Pukul tujuh pagi, di sebuah Puskesmas pinggiran Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Bu Maria menggandeng dua anaknya. Suaminya baru dua minggu menjalani pengobatan tuberkulosis (TBC). Petugas tidak hanya memeriksa sang suami: dahak, foto Rontgen dada, dan pertanyaan sederhana tentang batuk diajukan kepada seluruh anggota rumah. Anak bungsunya yang berusia tiga tahun tidak sakit, tetapi ia diberi paket obat pencegahan selama tiga bulan. "Obatnya sedikit, tapi kata petugas ini supaya Adik tidak ikut sakit," kata Bu Maria.
Adegan di atas hanyalah ilustrasi, tetapi persis itulah yang dihitung dalam laporan terbaru WHO: berapa harga pemeriksaan dan obat pencegahan semacam itu, dan apa yang kita dapatkan sebagai imbalannya?
Mengapa TBC masih perlu "dibeli" pencegahannya?
Secara global pada 2024, sekitar 10,7 juta orang jatuh sakit karena TBC dan 1,08 juta meninggal, sebagian besar di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Pada tahun yang sama, hanya 8,3 juta orang yang berhasil didiagnosis dan dilaporkan, sehingga sekitar 2,4 juta orang (22%) "hilang" dari sistem layanan.1 Itulah yang disebut WHO sebagai missing millions.
Indonesia ikut menanggung beban besar itu. Pemberitaan yang merujuk estimasi terbaru menyebut lebih dari satu juta kasus TBC per tahun di Indonesia dengan sekitar 126 ribu kematian.2 Karena itu, pertanyaan "apakah pencegahan layak didanai?" bukan sekadar urusan Jenewa, melainkan urusan kas daerah dan Puskesmas kita.
WHO menerbitkan edisi kedua investment case (kajian kelayakan investasi) berjudul Funding a tuberculosis-free future pada Oktober 2026. Hitungannya diambil dari studi pemodelan yang dipublikasikan di The Lancet Global Health.3 Berikut intisarinya.
Dua senjata: skrining dan terapi pencegahan
Skrining adalah pencarian sistematis pada kelompok yang berisiko, memakai pertanyaan gejala dan pemeriksaan cepat, misalnya C-reactive protein (CRP), foto Rontgen dada dengan bantuan computer-aided detection (CAD), lalu konfirmasi dengan Xpert MTB/RIF Ultra. TPT adalah obat yang diberikan kepada orang yang sudah terpapar kuman namun belum sakit; menurut WHO, ia menurunkan risiko menjadi sakit sekitar 60–90%.3 Skrining untuk menyingkirkan TBC aktif adalah langkah wajib sebelum TPT, sehingga keduanya sangat efisien bila digabung.
Siapa yang disasar dan bagaimana dimodelkan?
Model matematika penularan TBC yang berstruktur usia digunakan untuk membandingkan dua dunia: dunia dengan praktik saat ini, dan dunia dengan paket skrining plus TPT yang diperluas mulai 2024. Tiga kelompok disasar: orang dengan HIV (ODHIV), kontak serumah pasien TBC, dan satu kelompok prioritas yang berbeda di tiap negara, yaitu warga binaan di Brasil, pengguna napza suntik di Georgia, serta penduduk di komunitas dengan insidens tinggi di Kenya dan Afrika Selatan. Regimen TPT yang dimodelkan singkat dan berbasis rifamisin: 3HR (isoniazid plus rifampisin harian, 3 bulan) untuk anak di bawah 2 tahun, dan 3HP (isoniazid plus rifapentin mingguan, 3 bulan) untuk usia lebih tua. Semua biaya didiskon 3% per tahun dan dinyatakan dalam dolar AS tahun 2023.
Apa hasilnya?
Tanpa tindakan tambahan, keempat negara akan mengalami lebih dari 7,5 juta kasus dan lebih dari 1 juta kematian akibat TBC antara 2024 dan 2050. Dengan paket skrining plus TPT, angka-angka berikut dapat dihindari:
| Indikator (2024–2050) | Brasil | Georgia | Kenya | Afrika Selatan |
|---|---|---|---|---|
| Episode TBC dicegah (skrining saja) | 192.000 (−10%) | 3.700 (−10%) | 284.000 (−13%) | 577.000 (−17%) |
| Episode TBC dicegah (skrining + TPT) | 278.000 (−15%) | 5.100 (−14%) | 480.000 (−21%) | 905.000 (−26%) |
| Nyawa diselamatkan (skrining + TPT) | 43.000 (−20%) | 330 (−21%) | 87.000 (−27%) | 138.000 (−26%) |
| Tahun hidup diselamatkan | 1,7 juta | 13.000 | 3,3 juta | 4,7 juta |
Dua pelajaran menonjol. Pertama, skrining saja sudah menyelamatkan banyak nyawa, tetapi menambahkan TPT mengangkat dampak secara nyata: di Afrika Selatan, misalnya, episode TBC yang dicegah naik dari 577.000 menjadi 905.000. Kedua, pada skala nasional, paket ini menurunkan insidens TBC sebesar 19–35% pada 2050, sehingga menjadi sumbangan besar menuju target End TB Strategy.3,4
Berapa biayanya?
Tambahan biaya yang dibutuhkan ternyata kecil bila dibagi per kepala penduduk: antara US$ 0,12 dan US$ 0,65 per orang per tahun. Biaya per kapita lebih tinggi pada masa peningkatan layanan (2024–2030) lalu turun hingga di bawah US$ 0,40 pada 2050.
| Ukuran | Brasil | Georgia | Kenya | Afrika Selatan |
|---|---|---|---|---|
| Total biaya layanan kesehatan 2024–2050 | US$ 0,8 miliar | US$ 13 juta | US$ 0,4 miliar | US$ 1,0 miliar |
| Tambahan biaya per kapita per tahun | US$ 0,14 | US$ 0,12 | US$ 0,25 | US$ 0,65 |
| Biaya sistem kesehatan per episode TBC dicegah | US$ 2.509 | US$ 1.497 | US$ 383 | US$ 900 |
| Biaya sistem kesehatan per DALY dihindari | US$ 386 | US$ 491 | US$ 53 | US$ 160 |
| Ambang kesediaan membayar per DALY | US$ 13.644 | US$ 1.603 | US$ 1.002 | US$ 4.834 |
Biaya per DALY dihindari di keempat negara jauh berada di bawah ambang kesediaan membayar masing-masing negara, sehingga intervensi ini tergolong cost-effective. Dari sudut pandang masyarakat, paketnya bahkan cost-saving (menghemat) di semua negara.
Berapa untungnya?
TBC bukan hanya soal rumah sakit. Biaya layanan kesehatan hanya 1,6% (Afrika Selatan) sampai 8,6% (Georgia) dari total beban ekonomi TBC; sisanya ditanggung pasien dan masyarakat: hilangnya penghasilan, biaya transportasi, hingga kematian usia produktif. Total biaya sosial TBC 2024–2050 diperkirakan US$ 79 miliar di Brasil, US$ 530 juta di Georgia, US$ 28 miliar di Kenya, dan US$ 127 miliar di Afrika Selatan; setara 0,06% hingga 1,2% produk domestik bruto (PDB) pada 2024.
Imbal balik sosial (return on investment/ROI) berkisar dari 8 dolar di Georgia hingga 54 dolar di Afrika Selatan untuk setiap 1 dolar yang diinvestasikan. Makin tinggi beban TBC suatu negara, makin besar pula keuntungan dari mencegahnya.
Bisa lebih baik lagi: paket yang ditingkatkan
WHO juga menghitung paket yang lebih ambisius, yang menjangkau hampir semua kelompok prioritas, mengulang skrining kelompok berisiko tinggi lebih dari tiga tahun, dan memakai teknologi yang diperkirakan segera direkomendasikan, seperti TPT 1HP (isoniazid plus rifapentin harian selama satu bulan), CAD untuk usia muda, dan uji kulit berbasis antigen. Tambahan dampaknya: 6,3% (98.000 episode) di Brasil, 7,3% (2.200) di Georgia, 10,3% (180.000) di Kenya, dan 19,4% (469.000) di Afrika Selatan.
Apa artinya bagi Indonesia?
Indonesia tidak termasuk dalam empat negara yang dimodelkan, sehingga angka di atas tidak boleh disalin begitu saja. WHO sendiri menyatakan temuan ini dapat menjadi contoh untuk wilayah dengan konteks epidemiologi serupa. Beberapa pelajaran praktis yang relevan bagi kita:
- Mulai dari yang paling berisiko. Kontak serumah pasien TBC dan ODHIV adalah sasaran yang paling efisien, di Medan maupun di Jayapura.
- Satukan skrining dan TPT. Satu kunjungan, satu paket: periksa, singkirkan TBC aktif, lalu berikan obat pencegahan singkat (3HP atau 3HR).
- Hitung manfaat di luar sektor kesehatan. Bagi pemerintah daerah, kerugian akibat hilangnya produktivitas keluarga jauh lebih besar daripada biaya layanan.
- Tuntaskan pengobatan. Layanan pencegahan baru bermakna bila disertai pelacakan kontak dan dukungan hingga obat habis; panduan WHO tentang TPT menjadi rujukan teknisnya.5
Pesan kunci
- Tambahan biaya hanya sekitar US$ 0,12–0,65 per penduduk per tahun.
- Episode TBC yang dicegah hingga 2050: 14–26% di empat negara yang dimodelkan.
- Intervensi ini hemat biaya dari sudut pandang masyarakat.
- Imbal balik sosial 8:1 hingga 54:1.
Tanya jawab singkat
Apakah TPT sama dengan pengobatan TBC?
Bukan. TPT diberikan kepada orang yang terpapar tetapi belum sakit, dengan obat lebih sedikit dan waktu lebih singkat, setelah TBC aktif disingkirkan.
Mengapa hasil Brasil dan Georgia lebih kecil?
Beban TBC dan persentase populasi berisiko di sana lebih rendah, sehingga penurunan relatifnya juga lebih kecil, begitu pula imbal baliknya di Georgia.
Catatan transparansi
Artikel ini merangkum publikasi WHO dan studi pemodelan yang mendasarinya; hasil adalah proyeksi, bukan pengamatan, dan bergantung pada asumsi cakupan dan biaya. Ringkasan di halaman 2 dokumen WHO mencantumkan angka Kenya yang sedikit berbeda (−23%, −29%, −28%) dari Tabel 3 dan artikel jurnal (−21%, −27%, −26%); artikel ini memakai angka Tabel 3. Data Indonesia yang dikutip bersumber dari pemberitaan, bukan dari model WHO ini. Tulisan ini bersifat edukatif dan bukan pengganti nasihat medis; konsultasikan pemeriksaan atau pencegahan TBC kepada tenaga kesehatan.
Referensi
1. World Health Organization. Global tuberculosis report 2025. Geneva: WHO; 2025.
2. Misrohatun H. Lebih dari 1 juta kasus TBC di Indonesia, 126 ribu kematian. IDN Times; 4 Agustus 2026.
3. World Health Organization. Funding a tuberculosis-free future: an investment case for screening and preventive treatment, second edition. Geneva: WHO; 2026. ISBN 978-92-4-012403-5. Lihat juga Vesga JF, dkk. Effectiveness, cost-effectiveness, budget impact, and return on investment of scaling-up TB screening and preventive treatment. Lancet Glob Health. 2025;13(11):e1857–68. doi:10.1016/S2214-109X(25)00321-3 (metadata via PubMed).
4. Uplekar M, dkk. WHO's new End TB Strategy. Lancet. 2015;385:1799–801. doi:10.1016/S0140-6736(15)60570-0.
5. World Health Organization. WHO consolidated guidelines on tuberculosis. Module 1: prevention – tuberculosis preventive treatment, second edition. Geneva: WHO; 2024.





Tinggalkan Balasan