Jam 23.15. Seorang pasien laki-laki usia 58 tahun baru saja selesai distabilkan di IGD setelah datang dengan keluhan nyeri dada. EKG menunjukkan perubahan segmen ST yang perlu dipantau ketat. Dokter IGD memutuskan pasien dipindah ke bangsal jantung. Serah terima dilakukan dalam tiga menit — dokter jaga malam baru saja dipanggil untuk pasien lain, perawat yang menerima sedang mempersiapkan obat untuk pasien di kamar sebelah, dan formulir transfer diisi seadanya.
Di formulir itu tidak tertulis bahwa pasien sempat mengalami satu episode hipotensi singkat yang terkoreksi sendiri satu jam lalu. Tidak tertulis pula bahwa keluarganya menyebut pasien pernah alergi terhadap salah satu obat antinyeri. Pasien dipindah, kondisinya stabil. Tapi informasi yang tertinggal itu adalah informasi yang akan sangat berguna jika kondisinya memburuk malam ini.
Transfer Internal: Momen yang Sering Dianggap Rutin
Transfer pasien antarunit di dalam rumah sakit — dari IGD ke bangsal, dari bangsal ke ICU, dari ICU kembali ke bangsal, atau dari bangsal ke kamar operasi — adalah salah satu proses paling sering terjadi dalam operasional harian rumah sakit. Namun ia adalah juga salah satu momen dengan risiko paling tinggi terhadap keselamatan pasien, dan secara paradoks, salah satu yang paling jarang mendapat perhatian dalam program mutu dan keselamatan pasien.
Perhatian terhadap keselamatan transfer pasien dalam literatur ilmiah dan standar akreditasi selama ini lebih banyak diarahkan ke transfer antar-rumah sakit (interhospital transfer) — karena risikanya lebih kasat mata dan konsekuensinya lebih mudah ditelusuri. Transfer internal (intrahospital transfer/IHT) cenderung diperlakukan sebagai prosedur rutin yang tidak memerlukan protokol ketat. Persepsi ini adalah salah satu akar masalah yang paling berbahaya.
Angka yang Mengkhawatirkan
Data tentang insiden selama IHT sangat beragam — mencerminkan variasi besar dalam populasi yang diteliti, definisi adverse event yang digunakan, dan kualitas sistem pelaporan di masing-masing fasilitas. Namun rentang angkanya sendiri sudah cukup menggugah: insiden adverse event global selama IHT bervariasi luas, berkisar antara 3% hingga 75%.
Sebuah studi multisenter prospektif di 15 pusat perawatan tersier di India yang mengikuti 893 pasien dalam 1.065 kali transportasi menemukan bahwa komplikasi kardiovaskular adalah adverse event paling umum (30,4%), dan dua pasien mengalami henti jantung segera setelah transfer. Sebuah studi lain tentang komplikasi transfer ke dan dari ICU menemukan bahwa komplikasi yang paling sering dilaporkan saat transfer ke ICU adalah deteriorasi status pernapasan (51,4%), diikuti deteriorasi status hemodinamik (46,5%), dan hilangnya informasi klinis (35,5%). Sementara saat transfer dari ICU ke bangsal umum, perubahan status pernapasan menjadi yang paling umum (55,6%), diikuti informasi klinis yang tidak lengkap (37,9%).
Yang perlu diperhatikan adalah hilangnya informasi klinis muncul konsisten sebagai komplikasi utama — sejajar dengan komplikasi fisiologis yang jauh lebih dramatis. Ini bukan kebetulan. Informasi yang hilang dalam transfer bukan hanya masalah dokumentasi — ia adalah benih dari keputusan klinis yang salah yang mungkin baru terlihat dampaknya jam atau hari kemudian.
Tiga Dimensi Risiko dalam Transfer Internal
Risiko dalam IHT bekerja melalui tiga dimensi yang berbeda namun saling berkaitan.
Dimensi pertama adalah risiko fisiologis selama perjalanan. Pasien yang dipindahkan dari satu unit ke unit lain mengalami pemutusan sementara dari sistem pemantauan yang ada di unit asal. Selama perjalanan — yang mungkin hanya berlangsung beberapa menit — pemantauan tanda vital berkurang atau bahkan tidak ada. Untuk pasien yang kondisinya belum sepenuhnya stabil, momen singkat ini bisa menjadi momen di mana deteriorasi dimulai dan tidak terdeteksi. Faktor risiko yang secara konsisten dikaitkan dengan adverse event selama IHT mencakup kondisi pasien yang tidak stabil, transportasi darurat, dan penggunaan ventilasi mekanis.
Dimensi kedua adalah risiko komunikasi saat serah terima. Ketika pasien dipindahkan dari satu unit ke unit lain, sangat penting untuk mengomunikasikan informasi pasien yang diperlukan guna memastikan kontinuitas perawatan. Potensi terjadinya transfer informasi yang salah, atau hilangnya informasi, merupakan bahaya keselamatan. Kegagalan komunikasi selama transfer pasien tersebar luas dan dapat menyebabkan keterlambatan diagnosis dan pengobatan serta adverse event.
Dimensi ketiga — yang paling sering diabaikan — adalah risiko hilangnya konteks klinis. Ada kategori informasi yang sering tidak terdokumentasi dalam formulir transfer karena sifatnya yang lebih nuansawi: mengapa pasien terlihat lebih gelisah dari biasanya tadi malam, bagaimana pola komunikasi pasien dengan keluarganya, kekhawatiran spesifik apa yang sudah disampaikan pasien kepada perawat bangsal asal. Informasi kontekstual seperti ini tidak ada dalam rekam medis formal, tidak masuk dalam formulir transfer, namun sangat bermakna bagi tim yang menerima untuk memberikan perawatan yang kontinu dan personal.
Mengapa Serah Terima Transfer Sering Tidak Berkualitas
Ada beberapa mekanisme yang secara konsisten melemahkan kualitas serah terima dalam transfer internal.
Mekanisme pertama adalah tekanan waktu yang asimetris. Unit pengirim ingin segera menyelesaikan transfer agar bisa fokus pada pasien lain. Unit penerima sering sedang dalam kondisi sibuk dan tidak bisa memberikan perhatian penuh untuk menerima pasien baru. Hasilnya adalah serah terima yang dilakukan dalam kondisi terburu-buru di kedua pihak — dan terburu-buru adalah musuh paling konsisten dari komunikasi yang efektif.
Mekanisme kedua adalah tidak adanya standar yang jelas tentang apa yang harus dikomunikasikan. Hampir semua rumah sakit memiliki formulir transfer. Namun formulir adalah struktur yang mengatur apa yang didokumentasikan secara tertulis — ia tidak menjamin kualitas percakapan yang terjadi antara tim pengirim dan penerima. Meskipun hanya ada sedikit detail tentang apa tepatnya isi komunikasi handover, standarisasi proses — misalnya mendeskripsikan kondisi pasien secara terstruktur — bisa menjadi titik awal untuk menentukan konten yang esensial.
Mekanisme ketiga adalah ketidakseimbangan hierarki antar unit. Transfer dari IGD ke bangsal, atau dari bangsal ke ICU, sering melibatkan dinamika kekuasaan yang tidak seimbang: perawat IGD yang menyerahkan kepada dokter ICU, atau perawat bangsal yang menerima dari tim ICU. Ketidakseimbangan ini secara tidak sadar bisa menghambat pertanyaan yang seharusnya diajukan atau informasi yang seharusnya disampaikan.
Informasi yang Tertinggal vs. Informasi yang Ditransfer
Ada perbedaan yang bermakna antara informasi yang tercantum dalam formulir transfer dan informasi yang benar-benar dipindahkan dalam serah terima yang efektif. Formulir transfer yang lengkap mencatat diagnosa, tanda vital terakhir, obat-obatan, dan rencana tindak lanjut. Namun handover yang bermakna juga mencakup hal-hal yang tidak ada kolom formulirnya: “pasien ini sangat cemas dan butuh penjelasan berulang sebelum bisa tenang,” “keluarganya sangat terlibat dan ingin selalu diberitahu,” atau “tadi malam ada perubahan kondisi singkat yang sudah terkoreksi tapi perlu diperhatikan.”
Penelitian tentang handoff dan budaya keselamatan menemukan bahwa handoff yang efektif mencakup tiga dimensi sekaligus: transfer informasi, transfer tanggung jawab, dan transfer akuntabilitas — dan bahwa mengabaikan salah satu dimensi ini secara konsisten berkaitan dengan persepsi keselamatan pasien yang lebih buruk. Ini adalah pemahaman yang lebih dalam dari sekadar “informasinya harus lengkap” — ia menegaskan bahwa handover yang sejati juga melibatkan perpindahan rasa memiliki terhadap keselamatan pasien tersebut dari satu tim ke tim berikutnya.
Standar yang Ada dan Celah yang Perlu Ditutup
Dalam kerangka STARKES, standar AKP tentang kesinambungan pelayanan mencakup persyaratan bahwa proses transfer pasien dilakukan dengan informasi yang memadai untuk memastikan kesinambungan asuhan. The Joint Commission International sejak 2006 sudah mengidentifikasi kebutuhan untuk komunikasi terstruktur selama transfer pasien dan mendefinisikan persyaratan penggunaan alat terstruktur. Namun seperti yang berulang kali dibahas dalam seri ini, persyaratan yang ada di dokumen standar tidak selalu mencerminkan praktik yang berjalan di lapangan.
Yang diperlukan adalah mekanisme yang membuat handover transfer berkualitas menjadi default — bukan pengecualian. Ini mencakup: waktu yang diperlindungi untuk serah terima (protected handover time) yang tidak boleh diinterupsi untuk tugas lain; daftar periksa transfer yang mencakup informasi klinis kritis serta konteks yang relevan; dan budaya di mana tim penerima merasa aman untuk bertanya “apa yang perlu saya ketahui tentang pasien ini yang belum tertulis dalam formulir?”
Transfer pasien bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Ia adalah memindahkan tanggung jawab klinis, dengan seluruh konteks dan nuansa yang menyertainya. Ketika konteks itu tertinggal di unit pengirim, pasien yang tiba di unit penerima adalah pasien yang sedikit lebih asing — dan sedikit lebih rentan — dari yang seharusnya.
Referensi
Al-Qahtani, S., et al. (2021). Adverse events experienced with intrahospital transfer of critically ill patients. Medicine, 100(18). https://journals.lww.com/md-journal/fulltext/2021/05070/adverse_events_experienced_with_intrahospital.72.aspx
Cohen, M. D., et al. (2016). Handoffs, safety culture, and practices: Evidence from the hospital survey on patient safety culture. BMC Health Services Research, 16, 254. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4941024/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1128/2022 tentang Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES). Kemenkes RI.
Mughal, M. A., et al. (2023). Adverse events during intrahospital transport of critically ill patients: A multicenter, prospective, observational study (I-TOUCH Study). Critical Care Medicine. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10504651/
Parmentier-Decrucq, E., et al. (2013). Adverse events during intrahospital transport of critically ill patients: Incidence and risk factors. Annals of Intensive Care, 3(1), 10. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC3639083/
Ravenscroft, A., et al. (2020). Developing and psychometrics assessment of a checklist for safe intrahospital patient transfer. PMC. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12882135/
Spiva, L., et al. (2022). Improving patient safety in general hospitals using structured handoffs: Outcomes from a national project. BMC Health Services Research. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC8965813/
Spoelstra-de Man, A. M. E., & Smit, B. (2021). Adverse events during intrahospital transport of critically ill patients: A systematic review and meta-analysis. American Journal of Emergency Medicine. https://doi.org/10.1016/j.ajem.2021.09.003

Tinggalkan komentar