Di banyak dapur Indonesia, dari Sragen sampai Denpasar, dari pasar Beringharjo di Yogyakarta sampai gerobak jamu gendong di Makassar, sebongkah kunyit hampir selalu ada. Diparut, diperas, ditambah asam jawa dan gula aren, lalu diminum sebagai kunyit asam. Temulawak, si “kunyit Jawa”, lebih jarang ada di dapur tetapi lekat dengan jamu penambah nafsu makan dan penjaga hati.
Pertanyaannya sederhana: seberapa jauh khasiat itu didukung penelitian? Jawabannya tidak hitam-putih. Ada bukti yang cukup menjanjikan untuk beberapa keluhan, ada klaim yang baru sebatas penelitian laboratorium, dan ada risiko yang jarang dibicarakan, terutama pada suplemen kurkumin dosis tinggi. Artikel ini merangkumnya agar Anda bisa memilih dengan lebih tenang.
Kunyit dan temulawak: sepupu dekat, bukan kembaran
Kunyit (Curcuma longa) dan temulawak (Curcuma xanthorrhiza) sama-sama dari marga Curcuma dan sama-sama mengandung kurkuminoid, zat kuning yang paling banyak diteliti. Perbedaannya: temulawak juga kaya xanthorrhizol, senyawa seskuiterpen yang khas, dan kadar kurkuminnya umumnya lebih rendah daripada kunyit. Satu telaah menyebutkan kadar kurkumin ekstrak temulawak dari berbagai daerah berkisar 0,74 sampai 1,23 persen.7
Secara tradisional, temulawak dipakai untuk kurang nafsu makan, keluhan lambung, gangguan hati, dan nyeri sendi.5 Sayangnya, sebagian besar bukti untuk temulawak masih berasal dari penelitian sel dan hewan. Uji klinis pada manusia jauh lebih sedikit dibanding kunyit.
Dasar ilmiah dan bukti terkini
Nyeri sendi (osteoartritis). Inilah bidang dengan bukti terkuat. Meta-analisis 15 uji acak berkontrol (1.621 peserta) menemukan ekstrak kunyit atau kurkumin menurunkan nyeri, kekakuan, dan gangguan fungsi sendi dibanding plasebo, dengan efek yang setara obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) dan kejadian efek samping lebih rendah.1 Telaah sistematis lain pada osteoartritis lutut sampai pada kesimpulan serupa, namun menegaskan bahwa dosis, frekuensi, dan formulasi yang optimal belum jelas.2 Meta-analisis yang lebih luas (29 uji, 2.396 peserta, berbagai jenis artritis) menilai manfaatnya mungkin ada, tetapi kualitas dan jumlah uji masih rendah sehingga kesimpulan harus ditafsirkan hati-hati.3
Gula darah pada diabetes tipe 2. Meta-analisis 18 uji (1.382 peserta) melaporkan suplementasi kurkumin menurunkan gula darah puasa rata-rata sekitar 11 mg/dL dan HbA1c sekitar 0,54 poin persen dibanding plasebo. Para penulisnya sendiri menekankan perlunya penentuan dosis, durasi, dan formulasi yang tepat.4 Angka ini kecil dibanding obat standar dan tidak menggantikan terapi dokter.
Keluhan lain. Untuk dispepsia, nyeri haid, kanker, atau “detoks hati”, bukti pada manusia belum cukup kuat. Klaim antikanker xanthorrhizol, misalnya, baru diuji pada sel dan hewan percobaan.6
| Klaim | Tingkat bukti pada manusia | Catatan |
|---|---|---|
| Nyeri dan kaku sendi (osteoartritis) | Cukup menjanjikan (meta-analisis uji acak) | Mutu uji bervariasi; efek serupa OAINS pada studi terbatas |
| Gula darah diabetes tipe 2 | Efek kecil (meta-analisis) | Bukan pengganti obat antidiabetes |
| Hati, nafsu makan, lambung (temulawak) | Terbatas; terutama tradisi dan studi praklinis | Perlu uji klinis lebih besar |
| Antikanker, “pembersih racun” | Belum terbukti | Baru sel dan hewan percobaan |
Manfaat praktis dan cara memulai
Jamu kunyit asam atau kunyit jahe yang dibuat sendiri atau dibeli dari penjual tepercaya wajar dinikmati sebagai minuman tradisional. Kadar kurkuminnya jauh lebih rendah daripada kapsul suplemen sehingga manfaat dan risikonya pun berbeda. Beberapa pegangan praktis:
- Pandang jamu sebagai pelengkap pola makan, bukan pengganti obat yang diresepkan.
- Pilih rimpang segar yang bersih, olah higienis, dan segera minum. Jamu tanpa kemasan mudah tercemar bila penyimpanannya buruk.
- Untuk produk kemasan, periksa nomor izin edar BPOM. Kenali pula jenjang bukti di balik label “alami” dalam artikel tentang jamu, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka.
- Uji klinis biasanya berlangsung lebih dari 12 minggu. Jangan berharap hasil dalam beberapa hari, dan hentikan bila muncul keluhan baru.
Kesalahpahaman yang sering terdengar
“Alami pasti aman.” Tidak selalu. Analisis basis data fitovigilans Italia dan telaah sistematis laporan kasus mengonfirmasi hubungan antara suplemen Curcuma longa dan cedera hati akut. Pada kasus Toscana, semuanya terkait formulasi berbioavailabilitas tinggi dengan dosis kurkuminoid tinggi, dan sebagian besar membaik setelah suplemen dihentikan.8 Bumbu dapur dalam jumlah biasa berbeda dengan kapsul terkonsentrasi.
“Temulawak pasti menyehatkan hati.” Sebutan hepatoprotektif berasal dari studi praklinis dan tradisi.5 Pada orang yang sudah punya penyakit hati, jangan menebak sendiri; konsultasikan dahulu.
“Makin banyak, makin manjur.” Dosis optimal belum ditetapkan, sedangkan kasus cedera hati justru muncul pada dosis dan formulasi tinggi.
Peringatan dan kapan harus berhati-hati
Bicarakan dengan dokter atau apoteker sebelum rutin memakai kunyit atau temulawak dalam bentuk suplemen jika Anda:
- memiliki penyakit hati atau saluran empedu, termasuk batu empedu;
- memakai obat pengencer darah, obat diabetes, atau obat rutin lain, karena kemungkinan interaksi perlu dinilai;
- sedang hamil, menyusui, atau akan menjalani operasi;
- mengalami mual, nyeri perut kanan atas, urine pekat, atau mata dan kulit menguning setelah mengonsumsi produk herbal. Hentikan dan segera periksa.
Waspadai juga produk “jamu” ilegal yang diam-diam dicampur bahan kimia obat, serta pemalsuan simplisia. Penelitian menunjukkan temulawak dapat dioplos rimpang lain, dan penurunan kadar kurkumin menjadi petunjuk adanya campuran.7
Pesan kunci
Untuk pembaca umum: jamu kunyit dan temulawak boleh dinikmati sebagai bagian dari tradisi dan pola makan, tetapi bukan obat penyakit. Hindari suplemen dosis tinggi tanpa saran tenaga kesehatan, dan jangan menghentikan obat dokter demi jamu.
Untuk tenaga kesehatan: bukti terbaik ada pada nyeri osteoartritis sebagai terapi tambahan, dengan kualitas uji yang masih heterogen. Tanyakan riwayat penggunaan herbal dan suplemen pada setiap pasien, terutama bila ada peningkatan enzim hati yang tidak terjelaskan atau polifarmasi, dan pertimbangkan cedera hati akibat herbal sebagai diagnosis banding.
Tanya jawab singkat
Apakah kunyit asam setiap hari aman? Dalam takaran lazim sebagai minuman, umumnya dianggap dapat ditoleransi pada orang sehat, tetapi data keamanan jangka panjang untuk konsumsi harian terbatas. Bila punya penyakit kronis atau minum obat rutin, tanyakan dahulu.
Lebih baik kunyit atau temulawak? Tidak ada bukti yang membandingkan keduanya secara langsung. Bukti klinis lebih banyak untuk kunyit atau kurkumin.
Apakah perlu ditambah lada hitam? Piperin dalam lada hitam diteliti untuk meningkatkan penyerapan kurkumin, tetapi tinjauan terbaru menilai buktinya belum cukup dan menyoroti potensi interaksi obat.9 Pada jamu rumahan, hal ini tidak perlu dikejar.
Bolehkah untuk anak? Sebagai rempah dalam masakan wajar. Untuk jamu berkhasiat atau suplemen, konsultasikan ke dokter anak.
Referensi
1. Zeng L, Yu G, Hao W, Yang K, Chen H. The efficacy and safety of Curcuma longa extract and curcumin supplements on osteoarthritis: a systematic review and meta-analysis. Biosci Rep. 2021;41(6). doi:10.1042/BSR20210817
2. Paultre K, Cade W, Hernandez D, Reynolds J, Greif D, Best TM. Therapeutic effects of turmeric or curcumin extract on pain and function for individuals with knee osteoarthritis: a systematic review. BMJ Open Sport Exerc Med. 2021;7(1):e000935. doi:10.1136/bmjsem-2020-000935
3. Zeng L, Yang T, Yang K, et al. Efficacy and safety of curcumin and Curcuma longa extract in the treatment of arthritis: a systematic review and meta-analysis of randomized controlled trial. Front Immunol. 2022;13:891822. doi:10.3389/fimmu.2022.891822
4. Mokgalaboni K, Mashaba RG, Phoswa WN, Lebelo SL. Curcumin attenuates hyperglycemia and inflammation in type 2 diabetes mellitus: quantitative analysis of randomized controlled trial. Nutrients. 2024;16(23):4177. doi:10.3390/nu16234177
5. Rahmat E, Lee J, Kang Y. Javanese turmeric (Curcuma xanthorrhiza Roxb.): ethnobotany, phytochemistry, biotechnology, and pharmacological activities. Evid Based Complement Alternat Med. 2021;2021:9960813. doi:10.1155/2021/9960813
6. Simamora A, Timotius KH, Yerer MB, Setiawan H, Mun’im A. Xanthorrhizol, a potential anticancer agent, from Curcuma xanthorrhiza Roxb. Phytomedicine. 2022;105:154359. doi:10.1016/j.phymed.2022.154359
7. Rohman A, Wijayanti T, Windarsih A, Riyanto S. The authentication of Java turmeric (Curcuma xanthorrhiza) using thin layer chromatography and 1H-NMR based-metabolite fingerprinting coupled with multivariate analysis. Molecules. 2020;25(17):3928. doi:10.3390/molecules25173928
8. Lombardi N, Crescioli G, Maggini V, et al. Acute liver injury following turmeric use in Tuscany: an analysis of the Italian Phytovigilance database and systematic review of case reports. Br J Clin Pharmacol. 2020;87(3):741-53. doi:10.1111/bcp.14460
9. Syailatussuraya MS, Mutakin M, Asman S, Hasanah AN. Piperine: from green extraction to clinical translation, a review. Drug Des Devel Ther. 2026;20:639169. doi:10.2147/DDDT.S639169
Disclaimer: artikel ini bersifat edukatif dan bukan pengganti konsultasi, diagnosis, atau terapi dari dokter atau tenaga kesehatan lain. Efektivitas pengobatan tradisional dan komplementer bervariasi dan tidak menggantikan pengobatan medis konvensional.





Tinggalkan Balasan