Untuk pengunjung blog sekalian, saya mohon maaf karena dalam dua hari ini sistem komentar di blog ini agak kacau. Saya sedang mencoba pengaya “intense debate comment” dari Automatic untuk blog ini, maksud saya karena berhubung jadwal saya yang semakin pada saya bisa melakukan moderasi dan pembalasan komentar blog via surel jika sembari menggunakan perangkat bergerak.
Namun tampaknya ID comment tidak memberikan solusi yang baik. Beberapa komentar menghilang, beberapa yang harusnya diblok justru lolos untuk moderasi, jumlah spam dan positif palsu menjadi di luar kontrol. Ah…, sepertinya satu-satu produk automatic yang bagus hanya mesin blog wordpress.
Kini saya sudah mengembalikan sistem kolom komentar sebagaimana aslinya. Ha ha…, padahal enak juga kalau bisa balas komentar via surel, jadinya tidak perlu masuk ke dahsboard wordpress atau pun halaman blog. Tapi saya tidak tahan dengan kekacauan dan beberapa bugs yang ada pada pengaya ini.
Automatic seharusnya lebih serius mengelola sistem komentar intense debate jika ingin bersaing, apalagi dengan rival beratnya Disqus yang kini sudah merambah hingga ke Apple Inc. Saya sudah memberikan masukkan saya dalam beberapa masalah yang saya temukan di plugin ini, tapi tampaknya tidak semua direspons dengan baik. Yah, itu sih terserah pihak sananya.
Sekarang sistem komentar saya kembalikan ke bentuk lama, semoga gangguan tidak terjadi lagi. Beberapa bagian komentar yang sedikit banyak rusak akibat pengaya intense debate ini saya akan biarkan begitu saja dulu, setidaknya bisa mengingatkan saya di masa depan jika ingin menggunakan pengaya ini kembali.
Since I got it back to normal, you may stop protesting me now
Rekam medis elektronik dan troli emergensi membuat banyak orang bertanya: apakah resep CITO masih perlu? Artikel ini menjelaskan bahwa kegawatan sejati ditangani lewat protokol dan stok ruangan, sedangkan CITO tetap berguna untuk terapi mendesak di luar stok, asalkan kriterianya jelas, terukur, dan diaudit secara rutin oleh tim mutu rumah sakit.
Servisitis adalah peradangan leher rahim yang sering tanpa gejala, namun dapat berujung radang panggul dan gangguan kesuburan. Kenali keputihan abnormal dan perdarahan pascasenggama, pahami cara diagnosis serta pengobatannya oleh dokter, dan ketahui mengapa pasangan perlu ikut diobati serta bagaimana pencegahannya.
Gangguan disosiatif melibatkan pemisahan kesadaran, ingatan, dan identitas, sering akibat trauma masa kecil. Dalam konteks Indonesia, gangguan trance-kerasukan diasosiasikan dengan fenomena kesurupan. Diagnosis sering terlambat karena gejala tumpang tindih dengan gangguan lain. Terapi berorientasi fase adalah pendekatan standar untuk penanganan gangguan ini.
Rangkuman teknologi 27 Sep–3 Okt 2026: model AI baru, celah FortiMail, Windows 11 26H2, Crew-13 ke ISS, kuota hangus, dan Ubuntu 26.10.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
11 tanggapan
wahyu
saya juga kena spam seperti itu. gimana pak langkah-langkahnya mengembalikan?
Wah, saya agak lupa, kalau Intense Debate sekarang menerapkan sistem baru, mungkin petunjuknya ada di situs resmi mereka. Sudah lama tidak menyentuh sistem komentar yang satu ini.
Bukan ga suka diprotes, saya hanya tidak suka kalau orang lain kerepotan karena ulah saya 😀 – apalagi saya juga jadi ikut repot.
Kalau suka coba saja digunakan Pak, tapi sayang wordpress.com belum bisa menggunakannya. Tapi dengan membeli domain dan melakukan hosting di wordpress.com fitur itu bisa digunakan dengan sekitar US$ 30 per tahunnya 😀 – atau pakai blog di blogger.com.
Yang klasik masih usable kok. 😛 Tapi kalau tidak ada yang mencoba, ngga seru rasanya. Pihak pengembang juga punya alasan tersendiri. Belum pula menyasar unsur aksesibilitas. Baru sekadar usable. Hanya untuk kebanyakan pengguna normal. Sementara masih mengabaikan para difabel. 🙁
Tinggalkan Balasan