Untuk pengunjung blog sekalian, saya mohon maaf karena dalam dua hari ini sistem komentar di blog ini agak kacau. Saya sedang mencoba pengaya “intense debate comment” dari Automatic untuk blog ini, maksud saya karena berhubung jadwal saya yang semakin pada saya bisa melakukan moderasi dan pembalasan komentar blog via surel jika sembari menggunakan perangkat bergerak.
Namun tampaknya ID comment tidak memberikan solusi yang baik. Beberapa komentar menghilang, beberapa yang harusnya diblok justru lolos untuk moderasi, jumlah spam dan positif palsu menjadi di luar kontrol. Ah…, sepertinya satu-satu produk automatic yang bagus hanya mesin blog wordpress.
Kini saya sudah mengembalikan sistem kolom komentar sebagaimana aslinya. Ha ha…, padahal enak juga kalau bisa balas komentar via surel, jadinya tidak perlu masuk ke dahsboard wordpress atau pun halaman blog. Tapi saya tidak tahan dengan kekacauan dan beberapa bugs yang ada pada pengaya ini.
Automatic seharusnya lebih serius mengelola sistem komentar intense debate jika ingin bersaing, apalagi dengan rival beratnya Disqus yang kini sudah merambah hingga ke Apple Inc. Saya sudah memberikan masukkan saya dalam beberapa masalah yang saya temukan di plugin ini, tapi tampaknya tidak semua direspons dengan baik. Yah, itu sih terserah pihak sananya.
Sekarang sistem komentar saya kembalikan ke bentuk lama, semoga gangguan tidak terjadi lagi. Beberapa bagian komentar yang sedikit banyak rusak akibat pengaya intense debate ini saya akan biarkan begitu saja dulu, setidaknya bisa mengingatkan saya di masa depan jika ingin menggunakan pengaya ini kembali.
Since I got it back to normal, you may stop protesting me now
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
11 tanggapan
wahyu
saya juga kena spam seperti itu. gimana pak langkah-langkahnya mengembalikan?
Wah, saya agak lupa, kalau Intense Debate sekarang menerapkan sistem baru, mungkin petunjuknya ada di situs resmi mereka. Sudah lama tidak menyentuh sistem komentar yang satu ini.
Bukan ga suka diprotes, saya hanya tidak suka kalau orang lain kerepotan karena ulah saya 😀 – apalagi saya juga jadi ikut repot.
Kalau suka coba saja digunakan Pak, tapi sayang wordpress.com belum bisa menggunakannya. Tapi dengan membeli domain dan melakukan hosting di wordpress.com fitur itu bisa digunakan dengan sekitar US$ 30 per tahunnya 😀 – atau pakai blog di blogger.com.
Yang klasik masih usable kok. 😛 Tapi kalau tidak ada yang mencoba, ngga seru rasanya. Pihak pengembang juga punya alasan tersendiri. Belum pula menyasar unsur aksesibilitas. Baru sekadar usable. Hanya untuk kebanyakan pengguna normal. Sementara masih mengabaikan para difabel. 🙁
Tinggalkan Balasan