Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan Pak Wayan, 64 tahun, pensiunan pedagang di pasar Gianyar, perokok sejak muda dan penyandang diabetes. Sejak beberapa bulan ia harus berhenti dua kali dalam perjalanan ke warung yang hanya 200 meter dari rumah, karena betisnya terasa seperti dicengkeram. Begitu duduk semenit dua menit, nyerinya hilang. Ia mengira itu “urat tertarik” atau sekadar tanda tua. Padahal pola seperti ini adalah gejala klasik penyakit arteri perifer (peripheral artery disease, PAD): pembuluh darah yang mengalirkan darah ke tungkai menyempit sehingga otot kekurangan oksigen saat bekerja.

Apa itu penyakit arteri perifer?

PAD adalah penyempitan atau penyumbatan arteri di luar jantung dan otak, paling sering di tungkai bawah. Penyebab utamanya sama dengan penyakit jantung koroner, yaitu aterosklerosis: timbunan lemak, kolesterol, dan sel radang yang membentuk plak di dinding arteri. Karena itu, orang dengan PAD hampir selalu memiliki risiko serangan jantung dan stroke yang lebih tinggi. Pedoman ACC/AHA 2024 menempatkan PAD sebagai penyakit yang harus ditangani bersama risiko kardiovaskular menyeluruh, bukan sekadar masalah “kaki” 1.

Dalam istilah lama, kondisi ini juga disebut arteriosclerosis obliterans atau penyakit oklusi arteri perifer. Pedoman Eropa (ESC) 2024 bahkan menggabungkan PAD dan penyakit aorta dalam satu dokumen untuk menekankan bahwa sistem arteri adalah satu kesatuan 2.

Ilustrasi pembuluh darah arteri kedua tungkai dengan penyempitan akibat plak pada arteri paha kanan dan daerah betis berpendar karena aliran darah berkurang, pada penyakit arteri perifer
Penyempitan arteri tungkai akibat plak mengurangi aliran darah ke betis dan kaki.

Siapa yang berisiko?

Risiko PAD meningkat pada perokok, penyandang diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit ginjal kronik, dan usia lanjut. Merokok dan diabetes adalah dua pemicu terkuat. Di Indonesia, prevalensi diabetes mencapai 11,7% menurut Survei Kesehatan Indonesia 2023, sehingga banyak orang di berbagai daerah, dari petani di Sragen hingga nelayan di Makassar, hidup dengan faktor risiko ini tanpa menyadari bahwa pembuluh darah kakinya ikut terdampak.

Gejala: tidak selalu nyeri betis

Sebagian besar penderita PAD tidak mengeluh sama sekali, atau mengeluh dengan cara yang tidak khas. Spektrum gejalanya kira-kira sebagai berikut.

  • Tanpa gejala. Terdeteksi hanya lewat pemeriksaan, misalnya denyut kaki lemah atau ABI rendah.
  • Klaudikasio intermiten. Nyeri, kram, atau lelah pada betis (kadang paha atau bokong) saat berjalan, hilang dalam beberapa menit istirahat, dan muncul lagi pada jarak yang kurang lebih sama.
  • Iskemia tungkai kronik yang mengancam anggota gerak. Nyeri kaki saat istirahat, terutama malam hari, kaki dingin dan pucat, luka di jari atau tumit yang tak kunjung sembuh, atau jaringan menghitam.
  • Iskemia tungkai akut. Kaki mendadak nyeri, pucat, dingin, mati rasa, atau lemah akibat sumbatan mendadak. Ini kegawatdaruratan; waktu sangat menentukan nasib tungkai 1.

Nyeri betis juga bisa berasal dari saraf terjepit di pinggang (stenosis spinal), varises, atau nyeri sendi. Bedanya, nyeri akibat PAD dipicu aktivitas dan reda cepat dengan berhenti, tanpa perlu mengubah posisi tubuh.

Cara mendiagnosis: pemeriksaan sederhana yang sering terlewat

Pemeriksaan awal cukup dengan anamnesis, perabaan denyut di punggung kaki dan belakang mata kaki, serta inspeksi kulit dan luka. Tes penyaring utama adalah ankle-brachial index (ABI), yaitu perbandingan tekanan darah sistolik di pergelangan kaki dengan lengan, diukur memakai manset dan alat Doppler genggam. Alat ini tersedia di banyak rumah sakit daerah dan dapat dikerjakan di layanan primer yang terlatih 1.

Nilai ABIInterpretasi umum
> 1,40Pembuluh kaku/terkalsifikasi, hasil tidak dapat diandalkan; perlu tes lain (misalnya indeks jari-lengan)
1,00–1,40Normal
0,91–0,99Batas (borderline)
≤ 0,90PAD
Interpretasi ABI secara umum; hasil selalu dibaca bersama gejala dan pemeriksaan fisik.

Pada penyandang diabetes dan penyakit ginjal, dinding arteri sering mengeras sehingga ABI tampak “normal” palsu. Pemeriksaan lanjutan seperti USG Doppler dupleks, CT angiografi, atau MR angiografi dipakai bila perlu merencanakan tindakan membuka sumbatan.

Pengobatan: tiga pilar

1. Mengendalikan faktor risiko dan melindungi jantung serta otak

Berhenti merokok adalah langkah paling berdampak. Selain itu, pedoman merekomendasikan statin intensitas tinggi, pengendalian tekanan darah dan gula darah, serta obat antitrombotik. Antiplatelet tunggal seperti aspirin atau klopidogrel menjadi dasar bagi PAD bergejala. Pada pasien tertentu dengan risiko tinggi dan tanpa risiko perdarahan besar, kombinasi rivaroxaban dosis rendah dengan aspirin menurunkan kejadian kardiovaskular dan kejadian tungkai yang merugikan dibandingkan aspirin saja, meski risiko perdarahan harus ditimbang cermat 1,3.

2. Latihan jalan terstruktur

Bagi banyak penderita klaudikasio, latihan jalan terbukti menambah jarak tempuh bebas nyeri, sering sebanding dengan hasil tindakan. Program yang diawasi biasanya dilakukan sekitar tiga kali seminggu selama minimal 12 minggu: berjalan sampai nyeri sedang muncul, istirahat sampai reda, lalu mengulang. Bila pusat rehabilitasi tidak terjangkau, program latihan mandiri di rumah yang terstruktur dapat menjadi alternatif yang layak 1,3. Obat cilostazol juga dapat dipertimbangkan untuk meredakan gejala pada pasien tanpa gagal jantung.

3. Revaskularisasi bila diperlukan

Tindakan membuka sumbatan (angioplasti balon, pemasangan stent, atau bedah pintas) dipertimbangkan bila gejala tetap mengganggu meski terapi optimal, atau bila terdapat iskemia tungkai yang mengancam anggota gerak. Pilihan tindakan bergantung pada lokasi dan panjang sumbatan, kondisi pasien, serta ketersediaan tenaga dan fasilitas. Pada klaudikasio, tindakan bukan pengganti terapi medis dan latihan, dan sejumlah faktor seperti usia lanjut, diabetes, penyakit jantung koroner, dan sumbatan panjang di bawah lutut membuat hasilnya kurang baik 3.

Perawatan kaki: jangan tunggu luka

Aliran darah yang buruk membuat luka kecil sulit sembuh dan mudah terinfeksi, terutama pada penyandang diabetes (lihat juga mengapa luka kaki diabetes sulit sembuh). Periksa kaki setiap hari, jaga kulit tetap lembap tetapi tidak basah di sela jari, pakai alas kaki yang pas, dan jangan berjalan tanpa alas kaki. Segera periksakan bila ada luka, perubahan warna, atau kaki terasa dingin dan nyeri saat istirahat.

Kapan harus segera ke fasilitas kesehatan?

Segera ke IGD bila kaki mendadak nyeri hebat, pucat, dingin, mati rasa, atau sulit digerakkan. Segera ke dokter dalam beberapa hari bila nyeri betis saat berjalan muncul berulang, luka kaki tak sembuh dua minggu, atau ada jari yang menghitam. Karena PAD sering berjalan bersama penyakit jantung dan stroke, evaluasi risiko kardiovaskular secara keseluruhan juga perlu dilakukan.

Pesan utama

Nyeri betis saat berjalan yang reda saat istirahat bukan sekadar tanda menua. Pemeriksaan ABI yang sederhana dapat mengungkap penyempitan arteri sebelum luka atau amputasi terjadi, dan pengobatannya, yaitu berhenti merokok, obat pelindung pembuluh darah, serta latihan jalan teratur, sebagian besar bisa dimulai sekarang juga. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh dokter.

Referensi

1. Gornik HL, dkk. 2024 ACC/AHA/AACVPR/APMA/ABC/SCAI/SVM/SVN/SVS/SIR/VESS Guideline for the Management of Lower Extremity Peripheral Artery Disease. Circulation. 2024;149(24):e1313-e1410. doi:10.1161/CIR.0000000000001251 (PubMed: 38743805)

2. Schulze-Bauer H, dkk. Highlights der ESC-Leitlinien 2024 zu peripherer arterieller Verschlusskrankheit und Erkrankungen der Aorta. Herz. 2025;50(1):25-33. doi:10.1007/s00059-024-05286-7 (PubMed: 39589444)

3. Saadi S, dkk. A systematic review supporting the Society for Vascular Surgery guideline update on the management of intermittent claudication. J Vasc Surg. 2025;82(2):688-697. doi:10.1016/j.jvs.2024.12.135 (PubMed: 40316186)

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan