoniazid harian (1HP), tidak kalah dari sembilan bulan isoniazid pada ODHIV dengan insidens 0,65 vs 0,67 per 100 orang-tahun, serta penyelesaian terapi 97% vs 90% (Swindells et al., 2019).
Lalu, mana yang lebih baik: 1HP atau 3HP? Uji Ultra-Curto di Brasil pada 500 orang dewasa dan remaja tanpa HIV menemukan penyelesaian terapi 89,6% pada 1HP dan 84,1% pada 3HP (perbedaan tidak bermakna), dengan kejadian simpang yang lebih sering pada 1HP, sebagian besar ringan. Uji ini tidak dirancang untuk menilai efikasi (Durovni et al., 2026). Kesimpulannya, keduanya layak dipilih, dan pilihan terbaik bergantung pada kondisi pasien serta ketersediaan obat.
Untuk kontak pasien TBC resistan rifampisin atau multiresisten obat (TBC RR/MDR), WHO pada 2024 menambahkan rekomendasi kuat levofloksasin enam bulan (6Lfx). Uji VQUIN di Vietnam saja tidak mencapai kemaknaan statistik (rasio laju insidens 0,55; IK 95% 0,19–1,62) (Fox et al., 2024). Namun, meta-analisis gabungan VQUIN dan TB-CHAMP menunjukkan penurunan insidens TBC sebesar 60% (8 vs 21 kasus), dengan lebih banyak keluhan otot dan sendi pada kelompok levofloksasin, tetapi tidak pada anak di bawah 10 tahun (Duong et al., 2024). Indonesia termasuk dalam 49 negara yang telah memakai regimen ini pada 2024 (WHO, 2025). Uji untuk kasus pre-extensively drug-resistant (pre-XDR), yakni PHOENIx dan BRANCH-TB, masih berjalan (Matteelli et al., 2025).
| Regimen | Komposisi dan lama | Catatan |
|---|---|---|
| 6H / 9H | Isoniazid harian, 6 atau 9 bulan | Paling lama dipakai; tetap penting bila rifamisin tidak dapat digunakan |
| 3HR | Isoniazid + rifampisin harian, 3 bulan | Alternatif setara 6H; direkomendasikan WHO sejak 2018 |
| 4R | Rifampisin harian, 4 bulan | Alternatif tanpa isoniazid |
| 3HP | Isoniazid + rifapentin mingguan, 3 bulan (12 dosis) | Direkomendasikan WHO sejak 2018; penyelesaian terapi lebih baik daripada 9H |
| 1HP | Isoniazid + rifapentin harian, 1 bulan (28 dosis) | Direkomendasikan WHO sejak 2020; dipilih bila durasi singkat diutamakan |
| 6Lfx | Levofloksasin harian, 6 bulan | Khusus kontak pasien TBC RR/MDR (rekomendasi 2024) |
Pedoman WHO edisi kedua (2024) memuat 21 rekomendasi yang mencakup seluruh rantai layanan, dari penentuan kelompok berisiko hingga pemilihan regimen, dan menegaskan bahwa regimen pendek lebih diutamakan daripada isoniazid saja (WHO, 2024a, 2024b). Pemilihan regimen di lapangan tetap mempertimbangkan usia, kehamilan, status HIV dan obat antiretroviral yang dipakai, interaksi obat, serta stok di fasilitas kesehatan.
Dari rumah pasien ke tablet pertama
WHO menyebut rangkaian ini sebagai cascade of care atau kaskade layanan pencegahan: kontak diidentifikasi, diskrining, lalu mulai dan menyelesaikan TPT. Celah terbesar justru ada di tengah. Secara global pada 2024, dari perkiraan 14 juta kontak serumah, 11 juta tercatat, 9,3 juta dievaluasi, dan 3,5 juta memulai TPT. Pada kontak balita, hanya 0,65 juta dari sekitar 1,7 juta yang memenuhi syarat yang memulai TPT (WHO, 2025). Kabar baiknya, bagi yang sudah memulai, median penyelesaian terapi mencapai 89% (WHO, 2025).
Surat Edaran Kemenkes HK.02.02/C/348/2025 menetapkan beberapa hal yang relevan bagi fasilitas kesehatan di seluruh Indonesia (Kementerian Kesehatan RI, 2025):
- Investigasi kontak wajib dilakukan pada setiap kasus indeks yang ditemukan di fasilitas kesehatan, dan terintegrasi dengan pemberian TPT.
- Pelaksananya bisa petugas kesehatan, kader, dan komunitas, dengan pembagian tugas yang diatur dinas kesehatan kabupaten/kota.
- Kontak serumah pasien TBC terkonfirmasi bakteriologis yang tidak sakit TBC dapat langsung diberi TPT tanpa pemeriksaan tuberkulin, interferon-gamma release assay (IGRA), atau tes kulit berbasis antigen (TBST).
- TPT diberikan dengan obat atau regimen yang tersedia di fasilitas kesehatan.
- Skrining, penemuan kasus, dan pengobatan wajib dicatat di SITB/SATUSEHAT paling lambat tujuh hari setelah kegiatan.
Mengapa cakupan masih rendah, dan apa yang bisa dilakukan?
Perwakilan Kemenkes menduga rendahnya cakupan TPT dipengaruhi stigma yang masih kuat serta pertanyaan dari tenaga kesehatan maupun kelompok berisiko tentang alasan memberi obat kepada orang yang belum sakit (Misrohatun, 2026). Hambatan seperti itu dapat ditemui dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur, dan jawabannya hampir selalu bersifat kombinasi:
- Yakinkan tenaga kesehatan. Bukti di atas dapat dijelaskan dalam satu kalimat: obat diberikan kepada orang yang kemungkinan besar sudah terpapar, dalam waktu singkat, untuk mencegah penyakit yang lebih berat dan lebih lama diobati.
- Datangi, jangan menunggu. Kunjungan rumah oleh petugas atau kader mempersingkat jarak antara diagnosis kasus indeks dan tablet pertama bagi anak.
- Pilih regimen yang mudah diselesaikan. Regimen pendek meningkatkan penyelesaian terapi (Sterling et al., 2011; Swindells et al., 2019).
- Antisipasi efek samping. Edukasi keluarga tentang gejala yang perlu dilaporkan, misalnya mual hebat, muntah, nyeri perut, urin gelap, atau mata menguning. Pada levofloksasin, waspadai keluhan otot dan sendi pada dewasa (Duong et al., 2024).
- Lawan stigma bersama komunitas. Program Desa dan Kelurahan Siaga TBC sejak 2025 dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran, mempercepat penemuan kasus, dan mengurangi stigma (Misrohatun, 2026).
- Jangan lupakan gizi. WHO mencatat bantuan pangan bagi kontak serumah di wilayah rawan pangan sebagai bagian dari upaya pencegahan (WHO, 2025). Untuk anak dalam pengobatan, lihat pembahasan gizi anak dengan TBC.
Penutup
Kembali ke Pak Darto. Pada kunjungan rumah, kader menemukan bahwa si bungsu dan ibunya perlu diperiksa lebih lanjut, sedangkan istri serta anak yang lebih besar bebas gejala dan layak mendapat TPT. Tidak ada keajaiban di sini, hanya rantai layanan yang berjalan: kasus ditemukan, kontak didatangi, obat sampai ke tangan yang tepat, dan keluarga didampingi sampai selesai. Eliminasi TBC 2030 tidak akan tercapai hanya dengan mengobati yang sudah sakit; ia juga membutuhkan keberanian untuk melindungi yang belum sakit.
Catatan Transparansi
- Artikel ini adalah pembaruan menyeluruh atas versi 4 Juli 2024. Angka tahun 2020–2021 dan sejumlah rujukan lama (termasuk dokumen yang tidak membahas TPT) telah diganti dengan sumber primer terbaru.
- Angka beban TBC dan cakupan TPT Indonesia tahun 2026 berasal dari pernyataan staf Kemenkes yang dikutip media (IDN Times, 4 Agustus 2026), bukan dari dokumen resmi yang dipublikasikan. Narasumber tersebut menyebut target TPT 80%, sedangkan Surat Edaran 2025 menyebut 72%; perbedaan ini mungkin mencerminkan tahun target yang berbeda dan perlu dikonfirmasi pada dokumen resmi terbaru. Angka 1,9% (2022) dan 10,6% (2026) tidak sepenuhnya sebanding.
- Angka efektivitas TPT pada anak (63% dan 91%) berasal dari analisis data observasional. Rekomendasi WHO untuk levofloksasin bertumpu pada meta-analisis gabungan; uji VQUIN sendiri tidak bermakna secara statistik. Uji Ultra-Curto bukan uji efikasi.
- Dosis dan ketersediaan regimen (misalnya 3HP dan 1HP) di fasilitas kesehatan Indonesia tidak diulas rinci karena dapat berbeda antardaerah dan mengikuti petunjuk teknis nasional yang berlaku. Dalam laporan WHO 2025, Indonesia dikelompokkan dalam Wilayah Pasifik Barat WHO sesuai keputusan Majelis Kesehatan Dunia ke-78.
- Kisah Pak Darto adalah ilustrasi fiktif. Gambar unggulan dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pertimbangan klinis dokter.
Baca juga
- Era Baru Eliminasi TBC: Bedah Tuntas Petunjuk Teknis Penatalaksanaan Tuberkulosis Sensitif Obat 2025
- Ketika Anak-Anak Bersembunyi dari Bayang-Bayang TBC
- GIATKAN: Gerakan Indonesia Akhiri TBC 2025
- Bagaimana Proses Manajemen Tuberkulosis (TBC) Secara Klinis?
Ringkasan
Terapi pencegahan tuberkulosis (TPT) melindungi kontak serumah pasien TBC sebelum sakit muncul. Bukti terkini mendukung regimen pendek seperti 3HP dan 1HP, tetapi cakupan Indonesia masih sekitar 10,6 persen. Artikel ini merangkum bukti, pedoman WHO 2024, kebijakan Kemenkes 2025, dan langkah praktis bagi puskesmas, klinik, dan kader di berbagai daerah Indonesia.
Daftar Pustaka
Durovni, B., Cordeiro-Santos, M., Cavalcante, S. C., Spener-Gomes, R., Garcia, J., Cohn, S., Saraceni, V., Kohler, B., Moulton, L. H., Brito da Souza, A., Berihun, A., Marzinke, M., & Chaisson, R. E. (2026). Acceptability and safety of one versus three months of rifapentine and isoniazid to prevent tuberculosis in people exposed in the household or workplace in Brazil: The Ultra-Curto randomized controlled trial. PLOS Medicine, 23(2), e1004758. https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1004758
Duong, T., Brigden, J., Schaaf, H. S., Garden, F., Marais, B. J., Nguyen, T. A., White, I. R., Gibb, D. M., Nhung, N. V., Martinson, N. A., Fairlie, L., Martinez, L., Layton, C., Benedetti, A., Marks, G. B., Turner, R. M., Seddon, J. A., Hesseling, A. C., & Fox, G. J. (2024). A meta-analysis of levofloxacin for contacts of multidrug-resistant tuberculosis. NEJM Evidence, 4(1), EVIDoa2400190. https://doi.org/10.1056/EVIDoa2400190
Fox, G. J., Nhung, N. V., Cam Binh, N., Hoa, N. B., Garden, F. L., Benedetti, A., Ngoc Yen, P., Cuong, N. K., MacLean, E. L., Yapa, H. M., Dowdy, D. W., Lan, N. H., Guevara-Rattray, E., Duc Cuong, P., Solomon, O., Behr, M. A., Marais, B. J., Graham, S. M., Menzies, D., … Marks, G. B. (2024). Levofloxacin for the prevention of multidrug-resistant tuberculosis in Vietnam. The New England Journal of Medicine, 391(24), 2304–2314. https://doi.org/10.1056/NEJMoa2314325
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/348/2025 tentang arahan strategis program penanggulangan tuberkulosis (TBC) dalam kerangka pencapaian Program Hasil Terbaik Cepat tahun 2025. https://jdih.kemkes.go.id/common/dokumen/2025sepp348.pdf
Martinez, L., Cords, O., Horsburgh, C. R., Andrews, J. R., & Pediatric TB Contact Studies Consortium. (2020). The risk of tuberculosis in children after close exposure: A systematic review and individual-participant meta-analysis. The Lancet, 395(10228), 973–984. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(20)30166-5
Matteelli, A., Lovatti, S., Rossi, B., & Rossi, L. (2025). Update on multidrug-resistant tuberculosis preventive therapy toward the global tuberculosis elimination. International Journal of Infectious Diseases, 155, 107849. https://doi.org/10.1016/j.ijid.2025.107849
Misrohatun, H. (2026, 4 Agustus). Lebih dari 1 juta kasus TBC di Indonesia, 126 ribu kematian. IDN Times. https://www.idntimes.com/health/medical/lebih-dari-1-juta-kasus-tbc-di-indonesia-126-ribu-kematian-00-h7csw-9f2qsj
Sterling, T. R., Villarino, M. E., Borisov, A. S., Shang, N., Gordin, F., Bliven-Sizemore, E., Hackman, J., Hamilton, C. D., Menzies, D., Kerrigan, A., Weis, S. E., Weiner, M., Wing, D., Conde, M. B., Bozeman, L., Horsburgh, C. R., Jr., Chaisson, R. E., & TB Trials Consortium PREVENT TB Study Team. (2011). Three months of rifapentine and isoniazid for latent tuberculosis infection. The New England Journal of Medicine, 365(23), 2155–2166. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1104875
Swindells, S., Ramchandani, R., Gupta, A., Benson, C. A., Leon-Cruz, J., Mwelase, N., Jean Juste, M. A., Lama, J. R., Valencia, J., Omoz-Oarhe, A., Supparatpinyo, K., Masheto, G., Mohapi, L., da Silva Escada, R. O., Mawlana, S., Banda, P., Severe, P., Hakim, J., Kanyama, C., … Chaisson, R. E. (2019). One month of rifapentine plus isoniazid to prevent HIV-related tuberculosis. The New England Journal of Medicine, 380(11), 1001–1011. https://doi.org/10.1056/NEJMoa1806808
World Health Organization. (2023). Tuberculosis profile: Indonesia [Profil negara, dihasilkan 16 Desember 2023]. https://www.who.int/teams/global-tuberculosis-programme/data
World Health Organization. (2024a). WHO consolidated guidelines on tuberculosis: Module 1: Prevention: Tuberculosis preventive treatment (2nd ed.). https://www.who.int/publications/i/item/9789240096196
World Health Organization. (2024b). WHO operational handbook on tuberculosis: Module 1: Prevention: Tuberculosis preventive treatment (2nd ed.). https://www.who.int/publications/i/item/9789240097773
World Health Organization. (2025). Global tuberculosis report 2025. https://www.who.int/teams/global-programme-on-tuberculosis-and-lung-health/tb-reports/global-tuberculosis-report-2025





Tinggalkan Balasan