Les pèlerins au-dessus des nuages

Bagian I: Kepulangan · Bab 4

Ijazah itu kembali ke dalam map plastik biru sebelum pukul delapan pagi.

Pak Elias memeriksanya di meja makan rumahnya, di bawah jendela yang menghadap gereja, dengan kacamata baca yang ia keluarkan dari saku kemeja seperti mengeluarkan alat ukur. Ia membaca setiap baris. Nama. Tempat dan tanggal lahir. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pattimura. Ia meraba stempelnya dengan ujung jari, membalik kertas itu untuk melihat bagian belakangnya yang kosong, lalu membaliknya lagi. Istrinya, perempuan kecil yang bergerak tanpa suara, meletakkan dua gelas teh di meja dan menghilang ke dapur.

“Baik,” kata Pak Elias akhirnya, dan hanya itu.

Ia mengembalikan ijazah itu dengan dua tangan. Raka menerimanya dengan dua tangan juga, dan untuk sesaat mereka berdua memegang kertas yang sama, seperti dua orang yang sedang menyerahkan sesuatu yang lebih berat dari selembar kertas.

“Senin depan,” kata Pak Elias.

“Senin depan, Pak.”

Di jalan pulang, Raka menyadari bahwa ia punya enam hari. Enam hari tanpa kelas, tanpa jadwal, tanpa apa pun yang mesti dikerjakan selain menjerang air untuk Oma dan menunggu Mama Ani datang dengan rantangnya. Di Ambon, enam hari kosong adalah kemewahan. Di sini, di depan rumah Oma yang berderit setiap kali angin berubah arah, enam hari terasa seperti laut yang terlalu luas untuk direnangi.

Ia membuka lemari kecil yang diikat tali rafia dan mengeluarkan tiga strip obat dari dasar tasnya. Captopril. Dua puluh lima miligram. Ia membeli obat itu di apotek di Jalan Sam Ratulangi dengan resep yang ia minta dari dokter langganan teman kosnya, setelah menjelaskan lewat surat dan lewat ingatan berapa angka tekanan darah Oma tiga tahun lalu di rumah sakit Tual. Ia tidak yakin apakah itu obat yang benar. Ia hanya yakin bahwa ia harus membawa sesuatu.

Sari sudah bilang akan memeriksanya. Itu alasan yang wajar.

Raka memasukkan strip-strip itu ke saku kemejanya dan menunggu matahari naik.


Polindes di siang hari tampak lebih kecil daripada di malam hari, dan lebih jujur.

Cat temboknya mengelupas di bagian bawah, tempat air hujan memercik dari atap selama bertahun-tahun. Papan seng bergambar lambang Departemen Kesehatan itu ternyata miring sedikit ke kanan, ditahan oleh sebatang paku yang sudah berkarat sampai warnanya menyatu dengan seng. Di beranda, di atas bangku panjang, duduk seorang perempuan muda dengan perut membulat di balik daster bermotif bunga, dan di sebelahnya seorang perempuan tua yang mengunyah sirih dan meludah ke pasir dengan ketepatan seorang penembak.

Pintu terbuka. Sari muncul dengan lengan baju tergulung dan sehelai handuk kecil di bahu.

Ia melihat Raka, lalu melihat tangan Raka yang menekan saku kemeja, lalu kembali ke wajahnya.

“Pak Guru sakit?”

“Bawa obat Oma. Ose bilang mau lihat.”

“Beta bilang begitu?” Sari mengerutkan kening, pura-pura berpikir. “Iya, beta bilang begitu. Duduk di situ. Ada pasien dulu.”

Ia menunjuk ujung bangku dengan dagu, lalu berpaling kepada perempuan muda itu. “Sina, masuk.”

Perempuan tua itu memandangi Raka dari ujung kepala sampai ujung sandal, dengan mulut yang merah oleh sirih, lalu bergeser sedikit untuk memberinya tempat. Ia tidak berkata apa-apa. Ia tidak perlu. Raka tahu bahwa sebelum matahari terbenam, separuh kampung akan tahu bahwa anak Marthen duduk di beranda Polindes pada hari Senin siang, dan separuh lagi akan menebak kenapa.

Pintu dibiarkan terbuka. Dari tempatnya duduk, Raka bisa melihat ke dalam.

Ruangan itu hanya satu, dibagi dua oleh sehelai kain gorden biru yang digantung pada seutas kawat. Di bagian depan ada sebuah meja kayu dengan buku register bersampul batik, sebuah timbangan badan berkarat dengan jarum yang tidak pernah kembali tepat ke angka nol, dan sebuah lemari kaca berkaki empat yang isinya bisa Raka hitung dari bangku: beberapa botol kaca cokelat, kotak-kotak karton kecil, segulung kapas, sebotol alkohol yang tinggal sepertiga, dan setumpuk bungkus oralit yang disusun rapi seperti batu bata. Di rak paling atas ada sebuah termos besar berwarna biru dengan tulisan yang sudah pudar.

Di balik gorden setengah tersingkap, dipan pemeriksaan. Dipan yang semalam ia lihat dari balik kaca buram. Di siang hari dipan itu hanya dipan biasa, berlapis perlak cokelat yang sudah retak-retak dan ditambal plester.

Sina berbaring di atasnya. Sari berdiri di sisinya.

Raka melihat tangan Sari bergerak di atas perut perempuan itu. Telapak tangannya diletakkan rata, lalu ditekan perlahan di bagian atas, lalu di kedua sisi, lalu di bawah, dengan urutan yang pasti, seperti orang membaca huruf timbul di kertas. Ia tidak tergesa-gesa. Sesekali ia berhenti, matanya setengah terpejam, seolah mendengarkan sesuatu yang hanya bisa didengar oleh telapak tangan.

Raka teringat ayahnya. Marthen yang konon bisa membaca arus dengan telapak tangan. Ia tidak pernah melihat ayahnya melakukannya. Tetapi barangkali seperti ini.

“Kepala su di bawah,” kata Sari. “Bagus. Anak ose pintar, Sina. Su tahu jalan keluar.”

Sina tertawa kecil, malu.

Sari mengambil sesuatu dari meja, sebuah benda kayu berbentuk corong, panjangnya sejengkal, cokelat mengilap oleh pemakaian bertahun-tahun. Ia meletakkan ujungnya yang lebar di perut Sina, menunduk, dan menempelkan telinganya ke ujung yang sempit. Lalu ia diam.

Ruangan itu ikut diam. Perempuan tua di sebelah Raka berhenti mengunyah. Bahkan angin dari laut, yang sejak tadi menggoyang gorden biru, seperti menahan napas.

Bibir Sari bergerak tanpa suara. Menghitung.

Lalu ia mengangkat wajah, dan wajah itu berubah. Raka tidak tahu bagaimana menggambarkannya. Seperti ketika matahari muncul dari balik awan dan semua yang di bawahnya tiba-tiba punya bayangan.

“Kuat,” katanya. “Seratus empat puluh. Macam bunyi orang dayung belan.”

Ia menoleh ke pintu dan melihat Raka sedang menatap.

“Pak Guru mau dengar?”

Raka hampir menggeleng. Tetapi Sina, dari atas dipan, sudah mengangguk-angguk dengan semangat, dan perempuan tua di sebelahnya mendorong punggungnya dengan siku yang tajam, dan entah bagaimana ia sudah berdiri dan masuk dan membungkuk di samping dipan dengan wajah panas.

“Telinga di sini,” kata Sari. “Jangan pegang corongnya. Biar dia berdiri sendiri. Kalau ose pegang, ose cuma dengar tangan ose.”

Raka menempelkan telinganya ke kayu yang hangat. Ia mendengar desir. Mendengar bunyi perut, gemuruh kecil, seperti ombak di kejauhan. Mendengar darahnya sendiri berdenyut di telinga. Dan tidak mendengar apa-apa lagi.

“Sabar,” bisik Sari, dekat sekali, sehingga ia bisa mencium bau sabun batangan dan sesuatu yang lain, bau kapur barus dari lemari.

Lalu ia mendengarnya.

Cepat. Kecil. Tak kenal lelah. Bunyi yang tidak mirip apa pun yang pernah ia dengar, tetapi juga mirip semuanya: mirip hujan di atap rumbia, mirip langkah kaki anak-anak yang berlari di dermaga, mirip seseorang yang mengetuk pintu dari dalam rumah dan bertanya boleh keluar atau belum.

Raka menegakkan badan terlalu cepat, dan corong kayu itu hampir jatuh. Sari menangkapnya.

“Ada,” katanya. Suaranya terdengar bodoh di telinganya sendiri.

“Ada,” kata Sari, dan ia tersenyum dengan cara yang tidak pernah Raka lihat sejak mereka berumur dua belas tahun.


Sesudah itu Sari bekerja dan Raka menunggu di ambang pintu.

Ia mengukur tekanan darah Sina dengan tensimeter bermanset abu-abu yang retak itu, dan Raka sadar bahwa itu tensimeter yang sama yang dipakai untuk Oma hari Sabtu. Mungkin satu-satunya di kampung ini. Ia menimbang Sina di timbangan berkarat, menulis angka-angkanya di buku register dengan huruf-huruf kecil yang rapi, lalu di sebuah kartu kuning yang ia serahkan kepada Sina dengan pesan agar kartu itu disimpan dalam plastik supaya tidak basah.

Lalu ia membuka lemari kaca dan mengeluarkan sebuah botol cokelat. Ia menuangkan isinya ke telapak tangan dan menghitung. Raka melihat jarinya berhenti di angka sepuluh, lalu ragu, lalu menuang kembali empat butir ke dalam botol.

“Enam dulu,” katanya kepada Sina. “Tablet tambah darah. Satu tiap malam sebelum tidur. Kalau perut rasa tidak enak, makan dulu baru minum. Hari Kamis datang lagi, beta kasih sisanya.”

“Kenapa tidak semua, Bidan?”

“Karena hari Rabu ada Mama Telly dari ohoi sebelah, dan Mama Telly juga hamil, dan Puskesmas belum kirim lagi.” Sari mengatakannya dengan ringan, tanpa keluhan, seperti orang menyebut bahwa air sedang surut. “Kamis. Jangan lupa.”

Sina pergi bersama perempuan tua bermulut merah itu, yang ternyata mamanya, dan yang sebelum turun dari beranda menepuk lengan Raka dua kali tanpa alasan yang bisa ia mengerti.

Polindes itu tiba-tiba sepi.

“Mana obat Oma?”

Raka mengeluarkan tiga strip dari saku kemeja. Sari menerimanya, membaca tulisannya, membalik strip itu dan membaca tanggal kedaluwarsanya, lalu mengangguk.

“Ini bagus. Siapa yang kasih resep?”

“Dokter di Ambon. Teman kos beta kenal.”

“Dokter yang tidak pernah lihat Oma.”

“Beta ceritakan semuanya. Angka-angka waktu Oma di rumah sakit Tual. Beta masih ingat.”

Sari memandanginya. Ada sesuatu di matanya yang ia sembunyikan dengan cepat, seperti orang menyembunyikan surat di balik punggung. “Ose ingat angka tensi Oma tiga tahun lalu, tapi ose tidak ingat jalan pulang.”

Raka tidak menjawab.

“Maaf,” kata Sari. Lalu, lebih pelan, “Tidak. Beta tidak minta maaf. Tapi beta tidak mau bilang itu juga.”

Ia meletakkan strip-strip itu di meja, berjajar tiga.

“Setengah tablet pagi, setengah sore. Kita mulai pelan dulu, lihat tensinya. Tiap tiga hari beta datang periksa.” Ia mengetuk-ngetuk strip itu dengan ujung jari. “Tiga strip. Satu strip sepuluh tablet. Kalau setengah-setengah, ini cukup satu bulan. Habis itu?”

“Beta pesan dari Ambon. Lewat kapal.”

“Kapal perintis dua minggu sekali. Kalau ombak bagus. Kalau musim barat, ose bisa tunggu satu bulan dan yang datang cuma surat yang bilang kapal tidak datang.” Sari tertawa, tetapi tawa itu pendek. “Puskesmas kirim obat ke sini sebulan sekali. Paracetamol. Obat cacing. Tablet tambah darah. Oralit, banyak. Kapsul vitamin A, kalau bulan Februari dan Agustus. Antibiotik sedikit sekali, beta simpan macam orang simpan emas.” Ia menunjuk termos biru di rak atas. “Vaksin datang dalam termos itu, dibawa dengan jonson dari Puskesmas, es batu di dalamnya. Kalau jonsonnya terlambat, es mencair, vaksinnya rusak, anak-anak tidak dapat suntik bulan itu. Obat tekanan darah tidak ada di sini, Raka. Bukan bulan ini, bukan bulan depan.”

“Jadi apa yang ose kasih kalau ada orang tua tensinya tinggi?”

Sari memandang ke luar jendela, ke laut.

“Beta suruh kurangi garam,” katanya. “Di kampung yang hidupnya dari ikan asin.”

Mereka berdua diam. Dari para-para di pantai, bau ikan jemuran terbawa angin, asin dan tajam, dan untuk pertama kalinya bau itu terasa seperti sebuah lelucon yang kejam.


Sari batuk ketika ia sedang mengembalikan botol tablet tambah darah ke lemari kaca.

Mula-mula hanya satu kali, kering, kecil, seperti orang tersedak debu. Ia mengangkat tangan ke mulut, menunggu. Lalu datang yang kedua, lebih dalam, dan yang ketiga, dan sesudah itu batuk itu tidak lagi menunggu izin.

Raka melihat punggungnya membungkuk. Melihat tangan kanannya mencari pegangan pada pintu lemari kaca dan pintu itu bergoyang, membuat botol-botol di dalamnya berdenting satu sama lain. Melihat tangan kirinya naik, perlahan, seperti tidak ingin ketahuan oleh pemiliknya sendiri, dan berhenti di dada. Di bawah selangka kiri. Di tempat yang sama.

Batuk itu panjang. Bunyinya basah di ujung, seperti ada sesuatu yang tertinggal di dasar dadanya dan tidak mau keluar. Di antara satu batuk dan batuk berikutnya, Sari menarik napas dengan bunyi yang membuat Raka teringat ikan yang terlalu lama di atas pasir.

Ia melangkah maju.

Sari mengangkat telapak tangan tanpa menoleh. Jangan. Satu gerakan saja, dan Raka berhenti, seperti anak yang dihentikan oleh gurunya.

Ia menunggu. Detik-detik itu terasa lebih lama dari tiga hari di Laut Banda.

Akhirnya batuk itu surut, perlahan, seperti air yang turun dari pasir. Sari tetap membungkuk sebentar. Lalu ia menegakkan punggungnya, sangat pelan, persis seperti bayangan di balik kaca buram semalam, menarik handuk kecil dari bahunya dan menyeka mulut. Ia melipat handuk itu sebelum Raka sempat melihat apa pun di permukaannya, dan menyelipkannya ke saku rok.

Ketika ia berbalik, wajahnya pucat, tetapi matanya kering dan tenang.

“Debu kapur,” katanya. “Tembok ini makan kapur sendiri. Tiap pagi beta sapu, tiap siang su putih lagi.”

Raka memandang lantai semen itu. Bersih.

“Semalam,” katanya. “Beta lewat sini. Sesudah genset mati.”

“Oh.” Sari mengangkat alis. “Jadi sekarang Pak Guru mengintip rumah orang malam-malam. Pak Elias tahu?”

“Sari.”

“Semalam angin laut. Tadi debu kapur. Besok mungkin beta batuk karena Pak Guru terlalu banyak tanya.” Ia berjalan ke meja dan mulai merapikan buku register yang sudah rapi. “Ose mau beta tulis surat keterangan sehat? Beta bisa tulis. Beta bidan.”

“Ose bidan,” kata Raka, “jadi ose tahu batuk macam itu bukan debu kapur.”

Sari berhenti merapikan.

Untuk sesaat Raka mengira ia akan mengatakan sesuatu. Bahunya turun sedikit. Bibirnya terbuka. Di luar, seekor ayam berkotek panjang dan berlari menyeberangi halaman dikejar ayam yang lain, dan bunyi itu memecahkan apa pun yang hampir terjadi.

Sari menarik laci meja untuk menyimpan pulpen. Di dalam laci itu, sebentar saja, Raka melihat sebuah amplop cokelat besar yang terlipat dua, dengan kop surat tercetak biru di sudutnya. Rumah Sakit Umum. Ambon. Sisanya tertutup lipatan. Laci itu didorong kembali dengan sedikit terlalu keras.

“Ose su terima tawaran Pak Elias,” kata Sari. Itu bukan pertanyaan.

Raka menghela napas. Ia mengerti bahwa pintu itu sudah ditutup, dan bahwa mengetuknya sekarang hanya akan membuat Sari menguncinya dua kali.

“Satu kampung su tahu?”

“Pak Elias makan siang di rumah Bapa Desa kemarin. Maitua Bapa Desa ke sumur tadi pagi. Jadi iya, satu kampung su tahu.” Ada sesuatu yang melunak di suaranya, sesuatu yang hangat dan tidak ia sembunyikan. “Neles bilang ose jawab belum tahu. Sekarang ose su tahu, to?”

“Beta su tahu.”

“Bagus.” Sari mengangguk sekali, tegas, seperti mengesahkan sesuatu. “Anak-anak itu perlu guru yang tidak cuma suruh hafal. Tapi jangan bilang Pak Elias beta bilang begitu.”

“Ose mau beta bantu di sini? Angkat air, apa saja. Beta punya enam hari kosong.”

“Ose urus Oma.” Jawabannya cepat, terlalu cepat, sama seperti jawabannya di dermaga hari Sabtu tentang ikatan dinas. “Beta su biasa sendiri. Su tiga tahun.”

Ia mengantar Raka sampai ke beranda dan berdiri di sana dengan tangan bersedekap, memandanginya turun ke jalan berpasir. Ketika Raka menoleh di bawah pohon ketapang, Sari masih berdiri di tempat yang sama. Dari jauh ia tampak kecil sekali, lebih kecil dari Polindes itu, lebih kecil dari papan seng yang miring di atas kepalanya.

Ia melambai sekali. Lalu masuk.


Sore itu Raka memberikan setengah tablet pertama kepada Oma.

Oma memandangi tablet putih kecil di telapak tangannya dengan curiga, seperti memandangi seekor serangga.

“Ini apa?”

“Obat, Oma. Supaya kepala tidak pusing.”

“Kepala beta tidak pusing.”

“Supaya tidak pusing nanti.”

Oma memandanginya lama. Lalu, dengan wajah orang yang menyerah demi kesopanan, ia meletakkan tablet itu di lidah dan meminumnya dengan air dari gelas gompal. Ia mengecap-ngecap bibir.

“Pahit,” katanya. “Obat dari Ambon semua pahit. Marthen dulu bawa obat dari Dobo, juga pahit. Untuk demam.” Ia berhenti. Matanya bergerak, mencari sesuatu di udara di depannya. “Untuk demamnya Yuliana.”

Raka membeku dengan gelas di tangan.

Itu pertama kalinya, sejak ia pulang, ia mendengar nama ibunya keluar dari mulut Oma.

Tetapi Oma sudah berpaling ke jendela, ke laut, dan ketika ia bicara lagi, suaranya kembali ke tempat yang jauh. “Jambu su berbunga. Nanti anak Dominggus datang curi lagi.”

Raka meletakkan gelas itu pelan-pelan, seolah gelas itu terbuat dari sesuatu yang lebih rapuh dari kaca.

Obat dari Dobo, untuk demam Yuliana. Ibunya meninggal karena demam berdarah, setahun sesudah ayahnya hilang. Setahun sesudah. Itu yang selalu ia dengar. Itu yang selalu ia percaya. Lalu kapan Marthen membawa obat dari Dobo untuk demam Yuliana?

Ia ingin bertanya. Tetapi wajah Oma sudah tenang, dan tangannya yang kurus sedang mengusap-usap ujung sarung di pangkuannya, dan Raka ingat pesan Sari. Jangan dibantah terus. Oma capek.

Ia menyimpan pertanyaan itu di tempat yang sama dengan bait ketiga dan cahaya di luar karang, di sebuah ruang di dalam dirinya yang mulai terasa seperti laci yang terlalu penuh.


Genset koperasi mati pukul sepuluh, seperti biasa.

Raka berbaring di tikar pandan di kamarnya, mendengarkan rumah itu bernapas. Dinding bambu berderit ketika angin datang dari laut. Atap rumbia berdesir. Seekor cicak berbunyi tiga kali di balik lemari yang diikat tali rafia, lalu diam, seperti orang yang sudah selesai menyampaikan pendapatnya.

Ia hampir tertidur ketika mendengar suara Oma.

Mula-mula ia mengira Oma bermimpi. Tetapi suara itu tidak datang dari kamar Oma. Suara itu datang dari ruang depan, dari dekat jendela yang menghadap laut, dan suara itu bukan suara orang yang bermimpi. Suara itu suara orang yang sedang bercakap-cakap.

Raka bangkit tanpa bunyi dan berdiri di ambang pintu kamarnya.

Oma berdiri di depan jendela yang terbuka. Ia hanya memakai kebaya tidur dan sarung, rambutnya yang putih tergerai sampai ke punggung, tusuk konde tanduk di tangannya seperti benda yang lupa ia letakkan. Cahaya bulan masuk dari luar dan membuat tubuhnya tampak tipis sekali, nyaris tembus, seperti kain kelambu yang digantung di depan cahaya.

Ia sedang bicara ke luar jendela. Kepada laut, atau kepada seseorang yang berdiri di antara rumah dan laut, di halaman berpasir di bawah pohon jambu air.

Raka tidak bisa menangkap semuanya. Kata-kata itu bercampur, sebagian dalam bahasa Kei yang tidak lagi ia kuasai, sebagian dalam bahasa yang ia kenal. Nada suaranya membuat bulu tengkuk Raka berdiri. Oma tidak sedang bingung. Oma tidak sedang mencari-cari. Oma bicara dengan sabar dan tegas, seperti seorang ibu yang menasihati anak lelakinya sebelum anak itu berangkat jauh.

Lalu Raka mendengar namanya. Bukan namanya sendiri. Nama itu.

“Sari.”

Ia menahan napas.

“Ose jangan biarkan Sari sendiri,” kata Oma ke kegelapan di luar jendela. Suaranya rendah dan jelas, setiap kata diletakkan seperti batu di dasar air. “Ose dengar beta? Jangan biarkan dia sendiri. Ombak akan memanggilnya.”

Angin bertiup masuk dan menggoyang rambut putih itu. Di luar, ombak memukul pantai, sekali, dua kali, seolah menjawab.

Oma mengangguk pelan, seperti orang yang mendengar balasan yang memuaskan. Ia menutup jendela. Ia berbalik, dan matanya bertemu mata Raka di ambang pintu, dan untuk satu detik yang terasa sepanjang malam, Raka tidak tahu siapa yang sedang Oma lihat.

“Ose dengar, Nyong?” tanya Oma.

“Beta dengar, Oma.”

“Bagus.” Oma menyelipkan tusuk konde ke rambutnya dengan gerakan yang tidak selesai, lalu berjalan melewatinya menuju kamar tidurnya, menyibak kelambu bertambal itu, dan berbaring. Dalam beberapa tarikan napas, dengkurnya yang halus sudah terdengar, teratur, damai, seolah ia tidak pernah bangun sama sekali.

Raka berdiri di ruang depan yang gelap.

Ia membuka jendela itu lagi, pelan-pelan. Halaman berpasir di bawah pohon jambu air kosong. Tidak ada siapa-siapa. Hanya bayangan daun yang bergerak-gerak di pasir seperti tangan-tangan kecil yang sedang menulis sesuatu dan menghapusnya lagi.

Jauh di sepanjang pantai, di dekat pohon ketapang, satu titik cahaya kuning masih menyala. Polindes. Sari belum tidur.

Raka memandanginya. Ia sadar bahwa ia sedang menghitung, tanpa sengaja, seperti Sari menghitung detak jantung bayi di balik corong kayu. Satu. Dua. Tiga.

Pada hitungan kesebelas, terdengar langkah kaki kecil berlari di atas pasir, tergesa-gesa, dari arah utara. Sebuah suara cempreng memanggil-manggil di kegelapan, memanggil bidan, memanggil-manggil tentang Mama Yakoba dan perut yang sakit sejak magrib. Pintu Polindes terbuka. Ia melihat cahaya itu bergerak, berayun, keluar dari bangunan kecil itu dan turun ke jalan. Pelita yang dibawa seseorang.

Cahaya pelita itu berbelok ke utara. Ke arah tanjung. Ke jalan setapak berbatu yang mendaki dan menurun di sepanjang tebing, satu tanjung jauhnya, di tengah malam.

Raka sudah memakai sandalnya sebelum ia sempat berpikir.

Di belakangnya, dari dalam kelambu, Oma bergumam dalam tidurnya. Hanya satu kata, atau barangkali hanya desah napas yang kebetulan terdengar seperti kata.

“Pergi.”


Catatan kecil. Polindes: Pondok Bersalin Desa, tempat bidan desa memeriksa ibu hamil dan menolong persalinan; Corong Pinard: stetoskop kayu berbentuk corong untuk mendengar detak jantung janin; Tablet tambah darah: tablet zat besi yang dibagikan kepada ibu hamil untuk mencegah kurang darah; Puskesmas: Pusat Kesehatan Masyarakat di tingkat kecamatan yang memasok obat dan vaksin ke Polindes; Belan: perahu tradisional Kei yang didayung beramai-ramai.

Bab 5: Kelas Pertama terbit Rabu, 28 Oktober 2026, pukul 05.00 WIB.

Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca