Sindrom ovarium polikistik (PCOS) merupakan gangguan endokrin yang memengaruhi sekitar 10% perempuan usia reproduksi, sering kali baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun karena gejalanya seperti jerawat, siklus haid tidak teratur, dan pertumbuhan rambut berlebih dianggap sebagai kondisi remaja yang wajar. Keterlambatan diagnosis meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang, termasuk infertilitas dan gangguan metabolik.
Pedoman internasional 2023 memperbarui kriteria diagnosis PCOS dengan pendekatan lebih fleksibel, seperti penggunaan hormon anti-Müllerian (AMH) sebagai alternatif USG dan penyederhanaan alur diagnosis di layanan primer. Tata laksana utama tetap berfokus pada modifikasi gaya hidup, sementara terapi farmakologis seperti pil kontrasepsi, metformin, dan letrozol disesuaikan dengan kebutuhan pasien, terutama bagi yang mengejar kehamilan.
Seorang remaja berusia 17 tahun dibawa ibunya ke poli umum sebuah klinik di Sragen dengan keluhan jerawat yang tak kunjung sembuh sejak SMP, disertai bulu-bulu halus yang tumbuh lebih lebat di wajah dan dagu. Siklus haidnya juga tidak teratur—kadang tiga bulan sekali, kadang dua kali dalam sebulan. Selama bertahun-tahun, keluhan ini dianggap “biasa untuk remaja” dan hanya ditangani dengan krim jerawat dari apotek. Baru ketika ia menikah lima tahun kemudian dan sulit hamil, seorang dokter kandungan akhirnya mendiagnosisnya dengan sindrom ovarium polikistik (polycystic ovary syndrome/PCOS)—sebuah kondisi yang sebenarnya sudah memberi tanda sejak masa remajanya.
Kisah semacam ini bukan kebetulan. PCOS adalah gangguan endokrin yang memengaruhi sekitar 10% perempuan usia reproduksi dan merupakan salah satu penyebab utama infertilitas akibat gangguan ovulasi (US Pharmacist, 2024), namun keterlambatan diagnosis masih menjadi masalah global yang diakui secara eksplisit oleh pedoman internasional terbaru (JCEM, 2023). Artikel ini mengulas pembaruan kriteria diagnosis PCOS 2023 serta prinsip tata laksananya yang berbasis bukti—termasuk mengapa gaya hidup, bukan obat, tetap menjadi fondasi utama pengelolaannya.
Apa Itu PCOS dan Mengapa Sering Terlewat
PCOS ditandai oleh kombinasi gangguan ovulasi, kelebihan hormon androgen (hiperandrogenisme), dan/atau gambaran ovarium polikistik pada pencitraan. Gejalanya beragam: haid tidak teratur, jerawat membandel, pertumbuhan rambut berlebih di wajah dan tubuh (hirsutisme), kesulitan hamil, hingga kenaikan berat badan yang sulit dikendalikan (US Pharmacist, 2024). Karena gejalanya sering muncul bertahap sejak remaja dan mudah disalahartikan sebagai “hal biasa”, banyak perempuan baru terdiagnosis setelah bertahun-tahun—seringkali ketika mereka mulai mencari kehamilan.
Underdiagnosis dan diagnosis yang tertunda ini bukan hal sepele. Kondisi ini berkontribusi pada tekanan psikologis pasien dan membatasi peluang pencegahan serta intervensi dini terhadap komplikasi jangka panjang PCOS (PMC, 2024). Menariknya, penelitian juga menunjukkan bahwa diagnosis PCOS itu sendiri bukanlah sumber utama distres pada perempuan yang mengalaminya—melainkan komorbiditas yang menyertainya, seperti gangguan metabolik dan citra diri yang terganggu (PMC, 2024).
Kriteria Diagnosis 2023: Lebih Berbasis Bukti, Lebih Fleksibel
Sejak 2003, diagnosis PCOS umumnya mengacu pada kriteria Rotterdam yang bersifat konsensus. International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of PCOS edisi 2023—yang kini digunakan di 196 negara dan melibatkan 52 tinjauan sistematis, 77 rekomendasi berbasis bukti, dan 54 rekomendasi berbasis konsensus (Medical Journal of Australia, 2024)—memperbarui kriteria tersebut menjadi lebih berbasis bukti tanpa meninggalkan kerangka dasarnya.
Menurut pembaruan ini, diagnosis PCOS pada perempuan dewasa ditegakkan bila terpenuhi minimal dua dari tiga kriteria berikut (JCEM, 2023):
- Hiperandrogenisme klinis atau biokimiawi;
- Disfungsi ovulasi (siklus haid tidak teratur atau anovulasi);
- Morfologi ovarium polikistik pada ultrasonografi (USG).
Pembaruan penting pada 2023: kadar hormon anti-Müllerian (AMH) kini dapat digunakan sebagai alternatif USG untuk menilai kriteria ketiga (JCEM, 2023)—sebuah kemudahan berarti bagi fasilitas kesehatan yang tidak memiliki akses USG transvaginal berkualitas tinggi. Poin yang tidak kalah praktis bagi layanan primer: bila siklus haid tidak teratur dan terdapat tanda hiperandrogenisme, diagnosis PCOS dapat langsung ditegakkan tanpa memerlukan USG atau pemeriksaan AMH sama sekali (JCEM, 2023). Ini menyederhanakan alur diagnosis secara signifikan di fasilitas dengan keterbatasan alat penunjang.
Untuk remaja, pedoman ini menerapkan kehati-hatian ekstra. Karena banyak fitur PCOS—seperti siklus haid tidak teratur dan gambaran ovarium tertentu—juga umum dijumpai pada masa pubertas normal, kriteria diagnosis pada remaja dibuat lebih ketat: memerlukan kombinasi siklus haid tidak teratur dan hiperandrogenisme klinis/biokimiawi, dengan penyingkiran diagnosis banding lain terlebih dahulu (BMC Medicine, 2025). AMH secara khusus belum direkomendasikan untuk diagnosis PCOS pada remaja, mengingat keterbatasan bukti pada kelompok usia ini (Monash University, 2023).
Prinsip Tata Laksana: Gaya Hidup Tetap Fondasi Utama
Salah satu penekanan terkuat dalam pedoman 2023 adalah bahwa modifikasi gaya hidup merupakan lini pertama bagi semua perempuan dengan PCOS, terlepas dari berat badannya—bukan hanya bagi mereka yang mengalami kelebihan berat badan (Monash University, 2023). Fokusnya adalah kesehatan menyeluruh dan pencegahan kenaikan berat badan, dengan penanganan berat badan hanya dilakukan bila memang diperlukan.
Beberapa poin kunci dari rekomendasi tata laksana:
- Tidak ada satu jenis diet atau olahraga yang terbukti lebih unggul dibanding yang lain untuk PCOS; berbagai regimen dapat memberi manfaat, dan pemilihannya sebaiknya disesuaikan dengan preferensi serta kemampuan pasien menjalankannya secara berkelanjutan (Monash University, 2023).
- Penurunan berat badan sebesar 5% atau lebih sudah cukup memperbaiki gambaran metabolik dan membantu memulihkan siklus ovulasi pada perempuan dengan kelebihan berat badan (ClinicalTrials.gov, 2026).
- Pedoman secara eksplisit meminta tenaga kesehatan meminimalkan stigma dan bias terkait berat badan, termasuk meminta izin sebelum menimbang pasien dan menjelaskan risiko terkait berat badan dengan cara yang tidak menghakimi (Monash University, 2023)—sebuah pengingat bahwa pendekatan yang empatik memengaruhi keberhasilan tata laksana jangka panjang.
Untuk terapi farmakologis:
- Pil kontrasepsi kombinasi menjadi lini pertama untuk mengatasi siklus haid tidak teratur dan hiperandrogenisme, tanpa preferensi jenis tertentu—kecuali kecenderungan memilih dosis etinilestradiol lebih rendah dengan efek samping lebih sedikit (ASRM, 2023).
- Metformin direkomendasikan terutama bagi perempuan dengan indeks massa tubuh (IMT) ≥25 kg/m² untuk mengatasi fitur metabolik seperti resistensi insulin, dan terbukti lebih unggul dibanding inositol yang manfaat klinisnya terbatas pada hirsutisme, berat badan, dan ovulasi (ASRM, 2023). Metformin tidak rutin direkomendasikan untuk perempuan hamil dengan PCOS (ASRM, 2023).
- Untuk pasangan yang secara aktif mengejar kehamilan, letrozol menjadi terapi kesuburan farmakologis lini pertama, dengan klomifen dikombinasikan metformin sebagai pilihan alternatif; sementara gonadotropin atau operasi ovarium diposisikan sebagai lini kedua (ASRM, 2023).
- Terapi laser mekanis efektif untuk mengurangi pertumbuhan rambut berlebih pada sebagian kelompok, sedangkan obat antiandrogen memiliki peran terbatas—hanya digunakan bila terapi lain tidak efektif atau ada kontraindikasi (ASRM, 2023).
- Obat antiobesitas dan bedah bariatrik/metabolik dapat dipertimbangkan berdasarkan pedoman populasi umum, dengan mempertimbangkan keseimbangan manfaat dan efek samping (ASRM, 2023).
Mengapa Pendekatan Ini Penting bagi Pasangan yang Mengejar Kehamilan
Bagi pasangan yang datang ke layanan kesehatan karena kesulitan hamil, penting dipahami bahwa urutan tata laksana PCOS untuk kesuburan bersifat bertahap: dimulai dari modifikasi gaya hidup, dilanjutkan terapi ovulasi lini pertama (letrozol atau klomifen+metformin), dan baru menuju opsi lini kedua seperti gonadotropin atau prosedur bedah bila diperlukan (ASRM, 2023). Memahami tahapan ini dapat membantu pasangan menyusun ekspektasi yang realistis dan menghindari lompatan langsung ke prosedur berbiaya tinggi seperti IVF tanpa terlebih dahulu menjajaki opsi yang lebih sederhana dan terjangkau.
Di sisi lain, bagi tenaga kesehatan di layanan primer, kemampuan mengenali tanda-tanda PCOS sejak dini—terutama pada remaja dengan siklus haid tidak teratur disertai tanda hiperandrogenisme—dapat mempercepat rujukan dan intervensi, alih-alih menunggu keluhan berkembang menjadi masalah kesuburan bertahun-tahun kemudian.
Catatan Transparansi
Artikel ini merujuk pada International Evidence-based Guideline for the Assessment and Management of PCOS 2023, sebuah pedoman yang disusun melalui proses metodologis ketat (AGREE-II) dan disetujui oleh National Health and Medical Research Council (NHMRC) Australia, dengan keterlibatan multidisiplin dari enam benua. Meski pedoman ini digunakan luas secara internasional, artikel ini belum menemukan publikasi resmi dari perhimpunan profesi ginekologi atau endokrinologi Indonesia (seperti Perhimpunan Obstetri dan Ginekologi Indonesia/POGI atau Perkumpulan Endokrinologi Indonesia/PERKENI) yang secara eksplisit mengadopsi kriteria diagnosis 2023 ini sebagai standar nasional; pembaca dan tenaga kesehatan disarankan mengonfirmasi pedoman praktik terkini yang berlaku di fasilitas masing-masing. Pedoman sumber juga mengakui bahwa kualitas bukti yang mendasari sebagian besar rekomendasi masih tergolong rendah hingga sedang, sehingga tata laksana tetap perlu disesuaikan dengan kondisi individual pasien melalui konsultasi langsung dengan dokter. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan serta konsultasi dengan dokter spesialis obstetri-ginekologi atau endokrinologi.
Daftar Pustaka
American Society for Reproductive Medicine. (2023). Recommendations from the 2023 international evidence-based guideline for the assessment and management of polycystic ovary syndrome. https://www.asrm.org/practice-guidance/practice-committee-documents/recommendations-from-the-2023-international-evidence-based-guideline-for-the-assessment-and-management-of-polycystic-ovary-syndrome/
BMC Medicine. (2025). International evidence-based recommendations for polycystic ovary syndrome in adolescents. https://link.springer.com/article/10.1186/s12916-025-03901-w
ClinicalTrials.gov. (2026). Optimizing metformin use in polycystic ovary syndrome [Protocol document]. https://cdn.clinicaltrials.gov/large-docs/15/NCT07120815/Prot_SAP_000.pdf
Medical Journal of Australia. (2024). Summary of the 2023 international evidence-based guideline for the assessment and management of polycystic ovary syndrome: An Australian perspective. https://www.mja.com.au/journal/2024/221/7/summary-2023-international-evidence-based-guideline-assessment-and-management
Monash University. (2023). International evidence-based guideline for the assessment and management of polycystic ovary syndrome 2023—Summary. https://www.monash.edu/__data/assets/pdf_file/0003/3371133/PCOS-Guideline-Summary-2023.pdf
Oxford Academic – Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism. (2023). Recommendations from the 2023 international evidence-based guideline for the assessment and management of polycystic ovary syndrome, 108(10), 2447. https://academic.oup.com/jcem/article/108/10/2447/7242360
PMC – National Center for Biotechnology Information. (2024). Utility of serum anti-Müllerian hormone measurement as part of polycystic ovary syndrome diagnosis. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC11257749/
US Pharmacist. (2024). A review of polycystic ovary syndrome treatment. https://www.uspharmacist.com/article/a-review-of-polycystic-ovary-syndrome-treatment





Tinggalkan Balasan