Penyakit jantung iskemik tetap menjadi penyebab kematian utama di dunia, meski sebagian besar kasusnya dapat dicegah. Studi terbaru dari Global Burden of Disease 2023 menunjukkan hampir 90% kematian akibat penyakit ini di Amerika Serikat terkait dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti tekanan darah tinggi, pola makan tidak sehat, dan kolesterol LDL tinggi.

Tren penurunan kematian melambat sejak 2010, sementara risiko terkait obesitas dan gula darah tinggi justru meningkat. Temuan ini juga relevan bagi Indonesia, di mana penyakit kardiovaskular menjadi penyebab kematian tertinggi dan beban biaya kesehatan terbesar. Deteksi dini serta intervensi pada tingkat individu dan kebijakan dinilai penting untuk mengendalikan risiko.

Seorang laki-laki berusia 52 tahun datang ke poli umum dengan keluhan nyeri dada saat naik tangga. Tekanan darahnya 152/96 mmHg, lingkar pinggangnya jauh di atas normal, dan hasil profil lipid menunjukkan kolesterol LDL 178 mg/dL. Ia terkejut ketika diberi tahu bahwa ia berisiko tinggi mengalami infark miokard — serangan jantung. “Saya tidak pernah merasa sakit apa-apa, Dok,” katanya. Skenario semacam ini terjadi setiap hari di ruang praktik dokter umum maupun di Puskesmas — dan menurut studi terbaru, kisah seperti inilah yang menjelaskan mengapa penyakit jantung masih menjadi pembunuh nomor satu di dunia, padahal sebagian besar sebenarnya bisa dicegah.

Sebuah analisis besar yang dipublikasikan di jurnal JAMA Cardiology pada Juli 2026 menegaskan hal ini dengan angka yang sulit dibantah: hampir 9 dari 10 kematian akibat ischemic heart disease (penyakit jantung iskemik, termasuk penyakit jantung koroner) di Amerika Serikat pada tahun 2023 masih berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dikendalikan (Benziger dkk., 2026).

Studi Berbasis 33 Tahun Data Global Burden of Disease

Tim peneliti yang dipimpin oleh Catherine P. Benziger dari Essentia Health, bersama Gregory Roth dari University of Washington sebagai salah satu penulis senior, menganalisis data dari Global Burden of Disease Study 2023 (GBD 2023) — basis data epidemiologi global yang mencatat tren kematian dan paparan faktor risiko dari tahun 1990 hingga 2023 (Benziger dkk., 2026). Data kematian ditelusuri melalui National Vital Statistics System Amerika Serikat, kemudian dikaitkan dengan dua belas faktor risiko yang dapat dimodifikasi, yang dikelompokkan dalam tiga kategori besar:

  • Faktor metabolik: kolesterol LDL tinggi, tekanan darah sistolik tinggi, indeks massa tubuh (body mass index/BMI) tinggi, dan gula darah puasa tinggi (fasting plasma glucose), serta disfungsi ginjal.
  • Faktor perilaku: pola makan tidak sehat, merokok, konsumsi alkohol berlebih, dan kurangnya aktivitas fisik.
  • Faktor lingkungan: paparan polusi partikulat udara dan paparan timbal (lead exposure).

Kabar Baik: Kematian Turun Hampir Separuh dalam 33 Tahun

Ada kemajuan nyata yang patut diapresiasi. Angka kematian akibat penyakit jantung iskemik yang telah disesuaikan usia (age-standardized mortality rate) di Amerika Serikat turun sebesar 58,7% sejak tahun 1990 hingga 2023 (Benziger dkk., 2026). Penurunan ini terutama didorong oleh keberhasilan mengendalikan dua faktor risiko: kematian yang terkait kebiasaan merokok turun 33,3%, sementara kematian yang terkait paparan polusi partikulat udara turun jauh lebih tajam, yakni 74,9% (Cooney, 2026).

Namun di balik tren penurunan jangka panjang ini, penelitian menemukan bahwa laju perbaikan justru melambat sejak tahun 2010 — dan pada tahun 2023 tercatat sekitar 473.000 kematian akibat penyakit jantung iskemik di Amerika Serikat, dengan sekitar 419.000 di antaranya, atau 88,7–88,8%, masih dapat dikaitkan dengan faktor risiko yang dapat dimodifikasi (Benziger dkk., 2026; Cooney, 2026).

