Les pèlerins au-dessus des nuages

Ibuku pernah berkata bahwa kunang-kunang paling jujur adalah yang tidak pernah mendekati rumah orang. Aku baru mengerti maksudnya pada malam kedua setelah aku pulang ke Tsiame, ketika sebutir cahaya hijau pucat berhenti tepat di depan lubang kunci pintu kamar bayi.

Aku perawat. Hampir sebelas tahun aku bekerja di bangsal anak sebuah rumah sakit di Ho, dan dalam sebelas tahun itu aku sudah melihat cukup banyak bayi mati untuk tahu bahwa kebanyakan dari mereka tidak mati karena dikutuk. Mereka mati karena demam yang terlambat dibawa, karena air yang tidak dimasak, karena jarak dua jam berjalan kaki ke klinik terdekat. Aku pulang ke kampung ayahku dengan keyakinan itu terlipat rapi di dalam tas, di antara seragam putih dan sebotol obat nyamuk oles.

Aku pulang karena Selasi, istri adik laki-lakiku, mengirim pesan lewat sopir trotro. Anak kembarnya sakit. Yang satu, Mawuena, sehat dan montok seperti pisang masak. Yang satu lagi, Dela, mengecil dari hari ke hari.

Kampung itu tidak berubah. Rumah-rumah lumpur berbaris menghadap halaman bersama, atap seng berkarat berderet di antara atap rumbia, dan di tengahnya pohon mangga tua tempat para lelaki duduk menunggu siang selesai. Bau asap kayu dan ikan asin menyambutku sebelum wajah siapa pun. Tetapi ada sesuatu yang lain di udara, rasa yang kukenal dari bangsal ketika orang-orang sudah berhenti membicarakan penyakit dan mulai membicarakan penyebabnya.

“Ini bukan demam,” kata Selasi pada hari pertama. Ia menyuapkan air gula ke mulut Dela dengan sendok kecil, dan bayi itu menelannya seperti orang tua yang menelan pil. “Kamu perawat, Akpene. Kamu tahu bedanya.”

Aku memeriksa Dela. Perutnya buncit, kulitnya longgar di bagian paha, dan pangkal kukunya pucat seperti kelopak melati. Anemia, pikirku. Mungkin malaria yang berlarut. Aku bilang kami harus membawanya ke klinik besok pagi.

Selasi menatapku lama sekali. Lalu ia melirik ke arah pintu, ke arah rumah kecil di ujung halaman, dan aku tahu siapa yang sedang dipikirkannya sebelum ia membuka mulut.

“Bibi Dzifa datang melihatnya tiga hari sebelum ia mulai kurus,” kata Selasi pelan.

Bibi Dzifa adalah kakak perempuan ayahku. Ia berusia hampir tujuh puluh tahun, janda sejak sebelum aku lahir, dan tidak pernah punya anak yang bertahan hidup. Di kampung ini, orang memberi satu nama pada perempuan seperti itu. Aku tidak mau mengucapkannya, jadi aku hanya menjawab bahwa Bibi Dzifa menggendongku waktu aku kecil dan tidak pernah sekali pun membuatku sakit.

“Kamu tidak punya adik laki-laki yang anaknya lebih sehat dari anakmu,” kata Selasi. Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah. Ia mengucapkannya seperti orang membaca daftar belanja.


Orang Ewe punya kata untuk apa yang ditakuti Selasi. Adze. Kata itu berarti sihir, tetapi ia lebih sempit dan lebih dekat daripada sihir. Adze tidak memilih orang asing. Ia memilih darah yang sama, meja makan yang sama, atap yang sama. Ia bersemayam pada seseorang yang diam-diam iri, dan ia pergi berburu pada malam hari dalam rupa yang sangat kecil: kumbang, nyamuk, sebutir kunang-kunang. Ia masuk lewat lubang kunci, lewat retak dinding, lewat celah sempit di bawah pintu. Ia minum dari orang yang sedang tidur. Orang yang diminum menjadi kurus, lalu lemah, lalu tiada.

Dan, kata orang-orang tua, bila adze tertangkap, ia berubah menjadi manusia.

Itulah yang membuatnya mengerikan. Bukan monsternya, melainkan akibat dari menceritakannya. Begitu ada yang sakit dan seseorang menyebut kata itu, seluruh kampung mulai memandang siapa yang paling mungkin menjadi cahayanya. Perempuan tua yang selamat ketika yang muda berguguran. Perempuan yang saudara laki-lakinya lebih makmur. Orang miskin yang terlalu lama menatap hajatan orang kaya.

Aku sudah mendengar semua itu sejak kecil dan menganggapnya dongeng. Sambil menulis ini, aku tahu betapa mudahnya orang mengaku tidak percaya pada hal yang belum pernah menyentuhnya.


Malam pertama, kami makan fufu dengan sup kacang di dapur terbuka belakang rumah. Api kecil menjilat bawah panci tanah liat, dan Mama Abla mengaduk dengan sendok kayu sambil bercerita, seperti yang selalu dilakukan nenek di mana pun bila cucunya sakit dan ia tidak punya hal lain untuk dikerjakan oleh tangannya.

“Waktu aku masih gadis,” katanya, “ada perempuan di kampung sebelah. Semua anaknya mati satu per satu, tiap kali menjelang musim hujan. Orang bilang, jangan cari adze di rumah yang makmur. Cari di rumah yang paling dingin.”

“Kenapa dingin, Mama?” tanya adik laki-lakiku, Kofi, yang baru pulang dari ladang dan masih berbau tanah.

“Karena api di rumah itu tidak dinyalakan untuk menyambut siapa pun.”

Tidak ada yang tertawa. Selasi menunduk menatap mangkuknya. Aku memperhatikan Kofi, adik yang dulu selalu tidur di sebelahku di tikar yang sama. Ia tidak menatapku sama sekali, dan baru kusadari kemudian bahwa itu juga bukan kebetulan. Di kampung ini, tidak ada yang menatap orang tanpa anak dalam waktu terlalu lama.

Aku makan sedikit. Dari tempat dudukku aku bisa melihat deretan kelambu yang digantung di jendela-jendela, putih dan rapi, dan di sela-selanya, di kejauhan, sungai membawa suaranya sendiri. Aku mencatat dalam hati semua hal yang bisa kujelaskan. Nyamuk. Demam. Air. Satu per satu, aku meletakkannya di rak seperti perawat menata ampul, dan aku merasa lebih tenang, dan itulah bagian yang membuatku malu sekarang: betapa tenangnya orang yang hanya perlu memberi nama.


Besok paginya aku mencoba membawa Dela ke klinik. Ibu mertua Selasi, Mama Abla, berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terentang.

“Klinik tidak bisa menyembuhkan orang yang diminum,” katanya. “Pendeta kita sudah dipanggil. Dia datang sore ini.”

“Mama, bayi ini butuh darah dan obat, bukan doa.”

“Doa dulu,” kata Mama Abla. “Obat kemudian. Urutannya begitu.”

Aku tidak melawan lebih jauh. Aku tahu ada pertarungan yang kalah bila dimulai di depan pintu orang. Sebagai gantinya, aku mengambil tas dan membuat kesepakatan diam-diam dengan diriku sendiri: malam ini kuperiksa Dela sekali lagi, dan bila demamnya naik, aku membawanya sendiri ke klinik tanpa bertanya pada siapa pun.

Pendeta datang sore itu bersama dua perempuan berbaju putih. Mereka berdoa di halaman dengan suara yang naik dan turun seperti ombak, dan para tetangga berkumpul di pagar. Aku melihat Bibi Dzifa berdiri di kejauhan, di bawah pohon mangga, tangannya bersilang di dada, bibirnya bergerak tanpa suara. Tidak ada yang mendekatinya. Orang-orang bergeser setengah langkah menjauh bila ia lewat, seperti air menghindari batu.

Aku mendekatinya karena rasa malu. Ia menoleh dan tersenyum, dan senyum itu lebih tua daripada wajahnya.

“Kamu sudah lihat anak itu,” katanya. “Kamu orang rumah sakit. Katakan padaku, ini apa?”

“Mungkin malaria, Bibi. Mungkin anemia.”

“Hmm.” Ia mengangguk lambat. “Aku juga berpikir begitu. Tapi sudah dua malam aku tidak bisa tidur. Ada cahaya di dekat rumahku. Kecil. Hijau. Bukan di rumahku. Di rumah mereka.” Ia menunjuk dengan dagu. “Aku melihatnya dari jendela. Kalau yang tampak itu tampak dari rumahku, orang akan bilang, ah, tentu saja dia yang punya, makanya dia bisa melihatnya.”

Waktu itu aku kira ia sedang meracau. Sekarang aku kira ia justru sedang membuat kesaksian.


Malam itu aku tidur di kursi rotan di samping tempat tidur bayi. Kelambu menggantung dari paku di langit-langit, lipatannya putih dan tebal seperti kafan. Selasi sudah tertidur dengan kepala bersandar di dinding. Di luar, jangkrik berhenti satu per satu, seolah ada yang mengajari mereka diam.

Aku terbangun karena sesuatu terang.

Bukan terang yang menyilaukan. Terang yang pelan, hijau pucat, berdenyut dengan irama yang salah. Kunang-kunang biasa berkedip seperti napas orang berlari. Yang ini menyala dan padam seperti napas orang yang menahan diri. Ia melayang di depan pintu, setinggi lubang kunci, dan tidak mencoba masuk. Ia hanya menunggu.

Sebutir cahaya kunang-kunang hijau pucat melayang di lubang kunci pintu kayu sebuah rumah lumpur di kampung Afrika Barat pada malam berkabut
Cahaya kecil itu tidak mencoba masuk. Ia hanya menunggu.

Aku berkata pada diriku sendiri bahwa itu serangga. Sungguh, aku mengatakannya dalam hati dengan nada yang sama yang kupakai pada keluarga pasien: tenang, ini wajar, ini ada penjelasannya. Lalu aku sadar bahwa pintu itu tertutup, dan lubang kuncinya kecil, dan cahaya itu sudah berada separuh di dalam.

Suara dalam kepalaku, suara yang rapi dan berseragam putih itu, berhenti bicara.

Cahaya itu melewati lubang kunci seperti benang melewati lubang jarum. Di sisi kamar ia mengembang, tidak menjadi lebih terang, hanya lebih nyata, dan aku melihat sayapnya yang tipis, dan tubuhnya yang kecil dan gelap. Ia melayang ke arah kelambu. Ia berhenti di atas tempat tidur bayi tempat Dela tidur. Aku mendengar sesuatu yang tidak bisa kujelaskan sampai hari ini, bunyi seperti orang menyesap kuah panas dari sendok, pelan dan puas.

Aku ingin berteriak. Mulutku terbuka dan tidak ada yang keluar. Seluruh pelatihanku, seluruh sebelas tahunku, hilang seperti garam jatuh ke air. Yang tinggal hanya seorang perempuan kecil di kursi rotan, tidak bisa bergerak, menyaksikan sesuatu menghabiskan keponakannya.

Yang kuingat dengan jelas hanyalah hal-hal kecil. Suara jam dinding yang tidak ada di kamar itu. Bau bunga lantana layu yang entah dari mana. Napas Selasi yang tetap teratur, dalam, seolah-olah ia sedang dibawa turun ke dasar sumur oleh sesuatu yang ramah. Dan perasaan bahwa cahaya itu menoleh kepadaku, tidak dengan mata, tetapi dengan seluruh dirinya, seperti tamu yang menyadari ada orang lain di ruangan dan memutuskan bahwa orang itu tidak perlu dikhawatirkan.


Pagi harinya Dela tampak lebih kecil.

Aku tahu itu tidak masuk akal. Bayi tidak mengecil dalam semalam. Namun aku menimbangnya di timbangan gantung yang kupinjam dari klinik, dan angkanya turun tiga ons, dan pipi mungilnya lekuk seperti sendok. Selasi menangis tanpa suara sambil menggendongnya. Mama Abla tidak menangis. Mama Abla keluar ke halaman dan berbicara kepada para lelaki di bawah pohon mangga, dan aku tahu dari cara bahu mereka berubah bahwa sesuatu sudah diputuskan.

Aku berlari ke klinik. Aku membangunkan perawat jaga dengan gedoran, kuminta tes cepat malaria dan satu dosis obat, dan perawat itu, perempuan muda dengan mata merah karena kurang tidur, memberiku dua sachet tanpa banyak pertanyaan karena kami berbicara dalam bahasa yang sama. Aku kembali dengan napas habis.

Terlambat untuk satu hal. Ketika aku sampai di halaman, para lelaki sudah berdiri di depan rumah Bibi Dzifa. Mereka tidak membawa parang atau tongkat. Itu yang paling kuingat. Mereka hanya berdiri, dan di belakang mereka berdiri hampir seluruh kampung, dan Bibi Dzifa duduk di ambang pintunya dengan kain tenun terlipat di pangkuan, seperti seseorang yang sudah lama menunggu tamu.

“Kamu bisa pergi sendiri,” kata salah seorang lelaki. Suaranya tidak keras. “Atau kami antar.”

“Ini rumahku,” kata Bibi Dzifa.

“Rumah ini milik keluarga. Keluarga sedang diminum.”

Aku berteriak. Aku bilang pada mereka bahwa aku perawat, bahwa aku akan mengobati Dela, bahwa bayi itu sakit malaria dan tidak ada yang meminumnya. Aku menunjukkan sachet obat. Seseorang tertawa, bukan dengan kejam, hanya dengan kasihan, seperti orang menertawakan anak kecil yang menunjuk bulan dan bilang itu lampu.

Bibi Dzifa berdiri, mengambil buntalan kecil dari balik pintu, dan berjalan lewat di antara mereka. Orang-orang membuka jalan seperti air. Ia berhenti di depanku sebentar.

“Kamu melihatnya semalam,” bisiknya. “Aku tahu karena aku juga melihatnya. Dan kamu tahu bukan aku yang membukakan pintu.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Karena pada saat itu, entah mengapa, aku teringat sesuatu yang selama ini kusimpan rapat.


Aku harus mengaku sesuatu, dan aku mengaku di sini karena tidak ada orang di kampung itu yang pernah kuceritakan.

Setahun lalu, setelah keguguranku yang ketiga, aku pulang ke Tsiame dan mendapati Selasi hamil kembar. Semua orang bersuka cita. Ibuku meninggal setahun sebelumnya, dan di meja pesta, para perempuan tua mengatakan bahwa leluhur sedang memulihkan keluarga ini. Aku tersenyum dan mengangkat gelas. Malam itu aku berbaring di kasur lamaku di rumah ayah dan melihat langit-langit yang sama dengan masa kecilku, dan sebuah pikiran datang tanpa permisi, pelan dan telanjang: satu saja tidak cukup untukmu, kan? Kau butuh dua.

Hanya itu. Tidak ada kutukan, tidak ada doa jahat. Satu kalimat dalam gelap, yang lalu kuusir dengan malu.

Tetapi cahaya tidak tahu tentang usir-mengusir. Ia hanya tahu rasa iri yang tidak ditaruh di mana pun, yang tidak dicuci, yang tidak dikatakan. Dan aku, perempuan rasional berseragam putih, adalah pemilik terbaik yang bisa diminta oleh benda semacam itu: seorang yang tahu bahwa ia tidak boleh merasa begitu, sehingga tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun.

Se wo were fi na wosankɔfa a yenkyi, kata pepatah Akan yang kudengar dari ibuku, yang tumbuh di perbatasan dengan orang-orang dari barat sungai. Tidak ada salahnya kembali mengambil apa yang terlupa. Tetapi aku lupa mengambil kalimat kecilku yang itu, dan kini ia telah tumbuh sayap.


Dela sembuh dalam sembilan hari.

Itu juga kuceritakan dengan jujur: tiga hari pertama aku memberikan obat diam-diam di antara suapan air gula, mencampurkannya ke dalam bubur bila Selasi lengah. Pada hari keempat Selasi melihatku melakukannya dan tidak mengatakan apa-apa, hanya memegang sendok sendiri dan mengambil alih. Pada hari ketujuh Dela mulai menangis keras lagi. Pada hari kesembilan ia mengisap jariku dan memandangku dengan mata yang sudah kembali berisi.

Kampung merayakannya. Mereka menyembelih seekor ayam di halaman, mengatakan bahwa leluhur sudah puas karena yang dicari telah diusir. Pendeta menerima bagian terbaik. Tidak seorang pun menyebut klinik, tidak seorang pun menyebut sachet kecil yang kuselipkan di antara jemari bayi itu. Bahkan Selasi, yang tahu, tersenyum dan mengangguk ketika Mama Abla bilang bahwa doa pendeta yang menembus.

Dan aku, yang tahu segalanya, yang bisa berdiri dan berkata bukan dia, itu malaria, kalian mengusir perempuan tua yang tidak bersalah, aku memilih menunduk dan memakan ayamku.

Alasanku sederhana, dan aku membencinya karena itu. Bila aku mengatakannya, mereka akan bertanya: lalu apa yang meminum anak itu semalam itu? Dan aku tidak punya jawaban yang tidak menunjuk ke arahku.


Pada malam sebelum aku berangkat, aku melakukan sesuatu yang tidak kukatakan pada siapa pun. Aku berjalan ke ujung halaman, ke rumah kecil Bibi Dzifa, yang pintunya masih terbuka sedikit.

Tidak ada yang mengambil apa pun darinya. Itu yang membuatku terkejut. Orang-orang takut pada barang-barang orang yang diusir, lebih takut daripada mereka takut pada orangnya. Panci dan baskom masih tergantung di paku. Tikar tidurnya masih tergulung rapi di sudut. Di rak kecil di dekat jendela ada selusin toples kaca bekas, bersih, tutupnya dilubangi dengan paku.

Aku mengambil satu. Bau samar bunga kering dan tanah lembap menyentuh hidungku.

Kunang-kunang, tentu saja. Bibi Dzifa menangkap kunang-kunang. Mungkin sejak lama, mungkin sejak kehilangan anak terakhirnya, mungkin hanya karena sepi. Aku bisa membayangkan ia duduk di ambang pintu di setiap senja, memegang toples dan memandangi cahaya kecil yang berkedip-kedip di dalamnya. Cahaya yang tidak pernah ia lepaskan sampai fajar.

Di kampung ini, tentu, mereka akan menyebut itu bukti.

Aku menaruh toples itu kembali. Pintu di belakangku berderit, dan aku berbalik dengan jantung melonjak, tetapi tidak ada siapa pun. Hanya angin. Hanya malam. Dan di atas ambang pintu, cukup tinggi sehingga hanya orang yang berdiri di dalam ruangan bisa melihatnya, sebutir cahaya hijau pucat melayang sebentar, lalu padam, seperti seseorang yang menunduk hormat sebelum pergi.


Aku kembali ke Ho dua hari kemudian. Aku tidak pamit pada siapa pun yang pantas kupamiti. Kabarnya Bibi Dzifa tinggal di gubuk sungai di desa seberang, makan dari belas kasihan orang-orang yang masih mau berbicara dengannya, dan beberapa orang bilang ia sudah meninggal. Aku mengirim uang lewat sopir trotro yang sama. Tidak pernah ada kabar apakah uang itu sampai.

Tahun berganti. Kakak ipar sepupuku melahirkan, seorang adik perempuanku melahirkan, dan aku datang ke kedua pesta itu dengan bingkisan dan senyum, mengangkat gelas. Dan setiap kali aku pulang ke rumah kontrakanku yang sepi di belakang rumah sakit, ada kunang-kunang kecil yang menunggu di luar jendela.

Aku tahu itu bodoh. Ho adalah kota, dan kota tidak punya kunang-kunang. Namun ia datang, hijau, pelan, berdenyut dengan irama orang yang menahan diri. Kadang ia hinggap di kaca. Kadang ia merayap ke bawah pintu. Aku sudah belajar tidak mengusirnya dengan tangan.

Malam tadi, ketika aku selesai bertugas dan masuk ke kamar, ia sudah ada di dalam. Duduk di bantalku seperti binatang piaraan yang lama ditinggalkan. Aku berdiri lama sekali di ambang pintu, dengan seragam putihku, dengan tanganku yang pandai menyuntik dan menenangkan orang, dan aku tidak merasa takut.

Aku merasa dikenali.

Ia terbang pelan ke telapak tanganku yang terbuka. Hangat, lebih hangat daripada seharusnya, seperti sesuatu yang baru saja berhenti berlari. Aku berpikir tentang Bibi Dzifa yang berjalan di antara orang-orang yang menyingkir seperti air. Aku berpikir tentang anak-anak yang mungkin sedang bertumbuh sehat di kampung itu dan di tempat lain, di bawah kelambu putih yang digantung rapi.

Dan aku menyadari bahwa adze tidak pernah punya pilihan lain selain berburu pada orang-orang yang dicintai oleh pemiliknya. Itulah sebabnya ia begitu setia.

Aku menutup tanganku dengan sangat hati-hati, supaya sayapnya tidak patah.

Lalu aku duduk, menunggu pagi, dan mendengarkan bunyi kecil yang puas di dalam genggamanku.

Catatan dari Penjaga Tengah Malam

Cerita ini berangkat dari kepercayaan orang Ewe di Ghana dan Togo tentang adze, kekuatan sihir yang lahir dari iri hati dan menyerang kerabat sendiri. Dalam tutur populer, ia tampil sebagai kunang-kunang yang menyelinap lewat lubang kunci dan menghisap darah orang yang tidur. Menarik bahwa sebagian sumber menyebut citra kunang-kunang itu lebih dipopulerkan ensiklopedia vampir modern, sedangkan penuturan Ewe sendiri berbicara tentang makhluk kecil seperti kumbang, nyamuk, atau semacam cahaya yang melayang. Dalam kenyataannya, tuduhan adze sering jatuh pada perempuan tua, perempuan tanpa anak, atau mereka yang dianggap iri. Karena itu cerita ini sengaja memihak pada yang dituduh, dengan penuh hormat pada budaya asalnya.

Seluruh tokoh, kampung Tsiame, dan peristiwanya adalah rekaan. Pepatah Se wo were fi na wosankɔfa a yenkyi sebenarnya berasal dari tradisi Akan, tetangga budaya Ewe di Ghana, dan sengaja diletakkan sebagai warisan sang ibu tokoh utama. Gaya penulisan terinspirasi kelamnya Shirley Jackson, ketika kengerian terbesar lahir dari kampung yang ramah dan keputusan bersama yang tenang.

Estimasi waktu baca: sekitar 14 menit. Peringatan konten: kematian bayi, tuduhan sihir dan pengusiran, keguguran, serta rasa bersalah.

Jejak Sumber

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan