Les pèlerins au-dessus des nuages

Bagian II: Nyanyian yang Hilang · Bab 5

Jalan ke ohoi sebelah lebih sempit daripada yang Raka ingat, atau barangkali kakinya yang sudah lupa caranya.

Ia mengejar cahaya pelita itu di sepanjang pasir, melewati para-para ikan yang malam-malam tampak seperti kerangka perahu, melewati Polindes yang pintunya masih terbuka dan bergoyang ditiup angin. Di ujung pantai, tempat pasir berhenti dan batu karang mulai, jalan setapak naik ke tebing. Cahaya itu sudah di atas sana, kecil, berayun ke kiri dan ke kanan, dan di depannya seorang anak lelaki bertelanjang kaki melompat-lompat dari batu ke batu seperti kambing.

Raka menyusul mereka di tanjakan pertama.

Sari berhenti di situ. Ia tidak menoleh ketika mendengar langkah di belakangnya, hanya mengangkat pelita sedikit lebih tinggi, dan dalam cahaya kuning itu Raka melihat tangan kirinya menekan dada. Di tempat yang sama. Selalu di tempat yang sama.

“Ose pulang,” kata Sari tanpa berbalik. Napasnya pendek-pendek, dipotong-potong seperti tali yang terlalu banyak disimpul.

“Beta bawa pelita.”

“Beta bisa bawa sendiri.”

“Beta tahu.”

Raka mengulurkan tangan. Untuk beberapa saat pelita itu tetap di tangan Sari, bergetar sedikit, dan anak lelaki di depan mereka berhenti melompat dan menoleh dengan tidak sabar. Lalu Sari menyerahkannya. Bukan dengan kalah. Dengan cara orang menyerahkan barang yang memang terlalu berat untuk tangan kanannya, dan ia tahu itu, dan ia tidak mau membicarakannya.

Mereka berjalan lagi. Raka di depan, mengangkat pelita setinggi bahu supaya cahayanya jatuh ke batu-batu di belakangnya. Ia bisa mendengar Sari di belakangnya. Langkah kaki. Napas. Langkah kaki. Sesekali napas itu berhenti, dan Raka ikut berhenti tanpa menoleh, pura-pura membetulkan sumbu, sampai napas itu datang lagi.

Di bawah tebing, laut hitam dan tenang. Musim timur. Ombak hanya mengusap batu, tidak memukulnya.

“Beta tinggalkan Oma sendiri,” kata Raka di tanjakan ketiga.

“Oma su tidur. Oma tidur sampai ayam pertama. Beta tahu.” Sari diam sebentar, mengambil napas. “Lagi pula Oma yang suruh ose pergi.”

Raka menoleh. Wajah Sari di luar lingkaran cahaya, hanya garis pipi dan kilat mata.

“Ose dengar?”

“Pintu Polindes terbuka, Raka. Rumah Oma paling ujung. Suara orang tua kalau malam jalan jauh di atas air.” Ia mendorong punggung Raka dengan dua jari. “Jalan. Mama Yakoba tidak tunggu katong bicara.”

Raka berjalan, dan tidak bertanya apa lagi yang Sari dengar malam itu dari pintu Polindes yang terbuka.


Rumah Mama Yakoba berdiri di tepi kampung kecil yang bahkan lebih sunyi daripada Ohoi Woma, separuhnya tersembunyi di balik rumpun pisang. Ada cahaya di semua jendelanya. Ada perempuan-perempuan di beranda, tiga atau empat, yang berdiri serentak ketika Sari muncul, dan seorang lelaki muda yang duduk di anak tangga dengan kepala di antara lutut.

Sari mengambil pelita dari tangan Raka tanpa bicara. Wajahnya sudah berubah, dan Raka mengenali perubahan itu dari siang tadi di Polindes. Napasnya masih pendek, tetapi punggungnya tegak, dan suaranya, ketika ia bicara kepada perempuan-perempuan itu, datar dan pasti seperti suara seorang jurumudi.

“Air. Rebus satu panci penuh, sampai mendidih betul. Kain bersih, yang paling bersih. Kalau ada sarung baru, sarung baru.” Ia menoleh ke lelaki di anak tangga. “Ose suaminya? Ose tunggu di sini. Jangan masuk-masuk.”

Lalu ia masuk, dan pintu ditutup.

Raka tinggal di halaman bersama lelaki itu. Namanya Yakob, katanya, dan ketika Raka tersenyum mendengar nama itu, Yakob ikut tersenyum dengan wajah orang yang sudah ratusan kali mendengar lelucon yang sama. Yakob dan Yakoba. Satu kampung tertawa waktu mereka menikah. Ia nelayan. Ini anak pertama. Ia sudah tiga kali ke sumur dan kembali tanpa ingat untuk apa.

Raka ikut menjaga api di belakang rumah. Itu satu-satunya pekerjaan yang diberikan kepadanya, dan ia mengerjakannya dengan sungguh-sungguh, menyorongkan sabut kelapa ke bawah panci besar yang menghitam, mendengarkan air mulai berdesis. Dari dalam rumah terdengar suara-suara. Erangan panjang, lalu sunyi. Suara Sari, rendah, berirama, seperti orang membaca doa yang sudah hafal. Erangan lagi.

Sesekali, di antara suara-suara itu, Raka mendengar batuk. Pendek. Dibekap. Lalu suara Sari lagi, tak berubah sedikit pun, seolah batuk itu milik orang lain di ruangan lain.

Malam berjalan. Bulan bergeser dari atas rumpun pisang ke atas laut. Yakob tertidur di anak tangga, terbangun, tertidur lagi. Seorang perempuan tua keluar membawa baskom, membuang airnya ke pasir, dan menatap Raka lama sekali sebelum bertanya apakah ia anak Marthen. Raka mengangguk. Perempuan itu mengangguk juga, seperti membenarkan sesuatu yang sudah ia duga, lalu masuk lagi tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Ayam pertama berkokok di kejauhan. Lalu ayam kedua.

Lalu bunyi itu datang. Tipis, marah, terputus-putus, lalu panjang dan penuh, mengisi rumah kecil itu dan tumpah keluar dari jendela-jendelanya. Tangis bayi. Yakob melompat berdiri seperti ditikam. Perempuan-perempuan di beranda bertepuk tangan dan berseru dalam bahasa Kei, dan salah satu dari mereka mulai menangis, dan yang lain menertawakannya sambil ikut menangis.

Raka berdiri di dekat tungku dengan sepotong sabut di tangan. Ia tidak tahu kenapa matanya panas. Ia tidak mengenal Mama Yakoba. Ia bahkan belum melihat wajahnya.

Pintu terbuka. Seorang perempuan menjulurkan kepala dan berteriak, “Laki-laki!” dan Yakob tertawa dengan cara yang membuat Raka berpaling ke laut.

Sari keluar hampir satu jam kemudian.

Langit di timur sudah keabu-abuan. Ia berjalan ke halaman dengan langkah yang sangat hati-hati, seperti orang berjalan di dek kapal yang berguncang, dan duduk di pagar batu rendah di tepi halaman. Lengan bajunya masih tergulung. Ada bercak di roknya yang dalam cahaya subuh tampak hitam.

Raka duduk di sebelahnya. Ia tidak bertanya. Ia hanya duduk.

“Normal,” kata Sari setelah lama. “Semua normal. Ari-ari keluar lengkap. Mama Yakoba kuat. Anaknya tiga kilo lebih, beta kira-kira, timbangannya ada di Polindes.” Ia tertawa kecil, tanpa suara. “Timbangan berkarat.”

“Ose capek.”

“Semua bidan capek jam lima pagi.”

Napasnya masih berbunyi. Bibirnya, dalam cahaya yang semakin terang, berwarna seperti kerang yang sudah lama dijemur. Ia tidak menekan dadanya. Kedua tangannya terlipat di pangkuan, diam, dan Raka mengerti bahwa diam itu pun pekerjaan.

Di bawah mereka, laut berubah dari hitam menjadi kelabu menjadi perak. Seorang perempuan keluar membawa dua gelas kopi dan sepiring kue bagea yang keras seperti batu. Sari meminum kopinya dengan dua tangan.

“Dia mau kasih nama Marthen,” kata Sari tiba-tiba.

Raka menoleh.

“Yakob. Tadi dia tanya beta, laki-laki yang bawa pelita itu siapa. Beta bilang anak Marthen Notanubun. Dia bilang bapanya dulu ikut belan bersama Marthen.” Sari memandangi gelasnya. “Beta bilang jangan. Beta bilang kasih nama yang belum dipakai laut.”

Ia mengatakannya dengan ringan. Terlalu ringan.


Oma sudah bangun ketika Raka pulang.

Ia duduk di dapur, di depan tungku yang sudah menyala, dan di atas meja ada dua gelas kopi. Satu di depannya. Satu di seberang, di depan bangku kosong, mengepul pelan.

“Marthen,” kata Oma tanpa menoleh. “Ose pulang pagi lagi.”

“Iya, Oma.”

“Ada ikan?”

Raka memandangi gelas kopi di depan bangku kosong itu. Lalu ia duduk di bangku itu, dan memegang gelas itu dengan dua tangan, seperti Sari tadi. Kopinya pahit dan terlalu manis sekaligus, dibuat dengan gula dari kaleng biskuit bergambar mawar yang mahal itu, terlalu banyak sesendok.

“Tidak ada ikan, Oma. Tapi ada anak laki-laki lahir. Di ohoi sebelah.”

Oma mengangguk perlahan, seolah itu memang jenis tangkapan yang pantas dibawa pulang dari laut.

“Bagus,” katanya. “Laut ambil, laut kasih.”


Enam hari itu habis lebih cepat dari yang Raka kira.

Sari datang hari Kamis sore memeriksa tensi Oma. Seratus lima puluh. Ia menuliskannya di sobekan kertas yang ia tempel dengan nasi di dinding dekat kalender gereja, dan di bawahnya, dengan huruf-huruf kecil yang rapi, ia menulis: Kamis. Sina datang. Tiga kilo lebih. Raka tidak bertanya apa maksud catatan terakhir itu. Ia tahu. Sari sedang memberitahunya bahwa ia baik-baik saja, dengan cara satu-satunya yang Sari kenal: dengan menunjukkan bahwa ia masih bekerja.

Malam-malam, setelah genset mati, Raka menulis rencana pelajaran di bawah pelita.

Ia menulisnya tiga kali. Yang pertama terlalu panjang dan penuh kata-kata yang ia pelajari di kampus, dan ketika ia membacanya ulang ia mendengar suara dosennya sendiri, bukan suaranya. Yang kedua terlalu pendek. Yang ketiga ia tulis setelah membuka-buka buku paket Bahasa Indonesia kelas dua yang dipinjamkan Pak Elias, buku dengan sampul biru yang sudah lepas jahitannya, dan menemukan di dalamnya cerita Malin Kundang, anak yang durhaka kepada ibunya dan dikutuk menjadi batu.

Di bawah cerita itu ada sepuluh pertanyaan. Siapa nama tokoh utama. Di mana cerita terjadi. Apa yang dikatakan ibunya. Semua jawabannya ada di dalam cerita, kata per kata, tinggal disalin.

Raka mencoret sepuluh pertanyaan itu di buku catatannya dan menulis satu saja.

Menurut kalian, apakah anak itu jahat?

Ia memandangi kalimat itu lama. Lalu ia meniup pelita dan berbaring di tikar pandan dan mendengarkan Oma, di balik dinding bambu, mulai menyanyikan lagu itu lagi. Bait pertama. Bait kedua. Dan seperti setiap malam sejak ia pulang, Oma berhenti di tempat yang sama, dan Raka menunggu, dan tidak ada yang menyelesaikannya.


Senin pagi, SMP Swasta Ohoi Woma berbaris di bawah pohon mangga tua.

Lima puluh tiga anak dalam seragam putih-biru. Putihnya tidak sama. Ada yang putih seperti garam baru, ada yang kekuningan seperti kebaya Oma di bagian leher, ada yang sudah diwariskan dari kakak ke adik ke sepupu sampai kancingnya tak satu pun serupa. Birunya juga tidak sama. Sebagian besar bersandal jepit. Beberapa bersepatu, dan anak-anak yang bersepatu berdiri sedikit lebih tegak.

Bendera merah putih naik pelan di tiang bambu. Pak Yan memimpin lagu kebangsaan dengan suara yang terlalu keras untuk tubuhnya yang kurus. Ibu Ros berdiri di samping, baru turun dari jonson pagi itu, rok batiknya masih bergaris basah di ujung.

Pak Elias berbicara selama lima belas menit tentang disiplin, tentang Ebtanas yang tinggal kurang dari setahun untuk kelas tiga, tentang seragam yang harus dicuci, tentang kuku yang harus dipotong. Lalu, di akhir, dengan tangan di belakang punggung, ia berkata:

“Mulai hari ini kita punya guru baru. Pak Raka Notanubun. Sarjana dari Unpatti. Anak Ohoi Woma.” Ia berhenti sebentar. “Kalian hormati dia macam kalian hormati beta.”

Lima puluh tiga pasang mata berpaling kepada Raka. Ia merasakan tatapan itu di kulitnya seperti matahari. Di barisan belakang, seorang anak lelaki bertubuh kecil berbisik kepada temannya, dan Raka menangkap dua kata saja: orang Ambon.


Kelas dua ada di ruang tengah.

Delapan belas anak duduk di bangku papan yang disumbangkan jemaat dan masjid, dua-dua, laki-laki di kiri dan perempuan di kanan, seperti di gereja. Mereka berdiri serentak ketika Raka masuk, dan ketua kelas, seorang anak perempuan berkepang dua, berseru “Beri salam!” dan delapan belas suara menjawab “Selamat pagi, Pak Guru!” dengan irama yang begitu rapi sehingga Raka hampir tersenyum.

Ia mengabsen. Nama-nama itu ia ucapkan pelan, satu per satu, dan setiap anak menjawab “Hadir, Pak,” dan ia mencoba mengingat wajah di balik setiap nama. Maria. Anak perempuan di bangku depan, tubuh kecil, mata cepat, kuku-kuku yang hitam di ujungnya oleh sisik ikan. Paulus. Hasan, yang duduk di samping Paulus dan menyikutnya diam-diam. Theresia, si ketua kelas.

“Yosef.”

Tidak ada jawaban.

“Yosef?”

“Melaut, Pak,” kata Paulus. Beberapa anak tertawa kecil. “Yosef selalu melaut kalau air bagus.”

Raka memandangi bangku kosong di barisan kedua dari belakang, dekat jendela yang menghadap laut. Di permukaan papannya ada ukiran kecil, dicungkil dengan ujung pisau atau paku: sebuah perahu, layarnya terkembang, dan di bawahnya garis-garis bergelombang. Ia mencatat sesuatu di buku absen. Lalu ia berdiri di depan papan tulis yang catnya sudah tipis, dan untuk pertama kali dalam sembilan hari, ia merasa tahu apa yang harus ia lakukan.

Ia membacakan cerita itu dengan suara keras. Anak durhaka. Ibu yang menunggu di pantai. Kapal yang datang membawa anak yang sudah kaya dan malu mengakui ibunya yang miskin. Kutukan. Batu.

Anak-anak mendengarkan dengan tenang. Di bangku depan, Maria menggerakkan bibir mengikuti kata-kata, dan Raka sadar bahwa anak itu sudah hafal ceritanya.

Ia menutup buku.

“Sekarang beta mau tanya,” katanya. “Menurut kalian, anak itu jahat?”

Sunyi.

Bukan sunyi orang yang sedang berpikir. Sunyi orang yang menunggu. Delapan belas wajah memandangnya dengan sabar, dengan sopan, menunggu ia menyelesaikan pertanyaannya, menunggu ia memberi tahu di halaman berapa jawabannya ada.

“Siapa saja boleh jawab.”

Maria mengangkat tangan. Raka mengangguk kepadanya dengan lega.

“Malin Kundang adalah cerita rakyat dari Sumatera Barat,” kata Maria dengan suara datar dan cepat, seperti orang membaca daftar belanja, “yang mengisahkan seorang anak durhaka yang dikutuk menjadi batu oleh ibunya. Pesan moral cerita ini adalah kita harus berbakti kepada orang tua.”

Raka berkedip. Kalimat itu tidak ada di buku paket. Ia tahu karena semalam ia membacanya tiga kali. Itu kalimat dari buku catatan orang lain, barangkali catatan kakaknya, barangkali dikte guru di kelas satu, yang sudah dihafal begitu lama sampai menjadi satu dengan suara Maria sendiri.

“Itu betul,” kata Raka hati-hati. “Tapi beta tanya Maria. Bukan buku. Maria sendiri, menurut Maria, anak itu jahat?”

Maria memandanginya. Untuk pertama kalinya mata yang cepat itu tampak bingung.

“Di buku ada, Pak,” katanya pelan. “Anak durhaka.”


Ia mencoba cara lain. Ia membagi kelas menjadi empat kelompok, dua bangku menghadap dua bangku, dan memberi setiap kelompok pertanyaan yang sama. Bicarakan. Apa yang membuat anak itu malu pada ibunya? Kalau kalian jadi dia, apa yang kalian lakukan?

Ruangan itu meledak.

Bukan oleh diskusi. Oleh kebingungan yang menemukan suaranya. Anak-anak lelaki memutar bangku dengan bunyi papan menggaruk lantai semen. Anak-anak perempuan menolak duduk berhadapan dengan anak lelaki dan bertahan di bangku mereka sambil berbisik-bisik. Hasan dan Paulus mulai berdebat tentang apakah kapal dalam cerita itu kapal motor atau kapal layar. Seseorang di belakang tertawa terlalu keras. Theresia berdiri dan berteriak “Diam!” dengan suara ketua kelas, dan tidak ada yang diam.

Kelompok di dekat jendela tidak bicara sama sekali. Mereka membuka buku paket dan mulai menyalin cerita itu, kata per kata, ke buku tulis, karena itu yang selalu mereka lakukan kalau tidak tahu harus berbuat apa.

Raka berdiri di tengah ruangan dan merasakan sesuatu yang dingin turun dari tengkuk ke punggungnya.

Di kampus, di Ambon, di kelas-kelas lantai dua yang kipas anginnya berputar malas, dosen-dosennya menyebut ini metode diskusi. Murid aktif. Guru sebagai fasilitator. Ia sudah membaca semua bukunya. Ia sudah menulis makalah tentangnya. Di SMP di Passo, dengan anak-anak kota yang menonton televisi setiap malam dan berdebat tentang segala hal, cara itu kadang berhasil.

Di sini, ia baru saja melepaskan delapan belas ekor ayam di ruangan yang pintunya terbuka.

Ia mengetuk papan tulis dengan penghapus kayu. Sekali. Dua kali. Debu kapur mengepul. Sebagian kecil anak menoleh. Sebagian besar tidak.

Lalu bunyi itu datang dari ambang pintu. Bunyi logam yang beradu dengan logam, berirama, tidak keras, tetapi seluruh kelas mendengarnya. Kunci-kunci di rantai ikat pinggang.

Ruangan itu diam seketika, seperti laut sebelum badai.

Pak Elias berdiri di pintu dengan kedua tangan di belakang punggung. Ia tidak memandang anak-anak. Ia memandang bangku-bangku yang terputar, buku-buku yang terbuka, papan tulis yang hanya berisi satu kalimat dalam tulisan tangan Raka: Menurut kalian, apakah anak itu jahat?

Ia membaca kalimat itu lama. Lalu ia masuk.

“Kembalikan bangku,” katanya. Tidak keras. Delapan belas anak bergerak serentak, dan dalam setengah menit ruangan itu kembali seperti semula, laki-laki di kiri, perempuan di kanan, semua menghadap ke depan, semua tangan terlipat di atas meja.

Pak Elias berdiri di samping Raka, di depan kelas. Ia lebih pendek dari Raka setengah kepala, tetapi pada saat itu Raka merasa sedang berdiri di samping tiang dermaga.

“Pak Guru,” kata Pak Elias, dan ia mengucapkan kata itu dengan sangat jelas, supaya semua anak mendengar. “Di sini bukan kampus.”

Raka merasakan wajahnya panas.

“Anak-anak ini,” lanjut Pak Elias, masih dengan suara yang sama tenangnya, “tahun depan kelas tiga. Sesudah itu Ebtanas. Soal Ebtanas tidak tanya menurut kalian. Soal Ebtanas tanya pesan moral cerita ini adalah. Kalau mereka tidak bisa jawab, mereka tidak lulus. Kalau mereka tidak lulus, mereka pulang melaut, dan sekolah ini tidak ada gunanya, dan jemaat yang sumbang papan untuk bangku-bangku ini tanya kenapa.” Ia berhenti. “Maria, apa pesan moral cerita ini?”

“Kita harus berbakti kepada orang tua, Pak.”

“Betul.” Pak Elias mengangguk sekali, lalu menoleh kepada Raka. “Lanjutkan, Pak Guru.”

Ia keluar. Bunyi kunci-kunci di rantainya menjauh di selasar, pelan, berirama, sampai hilang di ruang kelas tiga.

Delapan belas anak memandang Raka. Mereka tidak menertawakannya. Itu yang paling berat. Di wajah-wajah itu tidak ada ejekan. Yang ada hanya semacam iba yang sopan, iba orang yang sudah lama tinggal di sebuah rumah kepada tamu yang baru saja membuka pintu yang salah.

Raka mengambil kapur. Ia menghapus kalimat itu dari papan tulis. Lalu, dengan tangan yang ia paksa supaya tidak gemetar, ia menulis: Pesan moral cerita.

Ia mengajar sisa jam itu dengan cara yang ia benci. Pertanyaan. Jawaban. Halaman sekian, baris sekian. Anak-anak menyalin dengan tenang, dan ruangan itu terasa sangat aman, dan sangat sempit.


Lonceng pulang adalah sepotong besi bekas velg mobil yang digantung di dahan mangga dan dipukul Pak Yan dengan batang besi.

Anak-anak berhamburan keluar. Raka tinggal di kelas, menghapus papan tulis yang sudah bersih, merapikan bangku yang sudah rapi. Ia mendengar langkah-langkah di selasar menjauh dan suara-suara anak menuruni tanah menanjak ke arah gereja dan pantai. Ia menunggu sampai semua bunyi itu habis.

Ketika ia berbalik, Maria masih berdiri di ambang pintu.

Ia memegang tali tas kainnya dengan dua tangan. Kuku-kukunya yang berisisik ikan tampak lebih hitam di bawah sinar dari jendela. Ia tidak masuk. Ia juga tidak pergi.

“Ada apa, Maria?”

Anak itu menunduk, memandangi sandal jepitnya. Lalu, sangat pelan, seperti orang menyerahkan sesuatu yang ia curi:

“Pak. Mamanya juga salah, to?”

Raka tidak bergerak.

“Mamanya kutuk anaknya sendiri jadi batu.” Maria masih memandangi sandalnya. “Beta punya mama marah sekali kalau beta pulang lambat dari pasar. Tapi dia tidak pernah kutuk beta jadi batu. Mama yang betul-betul sayang anak tidak kutuk anaknya jadi batu. Biar anaknya jahat sekali.”

Ia mengangkat wajah. Di matanya ada ketakutan kecil, ketakutan anak yang baru saja menjawab pertanyaan yang tidak ada di buku.

“Itu salah, Pak?”

Raka berlutut, supaya matanya sejajar dengan mata anak itu. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin mengatakan bahwa itu pertanyaan terbaik yang pernah ia dengar di ruangan ini, bahwa ia sudah menunggunya sejak pukul tujuh pagi, bahwa barangkali seluruh perjalanannya dari Ambon, tiga hari di Laut Banda dengan perut terbalik, hanya untuk mendengar satu kalimat itu.

Ia tidak mengatakan semuanya.

“Tidak salah,” katanya. “Itu pertanyaan bagus. Tulis di buku. Jangan hapus.”

Maria memandanginya sebentar lagi, seperti memastikan ia tidak sedang bercanda. Lalu ia berbalik dan berlari menuruni tanah menanjak itu, tasnya berayun-ayun di punggung, dan di bawah pohon mangga ia berhenti dan melambai, sekali, dengan cara Sari melambai dari beranda Polindes.

Raka berdiri sendiri di ruang kelas yang kosong. Matahari masuk dari jendela dan jatuh di bangku Yosef, di ukiran perahu kecil dengan garis-garis gelombang di bawahnya.

Ia mengerti sesuatu pada siang itu, meski tidak dengan kata-kata. Ia tidak bisa mendobrak pintu ini. Pak Elias benar tentang satu hal, meski bukan tentang segalanya: ini bukan kampus. Pintunya sudah lama terkunci, dan kuncinya bukan di rantai Pak Elias saja. Kuncinya ada di Ebtanas, di bangku sumbangan jemaat, di laut yang menunggu anak-anak yang tidak lulus, di ibu-ibu yang marah kalau anaknya pulang lambat dari pasar. Ia tidak bisa mendobraknya.

Tetapi seseorang baru saja mengetuk dari dalam.


“Bagaimana, Pak Guru?”

Oma bertanya begitu ketika Raka naik ke beranda sore itu. Ia duduk di kursi rotan yang jebol satu sisinya, mengupas bawang merah ke dalam piring seng. Hari ini Raka adalah Pak Guru. Ia mengenali kemeja dan buku-buku di tangannya.

“Susah, Oma.”

“Anak-anak nakal?”

“Anak-anak baik. Gurunya yang nakal.”

Oma tertawa. Tawa itu pendek dan kering, dan sungguh-sungguh, dan Raka tidak ingat kapan terakhir kali ia mendengarnya.

“Guru Elias dulu juga bilang begitu,” kata Oma, mengupas bawang dengan kuku jempolnya yang tebal. “Tentang Marthen. Dia datang ke sini, berdiri di situ, di tangga itu. Dia bilang, Mama Hendrika, anak Mama ini tidak mau duduk diam. Tiap hari tanya kenapa, kenapa, kenapa. Kenapa air pasang. Kenapa ikan lari kalau bulan terang.” Ia meletakkan bawang yang sudah dikupas ke piring, mengambil yang lain. “Beta bilang, Guru, kalau Guru tidak tahu jawabannya, bilang saja tidak tahu. Jangan suruh anak beta diam.”

Raka duduk di anak tangga paling atas. Pelan-pelan, supaya tidak memecahkan apa pun.

“Lalu Guru Elias bilang apa, Oma?”

Oma berhenti mengupas. Matanya memandang ke laut, ke barat daya, ke air yang biru gelap di luar karang. Tangannya dengan bawang setengah terkupas tergantung di udara.

“Siapa?” katanya.

Raka menunggu. Tetapi Oma sudah kembali ke piringnya, dan bawang di tangannya, dan ketika ia bicara lagi, ia bicara kepada bawang itu, dalam bahasa Kei, dengan suara yang terlalu pelan untuk ditangkap.


Malam itu genset mati pukul sepuluh, dan Raka tidak bisa tidur.

Ia duduk di beranda dengan sarung di bahu, memandangi laut yang memantulkan bulan. Musim timur. Laut tenang. Air bagus, kata Paulus. Yosef selalu melaut kalau air bagus. Di kejauhan, di sepanjang pantai, titik-titik cahaya pelita bergerak turun ke perahu-perahu. Para nelayan berangkat memasang jaring.

Ia tidak tahu sudah berapa lama ia duduk di situ ketika mendengar langkah kaki di pasir.

Langkah itu datang dari arah pantai, pelan, ragu-ragu, berhenti di pagar bambu yang miring, lalu mulai lagi. Seseorang bertubuh kecil membuka pintu pagar dengan hati-hati, seperti orang yang tahu pagar itu berbunyi kalau dibuka terlalu cepat, dan berjalan melintasi halaman, melewati pohon jambu air, berhenti di bawah anak tangga.

Seorang anak lelaki. Rambutnya basah. Kausnya basah, menempel di tubuhnya yang kurus dan panjang. Ia tidak memakai sandal. Di tangan kanannya, digantung pada seutas tali yang ditusukkan ke insang, seekor ikan kakap merah sebesar lengan, masih berkilat, masih menetes.

Ia mengangkat ikan itu sedikit, seperti mengangkat sebuah persembahan, atau sebuah surat yang tidak bisa ia tulis.

“Selamat malam, Pak Guru,” katanya. Suaranya serak, suara anak yang sedang berubah menjadi suara lelaki. “Beta Yosef.”

Raka berdiri. Sarung jatuh dari bahunya.

Yosef menatapnya dari bawah anak tangga. Wajahnya, dalam cahaya bulan, tampak lebih tua dari umurnya, dan matanya merah, entah karena air laut atau karena hal lain.

“Bapa suruh beta antar ikan ini,” katanya. “Untuk Pak Guru. Supaya Pak Guru tidak usah cari beta lagi.” Ia menelan ludah. “Bapa bilang, mulai besok beta tidak sekolah lagi.”


Catatan kecil. Ari-ari: plasenta, yang keluar sesudah bayi lahir; Bagea: kue kering khas Maluku dari sagu, keras dan harus digigit pelan-pelan; Ebtanas: Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, ujian akhir yang menentukan kelulusan murid SD, SMP, dan SMA pada masa itu.

Bab 6: Yosef dan Laut terbit Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 05.00 WIB.

Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan