Planetary Health Diet (PHD), sebuah pola makan dominan nabati dengan porsi terbatas produk hewani, dikaitkan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan kematian dini berdasarkan studi kohort besar di Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok. Penelitian menunjukkan manfaatnya melalui mekanisme seperti penurunan asupan lemak jenuh, peningkatan serat, dan kandungan antioksidan yang mendukung kesehatan jantung.
Meskipun bukti ilmiah untuk populasi Indonesia masih terbatas, prinsip PHD sejalan dengan pedoman gizi seimbang nasional. Tantangan penerapannya meliputi pola konsumsi masyarakat yang didominasi karbohidrat olahan dan preferensi budaya, sehingga diperlukan adaptasi dengan memanfaatkan sumber protein nabati lokal seperti tempe dan tahu.
Seorang perempuan berusia 58 tahun datang ke poliklinik dengan keluhan mudah lelah dan sesekali nyeri dada saat naik tangga. Setelah pemeriksaan, tekanan darahnya sedikit di atas normal dan profil lipidnya menunjukkan kadar low-density lipoprotein (LDL) yang tinggi. Ia bukan perokok, jarang mengonsumsi alkohol, tetapi pola makannya didominasi nasi putih, gorengan, dan daging olahan—pola yang lazim ditemui di banyak rumah tangga Indonesia. Kasus semacam ini menggambarkan tantangan besar dalam pencegahan penyakit kardiovaskular: bukan sekadar soal genetik atau usia, tetapi juga soal apa yang ada di piring makan sehari-hari.
Dalam beberapa tahun terakhir, satu pola makan yang awalnya dirancang untuk menjawab krisis lingkungan justru menunjukkan bukti kuat sebagai pelindung jantung: Planetary Health Diet (PHD), atau Diet Kesehatan Planet.
Apa Itu Planetary Health Diet?
Planetary Health Diet pertama kali diperkenalkan oleh Komisi EAT-Lancet pada 2019 sebagai kerangka pola makan yang dirancang untuk memberi nutrisi optimal bagi hampir 10 miliar penduduk dunia pada 2050, sekaligus menjaga daya dukung planet yang berfokus pada pangan nabati utuh, lemak sehat, dan jumlah produk hewani yang sangat rendah. Berbeda dengan diet vegetarian atau vegan yang sepenuhnya menghindari produk hewani, PHD bersifat fleksibel—dominan nabati (plant-forward), namun masih menyisakan ruang kecil untuk daging, telur, susu, dan ikan dalam porsi terbatas.
Struktur piring PHD secara garis besar terdiri atas: separuh piring diisi sayur dan buah, sisanya didominasi biji-bijian utuh (whole grains), kacang-kacangan, dan sumber protein nabati, dengan alokasi sangat kecil untuk daging merah, gula tambahan, dan minyak jenuh. Tingkat kepatuhan seseorang terhadap pola ini biasanya diukur menggunakan Planetary Health Diet Index (PHDI), sebuah skor komposit yang dihitung dari data asupan makanan.
Bukti Terbaru: Dari Perempuan Pascamenopause hingga Meta-Analisis Global
Riset tentang hubungan PHD dan kesehatan jantung berkembang pesat dalam dua tahun terakhir, dan hasilnya cukup konsisten.
Studi kohort perempuan pascamenopause (WHI). Analisis terbaru terhadap lebih dari 66.000 perempuan pascamenopause dalam Women’s Health Initiative Observational Study menemukan bahwa kepatuhan yang lebih tinggi terhadap PHD berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular total—mencakup penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal jantung—yang menurun secara proporsional di seluruh kuintil skor PHDI Temuan ini menunjukkan bahwa orang mungkin tidak perlu mengikuti diet yang sempurna atau sangat ketat untuk merasakan manfaat potensial bagi kesehatan jantung. Hal ini penting khususnya bagi perempuan pascamenopause, mengingat risiko kardiovaskular meningkat seiring usia dan cenderung naik setelah menopause. Perlu dicatat, hasil ini baru dipresentasikan dalam bentuk poster di konferensi NUTRITION 2026 dan belum melalui proses peer-review jurnal sehingga sifatnya masih observasional dan belum dapat membuktikan hubungan sebab-akibat langsung.
Kohort SUN (Spanyol). Studi Seguimiento Universidad de Navarra yang melibatkan 18.656 partisipan dengan usia rata-rata 38 tahun turut mengonfirmasi asosiasi antara kepatuhan PHD dan penurunan risiko kejadian kardiovaskular baru, dengan masa pengamatan median lebih dari satu dekade.