Tiga Penyumbang Terbesar, dan Dua Ancaman yang Sedang Naik

Dari dua belas faktor risiko yang diteliti, tiga di antaranya menjadi penyumbang terbesar kematian akibat penyakit jantung iskemik pada tahun 2023:

  1. Tekanan darah sistolik tinggi — berkontribusi terhadap 47,2% kematian.
  2. Pola makan tidak sehat — berkontribusi terhadap 38,6% kematian.
  3. Kolesterol LDL tinggi — berkontribusi terhadap 28,5% kematian.

Yang menjadi perhatian khusus para peneliti adalah dua faktor risiko yang justru meningkat kontribusinya sejak 1990: kematian yang terkait BMI tinggi naik 12,5%, dan yang terkait gula darah puasa tinggi naik 10,5% (Pelc, 2026). Tren ini sejalan dengan meningkatnya prevalensi obesitas dan diabetes melitus tipe 2, serta munculnya konsep cardiovascular-kidney-metabolic (CKM) syndrome — istilah yang menggambarkan keterkaitan erat antara penyakit jantung, penyakit ginjal kronis, dan gangguan metabolik seperti diabetes dan obesitas (Cooney, 2026).

“Ini adalah faktor risiko yang paling cepat meningkat untuk penyakit jantung iskemik. Kita perlu memusatkan perhatian pada bagaimana menghentikan tren yang mengkhawatirkan ini,” ujar Gregory Roth, penulis studi ini, kepada Medical News Today (Pelc, 2026).

Studi ini juga menemukan variasi geografis yang mencolok. Angka kematian tertinggi tercatat di Kentucky, Tennessee, West Virginia, Mississippi, dan Arkansas, sementara Massachusetts, Oregon, Hawaii, Colorado, dan Minnesota mencatat angka terendah — dan negara bagian yang secara aktif menerapkan kebijakan pengendalian tembakau menunjukkan perbaikan yang lebih besar (Cooney, 2026).

Mengapa “Preventable” Tidak Selalu Berarti “Mudah Dicegah”

Salah satu pesan yang ditekankan Roth adalah bahwa banyak faktor risiko ini tidak bergejala, sehingga orang sering tidak menyadari dirinya berisiko sampai kejadian akut terjadi. “Ini adalah risiko yang sering tidak menimbulkan gejala, dan orang tidak menyadarinya. Kami ingin menegaskan bahwa penyakit jantung iskemik ini dapat dicegah dan faktor risikonya dapat dimodifikasi” (Pelc, 2026).

Namun pencegahan pada level populasi bukan semata soal pilihan individu. Dalam editorial pendamping yang ditulis di jurnal yang sama, Robert Califf — mantan Komisioner Food and Drug Administration (FDA) — menyoroti bahwa perbaikan lebih lanjut memerlukan kombinasi kebijakan publik, komunikasi kesehatan yang andal di tengah derasnya misinformasi di media sosial, serta perluasan akses obat generik, dan mengingatkan bahwa kebijakan yang mensubsidi lingkungan pangan, aktivitas fisik, dan udara yang tidak sehat berisiko membalikkan kemajuan yang sudah dicapai (sebagaimana dikutip dalam Cooney, 2026). Sadiya Khan dari Northwestern Medicine, yang tidak terlibat dalam studi ini, menambahkan bahwa keberhasilan menurunkan faktor risiko juga memerlukan pendekatan menyeluruh — mulai dari akses obat penurun berat badan yang efektif, lingkungan pangan yang lebih sehat, ruang terbuka untuk beraktivitas fisik, hingga keterjangkauan pengobatan (Cooney, 2026).

Relevansi bagi Indonesia

Meskipun studi ini berfokus pada populasi Amerika Serikat, pola dan pesannya sangat relevan untuk konteks Indonesia. Penyakit kardiovaskular — termasuk penyakit jantung koroner dan stroke — merupakan penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan kematian akibat penyakit jantung koroner saja mencapai sekitar 245.343 jiwa per tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2023a). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0,85% dari total penduduk, meningkat dari tren Riskesdas yang menunjukkan kenaikan dari 0,5% pada 2013 menjadi 1,5% pada 2018 (Kementerian Kesehatan RI, 2023b).

Faktor risiko yang disorot dalam studi GBD 2023 — hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, dan gula darah tinggi — juga menjadi faktor risiko dominan di Indonesia, sejalan dengan strategi Kemenkes CERDIK (Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet gizi seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres) bagi masyarakat sehat, dan PATUH bagi penyandang penyakit tidak menular (Kementerian Kesehatan RI, 2023a). Secara pembiayaan, penyakit kardiovaskular juga menjadi beban terbesar dalam skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk kategori penyakit katastropik, mencapai belasan triliun rupiah per tahun (Kementerian Kesehatan RI, 2023a). Artinya, temuan bahwa mayoritas kematian ini sesungguhnya dapat dicegah bukan sekadar catatan epidemiologis di negara maju — ia adalah peluang besar untuk penghematan biaya kesehatan sekaligus nyawa, jika deteksi dini dan pengendalian faktor risiko di layanan primer — Puskesmas, klinik pratama, dan FKTP — dapat diperkuat secara konsisten.

Apa yang Bisa Dilakukan di Tingkat Individu

Renato Apolito, direktur medis kateterisasi jantung di Hackensack Meridian Jersey Shore University Medical Center, merangkum implikasi praktis studi ini: pola makan rendah lemak jenuh dan minim makanan olahan, aktivitas fisik harian untuk menjaga BMI ideal, pengendalian kolesterol LDL (dengan statin bila diperlukan), pemantauan dan pengendalian gula darah, serta berhenti merokok — kombinasi ini mencakup sebagian besar risiko kardiovaskular yang dapat dimodifikasi (sebagaimana dikutip dalam Pelc, 2026). Pemeriksaan tekanan darah rutin dan kunjungan berkala ke layanan kesehatan primer menjadi kunci deteksi dini, mengingat sebagian besar faktor risiko ini tidak menimbulkan gejala sampai terjadi komplikasi.

Penyakit jantung iskemik memang masih menjadi pembunuh utama — tetapi studi ini menegaskan kembali satu hal penting: sebagian besar dari kematian tersebut sesungguhnya bukan takdir yang tak terelakkan, melainkan hasil dari faktor risiko yang, dengan intervensi yang tepat pada tingkat individu maupun kebijakan, dapat dikendalikan.


Catatan transparansi: Data dan angka utama dalam artikel ini (persentase kontribusi faktor risiko, tren 1990–2023, kutipan para peneliti) dikutip langsung dari studi Benziger dkk. (2026) di JAMA Cardiology serta liputan media kesehatan yang mewawancarai penulis studi (STAT News dan Medical News Today). Studi ini berfokus secara eksklusif pada populasi Amerika Serikat; belum ada studi setara dengan metodologi GBD yang menghitung persentase kontribusi faktor risiko serupa secara khusus untuk populasi Indonesia. Data epidemiologi Indonesia yang digunakan sebagai konteks pembanding bersumber dari publikasi resmi Kementerian Kesehatan RI (SKI 2023, data Hari Jantung Sedunia 2023) dan bersifat deskriptif, bukan hasil analisis atribusi risiko yang setara dengan metodologi GBD. Pembaca dengan keluhan atau faktor risiko kardiovaskular disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk evaluasi dan penanganan individual.

Ringkasan: Studi GBD 2023 di JAMA Cardiology menemukan hampir 90% kematian penyakit jantung iskemik di AS tahun 2023 terkait faktor risiko yang dapat dicegah — tekanan darah tinggi, pola makan buruk, dan kolesterol LDL tinggi adalah penyumbang terbesar, sementara obesitas dan gula darah tinggi justru meningkat. Temuan ini relevan bagi Indonesia, di mana penyakit kardiovaskular tetap menjadi penyebab kematian tertinggi.

Daftar Pustaka

Benziger, C. P., Stark, B., Johnson, C. O., Roth, G. A., & GBD 2023 US IHD Collaborators. (2026). Modifiable risk factors and attributable ischemic heart disease mortality in US states, 1990–2023: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. JAMA Cardiology. Advance online publication. https://doi.org/10.1001/jamacardio.2026.2435

Cooney, E. (2026, July 15). Deaths from coronary artery disease have fallen, but more progress is within reach. STAT News. https://www.statnews.com/2026/07/15/coronary-artery-disease-progress-prevention-jama-study/

Kementerian Kesehatan RI. (2023a, September 25). Cegah penyakit jantung dengan menerapkan perilaku CERDIK dan PATUH. https://kemkes.go.id/eng/cegah-penyakit-jantung-dengan-menerapkan-perilaku-cerdik-dan-patuh

Kementerian Kesehatan RI. (2023b). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Pelc, C. (2026, July 21). Heart disease: 3 modifiable factors account for most death cases. Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/almost-90-of-heart-disease-deaths-linked-to-preventable-factors-study-finds

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca