Seorang perempuan berusia 34 tahun datang ke poli kandungan sebuah rumah sakit di Sragen bersama suaminya, membawa selembar penawaran dari klinik fertilitas swasta di kota besar. Di sana tertulis paket IVF dasar, ditambah beberapa opsi “peningkat peluang keberhasilan”—mulai dari pengujian genetik embrio, suntik sperma tunggal, hingga pencitraan embrio time-lapse—masing-masing dengan tambahan biaya belasan juta rupiah. Pasangan ini bingung: mana yang benar-benar perlu, dan mana yang sekadar tawaran komersial berbalut istilah medis yang meyakinkan?
Kebingungan semacam ini wajar. In vitro fertilisation (IVF) sudah cukup mahal—satu siklus di Indonesia berkisar Rp40 juta hingga Rp200 juta—dan tidak ditanggung BPJS Kesehatan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 Pasal 25, yang secara eksplisit mengecualikan pelayanan kesehatan untuk mengatasi infertilitas dari jaminan kesehatan nasional (Kemenkeu, 2013). Di tengah beban finansial dan emosional sebesar itu, pasangan menjadi sasaran empuk tawaran prosedur tambahan atau add-ons yang menjanjikan peluang lebih tinggi. Pertanyaannya: apa yang sesungguhnya dikatakan bukti ilmiah?
Apa Itu Add-Ons dan Mengapa Perlu Dicermati
Add-ons adalah teknik, obat, atau prosedur yang ditawarkan di luar protokol IVF standar dengan tujuan meningkatkan peluang keberhasilan (PMC, 2023). Regulator fertilitas Inggris, Human Fertilisation and Embryology Authority (HFEA), menjadi rujukan global dalam menilai bukti ilmiah di balik add-ons ini melalui sistem klasifikasi warna. Setelah meninjau ketersediaan bukti untuk belasan add-ons populer, HFEA tidak menemukan satupun yang layak masuk kategori “hijau”—yakni kategori dengan bukti kuat dari uji klinis acak berkualitas tinggi bahwa prosedur tersebut benar-benar meningkatkan angka kelahiran hidup (live birth rate) (Progress Educational Trust, 2025). Sejak itu, HFEA memperbarui sistemnya dari tiga menjadi lima kategori—hijau, kuning, merah, abu-abu, dan hitam—untuk memisahkan secara lebih tegas antara intervensi yang terbukti tidak bermanfaat atau berisiko dan yang belum cukup diteliti (Progress Educational Trust, 2025).
Masalahnya, informasi ini tidak selalu sampai dengan jujur kepada pasien. Sebuah kajian kualitatif terhadap klinisi, embriolog, dan pasien IVF di Australia dan Inggris menemukan bahwa lebih dari 30% situs klinik IVF di Inggris mengklaim prosedur seperti assisted hatching dan pencitraan time-lapse embrio dapat meningkatkan peluang implantasi—klaim yang tidak didukung bukti kuat (PMC, 2023). Survei nasional pasien HFEA tahun 2024 turut mencatat bahwa hanya 37% pasien merasa risiko add-on dijelaskan secara memadai sebelum mereka menyetujui prosedur tersebut (The Fertility Link, 2026).
Menilik Beberapa Add-Ons yang Sering Ditawarkan
Pengujian genetik praimplantasi untuk aneuploidi (preimplantation genetic testing for aneuploidy/PGT-A). Prosedur ini menyeleksi embrio berdasarkan jumlah kromosom sebelum ditransfer ke rahim, dengan janji awal meningkatkan angka kehamilan dan menurunkan risiko keguguran. Kedua klaim tersebut telah dibantah secara resmi melalui pernyataan kebijakan bersama American Society for Reproductive Medicine (ASRM) dan Society for Assisted Reproductive Technology (SART) pada September 2024, yang menegaskan PGT-A tidak terbukti mempercepat waktu menuju kehamilan maupun menurunkan risiko keguguran seperti yang diklaim sebelumnya (Journal of IVF-Worldwide, 2026). Lebih jauh, pada perempuan dengan cadangan sel telur atau jumlah embrio yang sedikit, PGT-A justru berpotensi memperburuk hasil IVF secara keseluruhan, karena embrio “mosaik” yang sebenarnya masih berpeluang berkembang normal bisa saja dibuang berdasarkan hasil tes ini (Journal of IVF-Worldwide, 2026).
Suntik sperma tunggal ke sel telur (intracytoplasmic sperm injection/ICSI). ICSI adalah standar perawatan yang tepat ketika terbukti ada faktor infertilitas pria, seperti jumlah atau motilitas sperma yang rendah. Namun, tinjauan Cochrane dan panduan Komite Praktik ASRM menyimpulkan tidak ada manfaat tambahan dari ICSI dibanding IVF konvensional bila parameter sperma normal—meski kenyataan di lapangan, banyak klinik tetap menggunakannya secara rutin tanpa indikasi jelas (The Fertility Link, 2026).
Pemanjangan atau penipisan zona pelusida (assisted hatching). Teknik ini melibatkan pelemahan lapisan luar embrio sebelum transfer, dengan tujuan mempermudah “penetasan” embrio saat implantasi. Bukti pendukungnya tergolong lemah, dan prosedur ini termasuk yang paling sering diklaim bermanfaat di situs-situs klinik tanpa dukungan data yang memadai (The Fertility Link, 2026).
Biopsi lapisan rahim untuk menentukan waktu transfer embrio (uji reseptivitas endometrium). Uji ini bertujuan menemukan “jendela implantasi” optimal bagi tiap individu. Sejumlah uji klinis acak berskala besar terbaru menunjukkan hasil yang tidak konsisten mendukung penggunaannya secara rutin (The Fertility Link, 2026).
Pencitraan time-lapse embrio. Teknologi pemantauan perkembangan embrio secara kontinu ini populer karena kesannya yang canggih, namun bukti manfaatnya terhadap angka kelahiran hidup masih dianggap beragam dan belum konklusif.
Pola yang konsisten muncul dari berbagai tinjauan: klinik cenderung melebih-lebihkan manfaat sekaligus meremehkan risiko atau biaya add-ons pada materi promosi mereka (PMC, 2023). Sebuah studi di Australia bahkan mencatat bahwa 77% deskripsi add-ons di situs klinik menyertakan klaim manfaat yang tidak dikuantifikasi atau tidak didukung publikasi penelitian (PMC, 2023).
Mengapa Membuktikan Manfaat Add-Ons Begitu Sulit
Salah satu alasan mengapa perdebatan soal add-ons ini terus berlangsung adalah tantangan metodologis dalam penelitian IVF itu sendiri. Sejumlah pakar reproduksi mengusulkan agar penelitian di bidang ini secara konsisten menggunakan angka kumulatif kelahiran hidup per siklus yang dimulai (cumulative live-birth rate per initiated cycle) sebagai luaran utama, alih-alih hanya angka keberhasilan per transfer embrio saja—karena keduanya bisa memberikan gambaran yang sangat berbeda (Journal of IVF-Worldwide, 2026). Registri data besar seperti basis data SART di Amerika Serikat dan HFEA Register di Inggris kini menjadi rujukan penting untuk membangun bukti yang lebih kuat dan transparan seputar efektivitas add-ons ke depannya (Journal of IVF-Worldwide, 2026).
Yang Bisa Dilakukan Pasangan Sebelum Menyetujui Add-Ons
Beberapa langkah praktis yang dapat membantu pasangan mengambil keputusan lebih terinformasi:
- Tanyakan bukti spesifik, bukan klaim umum. Mintalah dokter menjelaskan apakah ada uji klinis acak berkualitas tinggi yang mendukung prosedur tersebut untuk kondisi spesifik Anda—bukan sekadar “banyak pasien merasa terbantu”.
- Pahami bahwa indikasi berbeda dengan promosi rutin. ICSI, misalnya, sangat bermanfaat bila ada faktor infertilitas pria yang terkonfirmasi, tetapi tidak untuk semua pasangan.
- Perhitungkan biaya tambahan secara eksplisit sejak awal konsultasi, mengingat add-ons dapat menambah beban Rp5 juta hingga puluhan juta rupiah per siklus, sementara IVF sendiri tidak ditanggung BPJS Kesehatan (Kemenkeu, 2013).
- Diskusikan risiko, bukan hanya manfaat. Beberapa add-ons, seperti PGT-A pada kasus cadangan sel telur rendah, berpotensi menurunkan—bukan menaikkan—peluang keberhasilan kumulatif.
Catatan Transparansi
Artikel ini menyintesis pedoman dan kajian dari organisasi profesi serta regulator fertilitas internasional, terutama HFEA (Inggris) dan ASRM/SART (Amerika Serikat), yang sistem klasifikasi dan konteks regulasinya tidak identik dengan sistem pengawasan praktik fertilitas di Indonesia. Belum ditemukan publikasi resmi dari Kementerian Kesehatan RI atau perhimpunan profesi Indonesia (seperti Perhimpunan Fertilitas Indonesia/HIFERI) yang secara eksplisit mengadopsi sistem klasifikasi add-ons HFEA; pembaca disarankan menanyakan langsung kepada dokter spesialis obstetri-ginekologi konsultan fertilitas mengenai bukti dan indikasi untuk prosedur spesifik yang ditawarkan di klinik masing-masing. Status pembiayaan BPJS Kesehatan untuk layanan infertilitas mengacu pada Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013 dan dapat berubah seiring revisi kebijakan; pembaca disarankan mengecek status terkini melalui kanal resmi BPJS Kesehatan. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi langsung dengan dokter spesialis fertilitas.
Daftar Pustaka
Journal of IVF-Worldwide. (2026). Paying more for no better outcome: The add-on crisis in modern medicine—using infertility treatment as the primary example. https://jivfww.scholasticahq.com/article/160140-paying-more-for-no-better-outcome-the-add-on-crisis-in-modern-medicine-using-infertility-treatment-as-the-primary-example
Journal of IVF-Worldwide. (2026). IVF add-ons: Turning controversy into an agenda for evidence, equity, and action. https://jivfww.scholasticahq.com/article/159812-ivf-add-ons-turning-controversy-into-an-agenda-for-evidence-equity-and-action
Kementerian Keuangan RI. (2013). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 tentang Jaminan Kesehatan. https://fiskal.kemenkeu.go.id/docs/inklusif/Perpres-Nomor-12-Tahun-2013-tentang-Jaminan-Kesehatan.pdf
PMC – National Center for Biotechnology Information. (2023). ‘It all depends on why it’s red’: Qualitative interviews exploring patient and professional views of a traffic light system for in vitro fertilisation add-ons. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC10305467/
Progress Educational Trust. (2025). IVF add-ons: How should we score the HFEA’s new ratings system? https://www.progress.org.uk/ivf-add-ons-how-should-we-score-the-hfeas-new-ratings-system/
Progress Educational Trust. (2025). HFEA overhauls IVF add-ons ratings system. https://www.progress.org.uk/hfea-overhauls-ivf-add-ons-ratings-system/
The Fertility Link. (2026). IVF add-ons: The evidence traffic light. https://thefertilitylink.com/add-ons





Tinggalkan Balasan