Meta-analisis dan kohort besar lainnya. Sebuah analisis gabungan yang memanfaatkan data NHANES Amerika Serikat, UK Biobank, serta meta-analisis dari berbagai kohort menemukan bahwa kepatuhan lebih tinggi terhadap PHD berkaitan dengan penurunan risiko kematian akibat sebab apa pun, kanker, dan penyakit kardiovaskular, serta penurunan risiko kanker kolorektal, kanker paru, penyakit kardiovaskular, penyakit jantung koroner, stroke, dan diabetes. Studi lain yang dirangkum oleh Institute for Functional Medicine mencatat estimasi penurunan risiko sebesar 17% untuk penyakit kardiovaskular, 17% untuk penyakit jantung koroner, dan 16% untuk stroke total pada kelompok dengan kepatuhan PHD tertinggi. Sementara itu, tinjauan naratif yang merangkum literatur hingga awal 2025 menyimpulkan bahwa kepatuhan yang lebih tinggi terhadap PHD memberikan efek menguntungkan bagi kesehatan manusia, terutama menurunkan risiko diabetes, penyakit kardiovaskular beserta angka kematiannya, kanker, serta kematian akibat sebab apa pun, meski hubungan dengan stroke, hipertensi, dan dislipidemia disebut masih perlu konfirmasi lebih lanjut.
Mengapa Pola Makan Nabati Bisa Melindungi Jantung?
Secara fisiologis, manfaat PHD terhadap kesehatan kardiovaskular dapat dijelaskan melalui beberapa mekanisme yang telah lama dikenal dalam kedokteran pencegahan:
- Penurunan asupan lemak jenuh dan kolesterol. Berkurangnya konsumsi daging merah dan produk susu tinggi lemak menurunkan asupan lemak jenuh yang berkontribusi pada peningkatan kadar LDL dan proses aterosklerosis.
- Peningkatan asupan serat. Biji-bijian utuh, kacang-kacangan, sayur, dan buah kaya serat larut yang membantu menurunkan kolesterol total dan memperbaiki profil lipid.
- Kandungan antioksidan dan fitokimia. Pangan nabati mengandung senyawa bioaktif yang berperan meredam stres oksidatif dan peradangan kronik derajat rendah—salah satu jalur penting dalam patogenesis penyakit jantung koroner.
- Efek terhadap tekanan darah. Pola makan tinggi kalium (dari sayur dan buah) dan rendah natrium olahan berkontribusi pada kontrol tekanan darah yang lebih baik.
Menempatkan Bukti Ini dalam Konteks Indonesia
Beban penyakit kardiovaskular di Indonesia tidak bisa dianggap ringan. Data terbaru Kementerian Kesehatan menyebutkan penyebab kematian tertinggi di Indonesia adalah penyakit stroke sebesar 19,42 persen dan jantung iskemik (serangan jantung) sebesar 14,38 persen—dua kondisi yang secara global juga menjadi penyumbang kematian terbesar. Adapun Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi penyakit jantung yang didiagnosis dokter sebesar 0,85 persen pada penduduk Indonesia, dengan perbedaan yang cukup jelas antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Sayangnya, sebagian besar bukti ilmiah mengenai PHD dan kesehatan jantung yang dipaparkan di atas berasal dari kohort di Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok. Studi populasi berbasis Indonesia yang secara spesifik mengukur kepatuhan terhadap Planetary Health Diet Index dan luarannya terhadap kejadian kardiovaskular masih sangat terbatas. Meski demikian, prinsip dasar PHD—memperbanyak sayur, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan, membatasi daging merah dan produk olahan tinggi lemak jenuh—sejalan dengan anjuran gizi seimbang yang telah lama dipromosikan Kemenkes RI melalui panduan “Isi Piringku”. Perbedaannya, PHD memberikan kerangka kuantitatif yang lebih terstruktur dan memasukkan dimensi keberlanjutan lingkungan sebagai bagian dari rekomendasinya.
Tantangan penerapan di Indonesia juga bersifat kontekstual: pola konsumsi masyarakat masih didominasi karbohidrat olahan (nasi putih), harga sayur dan buah yang berfluktuasi di beberapa daerah, serta preferensi budaya terhadap masakan bersantan dan gorengan. Edukasi gizi berbasis PHD perlu diadaptasi agar realistis dan terjangkau, misalnya dengan memaksimalkan sumber protein nabati lokal seperti tempe dan tahu yang sudah lekat dengan pola makan Indonesia.
Bagaimana Memulainya?
Bagi tenaga kesehatan yang memberikan edukasi gizi, beberapa langkah praktis yang sejalan dengan prinsip PHD dapat disampaikan kepada pasien:
- Menjadikan sayur dan buah mengisi separuh porsi makan setiap kali makan.
- Mengganti sebagian nasi putih dengan sumber karbohidrat kompleks seperti beras merah atau jagung.
- Memperbanyak sumber protein nabati (tempe, tahu, kacang-kacangan) dan membatasi frekuensi daging merah serta daging olahan.
- Memilih ikan sebagai sumber protein hewani yang lebih disarankan dibanding daging merah.
- Membatasi gula tambahan, garam, dan minyak goreng berulang.
Perubahan pola makan sebaiknya dilakukan bertahap dan disesuaikan dengan kondisi klinis masing-masing pasien, terutama pada pasien dengan komorbiditas seperti diabetes atau penyakit ginjal kronik yang memerlukan pertimbangan gizi khusus.
Catatan transparansi: Sebagian besar temuan mengenai hubungan Planetary Health Diet dan risiko kardiovaskular dalam artikel ini bersumber dari studi kohort observasional berskala besar di Amerika Serikat, Eropa, dan Tiongkok; desain observasional tidak dapat membuktikan hubungan sebab-akibat secara langsung, meski konsistensi temuan lintas populasi memperkuat plausibilitas biologisnya. Temuan dari Women’s Health Initiative yang dipresentasikan pada konferensi NUTRITION 2026 masih berstatus abstrak konferensi dan belum melalui proses peer-review jurnal ilmiah. Data epidemiologi dan kebijakan gizi Indonesia yang dikutip berasal dari SKI 2023 dan siaran pers resmi Kemenkes RI; belum ditemukan studi kohort besar berbasis populasi Indonesia yang secara khusus mengukur kepatuhan Planetary Health Diet Index dan luaran kardiovaskularnya, sehingga penerapan rekomendasi PHD pada konteks lokal masih bersifat ekstrapolasi berdasarkan kesesuaian dengan pedoman gizi seimbang nasional.
Ringkasan: Bukti terbaru dari berbagai kohort besar—termasuk studi terhadap 66.000 perempuan pascamenopause—menunjukkan Planetary Health Diet yang kaya sayur, buah, biji-bijian, dan rendah produk hewani berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, stroke, dan kematian dini, meski bukti spesifik untuk populasi Indonesia masih terbatas dan perlu diadaptasi secara kontekstual.
Daftar Pustaka
Bu, Z., Li, Z., & Liu, X. (2026). Planetary health diet index and risk of mortality and cardiovascular disease: Evidence from the Health and Retirement Study. Nutrition Journal, 25, 30. https://doi.org/10.1186/s12937-026-01286-x
Dinas Kesehatan Provinsi Aceh. (2023, September 26). Kemenkes: Penyakit kardiovaskular penyebab kematian tertinggi di Indonesia. https://dinkes.acehprov.go.id/detailpost/kemenkes-penyakit-kardiovaskular-penyebab-kematian-tertinggi-di-indonesia
Guzmán-Castellanos, K. B., Zazpe, I., Santiago, S., Bes-Rastrollo, M., & Martínez-González, M. Á. (2024). Planetary Health Diet and cardiovascular disease risk in the Seguimiento Universidad de Navarra (SUN) cohort. Nutrients, 17(1), 27. https://doi.org/10.3390/nu17010027
HCPLive. (2026, Agustus 13). Planetary Health Diet reduces risk of cardiovascular disease, CHD, stroke, HF. https://www.hcplive.com/view/planetary-health-diet-reduces-risk-of-cardiovascular-disease-chd-stroke-hf
Institute for Functional Medicine. (2025). The Planetary Health Diet: A new study reports significant benefits for people and the environment. https://www.ifm.org/articles/the-planetary-health-diet
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI.
Sawicki, C. M., Ramesh, G., Bui, L., Nair, N. K., Hu, F. B., Rimm, E. B., Stampfer, M. J., Willett, W. C., & Bhupathiraju, S. N. (2026). Healthy eating for the planet, cardiovascular health, and longevity: An observational study. Journal of the American Heart Association. https://doi.org/10.1161/JAHA.124.040610
(bioengineer.org). (2026, Juli 25). Plant-forward planetary diet cuts heart disease risk, study finds. https://bioengineer.org/plant-forward-planetary-diet-cuts-heart-disease-risk-study-finds/
The role of a sustainable Planetary Health Diet in the prevention of non-communicable diseases and cause-specific mortality: A narrative review. (2025). PMC. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC12651933/
Planetary Health Diet and risk of mortality and chronic diseases: Results from US NHANES, UK Biobank, and a meta-analysis. (2026). Science Advances. https://doi.org/10.1126/sciadv.adq5147




Tinggalkan Balasan