Pada suatu malam di tahun 1939, para pelayan sebuah klub di Greenwich Village berhenti mengantar pesanan. Lampu dipadamkan, dan hanya wajah seorang penyanyi yang disorot. Ia menyanyikan satu lagu yang lambat dan pedih, lalu pergi tanpa bisa diminta encore. Lagu itu adalah Strange Fruit, dan sejak malam-malam seperti itulah musik populer Amerika mulai membicarakan hal yang selama ini dihindarinya.
Ulasan Lagu #2
Tentang Lagu
| Judul | Strange Fruit (semula puisi berjudul Bitter Fruit) |
| Penampil | Billie Holiday |
| Pencipta | Abel Meeropol (nama pena Lewis Allan), kata dan musik |
| Rilis | 1939 (rekaman 20 April 1939) |
| Label | Commodore Records, dengan sisi B Fine and Mellow |
| Genre | Jazz vokal, lagu protes |
| Asal | Amerika Serikat (New York), berbahasa Inggris |
Kisah di Balik Lagu
Lagu ini tidak ditulis oleh Billie Holiday. Penciptanya adalah Abel Meeropol, guru sekolah menengah di Bronx yang juga anggota Partai Komunis Amerika. Ia menerbitkan sebuah puisi berjudul Bitter Fruit pada Januari 1937 di majalah serikat guru New York, memakai nama pena Lewis Allan. Menurut keterangan situs resmi Billie Holiday dan Wikipedia, pemicunya adalah foto Lawrence Beitler tentang hukuman gantung massal terhadap Thomas Shipp dan Abram Smith di Marion, Indiana, pada 1930. Meeropol kemudian menggubah musiknya sendiri dan membawakannya bersama istrinya, Anne Shaffer, dan penyanyi Laura Duncan di sejumlah tempat di New York.
Bagaimana lagu itu sampai ke Holiday diceritakan dalam dua versi. Satu menyebut Barney Josephson, pendiri Café Society, klub malam di Greenwich Village yang dikenal sebagai klub terintegrasi pertama di New York, yang mendengarnya lebih dulu. Versi lain menyebut Robert Gordon, sutradara pertunjukan Holiday, yang mendengarnya di Madison Square Garden. Yang pasti, Holiday membawakannya di Café Society pada 1939. Josephson menetapkan aturan main yang kemudian menjadi legenda: lagu itu menutup pertunjukan, layanan berhenti, ruangan gelap kecuali sorot lampu di wajah Holiday, dan tidak ada tambahan lagu.
Label tetap Holiday, Columbia, menolak merilisnya. Menurut Wikipedia, mereka khawatir akan reaksi para penjual piringan hitam di wilayah Selatan dan jaringan radio CBS; produsernya, John Hammond, juga enggan merekamnya. Holiday lalu mendatangi Milt Gabler, pemilik Commodore Records, toko dan label kecil berhaluan kiri di West 52nd Street. Ia menyanyikannya tanpa iringan di hadapan Gabler, yang disebut terharu sampai menangis. Columbia memberinya izin satu sesi di luar kontrak. Rekaman dibuat pada 20 April 1939 bersama band Café Society pimpinan Frankie Newton, dan Smithsonian Magazine mencatat prosesnya hanya sekitar empat jam. Piringan itu terjual sekitar sejuta keping dan menjadi rekaman Holiday yang paling laris.
Holiday sendiri punya hubungan yang rumit dengan lagu ini. Meeropol mengatakan ia tampak tidak nyaman pada mulanya, dan semula menyanyikannya sebagai bantuan kepada manajemen klub. Holiday kemudian bercerita bahwa ia mencintainya sejak awal, karena lagu itu mengingatkannya pada kematian ayahnya setelah ditolak berobat untuk penyakit paru. Ia membawakannya sepanjang kariernya.
Mengapa Lagu Ini Penting
Untuk memahami dampaknya, bayangkan posisi industri hiburan waktu itu. Hukuman gantung massal (lynching) terhadap warga kulit hitam, yang puncaknya terjadi di Amerika bagian selatan sekitar pergantian abad ke-20, adalah kenyataan yang diketahui banyak orang tetapi jarang dibicarakan di ruang hiburan arus utama. Penolakan Columbia dan kekhawatiran akan stasiun radio menunjukkan betapa berisikonya topik itu bagi bisnis rekaman. Lagu ini memaksa persoalan tersebut masuk ke tempat yang paling tidak diharapkan: piringan hitam yang dibeli orang untuk didengar di rumah. Blog Library of Congress menyebut rekaman ini membawa isu hukuman gantung massal kepada konsumen piringan hitam komersial.
Bukti dampaknya cukup beragam. Pada Oktober 1939, Samuel Grafton dari New York Post membandingkan lagu ini dengan lagu revolusioner. Gerakan antihukuman gantung massal menjadikannya lagu perjuangan. Di tengah kegagalan Kongres berulang kali menjadikan praktik itu kejahatan federal, karena para senator Selatan memakai filibuster, para aktivis menganjurkan orang mengirimkan salinan piringan ini kepada senator mereka. Ahmet Ertegun, pendiri Atlantic Records, kemudian menyebutnya sebagai “deklarasi perang” dan awal gerakan hak sipil, enam belas tahun sebelum protes bus Rosa Parks. Tentu itu penilaian seorang saksi mata yang bersemangat, bukan ukuran yang bisa diuji. Namun pengakuan kelembagaan datang juga: Grammy Hall of Fame (1978), Library of Congress National Recording Registry (2002), pilihan majalah Time sebagai lagu terbaik abad ke-20 (1999), dan peringkat ketiga dalam daftar 100 lagu protes terbaik Rolling Stone (2025). Bob Dylan sendiri menyebutnya sebagai pengaruh dalam dokumenter No Direction Home (2005), menurut situs resmi Holiday.
Daya tahannya juga terlihat dari panjangnya deretan penyanyi yang menafsirkannya ulang. Menurut Wikipedia, di antaranya Nina Simone, Siouxsie and the Banshees, Jeff Buckley, Diana Ross, Sting, Tori Amos, dan Cassandra Wilson. Versi Georgia Lee, yang mungkin penampilan pertamanya di Australia, dilarang tayang di radio. Larangan semacam itu sekaligus memperlihatkan bahwa lagu ini tetap dianggap mengusik bertahun-tahun setelah rekaman pertamanya.
Perubahan paling dalam barangkali sulit diukur: lagu ini menggeser fungsi jazz vokal. Pada umumnya klub malam adalah tempat orang melupakan hari. Di Café Society, lagu ini membuat penonton duduk dalam hening menghadapi kekerasan yang nyata. Hiburan tidak lagi harus menghibur. Ia boleh menyakitkan, dan karena menyakitkan, ia diingat. Bagi pendengar hari ini, lagu ini juga mengajarkan bahwa sebuah karya bisa menjadi kesaksian tanpa kehilangan nilai artistiknya.

Cara Lagu Ini Bekerja
Lagu ini tidak berusaha menjadi enak didengar. Rekaman Commodore berdurasi 3 menit 2 detik, dan Holiday baru mulai bernyanyi setelah sekitar 70 detik. Pianis Sonny White diminta berimprovisasi untuk pembuka itu karena Gabler merasa lagunya terlalu pendek. Hasilnya adalah ruang tunggu yang panjang: pendengar disiapkan, seperti penonton yang menunggu tirai terbuka. Aransemen Newton menahan diri, dan tempo yang sangat lambat memberi tiap kata ruang untuk menetap.
Liriknya bekerja lewat kontras. Puisi Meeropol menaruh gambaran lanskap Selatan yang sebetulnya indah, dengan pohon-pohon dan aroma bunga, berdampingan dengan gambaran korban yang tergantung, dan memakai kiasan buah untuk menyebut tubuh-tubuh itu. Tidak ada tuduhan langsung atau seruan. Pendengar dibiarkan sendiri menyadari bahwa keindahan itu menyembunyikan sesuatu yang mengerikan. Penyampaian Holiday, yang tidak melebih-lebihkan emosi, membuat kontras itu terasa lebih jujur daripada jika dinyanyikan dengan teatrikal.
Kritik dan Kontroversi
Pertama, soal kepengarangan. Dalam otobiografinya, Lady Sings the Blues (1956), Holiday mengklaim ikut menggubah musik lagu ini bersama Meeropol, Sonny White, dan Danny Mendelsohn. Penulis David Margolick dan Hilton Als menolak klaim itu. Buku tersebut ditulis oleh penulis bayangan, William Dufty, dan Holiday, ketika dipertanyakan, mengaku tidak pernah membacanya.
Kedua, soal mitos kemartiran. Cerita yang kerap diulang adalah bahwa Harry Anslinger dari Biro Narkotika Federal memerintahkan Holiday berhenti menyanyikan lagu ini dan menghukumnya karena menolak. Tracy Fessenden, dalam ulasannya di The Revealer, menilai bukti untuk klaim itu rapuh. Wawancara Down Beat 1947 yang sering dikutip memuat kalimat bahwa “mereka” menyuruhnya berhenti, tetapi tidak jelas siapa yang dimaksud. Sebuah memo dalam berkas FBI menghubungkan pengawasan atas Holiday dengan ketenarannya, bukan lagunya, dan tidak ada dokumen berkas sebelum 1949. Justru Meeropol yang pada 1940 menjadi perhatian Komite Rapp-Coudert. Fessenden menempatkan Holiday dalam sejarah panjang perlawanan kulit hitam terhadap hukuman gantung massal. Perdebatannya belum selesai, dan sebaiknya kita berhati-hati dengan versi yang terlalu rapi.
Ketiga, soal penggunaan ulang. Ketika Ye (Kanye West) memakai cuplikan versi Nina Simone dalam Blood on the Leaves (2013) untuk lagu bertema lain, laporan The Times yang dirangkum Wikipedia menyebut timbulnya kegaduhan, sementara versi-versi seperti UB40 dan Siouxsie dinilai hormat. Pertanyaan tentang siapa boleh memakai lagu yang lahir dari luka semacam ini tetap terbuka.
Gema di Indonesia
Dalam penelusuran untuk ulasan ini, saya tidak menemukan sumber yang dapat diverifikasi tentang versi cover Indonesia atau adaptasi lagu ini, jadi saya tidak akan mengarangnya. Yang ada adalah gema persoalan. Pada 2019, Tirto menurunkan tulisan Alexander Haryanto yang menempatkan pengalaman mahasiswa Papua di Surabaya dan di Jakarta, yang menurut laporan itu mengalami ejekan rasial dan stigma saat mencari tempat tinggal, berdampingan dengan kisah Nat King Cole dan Billie Holiday melawan rasisme di Amerika. Tulisan itu memakai Strange Fruit sebagai contoh bagaimana musik protes bisa menjadi alat perlawanan terhadap rasisme. Perbandingan sejarah semacam ini memang tidak pernah sempurna, dan peristiwa 2019 punya latar politik yang diperdebatkan banyak pihak. Namun pelajaran musiknya berlaku di mana saja: lagu yang menolak berpura-pura bisa membuat masyarakat melihat sesuatu yang selama ini diabaikan.
Seri ini sendiri pernah membahas lagu Indonesia yang berlayar ke luar negeri dengan cara yang sangat berbeda, dan keduanya menunjukkan bahwa sebuah lagu bisa melampaui tempat kelahirannya.
Cara Mendengarkan
Mulailah dengan rekaman Commodore tahun 1939, dan jangan melompati bagian pembukanya. Dengarkan bagaimana Holiday menunda kata-katanya, dan bagaimana band memberi ruang. Setelah itu, bandingkan dengan versi Nina Simone di album Pastel Blues (1965) yang lebih keras dan dramatis, versi Siouxsie and the Banshees di album Through the Looking Glass (1987) dengan senar dan jembatan ala prosesi pemakaman New Orleans, dan tafsir Jeff Buckley. Sebagai pendamping dari rekaman yang sama, dengarkan sisi B-nya, Fine and Mellow, yang suasananya jauh lebih santai.
Dengarkan Lagunya
Tautan di bawah berasal dari situs resmi Billie Holiday. Perhatikan bahwa trek Spotify yang ditautkan situs itu tercatat berangka tahun 1957 di halaman Spotify, sehingga kemungkinan bukan rekaman Commodore 1939.
Terkait di Rak Budaya
- Ulasan Lagu: Bengawan Solo oleh Gesang. Sama-sama lagu yang menyeberangi batas negara dan mengubah cara dunia mendengar tradisi musik asalnya, meski dengan nada yang jauh berbeda.
Sumber
- Strange Fruit, Wikipedia
- Strange Fruit, situs resmi Billie Holiday
- Smithsonian Magazine, tentang penolakan label
- Library of Congress, The Power of a Poem
- The Revealer, Billie Holiday, Strange Fruit, and the Resilient Myth of Martyrdom
- Tirto, Papua, Nat King Cole dan Billie Holiday yang Melawan Rasisme
- Strange Fruit di Spotify





Tinggalkan Balasan