A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Saya tidak memiliki mimpi tertentu, tapi tentu saja pernah diajukan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Bahkan dari sejak kecil mungkin, tapi sebenarnya apa yang menjadi mimpi seseorang itu?

Misal saat kecil saya sering ditanya, apa yang menjadi mimpi saya. Ketika masih berlari dengan kaki mungil ini, dengan napas yang memburu & tidak lebih tinggi untuk mampu menghempas pucuk-pucuk ilalang, maka angan kecil itu ingin segera melompat ke tempat yang tak terjamah oleh imajinasinya. Saya ingin jadi seorang astronom (atau astronot ya), kaki kecil saya ingin berlari di angkasa luas.

Setelah usia bertambah, dan imajinasimu menjadi sedikit lebih logis, maka saya tahu, bahwa berlari di angkasa lepas tidaklah sebebas berlari di permukaan bumi. Dan tidak ada alang-alang yang bisa disentuh sambil berlari.

Kemudian saya melihat bahwa ada sesuatu yang bisa membawa kaki yang berjalan ke tempat-tempat yang lebih liar dari imajinasi ini. Sesuatu yang penuh misteri dan menantang, tentu dengan alang-alang di mana-mana. Saya pun berkata, bahwa saya ingin menjadi arkeolog ketika ditanya apa mimpi saya.

Lihatlah, satu mimpi lahir setelah mimpi lainnya padam. Namun bukan berarti hidup berakhir dengan keterpurukan. Pada akhirnya saya pun tidak menjadi seorang arkeolog, tapi itu tidak berarti menghilangkan hobi saya berburu kulit kerang jika saya sempat mengunjungi pantai.

Saya bukan orang yang memiliki kemampuan membangun mimpi, namun saya orang yang memiliki kealamian dalam melahirkan mimpi. Saya tidak pernah mempertahankan mimpi saya, namun saya melihatnya berjalan bersama kehidupan di sisi saya, jika memang sudah saatnya padam, maka ia akan padam. Seperti kumpulan kunang-kunang di tepian savana pada malam hari, kita bisa melihat kelap-kelipnya silih berganti, mimpi walau hanya ilusi namun menghiasi kehidupan manusia yang penuh kegelapan.

I never build my dream, they just exist while I breath away.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO
  • Air yang Merenggut Nyawa: Tujuh Strategi Global Mencegah Tenggelam dan Relevansinya bagi Indonesia
    Setiap tahun, lebih dari 300.000 orang di dunia meninggal karena tenggelam, dengan anak-anak sebagai korban utama. WHO meluncurkan paket kebijakan PROTECT yang berisi tujuh strategi mencegah tenggelam. Indonesia perlu mengembangkan strategi nasional dan memperkuat pengumpulan data untuk menurunkan angka kematian terkait tenggelam di negara kepulauan ini.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. Avatar Cahya

    Mas Asep,

    Oh…, memeluk itu maksudnya memberkahi ya?

  2. Avatar Asepsaiba

    Jika berbincang mengenai mimpi, saya selalu ingat yang Arai ucap, "Bermimpilah, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mipni itu"

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca