Dio, 3 tahun, tinggal bersama ibunya di pinggiran Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Sudah dua bulan ia minum obat TBC dengan teratur. Batuknya mereda dan demamnya hilang. Namun setiap jam makan, ia menutup mulut rapat-rapat. Bubur jagung kesukaannya hanya disentuh dua sendok. Timbangan di posyandu bulan ini menunjukkan angka yang sama seperti bulan lalu. “Obatnya sudah rutin, kenapa badannya tidak naik juga, Dok?” tanya ibunya lirih.
Dio adalah tokoh rekaan sebagai ilustrasi. Situasi serupa sangat umum dijumpai di berbagai daerah, dari Kupang, Pontianak, dan Makassar sampai Jayapura.
Kecemasan Ibu Dio sangat wajar, dan sebenarnya menunjuk pada hal yang penting: pada anak, tuberkulosis (TBC) bukan hanya urusan paru. TBC juga persoalan gizi. Artikel ini membahas mengapa nafsu makan dan berat badan anak dengan TBC sering terganggu, mengapa masalahnya bisa berlanjut setelah obat habis, dan apa yang dapat dilakukan keluarga serta tenaga kesehatan.
TBC dan gizi kurang: dua masalah yang saling memperburuk
Hubungan keduanya berjalan dua arah. Anak yang gizinya kurang lebih mudah sakit TBC dan lebih mudah jatuh ke bentuk yang berat, karena daya tahan tubuhnya lemah. Sebaliknya, TBC yang aktif menggerogoti status gizi anak. Peradangan kronis dan demam membuat kebutuhan energi tubuh meningkat, sementara pada saat yang sama nafsu makan turun dan asupan berkurang. Akibatnya berat badan stagnan atau menurun, daya tahan melemah lagi, dan pemulihan menjadi lebih lambat.
Ada pula faktor di luar tubuh anak. TBC pada anak hampir selalu tertular dari orang dewasa di sekitarnya, dan rumah tangga yang terdampak TBC kerap juga menghadapi kerawanan pangan, kehilangan penghasilan, dan biaya berobat. Karena itu, persoalan gizi anak dengan TBC tidak cukup dijawab dengan “ayo, dihabiskan makannya”. Ia perlu dilihat dari tiga sisi: penyakitnya, obatnya, dan keadaan rumah tangganya.
Mengapa nafsu makan anak menurun?
- Proses penyakit. Peradangan kronis, demam, dan batuk membuat anak lemas dan cepat kenyang. Tubuh membakar lebih banyak energi, sementara keinginan makan justru menurun.
- Efek samping obat. Beberapa obat anti-TBC dapat menimbulkan mual, muntah, nyeri perut, atau rasa tidak enak di mulut, terutama pada awal pengobatan.
- Rasa dan cara minum obat. Obat yang pahit atau harus digerus setiap hari bisa membuat anak trauma pada “waktu minum obat”, dan perasaan itu merembet ke waktu makan.
- Penyakit penyerta. HIV, infeksi cacing, diare berulang, atau anemia dapat memperberat masalah gizi dan perlu dicari bila berat badan tidak naik.
- Faktor keluarga. Pengasuh yang ikut sakit, keterbatasan uang untuk membeli bahan pangan bergizi, atau pola makan yang sebelumnya memang kurang beragam.
Efek samping obat yang sering terkait makan
| Keluhan | Yang dapat dilakukan di rumah | Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan |
|---|---|---|
| Mual atau muntah ringan setelah minum obat | Tanyakan kepada dokter atau apoteker apakah obat boleh diberikan bersama sedikit makanan. Beri makan porsi kecil dan sering. Jangan mengubah dosis atau menghentikan obat sendiri. | Muntah berulang, anak tidak bisa minum, atau obat selalu dimuntahkan. |
| Nyeri atau tidak nyaman di perut | Beri makanan lunak yang hangat. Catat waktu keluhan muncul terhadap waktu minum obat. | Nyeri perut hebat atau terus-menerus. |
| Urin, air mata, atau air liur berwarna oranye kemerahan | Umumnya efek yang tidak berbahaya dari rifampisin. Orang tua perlu diberi tahu sejak awal agar tidak panik. | Bila disertai mata atau kulit menguning. |
| Mata atau kulit menguning, urin sangat pekat seperti teh | Tidak ada yang perlu ditunggu di rumah. | Segera. Ini bisa menandakan gangguan hati akibat obat dan perlu penilaian dokter. |
Seberapa sering gizi anak bermasalah?
Gambaran nasional memberi konteks. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi stunting balita sebesar 21,5 persen, dan data awal Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 yang diberitakan menunjukkan angka sekitar 19,8 persen. Angka ini menurun, tetapi masih berarti bahwa sekitar satu dari lima balita Indonesia bertubuh pendek untuk usianya. Pada kelompok yang sudah rentan ini, TBC menambah beban baru.
Untuk menilai status gizi anak, tenaga kesehatan di Indonesia memakai Standar Antropometri Anak (Permenkes Nomor 2 Tahun 2020), yang membandingkan ukuran tubuh anak dengan standar pertumbuhan WHO dalam satuan z-score (simpangan baku, SD).
| Indeks | Kategori | Ambang (z-score) |
|---|---|---|
| Berat badan menurut panjang/tinggi badan (BB/PB atau BB/TB) | Gizi kurang | -3 SD sampai kurang dari -2 SD |
| BB/PB atau BB/TB | Gizi buruk | Kurang dari -3 SD |
| Berat badan menurut umur (BB/U) | Berat badan kurang / sangat kurang | -3 SD sampai kurang dari -2 SD / kurang dari -3 SD |
| Panjang/tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U) | Pendek / sangat pendek (stunting) | -3 SD sampai kurang dari -2 SD / kurang dari -3 SD |
Satu pesan praktis: yang penting bukan sekadar angka hari ini, melainkan arah garis pertumbuhan. Anak yang berat badannya mendatar atau turun selama dua kali kunjungan berturut-turut perlu dievaluasi, meskipun angkanya belum masuk kategori gizi kurang.
Setelah pengobatan selesai, apakah gizi langsung pulih?
Tidak selalu. Pengobatan yang tuntas menyembuhkan infeksinya, tetapi kejar tumbuh (catch-up growth) membutuhkan waktu dan asupan yang memadai. Beberapa hal yang perlu diketahui orang tua:
- Berat badan biasanya lebih cepat pulih daripada tinggi badan. Bila anak sudah pendek sebelum sakit, pemulihan tinggi badan jauh lebih sulit dan perlu waktu lebih lama.
- Pola makan yang buruk selama sakit sering menjadi kebiasaan. Anak yang sudah sehat pun bisa tetap pilih-pilih makanan.
- Kerusakan paru yang tersisa pada sebagian anak dapat memengaruhi daya tahan dan kebugaran, sehingga pemantauan lanjutan tetap diperlukan.
- Faktor sosial yang membuat anak kurang gizi, seperti kemiskinan atau pola asuh, biasanya tidak hilang begitu obat habis.
Bukti ilmiah tentang berapa lama pemantauan gizi pascapengobatan ideal untuk anak masih terbatas. Prinsip praktisnya sederhana: jangan berhenti menimbang anak pada hari terakhir minum obat. Lanjutkan penimbangan dan pengukuran di posyandu atau puskesmas sampai anak kembali ke jalur pertumbuhannya.
Apa yang bisa dilakukan untuk membantu anak?
1. Dari sisi tenaga kesehatan dan fasilitas layanan
- Menilai status gizi sejak awal dan di setiap kunjungan: berat badan, panjang atau tinggi badan, serta LiLA pada balita.
- Menyesuaikan dosis obat dengan berat badan yang terkini, dan memeriksa kepatuhan serta efek samping.
- Mencari penyebab lain bila berat badan tidak naik: HIV, cacing, diare kronis, anemia, atau penyakit lain.
- Konseling gizi kepada pengasuh. Pedoman WHO untuk tata laksana TBC anak menyarankan penambahan energi sekitar 20 sampai 30 persen dari kebutuhan, melanjutkan pemberian ASI sampai usia 24 bulan atau lebih, dan menilai ulang anak yang berat badannya tidak naik.
- Makanan terapi siap pakai (ready-to-use therapeutic food, RUTF) bagi anak dengan gizi buruk akut, sesuai pedoman tata laksana gizi buruk.
- Dukungan pangan bagi rumah tangga yang rawan. Uji coba RATIONS di India menunjukkan bahwa bantuan pangan kepada rumah tangga pasien TBC menurunkan kejadian TBC pada anggota rumah tangga yang berkontak, sekitar 40 persen.
2. Dari sisi keluarga di rumah
- Porsi kecil, sering. Tawarkan 5 sampai 6 kali makan dalam sehari, termasuk selingan. Perut kecil yang cepat kenyang lebih mudah menerima porsi kecil.
- Padatkan energi dan protein. Tambahkan satu sendok teh minyak atau santan pada bubur, telur pada nasi tim, atau parutan keju. Jangan mengencerkan makanan.
- Utamakan sumber protein hewani dan nabati. Telur, ikan, hati ayam, tempe, tahu, dan kacang-kacangan sangat membantu.
- Jangan memaksa. Paksaan membuat waktu makan menjadi pertengkaran. Makanlah bersama, tawarkan makanan dengan tenang, dan batasi waktu makan sekitar 30 menit.
- Batasi minuman manis dan jajanan yang membuat anak kenyang sebelum waktu makan utama.
- Jangan membeli obat perangsang nafsu makan, jamu “penggemuk”, atau suplemen tanpa anjuran dokter.
- Bila masih menyusu, teruskan ASI.
| Contoh pangan lokal | Gagasan sajian | Nilai tambah |
|---|---|---|
| Nusa Tenggara Timur | Bubur jagung (bose) dengan ikan dan daun kelor | Energi dari jagung, protein dari ikan, zat besi dari daun kelor |
| Kalimantan Selatan | Bubur nasi dengan ikan patin atau ikan haruan yang dihaluskan | Protein ikan air tawar yang mudah dicerna |
| Jawa dan Sumatera | Nasi tim dengan telur, tempe, dan hati ayam | Protein dan zat besi, mudah ditemukan di pasar |
| Sulawesi Selatan | Bubur kacang hijau dengan santan, ikan kembung atau bandeng | Energi dan lemak dari santan |
| Papua | Papeda dengan ikan kuah kuning dan sayur | Karbohidrat plus protein ikan, jika ditambah sayur |
3. Soal suplemen dan vitamin
Pedoman WHO terbaru tentang TBC dan penyakit penyerta (2025) tidak menganjurkan pemberian vitamin D sebagai bagian rutin pengobatan TBC. Bentuk itu hanya direkomendasikan dalam konteks penelitian. Suplemen multi-mikronutrien juga tidak direkomendasikan secara rutin. Artinya, sumber utama perbaikan gizi adalah makanan, dengan suplemen hanya bila ada kebutuhan klinis yang jelas, misalnya piridoksin (vitamin B6) bagi anak yang mendapat isoniazid dan memiliki risiko tertentu, atau terapi anemia bila terbukti kurang zat besi. Keputusan itu ada pada dokter.
Menjawab kekhawatiran orang tua
“Apakah saya yang salah memberi makan?” Hampir pasti tidak. Penurunan nafsu makan adalah bagian dari penyakit dan pengobatannya. Yang menentukan adalah apa yang dilakukan sesudah masalah dikenali.
“Obatnya rutin, kenapa berat badan tidak naik?” Berat badan sering baru naik setelah beberapa minggu atau bulan pengobatan, dan kenaikan bisa lambat. Bila tidak ada kemajuan setelah beberapa kali kontrol, dokter perlu mengevaluasi kepatuhan, dosis, asupan, dan kemungkinan penyakit lain, termasuk TBC yang resistan obat.
“Apakah anak saya akan tetap pendek?” Tidak ada jawaban pasti. Peluang kejar tumbuh paling baik bila gizi diperbaiki sejak dini dan didampingi. Itu sebabnya pemantauan jangan berhenti saat obat habis.
“Kami sulit membeli bahan makanan bergizi.” Sampaikan terus terang kepada petugas. Kader, puskesmas, dan program pemerintah daerah bisa membantu menghubungkan keluarga dengan bantuan pangan atau program makanan tambahan setempat.
Segera ke fasilitas kesehatan bila:
- anak muntah terus-menerus atau menolak minum;
- mata atau kulit tampak kuning, atau urin sangat pekat;
- anak sangat lemas, mengantuk, atau sulit dibangunkan;
- berat badan turun, atau tidak naik selama dua kali kontrol berturut-turut;
- muncul bengkak pada kedua punggung kaki atau LiLA tampak sangat kecil;
- demam atau batuk kembali memburuk.
Penutup
Mengobati TBC pada anak berarti mengobati anaknya secara utuh, bukan hanya parunya. Obat yang tepat, makanan yang cukup, penimbangan yang rutin, dan dukungan bagi keluarga adalah satu paket. Bagi Ibu Dio dan ribuan orang tua lain, kabar baiknya jelas: masalah ini dapat ditangani, asalkan dikenali lebih awal dan dikawal sampai anak benar-benar pulih.
Untuk bacaan terkait, lihat pembahasan Petunjuk Teknis Penatalaksanaan TBC Sensitif Obat 2025 dan peranan terapi pencegahan TBC (TPT).
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun dengan bantuan AI dan telah ditinjau penulis. Kasus Dio adalah ilustrasi rekaan. Beberapa data dikutip dari sumber sekunder: angka SSGI 2024 dari pemberitaan, dan rujukan Petunjuk Teknis 2025 melalui artikel terdahulu di blog ini. Ambang LiLA mengikuti acuan umum WHO dan Kemenkes. Dokumen WHO dirujuk tanpa tautan langsung, silakan periksa edisi terbaru di situs WHO. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan serta saran dokter yang menangani anak Anda.
Ringkasan
Anak dengan TBC sering kehilangan nafsu makan dan berat badan, baik karena penyakitnya maupun efek samping obat. Masalah gizi bisa bertahan setelah pengobatan selesai. Kuncinya: timbang rutin, tambah energi dan protein dari makanan rumah, tangani efek samping, dan bawa anak kontrol sampai pertumbuhannya pulih, dengan pendampingan tenaga kesehatan serta keluarga.
Daftar Pustaka
Bhargava, A., Bhargava, M., Meher, A., Teja, G. S., Velayutham, B., Watson, B., Benedetti, A., Pai, M., Menzies, D., & Jagannath, M. (2023). Nutritional supplementation to prevent tuberculosis incidence in household contacts of patients with pulmonary tuberculosis in India (RATIONS): A field-based, open-label, cluster-randomised, controlled trial. The Lancet, 402(10402), 627–640. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)01231-X
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2020). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam angka. Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Petunjuk teknis penatalaksanaan tuberkulosis sensitif obat. Kementerian Kesehatan RI.
World Health Organization. (2022). WHO operational handbook on tuberculosis. Module 5: Management of tuberculosis in children and adolescents. World Health Organization.
World Health Organization. (2025). WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 6: Tuberculosis and comorbidities. World Health Organization.





Tinggalkan Balasan