A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan seorang pasien yang berobat di sebuah puskesmas di pelosok, lalu dirujuk ke rumah sakit kabupaten, kemudian dirujuk lagi ke rumah sakit provinsi karena kondisinya memburuk. Di setiap perpindahan itu, riwayat alergi obatnya, hasil laboratoriumnya, dan catatan diagnosisnya sering kali harus dimasukkan ulang dari nol—bukan karena tenaga kesehatan malas, tetapi karena sistem informasi di ketiga fasilitas tersebut tidak bisa saling “bicara”. Persoalan ini bukan cerita fiksi. Inilah wajah nyata fragmentasi sistem kesehatan digital yang dialami banyak negara, termasuk Indonesia, dan menjadi alasan mengapa World Health Organization (WHO) baru saja mengambil langkah penting dalam tata kelola infrastruktur digital kesehatan global.

Pada 9 Juli 2026, WHO mengumumkan bergabung dengan Open Health Stack Software Foundation (OHS-SF), sebuah yayasan baru yang didirikan oleh Linux Foundation dengan dukungan WHO, Google, dan koalisi global organisasi kesehatan serta teknologi. Langkah ini menandai babak baru dalam upaya menata ulang lanskap digital kesehatan dunia yang selama ini tumbuh secara terpisah-pisah.

Akar Masalah: Sistem yang Tumbuh Sendiri-Sendiri

WHO menggambarkan persoalan ini dengan gamblang: sistem kesehatan digital di banyak negara tumbuh secara terfragmentasi, di mana satu program dibangun untuk imunisasi, program lain untuk HIV, dan program lain lagi untuk kesehatan ibu—masing-masing dibangun terpisah, sering oleh mitra yang berbeda, di atas platform terisolasi yang tidak mudah saling terhubung. Akibatnya, tenaga kesehatan harus memasukkan data yang sama berulang kali, kementerian kesehatan kesulitan melihat gambaran utuh sistem kesehatannya sendiri, dan setiap investasi baru justru menambah kepingan lain yang terputus alih-alih memperkuat infrastruktur secara keseluruhan.

Bagi pembaca yang berkecimpung di manajemen fasilitas kesehatan, gambaran ini tentu terasa akrab—persis seperti tantangan interoperabilitas yang juga dihadapi Indonesia dalam mengintegrasikan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) dengan platform SATUSEHAT milik Kementerian Kesehatan RI.

Dari Nota Kesepahaman Menjadi Yayasan Global

Kolaborasi yang melahirkan OHS-SF sebenarnya sudah dimulai sejak 2020, ketika WHO mengidentifikasi persoalan praktis: pedoman SMART Guidelines dan berbagai rekomendasi klinis serta kesehatan masyarakat yang telah melalui penjaminan mutu perlu dapat digunakan langsung di dalam sistem digital kesehatan yang sesungguhnya, bukan sekadar diterbitkan sebagai dokumen. WHO dan Google kemudian menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan kode perangkat lunak open source yang memudahkan negara-negara mengadopsi panduan WHO, menggunakan standar interoperabilitas bersama seperti HL7 FHIR.

Kolaborasi ini kemudian melahirkan Open Health Stack, yang diluncurkan pada 2023, dan sejak itu tumbuh komunitas pengembang, pelaksana program, kementerian kesehatan, dan mitra teknis yang lebih luas. Jutaan orang kini terlayani oleh layanan kesehatan yang berjalan di atas perangkat Open Health Stack, mulai dari sistem rekam kesehatan digital nasional hingga platform kader kesehatan masyarakat, di negara-negara Afrika Sub-Sahara, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.

Agar perangkat ini terus melayani seluruh komunitas kesehatan global dan tidak bergantung pada satu organisasi saja, Google menyerahkan kode dan aset Open Health Stack kepada yayasan independen baru yang dinaungi Linux Foundation. Dr. Michael Howell, Chief Health Officer Google, menyebut langkah ini sebagai wujud infrastruktur yang terbuka, transparan, dan dapat diverifikasi—fondasi penting bagi kecerdasan buatan yang benar-benar dapat dipercaya di bidang kesehatan, sekaligus memastikan pengembang dapat membangun perangkat digital yang diandalkan klinisi dan profesional kesehatan masyarakat berdasarkan standar bersama yang mudah diakses.

Berdiri di Atas Standar yang Sudah Dikenal

Yang membuat OHS-SF relevan bagi praktisi kesehatan bukan sekadar strukturnya, melainkan fondasi teknisnya. Yayasan ini berpijak pada standar yang sama dengan yang digunakan WHO dalam seluruh panduan normatifnya: HL7 FHIR untuk pertukaran data kesehatan, serta terminologi internasional seperti International Classification of Diseases (ICD), sehingga sebuah diagnosis atau layanan yang dicatat di satu sistem memiliki makna yang sama ketika dibaca di sistem lain. Perangkat Open Health Stack dibangun agar bekerja langsung dengan WHO SMART Guidelines—versi yang dapat dibaca mesin dari rekomendasi klinis dan kesehatan masyarakat WHO. Artinya, sistem yang dibangun negara di atas Open Health Stack sejak awal sudah siap menjalankan konten yang telah dijamin mutunya oleh WHO, tanpa perlu pekerjaan tambahan untuk menerjemahkan panduan tersebut ke bentuk yang dapat digunakan.

Bagi pembaca Indonesia, kerangka ini sepadan dengan cara SATUSEHAT mengadopsi HL7 FHIR versi R4 sebagai bahasa pertukaran data kesehatan nasional, termasuk validasi terhadap kode terminologi seperti ICD-10, ICD-9 CM, LOINC, dan SNOMED-CT (SATUSEHAT Platform, n.d.).

Implikasi bagi Negara-Negara

Bagi negara berkembang dan menengah, konsekuensi praktis dari yayasan ini cukup besar. OHS-SF akan memelihara dan mengembangkan pustaka kode open source, perangkat pengembang, dan perangkat lunak rujukan yang dapat digunakan negara atau mitra pelaksana mana pun, bebas dari biaya lisensi dan ketergantungan pada satu vendor. Ini adalah fondasi bersama yang membantu negara menuju apa yang disebut WHO sebagai Resilient Essential Digital and Data Health Infrastructure (REDDHI)—kondisi di mana layanan dan aplikasi digital kesehatan esensial suatu negara, seperti registri bersama, rekam kesehatan seumur hidup, dan pertukaran data berbasis standar antarsistem, berkelanjutan secara teknis maupun finansial atas kemampuan negara itu sendiri.

Pendekatan “full-STAC“—kode terbuka yang dipelihara komunitas, dibangun di atas standar terbuka, teknologi terbuka, arsitektur terbuka, dan konten terbuka—menjadi bagian penting yang memungkinkan keberlanjutan tersebut, dibandingkan mengharuskan negara terus membangun ulang atau melisensi ulang kapabilitas fondasi yang sama.

Karena kodenya terbuka dan berbasis standar, negara dan perusahaan lokal dapat membangun, mengadaptasi, dan memelihara sistem mereka sendiri, alih-alih bergantung pada satu vendor tunggal. WHO menegaskan bahwa hal ini sejalan dengan pergeseran yang diserukan Accra Agenda for Action dan Lusaka Agenda: menjauh dari solusi eksternal yang bersifat sekali pakai, menuju sistem yang dimiliki negara dan dapat dipertahankan secara teknis maupun finansial oleh ekosistem teknologi lokal dalam jangka panjang.

Menyiapkan Jalan bagi Kecerdasan Buatan yang Dapat Diverifikasi

Salah satu komponen paling relevan dengan tren terkini adalah AI Commons for Global Health—ruang netral dan agnostik-model yang dikembangkan bersama WHO untuk membangun perangkat bersama yang dibutuhkan kecerdasan buatan (AI) yang aman dan efektif di bidang kesehatan, termasuk protokol teknis umum, kemampuan spesifik kesehatan yang dapat dipanggil sistem AI, serta alat evaluasi dan benchmarking. Dengan berpijak pada standar terbuka untuk AI, komponen ini memberi negara jalur praktis untuk mengintegrasikan AI ke dalam sistem kesehatan mereka di atas infrastruktur yang interoperabel, dapat diaudit, dan berakar pada norma WHO—bukan mengadopsi perangkat AI yang berdiri terpisah atau tidak konsisten dengan standar yang sudah dijalankan sistem kesehatan mereka.

Dr. Garrett Mehl, Kepala Unit Kesehatan Digital dan Sistem Informasi WHO, menyampaikan pandangan yang tajam soal kegagalan proyek digital kesehatan di masa lalu: banyak sistem digital kesehatan yang menjanjikan justru runtuh ketika proyek donor yang mendanainya berakhir, sehingga jalan menuju ekosistem kesehatan digital nasional yang tangguh harus melalui kepemilikan negara atas tata kelola maupun fondasi teknis sistem mereka sendiri.

Bagaimana Negara dan Mitra Dapat Memanfaatkannya

Bagi kementerian kesehatan dan mitra teknologinya, peluang praktisnya adalah membangun di atas perangkat yang sudah selaras dengan norma WHO, alih-alih memulai dari nol atau terikat pada satu vendor. WHO SMART Guidelines tersedia bebas biaya di smart.who.int, sementara kode sumber terbuka, perangkat pengembang, dan perangkat lunak rujukan tersedia di ohs.foundation. Keanggotaan yayasan ini gratis bagi entitas nirlaba, akademik, dan pemerintah, sesuai tingkat keanggotaan Associate Linux Foundation. Tim teknis negara dan mitra pelaksana lokal dapat berkontribusi pada kode sekaligus menggunakannya, membangunnya ke dalam sistem kesehatan digital nasional, mengadaptasi sesuai kebutuhan lokal, dan memeliharanya sendiri dari waktu ke waktu—yang pada akhirnya membangun kapasitas teknis lokal yang bertahan lama, bukan ketergantungan berulang pada vendor eksternal.

Relevansi bagi Indonesia

Meski pengumuman ini berskala global, geliatnya sejalan dengan arah yang sudah dijalankan Indonesia melalui SATUSEHAT—platform interoperabilitas nasional Kementerian Kesehatan RI yang juga mengadopsi HL7 FHIR R4 sebagai bahasa pertukaran data, dengan kewajiban integrasi bagi seluruh fasilitas kesehatan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 24 Tahun 2022 (SATUSEHAT Platform, n.d.; dhealth.co.id, 2026). Fasilitas kesehatan di Indonesia—termasuk rumah sakit dan klinik—yang sudah membangun kapasitas mengirim data resource seperti Organization, Patient, Encounter, Condition, dan Observation dalam format FHIR, pada dasarnya sudah berada di jalur yang sama dengan visi interoperabilitas global yang didorong OHS-SF (medminutes.io, 2026).

Bagi manajer fasilitas kesehatan, pesan pentingnya jelas: investasi dalam interoperabilitas berbasis standar terbuka bukan sekadar kepatuhan regulasi semata, melainkan langkah strategis agar sistem informasi rumah sakit tidak terjebak ketergantungan vendor tunggal dan tetap dapat berkembang seiring perubahan kebutuhan—termasuk kesiapan mengadopsi AI di bidang kesehatan secara bertanggung jawab di masa depan.


Daftar Pustaka

dhealth.co.id. (2026, Mei 12). SatuSehat 2026: Tahapan integrasi & strategi agar faskes patuh. https://www.dhealth.co.id/post/satusehat-2026-tahapan-integrasi-yang-wajib-dipenuhi-setiap-faskes

medminutes.io. (2026, Januari 20). Panduan lengkap integrasi SATUSEHAT untuk rumah sakit 2026. https://medminutes.io/blog/panduan-integrasi-satusehat-rumah-sakit/

SATUSEHAT Platform. (n.d.). FHIR. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://satusehat.kemkes.go.id/platform/docs/id/fhir/

World Health Organization. (2026, Juli 9). WHO joins the Open Health Stack Software Foundation to advance open, standards-based digital health for all countries. https://www.who.int/news/item/09-07-2026-who-joins-the-open-health-stack-software-foundation-to-advance-open–standards-based-digital-health-for-all-countries

Catatan transparansi: sumber dhealth.co.id dan medminutes.io digunakan sebagai konteks pendukung mengenai implementasi SATUSEHAT di Indonesia dan bersifat sekunder terhadap sumber utama WHO.

Fediverse Reactions

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar