Les pèlerins au-dessus des nuages

Ada lagu yang kita dengar sambil lalu, lalu tiba-tiba terasa sangat dekat. Siulan di awal Sukiyaki bekerja seperti itu: ringan, hampir riang, tetapi di baliknya ada langkah orang yang sedang menahan sesuatu. Pada musim panas 1963, jutaan pendengar Amerika menyenandungkan lagu ini tanpa mengerti sepatah kata Jepang pun.

Ulasan Lagu #3 · Seri Rak Budaya

Tentang Lagu

JudulUe o Muite Arukō (上を向いて歩こう), dikenal di Barat sebagai Sukiyaki
PenampilKyu Sakamoto
PenciptaRokusuke Ei (lirik), Hachidai Nakamura (musik)
Rilis15 Oktober 1961 di Jepang; dirilis di Amerika Serikat pada 1963
LabelToshiba-EMI (Jepang), Capitol (Amerika Serikat dan Kanada), His Master’s Voice (Inggris)
GenreKayōkyoku (pop Jepang), pop orkestral
AsalJepang, bahasa Jepang

Kisah di Balik Lagu

Kyu Sakamoto lahir pada 10 Desember 1941 di Kawasaki. Ia tumbuh di Jepang masa pendudukan Amerika, dan menurut artikel PBS tentang lagu-lagu musim panas 1963, ia belajar bernyanyi dari siaran radio militer Amerika, mendengarkan Paul Anka, Bobby Darin, dan Elvis Presley. Ia sempat tampil di pangkalan militer Amerika membawakan lagu rock and roll sebelum menjadi bintang pop di negerinya sendiri.

Lagu ini lahir dari tangan dua orang lain. Rokusuke Ei menulis liriknya, Hachidai Nakamura menggubah musiknya. Menurut Wikipedia, yang mengutip liputan NPR tahun 2013, Ei menulis lirik itu sepulang dari unjuk rasa menentang perpanjangan perjanjian keamanan Jepang dan Amerika pada 1960. Ia kecewa dan putus asa karena upaya menggagalkan perjanjian itu tidak berhasil. Liriknya sengaja dibuat umum, sehingga bisa dibaca sebagai kisah orang yang menengadah agar air matanya tidak jatuh, atau sebagai kehilangan yang lebih luas. Catatan kecil perlu saya sampaikan: cerita latar protes itu berasal dari penuturan sang penulis dan liputan media, bukan dari dokumen pihak ketiga, jadi baca sebagai kesaksian, bukan sebagai kepastian.

Lagu ini pertama kali diperdengarkan lewat program NHK pada 16 Agustus 1961 dan dirilis sebagai piringan hitam pada 15 Oktober tahun itu. Di Jepang ia segera menjadi lagu terlaris, bertahan di puncak tangga lagu versi majalah Music Life selama tiga bulan dan dinobatkan sebagai lagu nomor satu 1961.

Mengapa Lagu Ini Penting

Sampai awal 1960-an, hampir semua lagu nomor satu di Amerika Serikat dinyanyikan dalam bahasa Inggris. Industri musik di sana mengandaikan bahwa pendengarnya hanya mau mendengarkan apa yang bisa dipahami. Lagu berbahasa asing dianggap barang eksotis, paling banter selingan.

Lalu pada Juni 1963, versi Kyu Sakamoto yang dirilis Capitol menduduki puncak Billboard Hot 100 selama tiga minggu. Menurut Wikipedia, ia juga memuncaki tangga lagu Adult Contemporary, dan penjualan globalnya diklaim melampaui 13 juta kopi. Sakamoto disebut sebagai artis rekaman Asia pertama yang meraih nomor satu di tangga lagu itu, dan menurut artikel PBS tahun 2017, lagu ini satu-satunya lagu berbahasa Jepang yang pernah menduduki puncak tangga lagu tersebut sampai saat itu. Wikipedia mencatat bahwa single berikutnya dari artis Asia yang mencapai nomor satu Hot 100 baru muncul pada 2020, yakni Dynamite dari BTS, yang dinyanyikan dalam bahasa Inggris.

Dampaknya bukan hanya angka. Sebelumnya, kata “Jepang” bagi banyak orang Amerika masih lekat dengan perang. PBS menulis bahwa tur Sakamoto di Amerika membantu menampilkan Jepang sebagai sekutu yang dapat dikenali dan tidak mengancam. Remaja berteriak menyambutnya di bandara Los Angeles pada Agustus 1963, dan ia tampil di The Steve Allen Show. Dalam kerangka Perang Dingin, ketika Jepang menjadi pos strategis Amerika di Asia, selera musik ikut bergeser: orang bisa menyukai suara dari negeri yang baru dua dasawarsa sebelumnya menjadi lawan.

Radio tua di ambang jendela dengan gelombang suara berupa ombak kertas yang menyeberangi lautan menuju pantai jauh
Sebuah lagu Jepang yang menyeberangi lautan lewat gelombang radio.

Perjalanan lagu ini ke Barat berlangsung lewat jalur yang berliku. Versi instrumental jazz dari Kenny Ball and His Jazzmen lebih dulu populer di Inggris, dan judul Sukiyaki melekat sejak itu. Menurut Wikipedia, penerbit Inggris khawatir pendengar sulit melafalkan judul aslinya, meski catatan itu masih bertanda “butuh rujukan”. Sukiyaki adalah hidangan panci Jepang yang tidak muncul dalam lagu dan tidak berhubungan dengan isinya. Seorang kolumnis Newsweek membandingkannya dengan Moon River yang di Jepang diberi judul “Beef Stew”. Judul itu bertahan ketika Capitol dan His Master’s Voice merilis versi asli Sakamoto beberapa bulan kemudian.

Setelah itu lagu ini hidup berkali-kali. Grup A Taste of Honey merilis versi berbahasa Inggris pada 1981 yang mencapai peringkat 3 di Hot 100, dan grup 4 P.M. memuncak di peringkat 8 pada 1994. Wikipedia juga mencatat penggunaannya dalam iklan sesudah gempa Tōhoku 2011, dalam film Studio Ghibli From Up on Poppy Hill, dan versi remix pada penutupan Olimpiade Tokyo yang digelar 2021. Itulah salah satu ukuran yang paling meyakinkan bahwa sebuah lagu menembus generasi: orang yang belum lahir pada 1963 masih memakainya untuk menghibur dan mengenang.

Cara Lagu Ini Bekerja

Durasinya hanya sekitar tiga menit. Lagu dibuka dengan siulan Sakamoto, instrumen yang tidak butuh terjemahan, dan itu mungkin separuh jawaban mengapa pendengar asing langsung terpaut. Melodinya bergerak dalam langkah-langkah kecil yang mudah diikuti, seperti seseorang berjalan pelan di malam hari, dan orkestrasinya menjaga suasana tetap lembut. Tidak ada klimaks yang berteriak. Sakamoto menyanyi dengan suara tipis dan hangat, nyaris seperti bergumam pada diri sendiri.

Dari sisi isi, liriknya berbicara tentang seseorang yang berjalan sambil menengadah supaya air mata tidak tumpah, tentang kebahagiaan yang terasa jauh, dan tentang kesendirian di bawah langit malam. Kata-katanya sederhana dan tidak menyebut sebab kesedihan. Justru karena itu ia terbuka bagi tafsir: patah hati, kegagalan politik, atau sekadar hari yang berat. Ketegangan antara nada yang ringan dan perasaan yang berat itulah, menurut saya, yang membuatnya tidak lekas usang.

Kritik dan Kontroversi

Ada beberapa hal yang layak ditimbang dengan jujur. Pertama, soal judul. Mengganti nama lagu dengan nama makanan demi kemudahan pasar adalah praktik yang hari ini terasa meremehkan, dan PBS mencatat bahwa citra Sakamoto yang santun dan “bersih” ikut memperkuat apa yang disebut mitos minoritas teladan terhadap orang Asia di Amerika.

Kedua, soal versi 1981. Wikipedia menceritakan bahwa vokalis A Taste of Honey, Janice-Marie Johnson, menulis lirik Inggris baru yang bukan terjemahan langsung, dan bahwa seorang eksekutif Capitol sempat menolak gagasan itu dengan alasan rasial. Johnson menurut halaman yang sama tidak mendapat kredit atau royalti atas liriknya karena hak cipta berada pada versi asli. Halaman itu juga mengutip seorang kritikus yang menilai versi 1981 sebagai kitsch eksotis yang bernuansa rasis, sebuah penilaian yang tidak semua orang setujui.

Ketiga, soal angka dan klaim. Beberapa sumber berbeda dalam hal tanggal rilis awal di Inggris, dan bahkan dalam satu artikel Wikipedia posisi lagu ini di tangga lagu Australia ditulis tidak konsisten. Klaim “satu-satunya lagu berbahasa Jepang di puncak” bertumpu pada artikel PBS tahun 2017, jadi sebaiknya dibaca sebagai klaim yang sah sampai tahun itu dan masih berlaku menurut Wikipedia saat ini.

Gema di Indonesia

Terus terang, dalam sumber-sumber yang saya buka tidak ada catatan tentang versi Indonesia dari lagu ini, jadi saya tidak akan mengarangnya. Yang bisa saya tarik adalah garis sejarah yang jelas. Indonesia dan Jepang punya masa pendudukan 1942 sampai 1945 yang menyisakan ingatan pahit, dan lagu-lagu pop Jepang tahun 1960-an memasuki dunia yang sedang membangun kembali kepercayaan setelah perang. Kisah serupa, tetapi arah sebaliknya, ada pada Bengawan Solo karya Gesang, lagu keroncong dari Surakarta yang berlayar ke Jepang. Dua lagu ini menunjukkan bahwa selera musik bisa menjadi jalan paling lunak untuk saling mendengar sesudah luka.

Pertanyaan yang menurut saya patut kita ajukan: lagu Indonesia apa yang bisa menembus telinga asing tanpa terjemahan? Sakamoto membuktikan bahwa jawabannya mungkin bukan soal bahasa, melainkan soal perasaan yang jujur dan melodi yang mudah dibawa pulang.

Cara Mendengarkan

Mulailah dari rekaman Kyu Sakamoto sendiri, yang paling sederhana, lalu perhatikan tiga hal: siulan di awal, keberanian lagu ini untuk tetap lembut, dan cara suaranya menahan emosi. Setelah itu dengarkan versi instrumental Kenny Ball and His Jazzmen untuk melihat bagaimana melodi yang sama berubah wajah di tangan musisi jazz Inggris. Bandingkan dengan versi A Taste of Honey (1981) untuk merasakan jarak antara lagu aslinya dan adaptasi berbahasa Inggris.

Lagu pendamping yang bisa mengisi pekan ini: Bengawan Solo (Gesang) sebagai perjalanan lagu Asia ke dunia, dan Strange Fruit (Billie Holiday) sebagai lagu yang membawa beban sejarah tanpa berteriak.

Dengarkan Lagunya

Saya belum dapat memverifikasi tautan video dari kanal resmi artis atau labelnya, sehingga saya tidak menyematkan pemutar. Silakan cari rekaman Ue o Muite Arukō di kanal resmi Kyu Sakamoto atau label pemegang haknya di layanan streaming yang Anda pakai. Sebagai halaman rujukan, ini artikel lagunya:

Terkait di Rak Budaya

Sumber:

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan