Ada lagu yang kita dengar sejak kecil sampai tidak lagi bertanya dari mana asalnya. Bengawan Solo termasuk golongan itu: iramanya mengalir pelan, tidak tergesa, seperti air yang dilukiskannya. Ia layak didengar ulang karena di balik kesederhanaannya tersimpan sejarah yang jarang kita bayangkan, tentang seorang pemuda Solo tanpa pendidikan notasi yang menulis lagu untuk sungainya dan, tanpa sengaja, ikut menulis bab kecil dalam sejarah musik Asia.
Ulasan Lagu #1, seri Rak Budaya
Tentang Lagu
| Judul | Bengawan Solo |
| Pencipta dan penampil awal | Gesang Martohartono (1917 sampai 2010) |
| Tahun penciptaan | 1940 |
| Genre | Keroncong |
| Bahasa | Melayu/Indonesia, dengan terjemahan ke banyak bahasa |
| Asal | Surakarta (Solo), Jawa Tengah, Indonesia |
| Catatan | Lagu ini beredar dalam sangat banyak rekaman oleh berbagai penyanyi, sehingga tidak ada satu album tunggal yang dapat disebut sebagai rilis tunggalnya. |
Kisah di Balik Lagu
Gesang lahir di Surakarta pada 1 Oktober 1917. Menurut wawancara yang dimuat The Jakarta Post pada 2009, ia menulis lagu ini pada 1940 dan membutuhkan hampir enam bulan untuk menyelesaikan liriknya. Bahan utamanya adalah pengamatan atas sungai di kotanya sendiri, yang meluap di musim hujan dan menyusut di musim kemarau. Dalam sumber lain ia disebut telah bermimpi sejak kanak-kanak untuk menulis lagu pujian bagi sungai yang tak pernah mati itu. Ia tidak pernah belajar notasi musik, sehingga lagunya lahir dari telinga dan ingatan, bukan dari partitur.
Dua hal membuat kelahiran lagu ini menarik. Pertama, Gesang orang Jawa, tetapi liriknya ditulis dalam bahasa Melayu yang tengah diusulkan menjadi bahasa persatuan. Wikipedia menyebutnya lagu berbahasa Indonesia pertama karya komponis lokal yang meraih popularitas luas. Kedua, lagu ini mula-mula dinyanyikan di pesta pernikahan dan acara kampung, lalu menyebar setelah disiarkan dua stasiun radio setempat. Salah satunya, menurut The Jakarta Post, adalah stasiun SRV milik Mangkunegaran.
Mengapa Lagu Ini Penting
Pertanyaan yang paling menarik bukan mengapa lagu ini bagus, melainkan bagaimana sebuah lagu keroncong dari satu kota di Jawa bisa menempuh jarak sejauh itu. Jawabannya berlapis, dan setiap lapisan mengubah sesuatu.
Lapisan pertama adalah bahasa. Sebelum lagu ini, lagu populer yang terdengar di radio dan pesta lebih sering berbahasa Belanda atau daerah. Sebuah lagu cinta tanah air yang tidak berseru, tidak menyebut musuh, dan tidak memerintah siapa pun, tetapi berbahasa Melayu dan mudah dinyanyikan, memberi contoh bahwa bahasa yang sedang dirancang sebagai bahasa bangsa bisa dipakai untuk rasa yang paling pribadi: kerinduan pada sebuah sungai. Bahasa nasional tumbuh bukan hanya lewat pidato, tetapi lewat lagu yang dinyanyikan di dapur dan beranda.
Lapisan kedua adalah perang. Pada masa pendudukan Jepang di Jawa (1942 sampai 1945), lagu ini disiarkan luas dan disukai para penguasa. Wikipedia mencatat bahwa seorang perwira Jepang, Kolonel Takahashi Kōryō, bahkan menulis lirik berbeda yang bernada anti-Sekutu dengan melodi yang sama. Setelah perang, Ichirō Fujiyama, yang ditawan di Jawa Timur, membawa melodi dan terjemahan lirik Jepangnya pulang. Rekaman Toshi Matsuda pada 1947 menjadi laris dan lagu ini ikut pulang bersama para veteran. Di Jepang, banyak orang malah mengira lagu ini lagu rakyat Jepang yang sudah berusia ratusan tahun.
Lapisan ketiga adalah perjalanan lintas Asia. Daftar yang dikumpulkan Wikipedia menyebut rekaman dalam bahasa Burma, Belanda, Khmer, Inggris, Korea, Swedia, Polandia, Rusia, Tagalog, Thai, dan Vietnam. Penyanyi Poon Sow Keng merekam versi Mandarin untuk Hong Kong Pathé pada 1956, dan Rebecca Pan merekam versi Inggris berjudul By the River of Love pada awal 1960-an. Lagu ini juga muncul sebagai musik film: Stray Dog karya Akira Kurosawa (1949), An Autumn Afternoon karya Yasujirō Ozu (1962), dan In the Mood for Love karya Wong Kar-wai (2000). Kajian etnomusikolog Margaret Kartomi (Yearbook for Traditional Music, 1998) menempatkannya sebagai lagu pan-Asia Timur dan Tenggara sekaligus lagu nasional Indonesia. Dua status itu jarang melekat pada satu lagu yang sama.
Bukti dampaknya juga muncul di ranah hukum dan kelembagaan. Menurut Wikipedia, kepopuleran di Jepang membuat banyak pihak mengira lagu ini milik Jepang, hingga putusan pengadilan pada 1990 menegaskan Gesang sebagai penciptanya. Sesudahnya, dilaporkan Indonesia membentuk badan pengelola hak kekayaan intelektual dan Jepang membayar royalti atas lagu ini. Detail kronologi ini berbeda-beda antarsumber, sehingga yang aman disimpulkan hanyalah bahwa kasus Bengawan Solo sering disebut sebagai salah satu pemicu kesadaran soal hak cipta musik Indonesia di luar negeri.
Pada 2004, Museum Rekor Indonesia (MURI) menetapkannya sebagai lagu dengan jumlah versi rekaman oleh artis lain terbanyak. Pada 1991, para veteran perang Jepang mendirikan patung Gesang di sebuah taman di Surakarta, sebuah penghormatan yang tidak lazim dari bekas pihak pendudukan kepada seorang pencipta lagu daerah. Dan pada Oktober 2025, lagu ini diakui sebagai warisan budaya takbenda nasional Indonesia.

Bagi pendengar hari ini, makna terbesarnya mungkin sederhana. Bengawan Solo membuktikan bahwa lagu yang jujur pada tempatnya justru dapat dipahami di mana saja. Sungai itu spesifik, Jawa, dan berlumpur, tetapi perasaan terhadap sungai, rumah, dan waktu yang lewat bersifat universal. Kita juga diingatkan bahwa popularitas tidak selalu berarti penghargaan: lagu ini sempat dikira milik bangsa lain, dan baru kemudian diakui sebagai milik pencipta dan negerinya.
Cara Lagu Ini Bekerja
Keroncong adalah genre berakar pada pengaruh musik Portugis yang telah lama menetap di Nusantara, dengan ciri alat petik berdawai kecil, biola atau seruling, dan bas yang menjaga denyut pelan. Dalam ulasan ini saya tidak memuat notasi, tetapi pengalaman mendengarnya mudah dijelaskan: tempo yang tidak mendesak, melodi yang bergerak berundak sehingga mudah diikuti oleh telinga yang awam, dan struktur yang berulang sehingga bait baru terasa seperti belokan baru pada sungai yang sama.
Lirik, bila diparafrasekan, bercerita tentang sebuah sungai yang bersejarah, yang di musim kemarau susut dan di musim hujan meluap, yang pernah menjadi jalur pelayaran, dan yang akhirnya bermuara ke laut. Sungai di sini bukan sekadar pemandangan; ia perlambang waktu dan perjalanan yang terus berlanjut meski kita berubah. Karena imajinya konkret dan emosinya terukur, penerjemah di banyak negeri dapat menaruh bahasa dan kenangan mereka sendiri di atasnya tanpa merusak bentuknya.
Kritik dan Kontroversi
Perjalanan lagu ini tidak seluruhnya manis. Sebuah esai di Broadly Specific menyoroti bahwa di Jepang lagu ini kerap dilepaskan dari konteks Indonesia, bahkan dipakai dalam suasana yang melunakkan kenangan perang. Penulisnya juga mencatat bahwa sebuah video musik Jepang yang diilhami film Bungawan Soro menampilkan budaya Bali, bukan Jawa, sebagai pemandangan eksotis. Di sini kita melihat sisi lain dari penyebaran lintas budaya: ketika sebuah lagu menjadi milik semua orang, asal-usulnya ikut terhapus.
Perdebatan lain menyangkut kisah pribadi Gesang. Beberapa tulisan menggambarkan hidupnya sederhana, bahkan miskin, meski ia menerima penghargaan dan undangan ke Jepang serta beberapa negara Asia lain pada rentang 1970-an hingga 1990-an. Di sini sebaiknya kita berhati-hati: kisah haru gampang ditambah-tambah, dan pembaca bijak membandingkan sumber.
Gema di Indonesia
Di dalam negeri, lagu ini dipromosikan secara aktif. Menurut esai yang sama, pada 1950-an Presiden Soekarno menggunakan Radio Republik Indonesia dan para duta besar untuk memperkenalkannya ke luar negeri. Rekaman Oslan Husein bersama Teruna Ria menempati urutan ke-11 dalam daftar 150 lagu Indonesia terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone Indonesia (2009), dan Waljinah termasuk penyanyi yang membawakannya. Gesang sendiri mengasuh acara keroncong di RRI Surakarta, sehingga lagu ini terus hidup di studio yang sama tempat generasi penyanyi lain belajar.
Bagi pendengar muda yang menganggap keroncong terdengar lama, lagu ini ajakan untuk memeriksa ulang prasangka itu. Isu yang ia sentuh, yaitu sungai yang kini tercemar dan lanskap yang berubah, justru terasa makin dekat. Dalam wawancara 2009 itu Gesang sendiri menyayangkan bahwa sungai kotanya tidak lagi seindah dulu.
Cara Mendengarkan
Mulailah dengan versi keroncong klasik, misalnya yang dibawakan Waljinah atau rekaman Oslan Husein dan Teruna Ria, dan perhatikan betapa sedikitnya yang terjadi di atas permukaan: tidak ada klimaks keras, hanya pergeseran halus. Lalu dengarkan versi Jepang tahun 1947 oleh Toshi Matsuda, bila kamu menemukannya, dan versi Inggris By the River of Love oleh Rebecca Pan, dan bandingkan bagaimana suasana yang sama diberi warna berbeda. Sebagai pendamping, dengarkan lagu-lagu keroncong lain di acara-acara RRI atau rekaman Gesang sendiri.
Dengarkan Lagunya
Dalam penelusuran untuk ulasan ini saya tidak menemukan tautan rekaman resmi yang dapat diverifikasi, jadi saya hanya menautkan halaman rujukan. Rekaman lengkap dapat dicari lewat layanan streaming resmi dengan kata kunci nama penyanyi di atas.
Sumber
- Bengawan Solo (song), Wikipedia
- Gesang Martohartono, Wikipedia
- Gesang, singing river, The Jakarta Post (2009)
- Margaret Kartomi, kajian tentang Bengawan Solo, Yearbook for Traditional Music (1998)
- Bengawan Solo: How an Indonesian Folk Song Became the Post-WWII Asian Zeitgeist, Broadly Specific
- Mengingat lagu terpopuler di dunia dari Indonesia, Good News from Indonesia





Tinggalkan Balasan