Bu Rahmawati, 47 tahun, pedagang di sebuah pasar di Makassar, sedang mengangkat dus dagangan ketika kepalanya tiba-tiba terasa seperti dihantam dari dalam. Nyerinya memuncak dalam hitungan menit, disusul mual dan leher yang kaku. Sebelumnya ia hanya tahu tekanan darahnya “agak tinggi” dan jarang kontrol. Ia tidak pernah tahu bahwa di salah satu pembuluh darah otaknya ada tonjolan kecil yang bertahun-tahun diam. (Kasus ilustrasi.)
Brain aneurysm atau aneurisma otak adalah pelebaran abnormal pada dinding arteri di otak, biasanya berbentuk kantong seperti buah beri (saccular atau berry aneurysm). Selama utuh, ia hampir selalu tanpa gejala. Bila pecah, darah masuk ke ruang subaraknoid, ruang antara otak dan selaput pembungkusnya, dan terjadilah aneurysmal subarachnoid hemorrhage (aSAH), jenis stroke perdarahan yang berbahaya1. Tulisan ini merangkum bukti terbaru dari pedoman AHA/ASA 2023, pedoman European Stroke Organisation (ESO) 2022, dan meta-analisis prevalensi yang terbit di The Lancet Neurology pada 2026.

Seberapa umum aneurisma otak?
Lebih umum daripada yang disangka. Pedoman ESO menyebut aneurisma otak yang belum pecah (unruptured intracranial aneurysm, UIA) ditemukan pada sekitar 3% populasi3. Meta-analisis terbaru dari 162 artikel dengan lebih dari 316 ribu peserta memperkirakan prevalensi 3,9% (IK 95% 3,0 sampai 5,1) pada populasi acuan berusia 50 tahun, separuh perempuan, tanpa penyakit penyerta. Pada orang sehat yang diperiksa dengan MRA atau CTA, angkanya 6,6% pada periode 2016 sampai 2022, dan aneurisma berukuran 5 mm atau lebih naik dari 0,7% menjadi 1,4%. Para penulis menduga kenaikan ini hanya sebagian disebabkan alat deteksi yang makin peka dan populasi yang menua4.
Perlu dicatat: sebagian besar aneurisma kecil tidak pernah pecah. Karena itu, menemukan aneurisma tidak otomatis berarti harus dioperasi. Keputusannya bergantung pada risiko pecah dibanding risiko tindakan, seperti dibahas di bawah.
Siapa yang lebih berisiko?
Meta-analisis yang sama memberi gambaran yang jelas tentang kelompok berisiko. Rasio risiko (risk ratio) untuk jenis kelamin perempuan adalah 1,9, untuk perokok aktif 1,4, dan untuk hipertensi 1,64. Pada kelompok dengan kondisi tertentu, prevalensinya jauh lebih tinggi:
| Kelompok | Prevalensi UIA | Rasio prevalensi terhadap populasi acuan |
|---|---|---|
| Populasi acuan (usia 50 tahun, tanpa penyakit penyerta) | 3,9% | 1,0 |
| Aterosklerosis | 5,5% | 1,3 (IK 0,8 sampai 2,0) |
| Riwayat keluarga aSAH atau UIA | 7,9% | 2,4 (IK 0,5 sampai 11,2) |
| Gangguan jaringan ikat (misalnya sindrom Marfan, Ehlers-Danlos) | 10,3% | 3,9 (IK 2,0 sampai 7,6) |
| Autosomal dominant polycystic kidney disease (ADPKD) | 12,8% | 4,4 (IK 1,5 sampai 12,6) |
Di Indonesia, dua faktor yang dapat diubah ini sangat umum. Kemenkes mencatat hipertensi menempati urutan keempat faktor risiko penyebab kematian dengan proporsi 10,2%7, dan jumlah perokok aktif diperkirakan sekitar 70 juta orang8. Dalam penelusuran saya, data prevalensi aneurisma otak atau insidens aSAH tingkat nasional di Indonesia belum ditemukan.
Gejala: kapan diam, kapan darurat
Aneurisma yang belum pecah biasanya tidak bergejala dan sering ditemukan kebetulan saat pencitraan untuk alasan lain. Aneurisma yang besar kadang menekan saraf di sekitarnya dan menimbulkan gejala seperti penglihatan ganda atau kelopak mata yang turun, tetapi ini tidak umum.
Tanda pecahnya aneurisma jauh lebih khas. Segera ke IGD bila muncul:
- Sakit kepala mendadak yang sangat hebat dan mencapai puncak dalam waktu singkat (thunderclap headache), sering digambarkan sebagai “yang terburuk seumur hidup”2.
- Leher kaku, mual atau muntah, silau terhadap cahaya.
- Penurunan kesadaran, kebingungan, atau pingsan.
- Kejang. Kejang dilaporkan pada sekitar 10 sampai 20% pasien aSAH6.
Jangan menunggu “apakah nyerinya reda” dan jangan berkendara sendiri. Waktu sangat menentukan pada kondisi ini.
Bagaimana diagnosisnya?
Menurut ringkasan pedoman AHA/ASA 2023, pada pasien yang sadar berusia 15 tahun ke atas dengan sakit kepala mendadak nontraumatik yang memuncak dalam 1 jam, aSAH dapat disingkirkan bila tidak ada satu pun temuan pada aturan Ottawa SAH. Pada pasien lainnya, CT kepala tanpa kontras dikerjakan; bila dilakukan dalam 6 jam sejak awitan, sensitivitasnya sekitar 99%. Setelah 6 jam, pungsi lumbal dianjurkan bila CT tidak menunjukkan perdarahan tetapi kecurigaan tetap ada. Bila CT menunjukkan perdarahan, CT angiografi (CTA) dipakai untuk mencari aneurismanya, sedangkan angiografi subtraksi digital (DSA) lebih baik pada perdarahan yang menyebar2.
Bila aneurisma sudah pecah
Pasien aSAH dirawat di rumah sakit dengan layanan bedah saraf, pencitraan, dan perawatan intensif. Beberapa poin dari pedoman AHA/ASA 2023: perawatan di pusat yang menangani lebih dari 35 kasus per tahun dikaitkan dengan hasil yang lebih baik; tekanan darah sistolik dijaga tidak lebih dari 160 mmHg dan variasi tekanan darah dihindari; asam traneksamat tidak mengurangi perdarahan ulang maupun memperbaiki luaran fungsional; dan aneurisma sebaiknya diamankan dalam 24 jam pertama kecuali prognosisnya sangat buruk2.
Setelah itu, ancaman berikutnya adalah penyempitan pembuluh darah dan iskemia otak tertunda (delayed cerebral ischemia). Satu-satunya obat yang terbukti efektif untuk ini adalah nimodipin, diberikan lewat mulut atau selang lambung (60 mg empat kali sehari), dimulai dalam 48 jam sejak perdarahan dan dilanjutkan 21 hari6. Dosis dan pemantauan ditentukan tim perawat, bukan untuk dilakukan sendiri.
Aneurisma yang belum pecah: diobservasi atau ditutup?
Inilah dilema terbesarnya. Pedoman ESO 2022 menyarankan penutupan pencegahan (preventive occlusion) bila perkiraan risiko pecah dalam 5 tahun melebihi risiko tindakan itu sendiri. Pada pasien yang diobservasi, ESO menyarankan pemantauan pencitraan berkala untuk mendeteksi pertumbuhan, berhenti merokok, dan pengobatan hipertensi, tetapi tidak menyarankan statin atau aspirin dengan tujuan mengurangi risiko pecah. Semua rekomendasi tersebut berlandaskan bukti berkualitas sangat rendah, karena belum ada uji acak yang selesai. Pedoman ini juga menganjurkan keputusan diambil oleh tim multidisiplin (bedah saraf, neuroradiologi, neurologi) bersama pasien, di pusat yang menangani lebih dari 100 pasien UIA per tahun, dan tindakan hanya dilakukan oleh operator dengan lebih dari 30 kasus aneurisma per tahun3.
Kliping atau coiling?
Dua cara utama mengamankan aneurisma. Kliping bedah mikro (microsurgical clipping) dilakukan lewat pembukaan tengkorak untuk memasang klip logam di leher aneurisma. Endovascular coiling memasukkan kateter lewat pembuluh darah (umumnya dari pangkal paha) untuk mengisi aneurisma dengan kumparan logam halus. Pedoman ESO tidak menyarankan salah satu teknik secara umum, dan menyarankan stent pengalih aliran (flow diverter) hanya bila tidak ada pilihan lain yang berisiko rendah3. Tinjauan klinis juga menyimpulkan pilihannya individual, menimbang ukuran, lokasi, bentuk aneurisma, ada tidaknya hematoma, dan pengalaman tim; aneurisma berleher lebar tidak selalu cocok untuk teknik endovaskular6.
| Aspek | Kliping bedah mikro | Coiling endovaskular |
|---|---|---|
| Cara | Kraniotomi, klip logam di leher aneurisma | Kateter lewat pembuluh darah, kumparan logam mengisi kantong aneurisma |
| Pemilihan | Individual, sesuai ukuran, lokasi, bentuk, hematoma, dan pengalaman tim | Individual; aneurisma berleher lebar tidak selalu cocok |
| Risiko khas | Pecah saat operasi: sekitar 12,6% gabungan, 14,4% pada aneurisma pecah dan 2,2% pada yang belum pecah | Perlu pencitraan lanjutan untuk mendeteksi kekambuhan aneurisma |
| Pemantauan setelah tindakan | Pencitraan lanjutan disarankan | Pencitraan lanjutan disarankan |
| Teknik tambahan | – | Flow diverter hanya bila tidak ada pilihan berisiko rendah lain |
Satu catatan praktis untuk Indonesia: tidak semua rumah sakit memiliki bedah saraf dan layanan neurointervensi. Bila pencitraan menemukan aneurisma, rujukan ke pusat yang berpengalaman lebih penting daripada cepat-cepat memilih salah satu teknik.
Pencegahan dan skrining
Pencegahan berfokus pada faktor yang dapat diubah: berhenti merokok dan mengendalikan tekanan darah secara teratur, yang juga merupakan langkah yang disarankan ESO bagi pasien yang aneurismanya sedang dipantau3. Gaya hidup sehat umumnya, termasuk makanan rendah garam dan lemak jenuh serta aktivitas fisik, mendukung kesehatan pembuluh darah secara keseluruhan; tulisan tentang faktor risiko penyakit jantung yang dapat dicegah membahasnya lebih jauh. Alkohol berlebihan sebaiknya dihindari, tetapi saya tidak menemukan bukti khusus untuk aneurisma otak pada sumber yang dirujuk di sini.
Soal skrining, bukti masih berkembang. Ringkasan AHA/ASA mencatat prevalensi aneurisma sekitar 12% bila dua atau lebih kerabat tingkat pertama terkena2, dan meta-analisis 2026 menyimpulkan perlunya penelitian lebih lanjut tentang skrining yang dipersonalisasi pada kelompok berisiko tinggi seperti ADPKD, riwayat keluarga, dan gangguan jaringan ikat4. Bila Anda memiliki beberapa kerabat dekat dengan perdarahan otak atau aneurisma, atau menderita kondisi di atas, bicarakan dengan dokter apakah pemeriksaan MRA atau CTA layak dipertimbangkan. Indonesia belum memiliki program skrining nasional untuk aneurisma otak. Jika Anda ingin pembahasan lain yang lebih mendalam, baca juga Aneurisma Otak: Ancaman Tersembunyi di Balik Sakit Kepala Terburuk dalam Hidup Anda, serta tulisan tentang aneurisma aorta perut untuk perbandingan dengan aneurisma di bagian tubuh lain.
Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?
Segera ke IGD bila muncul sakit kepala mendadak yang sangat hebat, terutama bila disertai leher kaku, muntah, pingsan, kejang, atau kelemahan. Bicarakan dengan dokter bila Anda memiliki hipertensi yang tidak terkontrol, merokok, atau punya keluarga dengan riwayat aneurisma atau perdarahan otak. Bu Rahmawati dalam contoh di awal dibawa keluarganya ke IGD dalam beberapa jam, menjalani CT kepala, dan dirujuk ke rumah sakit dengan layanan bedah saraf. Ia beruntung karena tidak menunda.
Catatan transparansi
- Seluruh rekomendasi ESO 2022 tentang UIA berlandaskan bukti berkualitas sangat rendah. Meta-analisis prevalensi 2026 mencatat heterogenitas bermakna antarstudi dan tingkat kepastian bukti sangat rendah sampai sedang; analisis tersebut tidak menemukan perbedaan prevalensi antarnegara, tetapi tidak ada data Indonesia yang secara spesifik saya temukan3,4.
- Rincian pedoman AHA/ASA 2023 pada tulisan ini diambil dari ringkasan di American Family Physician, bukan dari teks lengkap pedoman, sehingga kelas rekomendasi dan tingkat bukti tidak dicantumkan. Dosis nimodipin dan angka kejang berasal dari tinjauan klinis 2023 yang masih mengacu pada pedoman sebelumnya.
- Angka 70 juta perokok bersumber dari pemberitaan yang mengutip Kemenkes, bukan laporan primer. Data insidens aSAH dan prevalensi aneurisma otak Indonesia tidak saya temukan.
- Catatan tentang rujukan di daerah adalah pertimbangan penulis, bukan temuan dari sumber yang dirujuk. Bukan pula rekomendasi resmi organisasi profesi dalam negeri.
- Kasus Bu Rahmawati fiktif dan hanya ilustrasi. Gambar utama berupa skema yang dibuat untuk artikel ini.
- Diperbarui pada 25 Oktober 2026: klaim “1 dari 50 orang” (Cleveland Clinic) diganti data meta-analisis terbaru, rujukan umum “menurut Mayo Clinic” dihapus, dan bagian “obat-obatan” diluruskan sesuai ESO 2022.
Tulisan ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter.
Rujukan
- Hoh BL, Ko NU, Amin-Hanjani S, dkk. 2023 Guideline for the management of patients with aneurysmal subarachnoid hemorrhage: a guideline from the American Heart Association/American Stroke Association. Stroke. 2023;54(7):e314-e370. doi:10.1161/STR.0000000000000436
- Management of patients with aneurysmal subarachnoid hemorrhage: guidelines from the AHA and ASA (ringkasan pedoman). Am Fam Physician. 2024. aafp.org
- Etminan N, de Sousa DA, Tiseo C, dkk. European Stroke Organisation (ESO) guidelines on management of unruptured intracranial aneurysms. Eur Stroke J. 2022;7(3). doi:10.1177/23969873221099736
- Dremel J, Rucker V, Badel C, dkk. Prevalence of unruptured intracranial aneurysms according to comorbidities, risk factors, country, and time period: a systematic review and meta-analysis. Lancet Neurol. 2026;25(10):911-925. doi:10.1016/S1474-4422(26)00276-0
- Davies L, Raki C, De Silva Z, Lai L. Intraoperative rupture during microsurgical clipping of intracranial aneurysms: a systematic review and meta-analysis of incidence and outcomes. J Clin Neurosci. 2026;147:111932. doi:10.1016/j.jocn.2026.111932
- Dilmen OK, Bonhomme V. Management of aneurysmal subarachnoid haemorrhage and its complications: a clinical guide. Turk J Anaesthesiol Reanim. 2023;51(3):170-178. doi:10.4274/TJAR.2023.231205
- Kementerian Kesehatan RI. Bahaya hipertensi, upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi (rilis berdasarkan SKI 2023). kemkes.go.id
- Kumparan. Kemenkes: perokok aktif di RI 70 juta, 7,4 persen di antaranya anak dan remaja (sumber sekunder atas pernyataan Kemenkes). kumparan.com





Tinggalkan Balasan