Rangkaian pengetahuan yang hadir pada kehidupan manusia hanyalah sementara, sekejap bak tubuh yang akan segera hilang setelah kembali pada pelukan semesta. Anak manusia yang berlari mengejar mimpi-mimpinya, dan menghindari ketakutan serta melempar-lempar egonya ke atas panggung kehidupan, itulah gambaran keseharian kita yang sederhana ini.

Kontrol diri, itulah yang banyak ditekankan oleh para pengajar pada didikannya. Kita telah melihat dalam banyak hal, bahwa pengontrolan pikiran, emosi dan batin manusia, telah diterapkan guna menata kehidupan manusia yang “bisa jadi” kacau tanpa kontrol ini. Saya tak akan menyangkal bahwa jika seseorang berada dalam kondisi yang begitu kacau, kontrol diperlukan, bahkan sangat diperlukan ~ hal ini merujuk pada penggunaan medikasi-medikasi penenang pada penderita-penderita gangguan jiwa, dimana fungsi kongnitif dan afektif seseorang mengalami adnormalitas sehingga habitusnya dapat mengganggu bahkan membahayakan orang lain di sekitarnya.

Kita akan bertanya-tanya, apakah kontrol ini diperlukan bagi kita yang dalam tanda petik tidak mengalami masalah-masalah yang seserius itu. Apakah sesungguhnya kita memerlukan sesuatu yang dinamakan “kontrol” ini? Seseorang perlu memahami hal ini, sebelum ia memutuskan untuk menempelkan sebuah “kontrol” pada dirinya. Manusia menciptkan kontrol, baik pada orang lain maupun bagi dirinya sendirinya, dengan tujuan kurang lebih, menjadikan segalanya dan berharap semuanya berjalan sesuai dengan tatanan yang telah ada atau diinginkan, sehingga tercapai apa yang diidamkan.

Sederhananya, manusia ingin mencapai suatu keadaan yang tidak nyata sehingga menciptakan ikatan ini. Ketidaknyataan ini adalah sebentuk nilai lebih, ideologi, prinsip, atau apapun itu. Hal-hal yang baik dalam beberapa sudut, namun benar-benar sia-sia di sisi yang lainnya. Semuanya memang menjalankan fungsinya sebagai sebuah dinding yang menjaga, namun juga menghalangi seseorang untuk menilik ke dalam dirinya, ia begitu sibuk dengan semua nilai-nilai yang dipuja oleh pikirannya.

Mengapa membelenggu diri? Inilah sebuah jawaban yang harus ditemukan oleh setiap orang bagi dirinya sendiri. Tak akan ada sumber-sumber yang secara jelas dapat memberitahukannya pada Anda, karena jawaban dari keadaan Anda sendiri hanya Andalah yang dapat melihat sendiri, adakah sebuah jawaban di sana.

Artikel Baru Terbit

  • Gangguan Penyesuaian: Ketika Tekanan Hidup Membuat Kita Kewalahan Beradaptasi
    Gangguan penyesuaian adalah respons emosional atau perilaku yang mengganggu fungsi setelah stresor psikososial seperti pindah tugas, kehilangan pekerjaan, atau konflik berkepanjangan. Artikel ini membahas gejala, pembeda dari depresi dan gangguan lain, risiko bunuh diri, serta terapi berbasis bukti.
  • Ketika Layar Ponsel Berbisik Bohong: Membedakan Fakta dan Hoaks Kesehatan di Tengah Banjir Informasi
    disinformasi kesehatan menyebar cepat melalui faktor psikologis, algoritma media sosial, dan kesenjangan literasi digital. Di Indonesia, pola hoaks kesehatan berulang mencakup klaim medis palsu, penyalahgunaan citra otoritas, hingga modus phishing. Metode SIFT, verifikasi ke sumber resmi, dan peran aktif tenaga kesehatan menjadi kunci membendung dampaknya terhadap keselamatan pasien dan kepercayaan publik.
  • The Greater Silence
    Selebritas mana yang ingin Anda temui, dan apa yang ingin Anda bicarakan? I And I dreamed a dream, and in my dream I saw two roads stretching before the soul. And the first road was paved with the dust of books and the echoes of a thousand voices. And at its end there sat a… Read more: The Greater Silence
  • Kamis Keamanan Siber: Patch Tuesday Pecah Rekor 1.413 Celah, Kasus ASOS, dan Zero-Day FortiMail
    Patch Tuesday Oktober 2026 menambal rekor 1.413 celah, ASOS dibobol lewat pihak ketiga, dan zero-day FortiMail masih diburu. Ini yang perlu kamu cek.
  • On Becoming Good
    Apa makna menjadi pribadi yang baik? On Becoming Good And a youth said, Speak to us of becoming good. And he answered, saying: You ask of goodness as one might ask of a river, “Where is your destination?” But the river knows not its ending, only its flowing. To become good is not to arrive… Read more: On Becoming Good

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca