Seorang laki-laki berusia 58 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan bercak-bercak bulat kemerahan di tungkai bawah yang muncul sejak musim kemarau lalu. Bercak itu gatal hebat, terutama malam hari, dan bentuknya nyaris sempurna menyerupai koin—beberapa sebesar uang logam lima ratus rupiah, yang lain lebih besar. Ia sudah mencoba salep antijamur dari apotek tanpa hasil. Setelah pemeriksaan, diagnosis yang ditegakkan bukan infeksi jamur, melainkan eksim diskoid (discoid eczema), yang secara internasional lebih dikenal sebagai nummular eczema atau nummular dermatitis—istilah yang berasal dari kata Latin nummus, yang berarti koin.
Kasus semacam ini cukup sering ditemui di layanan primer maupun poliklinik kulit, namun sayangnya masih kerap disalahartikan sebagai infeksi jamur karena bentuknya yang bulat dan tepinya yang tegas.
Apa Itu Eksim Diskoid?
Eksim diskoid adalah salah satu bentuk dermatitis eksematosa kronik yang ditandai oleh plak berbentuk bulat hingga oval, berbatas tegas, kemerahan, dan sangat gatal. Ukuran lesi biasanya berkisar 1–6 sentimeter, meski pada kasus tertentu dapat lebih besar (Hagenström et al., 2026). Lesi paling sering muncul di tungkai bawah, diikuti lengan, meskipun batang tubuh juga dapat terlibat (Robinson et al., 2025).
Secara historis, kondisi ini dianggap sebagai bentuk eksim endogen atau idiopatik yang berdiri sendiri. Namun, sejumlah ahli kini mengusulkan agar eksim diskoid diklasifikasikan sebagai salah satu varian dari dermatitis atopik (DA), karena banyak pasien dengan eksim diskoid ternyata memiliki riwayat atopi (Robinson et al., 2025).

Mengapa Bisa Muncul?
Penyebab pasti eksim diskoid hingga kini belum sepenuhnya dipahami. Namun, beberapa mekanisme telah teridentifikasi berperan penting:
Disfungsi sawar kulit. Kulit yang kering (xerosis) menjadi faktor pencetus utama, sehingga penyakit ini lebih sering kambuh di musim dingin atau musim kemarau saat kelembapan udara rendah.
Kolonisasi mikroba. Bakteri Staphylococcus aureus diduga berperan memperberat peradangan melalui pelepasan superantigen yang merusak sawar kulit dan memicu respons imun berlebihan.
Respons imun campuran Th2/Th17. Studi berbasis pengurutan RNA oleh Böhner dkk. (2023) yang dipublikasikan di Journal of Allergy and Clinical Immunology menemukan bahwa eksim diskoid menunjukkan sinyal imun ganda—dominan T helper 2 (Th2) seperti pada dermatitis atopik klasik, namun juga disertai aktivitas jalur Th17/IL-23 yang biasanya menjadi ciri khas psoriasis. Temuan ini menjelaskan mengapa eksim diskoid sering resisten terhadap terapi standar DA dan mendukung pandangan bahwa kondisi ini merupakan entitas dengan karakter imunologis tersendiri, bukan sekadar bentuk klinis dari DA.
Faktor pencetus lain. Alergi kontak, stres emosional, trauma kulit (termasuk bekas luka operasi), serta gangguan sirkulasi vena juga dilaporkan dapat memicu atau memperberat lesi (Leung et al., 2020).
Gambaran Klinis dan Mengapa Sering Salah Diagnosis
Lesi eksim diskoid umumnya diawali papul-papul kecil yang menyatu membentuk plak bersisik, terkadang disertai vesikel berisi cairan serosa pada fase akut. Rasa gatal biasanya sangat mengganggu dan dapat memicu siklus garuk-gatal yang memperberat peradangan.
Karena bentuknya yang bulat dan berbatas tegas, eksim diskoid paling sering dikelirukan dengan tinea corporis (kurap). Perbedaannya, pada tinea corporis biasanya ditemukan penyembuhan sentral (central clearing) sehingga lesi tampak seperti cincin, sedangkan pada eksim diskoid seluruh permukaan plak cenderung meradang merata. Diagnosis banding lain meliputi psoriasis plak, dermatitis kontak alergi, dan liken simpleks kronikus. Pemeriksaan kerokan kulit dengan KOH tetap dianjurkan bila dicurigai infeksi jamur (Leung et al., 2020).
Pada pasien dengan warna kulit lebih gelap—kondisi yang relevan bagi mayoritas populasi Indonesia—tampilan klasik kemerahan dapat tersamar. Lesi lebih sering tampak keunguan (violaceous) atau kehitaman (hiperpigmentasi), dengan bercak hiperpigmentasi pascainflamasi yang dapat bertahan berbulan-bulan setelah lesi aktif mereda. Hal ini berisiko menyebabkan keterlambatan diagnosis atau kesalahan penilaian derajat keparahan (Persson et al., 2025).
Siapa yang Berisiko?
Data epidemiologi global memperkirakan prevalensi eksim diskoid berkisar 2 kasus per 1.000 penduduk, dengan angka kejadian yang relatif stabil dari waktu ke waktu (bahan kuliah kepaniteraan klinik FK UI, dikutip dalam berbagai sumber akademik Indonesia). Studi klaim kesehatan nasional terbaru di Jerman memperkirakan prevalensi sekitar 0,26% populasi, meski penulis studi tersebut mencatat keterbatasan metodologi pengodean diagnosis yang menyebabkan variasi angka antarstudi (Hagenström et al., 2026).
Terdapat pola distribusi usia yang khas berbentuk bimodal:
- Puncak pertama pada laki-laki dekade keenam hingga ketujuh kehidupan (usia sekitar 50–70 tahun), umumnya tanpa kaitan kuat dengan atopi.
- Puncak kedua pada perempuan usia lebih muda, dekade kedua hingga ketiga, yang lebih sering berkaitan dengan riwayat dermatitis atopik.
Kondisi ini sangat jarang ditemukan pada anak-anak, terutama sebelum usia satu tahun, meski kejadian pada anak dapat meningkat seiring bertambahnya usia (bahan kuliah kepaniteraan klinik FK UI).
Di Indonesia, meskipun data epidemiologi khusus eksim diskoid masih terbatas, konteks eksim secara umum cukup signifikan: diperkirakan hampir seperempat anak Indonesia pernah mengalami eksim dalam berbagai bentuknya, dan prevalensi dermatitis atopik pada orang dewasa global mencapai lebih dari 6% (RSUD Bhakti Dharma Husada, 2026). Iklim tropis lembap Indonesia memberi karakter epidemiologi yang berbeda dari negara empat musim, meskipun eksim diskoid tetap dapat dipicu oleh kulit kering akibat penggunaan sabun antiseptik berlebihan, paparan AC, atau kebiasaan mandi air panas.
Tatalaksana
Sesuai Panduan Praktik Klinis bagi Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin di Indonesia yang diterbitkan PERDOSKI, pendekatan tata laksana dermatitis numularis meliputi:
Perawatan kulit dasar. Pelembap (emolien) hipoalergenik digunakan secara rutin, terutama segera setelah mandi, untuk memperbaiki fungsi sawar kulit. Ini merupakan fondasi terapi, bukan sekadar terapi tambahan.
Kortikosteroid topikal. Kortikosteroid poten hingga sangat poten menjadi lini pertama untuk mengatasi peradangan aktif, dengan durasi dan potensi disesuaikan lokasi lesi serta usia pasien.
Penghindaran faktor pencetus. Menghindari sabun beraroma keras, air mandi terlalu panas, serta bahan pakaian kasar seperti wol dapat menurunkan frekuensi kekambuhan.
Terapi lini kedua. Untuk kasus resisten atau berulang, fototerapi (narrowband UVB) serta imunomodulator topikal seperti inhibitor kalsineurin dapat dipertimbangkan.
Pertimbangan infeksi sekunder. Bila dicurigai kolonisasi S. aureus signifikan—ditandai krusta kekuningan atau eksudasi—antibiotik topikal seperti mupirosin dapat membantu mempercepat resolusi lesi.
Uji tempel (patch test). Pada kasus kronik dan sulit sembuh, uji tempel dianjurkan untuk menyingkirkan kemungkinan alergi kontak yang menyertai (Leung et al., 2020).
Dengan tata laksana yang tepat, sebagian besar lesi eksim diskoid dapat membaik dalam beberapa minggu, meskipun perjalanan penyakitnya cenderung kronik-relaps dan memerlukan kesabaran, baik dari pasien maupun tenaga kesehatan yang menanganinya.
Catatan Transparansi
Artikel ini disusun berdasarkan sintesis literatur ilmiah internasional (StatPearls, Merck Manual, Journal of Allergy and Clinical Immunology, JDDG, serta tinjauan pada populasi skin of color) dan Panduan Praktik Klinis PERDOSKI. Data prevalensi global sebesar 2 per 1.000 penduduk dan pola distribusi usia bimodal dikutip dari materi ajar kepaniteraan klinik dermatologi yang menyintesis sumber tekstual dermatologi standar, bukan dari studi epidemiologi tunggal yang dapat ditelusuri langsung; angka ini disajikan sebagai perkiraan umum, bukan data pasti untuk konteks Indonesia. Data prevalensi eksim di Indonesia yang dikutip merujuk pada eksim/dermatitis atopik secara umum, bukan spesifik eksim diskoid, karena data epidemiologi khusus untuk kondisi ini di Indonesia belum tersedia secara luas. Pembaca dengan keluhan kulit yang serupa dengan yang dijelaskan di atas dianjurkan berkonsultasi langsung dengan dokter untuk penegakan diagnosis dan tata laksana yang sesuai kondisi individu.
Ringkasan
Eksim diskoid adalah dermatitis kronik berbentuk plak bulat seperti koin yang sangat gatal, sering dikelirukan dengan infeksi jamur. Penyebabnya melibatkan disfungsi sawar kulit, kolonisasi bakteri, dan respons imun campuran Th2/Th17. Tata laksana utama meliputi pelembap, kortikosteroid topikal, dan penghindaran faktor pencetus seperti kulit kering dan sabun keras.
Daftar Pustaka
Böhner, A., Jargosch, M., Müller, N. S., Eyerich, S., Wenzel, J., Biedermann, T., Eyerich, K., & Franz, N. (2023). The neglected twin: Nummular eczema is a variant of atopic dermatitis with codominant TH2/TH17 immune response. Journal of Allergy and Clinical Immunology, 152(2), 408–419. https://doi.org/10.1016/j.jaci.2023.04.009
Hagenström, K., et al. (2026). Epidemiology of nummular eczema – methodological approaches and outcomes from nationwide claims data analyses. JDDG: Journal der Deutschen Dermatologischen Gesellschaft. https://doi.org/10.1111/ddg.15932
Leung, A. K. C., Lam, J. M., Leong, K. F., Leung, A. A. M., Wong, A. H. C., & Hon, K. L. (2020). Nummular eczema: An updated review. Recent Patents on Inflammation & Allergy Drug Discovery, 14(2), 146–155. https://doi.org/10.2174/1872213X14666200810152246
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia. (2021). Panduan praktik klinis bagi dokter spesialis kulit dan kelamin di Indonesia (Dermatitis numularis). PERDOSKI.
Persson, C., Chijioke, W., Serfaty, S., Batra, R., Anil, B., & Garelick, E. (2025). Nummular dermatitis in skin of color: A comprehensive review. Biomedical Journal of Scientific & Technical Research, 63. https://doi.org/10.26717/BJSTR.2025.63.009864
Robinson, C. A., Love, L. W., Saleh, H. M., & Farci, F. (2025). Nummular dermatitis. Dalam StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK565878/
RSUD Bhakti Dharma Husada. (2026, Oktober). Hari Eksim Atopik Sedunia: Kulit kita, perjalanan kita. https://rsudbdh.surabaya.go.id/hari-eksim-atopik-sedunia-kulit-kita-perjalanan-kita/
Ruenger, T. M. (2025). Nummular dermatitis. Merck Manual Professional Edition. https://www.merckmanuals.com/professional/dermatologic-disorders/dermatitis/nummular-dermatitis





Tinggalkan Balasan