Edisi #3 | Periode 25-31 Oktober 2026
Pemantulan IHSG pekan lalu tidak bertahan. Indeks turun 7,03% dalam sepekan ke 5.057,05 dan menutup Oktober dengan penurunan 16,70%. Tekanan kini merembet ke pasar obligasi: lelang Surat Utang Negara (SUN) hanya menyerap Rp20,7 triliun dari target Rp30 triliun, dan yield SBN 10 tahun naik ke kisaran 7,6%. Di luar negeri, The Fed menahan bunga dengan dua anggota meminta kenaikan, dan Brent bertahan di atas US$110 per barel.
Ringkasan Sepekan
- IHSG ditutup 5.057,05 pada Jumat (30/10), turun 7,03% dari 5.439,26. Kapitalisasi pasar menyusut 7,52% ke Rp8.862 triliun, dan rata-rata nilai transaksi harian turun 29,49% ke Rp14,34 triliun.
- Investor asing menjual bersih sekitar Rp3,06 triliun, kurang dari separuh angka pekan sebelumnya. Akumulasi jual bersih sepanjang 2026 mencapai Rp97,92 triliun.
- Lelang SUN Selasa (27/10) sepi peminat: penawaran masuk anjlok 52,1% ke Rp31,1 triliun. Yield SBN 10 tahun sempat 7,71% pada Kamis, tertinggi sejak Mei 2020 menurut Trading Economics.
- Rupiah spot ditutup Rp18.147 per dolar AS, melemah 0,37% sepekan dan 1,41% sepanjang Oktober.
- The Fed menahan suku bunga di 3,75-4,00% dengan suara 10-2. Pasar memberi peluang sekitar 75% untuk kenaikan pada Desember.
- Proyeksi defisit APBN 2026 dinaikkan menjadi Rp734 triliun atau 2,85% PDB, dari target awal Rp689 triliun, karena belanja bencana serta subsidi dan kompensasi energi.
Angka Kunci Pekan Ini
| Indikator | Penutupan | Perubahan Sepekan | Catatan |
|---|---|---|---|
| IHSG | 5.057,05 | -7,03% | Per Jumat 30/10; Oktober -16,70%; sejak awal tahun -41,52%; asing jual bersih ±Rp3,06 triliun |
| Rupiah spot (Rp/US$) | 18.147 | Melemah 0,37% | JISDOR 18.138 (melemah 0,38%); Oktober melemah 1,41% |
| Yield SBN 10 tahun | ±7,64% | Naik ±19 bps | Trading Economics per 30/10; sempat 7,71% pada 29/10. Pekan lalu ±7,45% |
| BI-Rate | 5,75% | Tetap | Tidak ada RDG pekan ini; deposit facility 5,00% |
| Brent (US$/barel) | 117,64 (Des) / 113,43 (Jan) | +0,79% (kontrak Desember) | Kontrak Desember berakhir 30/10; Brent naik 13,6% sepanjang Oktober |
| WTI (US$/barel) | 104,12 | +0,82% | Naik 15,2% sepanjang Oktober |
| Emas spot (US$/troy ons) | ±3.876 | Turun ±3% | Turun 3,62% pada Jumat; terendah sekitar satu tahun |
| CPO (RM/ton) | ±4.681 | Turun ±3% | Seri CFD Trading Economics, berbeda dari kontrak acuan Bursa Malaysia yang kami pakai pekan lalu |
| Batu bara Newcastle (US$/ton) | 152,45 | Naik ±1,2% | Seri CFD Trading Economics; tertinggi dalam 24 bulan |
| US Treasury 10 tahun | ±4,93% | Turun ±7 bps | Pekan lalu 4,999% |
| Indeks dolar (DXY) | 101,96 | Relatif datar | Pekan lalu 101,79 |
Panggung Global
The Fed menahan, tetapi kubu kenaikan bersuara
Rapat FOMC 27-28 Oktober mempertahankan suku bunga acuan di 3,75-4,00%. Keputusan diambil dengan suara 10-2: Gubernur Lisa Cook dan Presiden Fed Cleveland Beth Hammack memilih kenaikan 25 basis poin. Pernyataan resmi kini menyebut ekonomi tumbuh dengan laju kuat, inflasi masih tinggi, dan ketidakpastian dipengaruhi perkembangan geopolitik. Ketua The Fed Kevin Warsh menyebut kondisi keuangan sudah mengetat sejak kenaikan bunga September, dan investor makin selektif menempatkan modal. Ia tidak memberi arah yang tegas soal Desember. Ringkasan Nasdaq mencatat pasar memberi peluang sekitar 75% untuk kenaikan pada rapat Desember, sedikit di atas 71% sepekan sebelumnya.
Data yang keluar sesudahnya memperkuat alasan kubu kenaikan. Biro Analisis Ekonomi AS (BEA) melaporkan PDB kuartal III tumbuh 3,4% secara tahunan disetahunkan, naik dari 2,2% pada kuartal II. Inflasi PCE (personal consumption expenditures, ukuran inflasi yang dipakai The Fed) naik ke 3,6% secara tahunan dari 3,4%, terutama karena energi. Indeks biaya tenaga kerja kuartal III naik 0,8%, sesuai perkiraan.
Pasar keuangan AS justru bergerak ke arah aman. Yield US Treasury 10 tahun turun sekitar 7 basis poin dalam sepekan ke kisaran 4,93%, dan indeks dolar datar di 101,96. Saham teknologi tertekan: Nasdaq turun sekitar 2% sepekan ke 25.437, S&P 500 turun 0,58% ke 7.580,07, dan Dow Jones turun 0,85% ke 51.770,31. Pada Jumat saja Nasdaq turun 2,86%.
Eropa dan Jepang ikut menahan
Bank Sentral Eropa (ECB) mempertahankan suku bunga deposit facility di 2,50% pada Kamis (29/10), padahal inflasi kawasan euro September naik ke 3,8% dari 3,2%. ECB tidak mengikat diri pada jalur bunga tertentu, dan ekonom Alior Bank yang dikutip Poland Insight menilai kenaikan pada Desember masih terbuka. Pada rapat yang sama Presiden ECB Christine Lagarde mengumumkan akan mundur pada Februari 2027, lebih awal dari akhir masa jabatannya. Bank of Japan juga menahan bunga di 1,25% pada Jumat (30/10).
Minyak: Oktober ditutup naik 13,6%
Brent kontrak Desember, yang berakhir pada Jumat, ditutup US$117,64 per barel, naik 0,79% dari pekan lalu. Kontrak Januari yang kini menjadi acuan ditutup US$113,43. Selisih sekitar US$4 di antara keduanya berasal dari pergantian kontrak, sehingga tidak bisa dibaca sebagai penurunan harga. WTI ditutup US$104,12, naik 0,82% sepekan. Sepanjang Oktober Brent naik 13,6% dan WTI 15,2%.
Pemicu utamanya masih Teluk. Lembaga keamanan maritim Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah tanker di Selat Hormuz dihantam bahan peledak yang ditempelkan dari perahu kecil. Laporan media menyebutnya serangan ranjau tempel pertama yang berhasil di jalur itu sejak perang AS-Israel dengan Iran pecah pada Februari. Kelompok Houthi juga mengklaim menyerang kilang Ras Tanura dan Rabigh serta fasilitas Aramco di Abqaiq. Jalur diplomasi belum menghasilkan apa-apa: mediator Qatar kembali ke Teheran pada 30 Oktober, sementara Iran belum menjawab surat Wakil Presiden AS JD Vance. Oil Monitor mengutip estimasi Goldman Sachs bahwa risiko gangguan pasokan menambah sekitar US$27 per barel pada harga Brent.
Tujuh anggota inti OPEC+ dijadwalkan rapat daring pada Minggu (1/11). Sumber Reuters yang dikutip FinanceFeeds memperkirakan kuota produksi Desember tidak diubah. Emas bergerak berlawanan dengan minyak: harganya turun 3,62% pada Jumat ke sekitar US$3.876 per troy ons, terendah dalam kurang lebih satu tahun, dan turun 7,23% sepanjang Oktober. Ekspektasi bunga AS yang tetap tinggi membuat logam yang tidak memberi imbal hasil ini kurang menarik.
Dalam Negeri
Bursa: pemantulan habis dalam lima hari
IHSG turun pada Senin (26/10) dan merosot 1,99% ke 5.266,13 pada Selasa. Penurunan berlanjut hingga Jumat, saat indeks ditutup 5.057,05, turun 0,80% hari itu. Analis Phintraco Sekuritas mencatat indeks sempat turun ke 4.979 sebelum kembali di atas 5.000. Dengan penutupan ini, IHSG kehilangan 16,70% sepanjang Oktober dari 6.071,14 pada akhir September, dan 41,52% sejak awal tahun.
Pola arus asing sepanjang pekan, menurut data BEI yang dihimpun Akurat: jual bersih Rp1,85 triliun pada Senin, Rp651 miliar pada Selasa, beli bersih Rp665 miliar pada Rabu, lalu jual bersih Rp1,07 triliun pada Kamis dan Rp139 miliar pada Jumat. Totalnya sekitar Rp3,06 triliun. Angkanya lebih kecil dari Rp6,67 triliun pekan sebelumnya, tetapi kali ini pembeli domestik tidak lagi cukup kuat menahan harga. Aktivitas juga menyusut: rata-rata transaksi harian turun ke Rp14,34 triliun dari Rp20,34 triliun.
Pada Jumat, sektor transportasi, bahan baku, dan infrastruktur memimpin penurunan, sementara sektor kesehatan dan keuangan naik tipis. Saham bank dan telekomunikasi besar yang memimpin pemantulan pekan lalu kini menjadi sasaran jual asing: BBRI dan TLKM tercatat sebagai saham dengan jual bersih asing terbesar hari itu. Di jajaran LQ45, PGAS dan PTBA naik, sedangkan BRPT, CUAN, dan ISAT turun hampir 7%.
Latar belakangnya masih sama. MSCI membuka konsultasi pada 15 Oktober tentang usulan menurunkan status pasar Indonesia menjadi standalone market. Masukan diterima hingga 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Selama konsultasi, MSCI membekukan sebagian perubahan indeks untuk saham Indonesia. Hasil tinjauan indeks MSCI November juga ditunggu pasar; riset Indo Premier Sekuritas pada pertengahan Oktober memperkirakan status quo, dengan BRPT berisiko keluar dari indeks MSCI Standard. Mulai Senin (2/11), BEI dijadwalkan mengeluarkan saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi (HSC) dari perhitungan IHSG.
Obligasi negara: lelang sepi, yield melonjak
Peristiwa domestik yang paling penting pekan ini terjadi di pasar SBN. Pada lelang SUN Selasa (27/10), penawaran yang masuk hanya Rp31,1 triliun, anjlok 52,1% dari lelang sebelumnya. Rasio penawaran terhadap yang dimenangkan (bid-to-cover) turun ke 1,04 kali dari 2,2 kali. Pemerintah hanya memenangkan Rp20,7 triliun, jauh di bawah target Rp30 triliun, dan yield yang dimenangkan naik sekitar 20-30 basis poin.
Yield SBN 10 tahun kemudian naik bertahap. Kontan mencatat 7,53% sehari setelah lelang, Bloomberg Technoz mencatat 7,62% per 28 Oktober, dan Trading Economics mencatat 7,71% pada 29 Oktober, tertinggi sejak Mei 2020, sebelum turun ke sekitar 7,64% pada Jumat. Dibanding sekitar 7,45% pekan lalu, kenaikannya hampir 20 basis poin. Yang membuatnya mencolok, yield US Treasury pada saat yang sama justru turun. Selisih yield SBN terhadap obligasi AS melebar ke sekitar 260 basis poin per 28 Oktober menurut Bloomberg Technoz, dari sekitar 245 basis poin pekan lalu.
Rupiah dan sikap BI
Rupiah spot ditutup Rp18.147 per dolar AS pada Jumat, melemah 0,37% sepekan. JISDOR berada di Rp18.138. Pelemahan sepanjang Oktober mencapai 1,41%. Kontan mencatat rupiah tetap melemah pada Jumat meski indeks dolar turun dan sebagian besar mata uang Asia menguat, tanda bahwa tekanannya lebih banyak berasal dari faktor domestik. Pekan ini tidak ada Rapat Dewan Gubernur BI. Destry Damayanti dari BI menyatakan keputusan suku bunga berikutnya akan bergantung pada data, dan BI menyiapkan insentif biaya lindung nilai, kebijakan makroprudensial, serta penerbitan SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) untuk meredam tekanan. BI juga menegaskan intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder.
Fiskal: defisit diperlebar
Dalam Rapimnas Kadin pada Jumat (30/10), Suahasil Nazara dari Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa defisit APBN 2026 diproyeksikan Rp734 triliun atau 2,85% PDB, naik sekitar Rp45 triliun dari target awal Rp689 triliun (2,68% PDB). Proyeksi belanja naik Rp99 triliun ke Rp3.942 triliun, sedangkan pendapatan naik Rp54 triliun ke Rp3.208 triliun. Tambahan belanja antara lain untuk penanganan bencana di Sumatra bagian utara dan kebakaran hutan dan lahan sekitar Rp60 triliun, serta subsidi dan kompensasi energi, terutama BBM. Defisit masih di bawah batas 3% PDB. Belum ada pengumuman perubahan harga BBM bersubsidi pekan ini.
Inflasi: perkiraan ekonom terbelah
BPS akan merilis inflasi Oktober pada awal November. Inflasi September tercatat 3,28% secara tahunan. Harga cabai menjadi pendorong utama: Destry menyebut cabai merah keriting rata-rata Rp80.000 per kilogram, lebih dari dua kali harga daging ayam ras. Penahan inflasi datang dari harga emas perhiasan yang turun dan harga ayam yang melandai. Rincian perkiraan ekonom dibahas di bagian berikut.
Transmisi ke Indonesia
Pekan lalu kami mencatat tiga jalur tekanan: energi, suku bunga global, dan kepercayaan investor terkait MSCI. Pekan ini bobotnya bergeser lagi.
- Jalur kepercayaan kini paling berat, dan merambat ke obligasi. Tekanan MSCI awalnya mengenai saham. Pekan ini dampaknya terlihat di lelang SUN yang sepi dan yield yang naik saat yield AS turun. Premi risiko khusus Indonesia naik, sehingga biaya utang pemerintah ikut naik.
- Jalur energi menekan dari sisi fiskal. Brent rata-rata Oktober jauh di atas asumsi kebijakan BBM pemerintah sebesar US$100 per barel. Hasilnya terlihat di proyeksi defisit yang dinaikkan. Defisit yang lebih besar berarti kebutuhan penerbitan SBN lebih besar, justru ketika permintaan investor melemah.
- Jalur suku bunga global sedikit mereda, tetapi tidak menolong. Yield US Treasury turun dan dolar datar. Dalam keadaan normal, ini memberi ruang bagi rupiah dan SBN. Namun dua anggota FOMC sudah meminta kenaikan dan PCE naik ke 3,6%, sehingga kenaikan bunga AS pada Desember tetap menjadi skenario yang dihitung pasar.
Dalam pembacaan kami, pekan ini memperlihatkan rantai yang saling menguatkan: minyak mahal menaikkan subsidi, subsidi memperlebar defisit, defisit menambah pasokan SBN, sementara keraguan investor terhadap tata kelola pasar modal menurunkan permintaannya. Ujungnya adalah biaya utang yang lebih tinggi. Pemerintah tampak memilih memangkas jumlah yang diserap di lelang daripada menerima yield setinggi yang diminta pasar. Langkah ini masuk akal untuk satu atau dua lelang, tetapi kekurangan pembiayaan harus ditutup dari sumber lain, misalnya sisa anggaran lebih (SAL) yang pada April disebut sekitar Rp420 triliun.
Kata Para Ekonom
Kepala ekonom Bank Permata Josua Pardede mengingatkan bahwa yield SBN yang lebih tinggi tidak otomatis membuat obligasi lebih menarik, karena kenaikan itu juga mencerminkan premi risiko yang lebih besar. Menurutnya, pelemahan rupiah sekitar 3% dalam setahun sudah cukup untuk menghapus keunggulan imbal hasil SBN bagi investor asing.
Ridwan Adi Gunawan, ekonom dan analis pendapatan tetap MNC Sekuritas, membaca hasil lelang sebagai pilihan pemerintah untuk mengutamakan pengendalian biaya utang dibanding mengejar target. Ia menilai rupiah “tetap rentan terhadap depresiasi lebih lanjut” karena tekanan eksternal dan ketidakpastian MSCI, dan memperkirakan arah berikutnya akan ditentukan oleh panduan The Fed.
Soal arus modal, pendiri Traderindo Wahyu Tribowo Laksono memperkirakan jual bersih asing bisa mencapai Rp15-25 triliun pada akhir bulan, dan akumulasi sepanjang 2026 bisa mendekati Rp110-120 triliun, tergantung status MSCI dan arah The Fed. Realisasi pekan ini lebih rendah dari perkiraan itu. Analis Doo Financial Futures Lukman Leong juga memperkirakan penjualan asing berlanjut hingga akhir tahun selama ketidakpastian MSCI belum selesai. Ia menilai pemulihan butuh transparansi struktur kepemilikan, keterbukaan data free float (porsi saham yang benar-benar beredar di publik), dan tata kelola pasar modal yang lebih baik.
Untuk inflasi Oktober, perkiraan ekonom tidak seragam. Kepala ekonom BCA David Sumual memperkirakan 3,14% secara tahunan, melambat karena inflasi inti yang stagnan. Kepala riset makroekonomi Bank Permata Faisal Rachman memperkirakan 3,19%. Sebaliknya, kepala ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan inflasi naik ke 3,46% karena lonjakan harga cabai di tengah kemarau panjang. Perbedaan ini penting: angka di atas 3,4% akan menambah alasan bagi BI untuk menaikkan bunga.
Dari sisi pelaku pasar, Direktur Insight Investments Management Camar Remoa mengimbau investor tidak bereaksi berlebihan terhadap isu MSCI, karena arah saham dan obligasi juga ditentukan suku bunga global, rupiah, dan kondisi fiskal. Kepala riset MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menilai IHSG masih rentan turun lanjutan setelah arus keluar asing, dan menandai kebijakan HSC, inflasi, PDB kuartal III, serta pemilu sela AS sebagai agenda pekan depan.
Peluang dan Ancaman
Tabel berikut adalah analisis penulis atas arah tekanan per sektor, bukan rekomendasi atas saham atau instrumen tertentu.
| Sektor/Pelaku | Peluang/Ancaman | Alasan | Indikator yang Dipantau |
|---|---|---|---|
| Batu bara | Peluang | Harga Newcastle di level tertinggi 24 bulan saat minyak mahal mendorong permintaan energi alternatif; rupiah lemah menambah nilai pendapatan | Harga Newcastle, HBA, permintaan India dan Tiongkok |
| Gas bumi dan energi domestik | Peluang terbatas | Harga energi global tinggi memperkuat posisi pemasok energi dalam negeri | Harga gas regulasi, kebijakan DMO |
| Bank besar | Ancaman jangka pendek | Menjadi sasaran utama jual asing; yield SBN naik berarti biaya dana naik dan nilai portofolio obligasi bank turun | Arus asing harian, yield SBN, pertumbuhan dana pihak ketiga |
| Pemerintah dan BUMN penerbit obligasi | Ancaman | Biaya pinjaman naik; lelang tidak memenuhi target | Hasil lelang SUN dan SBSN, bid-to-cover, spread terhadap UST |
| Emiten dengan kepemilikan terkonsentrasi | Ancaman | Pengecualian dari perhitungan IHSG mulai 2 November dan risiko keluar dari indeks MSCI | Daftar HSC BEI, hasil tinjauan MSCI November |
| Penerbangan, logistik, transportasi | Ancaman | Avtur dan solar mengikuti harga minyak dan kurs; sektor transportasi memimpin penurunan saham Jumat | Brent, harga BBM nonsubsidi bulanan, tarif angkutan |
| Industri berbahan baku impor (farmasi, alat kesehatan, pakan, plastik) | Ancaman | Rupiah di atas Rp18.100 menaikkan biaya, sementara harga jual sulit dinaikkan | Kurs, harga bahan baku, margin |
| UMKM kuliner dan pedagang pangan | Ancaman | Cabai mahal menekan margin warung dan rumah makan yang sulit menaikkan harga | Harga cabai dan beras di Panel Harga Pangan, inflasi pangan BPS |
| Rumah tangga peminjam | Ancaman ringan | Yield SBN naik dan peluang kenaikan BI-Rate membesar, sehingga bunga kredit baru bisa naik | Bunga KPR dan kredit konsumsi, RDG BI November |
| Penabung dan pembeli SBN ritel | Peluang terbatas | Kupon instrumen baru cenderung lebih tinggi bila yield bertahan naik | Kupon SBN ritel berikutnya, bunga deposito |
Dalam pembacaan kami, perubahan terbesar pekan ini adalah ancaman yang meluas dari pasar saham ke pasar obligasi dan, lewat itu, ke biaya dana perbankan. Rumah sakit swasta dan distributor obat termasuk yang perlu waspada: komponen biaya mereka banyak mengikuti dolar, sedangkan tarif layanan sering terikat kontrak dengan BPJS Kesehatan atau asuransi.
Membaca Arah: Tiga Skenario
Skenario dasar: tekanan bertahan, tanpa kepanikan baru. OPEC+ tidak mengubah kuota dan Brent bergerak di US$108-120. Inflasi Oktober berada di kisaran 3,1-3,3%. Penerapan aturan HSC berjalan tanpa gejolak besar, tetapi asing masih menjual dalam jumlah moderat. IHSG bergerak sempit di sekitar 4.900-5.300, rupiah di Rp18.050-18.300, dan yield SBN 10 tahun di 7,5-7,8%.
Skenario optimistis: jeda di Teluk dan sinyal reformasi yang meyakinkan. Mediasi Qatar membuahkan kemajuan dan Brent turun ke bawah US$105. Tinjauan MSCI November mempertahankan status quo, dan OJK serta BEI menunjukkan langkah keterbukaan pemilik manfaat yang bisa diverifikasi. Data tenaga kerja AS melunak sehingga peluang kenaikan Fed Desember menurun. Asing kembali ke SBN, yield turun ke bawah 7,4%, dan rupiah kembali mendekati Rp18.000.
Skenario pesimistis: tekanan obligasi berlanjut. Serangan baru di Hormuz atau terhadap fasilitas Saudi mendorong Brent ke atas US$125. Inflasi Oktober melampaui 3,4%, data tenaga kerja AS kuat, dan lelang SUN berikutnya kembali sepi. Yield SBN 10 tahun menembus 8%, rupiah melemah melewati rekor penutupan Rp18.175, dan BI terpaksa menaikkan BI-Rate pada RDG November. Pemerintah makin bergantung pada SAL dan pembiayaan nonpasar.
Yang Perlu Dipantau Pekan Depan
- Minggu, 1 November: rapat daring tujuh anggota inti OPEC+ tentang target produksi Desember.
- Senin, 2 November: mulai berlakunya pengecualian saham HSC dari perhitungan IHSG; PMI manufaktur Oktober Indonesia (S&P Global) dan AS (ISM) lazimnya terbit pada hari kerja pertama bulan berjalan. BPS dijadwalkan merilis inflasi Oktober dan neraca perdagangan September pada awal pekan.
- Selasa, 3 November: pemilu sela AS; data lowongan kerja AS (JOLTS) September.
- Rabu, 4 November: PMI jasa ISM AS dan laporan stok minyak EIA.
- Awal November (tanggal resmi menunggu BPS): PDB kuartal III Indonesia. Pada tahun-tahun sebelumnya angka ini terbit sekitar 5 November.
- Jumat, 6 November: laporan tenaga kerja AS (nonfarm payrolls) Oktober.
- Sepanjang pekan: pengumuman hasil tinjauan indeks MSCI November (tanggal pasti belum kami temukan), jadwal lelang SUN berikutnya, arus asing harian, dan perkembangan mediasi AS-Iran.
Catatan Pekan Lalu, Ditinjau Ulang
Edisi #2 menandai sejumlah agenda. Berikut yang terjadi.
- FOMC 27-28 Oktober: bunga ditahan sesuai skenario dasar kami, tetapi dua suara meminta kenaikan, tanda The Fed lebih terbelah dari yang kami duga.
- PDB kuartal III dan PCE AS: PDB tumbuh 3,4% dan PCE naik ke 3,6%, keduanya mendukung pandangan bunga tinggi lebih lama.
- ECB dan Bank of Japan: keduanya menahan bunga. Kejutan datang dari rencana mundurnya Lagarde. Keputusan Bank of Canada dan RBNZ belum kami verifikasi dari sumber yang bisa dibuka.
- OPEC+ dan inflasi Oktober: keduanya jatuh di luar periode ini dan kami bawa ke daftar pekan depan.
- Selat Hormuz: memburuk dengan serangan ranjau tempel pertama yang berhasil. Brent tetap di rentang US$110-120 yang kami asumsikan dalam skenario dasar.
- Pasar domestik: skenario dasar kami (IHSG berkonsolidasi, rupiah Rp18.000-18.200) hanya tepat untuk rupiah. IHSG turun jauh lebih dalam, dan yield SBN mendekati 7,6% atau lebih seperti dalam skenario pesimistis, meski BI tidak menaikkan bunga karena memang tidak ada RDG pekan ini.
Penafian: Tulisan ini bersifat edukatif dan disusun dari data publik yang tersedia hingga Sabtu, 31 Oktober 2026. Isinya bukan nasihat investasi, keuangan, atau perpajakan, dan tidak dimaksudkan sebagai rekomendasi membeli atau menjual efek, valuta asing, maupun aset lain. Setiap keputusan keuangan beserta risikonya sepenuhnya menjadi tanggung jawab pembaca. Angka pasar dapat berbeda tipis antarsumber karena perbedaan waktu pencatatan.
Sumber
- Kontan: IHSG Terkoreksi 7,03% Sepekan
- Kontan: IHSG Turun 16,70% Sepanjang Oktober 2026
- Infobank: IHSG Gagal Bangkit Jelang Akhir Pekan
- Samudra Fakta: Asing Terus Melepas Saham, IHSG Menutup Pekan di 5.057
- Akurat: Modal Asing Rp3,05 Triliun Kabur dari Pasar Saham RI dalam Sepekan
- Kontan: Net Sell Asing Deras, Proyeksi Outflow
- Kontan: Lelang SUN Sepi Peminat
- Bloomberg Technoz: Ekonom, Yield SBN Kurang Atraktif di Tengah Pelemahan Rupiah
- Trading Economics: Indonesia 10-Year Government Bond Yield
- Kontan: Kurs Rupiah Melemah 1,41% Sepanjang Oktober
- Kontan: Rupiah Ditutup Melemah Rp18.147 per Dolar AS
- Lampost: Rupiah Tertekan ke Rp18.147, Pasar Cermati Langkah BI
- Beritasatu: Defisit APBN 2026 Diproyeksikan Membengkak Jadi Rp734 Triliun
- CNBC Indonesia: Inflasi Oktober Diproyeksi Landai
- Journal Arta: Investor Diimbau Tak Reaktif Sikapi Isu MSCI
- Kontan: MSCI November 2026 Diprediksi Pasang Status Quo
- Federal Reserve: FOMC Statement, 28 Oktober 2026
- InvestingLive: FOMC Decision Oct 28
- News247Plus: Federal Reserve Leaves Interest Rates Unchanged
- BEA: GDP (Advance Estimate), 3rd Quarter 2026
- Nasdaq: Chartstopper, October 30, 2026
- Stocktwits/Yahoo Finance: What Shaped Treasury Yields and the Dollar This Week
- Investrade: Market Review, October 30, 2026
- Poland Insight: ECB Holds Rates at 2.5% as Inflation Reaches 3.8%
- CryptoTicker: ECB Rate Decision, Lagarde Leaves
- EnergyNow: Oil Climbs More Than 2% Friday, October Gains Exceed 13%
- The Nation: Brent Ends October Up 13.6%
- FinanceFeeds: Brent Crude at $113.43, OPEC+ Meets Sunday
- Oil Monitor Weekly Summary
- Trading Economics: Gold, Coal, Palm Oil





Tinggalkan Balasan