Les pèlerins au-dessus des nuages

Gema Keterputusan · Bab 8

Kaelen tertidur di meja kerja dengan pipi di atas buku catatan, dan yang membangunkannya adalah sebuah jari dingin yang menekan pelipisnya. Wren berdiri di sampingnya dengan selimut tersampir di bahu dan rambut mencuat ke satu sisi. Ia tidak berkata apa-apa. Ia menunjuk ke atas, ke papan ventilasi di dinding dekat langit-langit, lalu menempelkan jari yang sama ke bibirnya sendiri.

Lampu minyak tinggal sepertiga. Jendela masih hitam. Lonceng kuil Mid-Tiers baru berdentang tiga kali, dan di bawah sisa gemanya, dari balik papan ventilasi, terdengar kicau burung.

Kaelen memejamkan mata dan mendengarkan. Sebelas nada, naik dua tangga, turun satu, dengan jeda sependek tarikan napas di antara nada kelima dan keenam, lalu naik lagi. Kicau itu selesai, berhenti selama lima hitungan, dan dimulai dari awal.

“Sudah empat kali,” bisik Wren. Bibirnya hampir menempel di telinga Kaelen. “Kuhitung. Nadanya sama, jedanya sama.”

“Burung bisa mengulang.”

“Burung di Mid-Tiers cuma merpati dan gagak, Kael. Tak ada yang menyanyi jam tiga pagi di dalam dinding.” Wren menelan ludah. “Di Sump, kalau ada burung yang bunyinya serapi itu, artinya mainan orang kaya.”

Kaelen menggeser kursinya ke belakang. Kaki kursi menggaruk lantai dengan bunyi yang cukup keras untuk membangunkan seisi apotek di bawah. Kicau di balik papan tidak berhenti. Burung sungguhan akan diam begitu ada yang bergerak di bawahnya. Yang satu ini menyelesaikan sebelas nadanya, menunggu lima hitungan, dan mulai lagi, seperti orang yang menghafal doa tanpa mengangkat mata.

Ia mengambil lampu dan bangku kecil dari bawah rak, lalu naik. Wren memegangi kaki bangku. Papan ventilasi itu dipaku dengan empat paku berkepala besar, dan Kaelen mencabutnya satu per satu dengan ujung penjepit sambil menahan papan agar tidak jatuh. Dari celah yang terbuka naik bau debu, besi tua, dan sesuatu yang manis dan samar di bawahnya, seperti lilin yang baru dipadamkan.

Burung itu bertengger di bilah besi ventilasi, tepat di tengah, dengan dada menghadap ke ruangan. Ukurannya tidak lebih besar dari ibu jari Kaelen. Tubuhnya kuningan yang digosok sampai kusam, sayapnya lembaran enamel biru-hijau yang dilipat rapat, dan sepasang mata garnet sebesar biji lada memantulkan nyala lampu, satu di tiap sisi. Paruhnya terbuka sedikit. Pada setiap nada, dada kuningan itu naik setipis rambut.

Kaelen tidak menyentuhnya. Ia menahan lampu sejengkal dari kuningan dan memeriksa. Kakinya berupa dua pin perak yang menembus bilah besi dan lenyap di baliknya. Dari tengah perutnya keluar sehelai benang bening, lebih halus dari rambut Wren, yang memanjang ke dalam kegelapan cerobong, ke atas.

Wren menunjuk benang itu dengan dagu. Kaelen mengangguk. Ia turun dari bangku, menaruh lampu, dan mengambil sabak kecil beserta sepotong kapur yang biasa dipakai Wren menghitung belanja. Ia menulis dengan huruf rapat dan menyodorkannya.

Kapan terakhir kau menyapu di balik papan itu?

Wren mengambil kapur dengan jari yang sedikit gemetar. Pagi hari ketiga. Bersih. Tak ada apa-apa. Ia berhenti, lalu menambahkan, lebih pelan: Kita keluar berjam-jam hari keempat. Dan kemarin.

Kaelen menghapus tulisan itu dengan telapak tangan dan menulis lagi. Bukan salahmu. Mulai sekarang jangan ucapkan apa pun yang tak ingin kau dengar kembali.

Wren membacanya dua kali, lalu mengangguk dengan rahang mengeras, seperti anak yang diberi tugas dan menolak mengaku bahwa tugas itu menakutkan.


Memeriksa burung itu tanpa mengganggunya memakan hampir satu jam. Kaelen tetap di atas bangku dengan lensa terpasang di mata kiri dan lampu ditutup separuh oleh telapak tangannya, supaya cahaya jatuh hanya pada kuningan. Ia bergerak dengan kecepatan orang yang membuka surat milik orang lain. Kalau kicau itu berhenti, seseorang di ujung benang akan tahu ada yang berubah, dan ia belum siap memberi tahu siapa pun apa-apa.

Sambungan di dada burung hampir tak tampak. Ia menemukannya setelah menyusuri kuningan dengan kuku dan merasakan garis halus yang hanya terasa bila diraba melintang. Ia menyelipkan ujung pisau bedah paling tipis ke garis itu dan menekan sampai lempeng dada terangkat selebar rambut, tidak lebih. Nada kelima terputus separuh. Kaelen berhenti bernapas. Kicau itu pulih, melompati jeda, dan berlanjut ke nada keenam tanpa goyah.

Lewat celah itu, di bawah lensa, ia melihat pegas dan roda gigi sebesar biji wijen. Di antara roda-roda itu ada kamar kaca berdinding tipis selembar kertas, dan di dalam kamar itu, terendam gel bening kekuningan, sebuah benda yang bukan logam.

Telinga. Tidak lengkap, tentu saja, hanya bagian yang perlu untuk mendengar: gulungan tipis seukuran kuku kelingking, melingkar seperti kulit kerang, putih mutiara dengan urat merah muda yang masih berdenyut sekali setiap dua hitungan. Tepi gulungan itu sudah menjadi kaca, bening seperti es dan bergaris halus, memantulkan cahaya lampu dengan kilau yang Kaelen kenali dari tiga mayat. Bagian tengahnya masih daging. Di antara keduanya tak ada batas tegas. Satu bagian pelan-pelan menjadi bagian lainnya, seperti air membeku dari pinggir kolam.

Benang bening dari perut burung bersambung ke tepi gulungan itu. Setiap kali ada bunyi di ruangan, napas Wren, derit bangku, jantung Kaelen sendiri, ia tak yakin, benang itu bergetar, dan gulungan di dalam gel berkedut menanggapinya.

Ia turun, duduk di lantai dengan punggung bersandar pada kaki meja, dan beberapa saat tidak melakukan apa pun. Penemuan itu tidak membuatnya berseru. Penemuan itu membuatnya duduk.

Vitae-Sculpting. Seni yang dibersihkan Synod dari dunia sejak 41 P.S. Seni yang menurut Risalah Pembersihan melahirkan Era Daging Liar dan harus dikubur selamanya. Seni yang pada malam pertama kasus ini ia lihat dalam wujud lengan seorang rentenir. Sekarang ia ada di dinding laboratorium Kaelen, hidup, hangat, dan tekun mendengarkan.

Tangannya mantap. Itu yang paling mengganggunya. Ia menunggu gemetar yang tak kunjung datang, lalu bangkit dan mengerjakan apa yang ia tahu cara mengerjakannya.

Gel merembes dari celah yang ia buka, setetes sebesar kepala jarum. Kaelen menyedotnya dengan pipa kapiler kaca dan memindahkannya ke kaca arloji. Ia menghangatkannya di atas nyala spiritus. Uap putih tipis naik, dan aromanya membuat tengkuknya dingin: kamper, lilin lebah, minyak cengkeh. Ia pernah mencium campuran itu di ambang jendela studi Seraphina Kalidus, dalam kaleng kecil bergambar ular melilit tongkat, yang menurut pelayannya tidak pernah dipakai majikannya. Di spektroskop, di antara garis-garis balsem biasa, ada satu garis hijau tipis yang tak punya tempat di sana. Penstabil. Zat yang menjaga jaringan hidup tidak membusuk selagi dipelihara di luar tubuh, dan sejauh yang ia tahu, hanya Korps Medis Synod yang mengolahnya dalam jumlah sebanyak itu.

Ia menghirup udara di sekitar bangku sekali lagi, dengan sengaja, seperti yang ia lakukan di leher kaca Verrin. Debu, besi, minyak lampu. Tidak ada madu-kapri. Pembunuh di Gaffer’s Lane meninggalkan baunya seperti tanda tangan. Pemilik burung ini meninggalkan balsem. Bisa jadi dua tangan berbeda. Bisa jadi satu tangan yang tahu kapan harus berbau dan kapan tidak. Terlalu dini untuk memilih, dan ia sudah mengakui pada Valerius bahwa kebiasaan buruknya adalah menghitung sebelum datanya cukup.

Yang bisa ia hitung adalah apa yang sudah burung ini dengar. Ia menelusurinya mundur, kalimat demi kalimat, dan setiap kalimat membuat perutnya mengencang. Kotak timah berisi keping G-84 yang dibuka di atas kain. Pola lima segel, digambar dengan arang di tepi meja. Segitiga terbalik dan bintang bersudut tujuh. Ketua Thorius memakainya di kerah. Ia mengucapkan kalimat itu dengan suaranya sendiri, dengan jelas, pada pukul sembilan malam, di bawah sebuah telinga.

Lalu ia mendengar lagi suaranya sendiri dalam kepala. Besok saya akan meminta sesuatu dari Anda yang melanggar perintah itu.

Wren sudah menulis di sabak ketika Kaelen menoleh. Dia dengar semuanya?

Kaelen mengambil kapur. Semua yang kita ucapkan sejak hari ketiga, mungkin. Ia memandang tulisan itu sebentar, lalu menambahkan: Tapi ia belum tahu bahwa kita tahu. Itu satu-satunya hal yang kita punya.

Menjelang fajar, Wren memanjat. Ia keluar lewat jendela dapur apotek di lantai bawah, menapaki talang air dan palang jemuran dengan kaki telanjang, dan kembali dua puluh menit kemudian dengan lutut berlumut. Kaelen membaca laporannya dari sabak. Benang naik ke talang atap. Ujungnya daun kaca sebesar kuku, ditempel di lumut. Tidak kusentuh. Kaelen menepuk bahunya sekali, singkat, dan Wren memalingkan wajah dengan cepat, tetapi tidak cukup cepat untuk menyembunyikan senyumnya.


Valerius datang pukul tujuh, ketika kabut kanal masih menggantung setinggi atap apotek. Kaelen membuka pintu sebelum ia sempat mengetuk dan menaruh sabak itu di dadanya tanpa sepatah kata. Di sabak tertulis: Jangan bicara. Ada telinga di dinding.

Valerius membaca. Mata cokelatnya tidak berkedip. Ia menyerahkan sabak itu kembali, mengambil kapur dari tangan Kaelen, dan menulis dengan huruf besar yang canggung: Alat?

Telinga sungguhan, tulis Kaelen. Hidup. Di dalam burung kuningan di ventilasi. Gelnya berpenstabil Korps Medis.

Rahang Valerius mengeras. Ia mendongak ke papan ventilasi, lama, dengan wajah orang yang mencium bau dari tempat yang tak ingin ia ingat. Kaelen mencatat itu dan menyimpannya.

“Aku cuma mampir, Vance,” kata Valerius keras-keras. Suaranya datar dan kaku, seperti orang membaca pengumuman. “Perintah Komisaris sudah jelas. Aku tidak bisa membantumu lagi. Kuharap kau mengerti.”

Wren meringis di balik rak. Kaelen menulis: Cukup. Terdengar jujur.

Aku jelek berpura-pura, tulis Valerius.

Cukup tampak lelah.

Itu tak perlu dipura-purakan.

Kaelen menghapus sabak dan menulis permintaannya, huruf demi huruf, sambil Valerius berdiri di sampingnya membaca dari atas bahu. Juru rawat jaringan Hall. Ke mana mereka membawanya. Lalu buku jaga pintu ruang penyetelan: siapa masuk sebelum pukul dua.

Itu melanggar perintah, tulis Valerius.

Kemarin sudah saya katakan.

Sudut mulut Valerius bergerak, hanya sekali. Ia menulis: Halvard. Besok siang. Gudang Brenn. Lalu ia menunjuk ke papan ventilasi dan mengangkat alis: apa yang akan dilakukan Kaelen terhadapnya?

Kaelen sudah memikirkannya sepanjang subuh. Ia menulis perlahan. Dibiarkan. Biar ia mendengar apa yang kita inginkan.

Berbahaya.

Membuangnya juga. Burung yang dibuang diganti burung yang tak akan kita temukan.

Valerius membaca kalimat itu dua kali. Kemudian ia mengambil topinya dari meja, memakainya, dan berkata dengan suara yang sama kakunya, “Jaga dirimu, Vance,” seolah ia mengucapkannya di depan juru tulis. Wren menggigit buku jarinya supaya tidak tertawa.


Sebelum siang, Kaelen membungkus apa yang paling berharga dengan kain minyak: film kaca dari tumit Rourke, kapsulnya, dan salinan sandi dalam tulisan tangannya sendiri, dua puluh dua lapis yang ia tulis ulang dengan notasi yang hanya bisa dibaca satu orang lain di dunia. Buku catatan Seraphina dan kotak timah G-84 tetap bersamanya. Ia tidak sanggup melepaskan keping yang berdenyut itu, dan tidak akan membiarkan pelacak mana pun mengikuti denyutnya ke tempat lain.

Mereka keluar lewat pintu belakang apotek dengan jubah penjual rempah yang dipinjam Wren dari pemilik toko di lantai bawah. Wren berjalan di depan, tidak menengok, melewati lorong sempit yang diapit dinding sabun dan cucian, dan baru di persimpangan ketiga Kaelen melihat apa yang sudah ia lihat sejak tadi: seorang lelaki bermantel hijau lumut, terlalu bersih untuk Mid-Tiers, berjalan dua puluh langkah di belakang mereka dengan mata ke arah lain.

“Dia dari tadi,” gumam Wren tanpa menggerakkan bibir. “Tangga kedua.”

“Aku tahu.”

“Percaya padaku?”

“Tidak punya pilihan lain.”

Wren membelok ke pintu rumah celup. Di dalamnya, udara sepekat air nila. Deretan bak kayu setinggi pinggang berisi cairan biru tua, hijau, merah karat, dan para pekerja dengan lengan berwarna sampai siku bahkan tidak mengangkat kepala ketika dua orang asing berjalan menyusuri jembatan papan di antara bak-bak itu. Kaelen menahan napas dan berjalan di belakang Wren, tangannya berpegangan pada tali pagar yang basah oleh nila. Di ujung jembatan, Wren mendorong pintu kecil ke halaman belakang, dan ketika Kaelen menoleh dari ambang, si mantel hijau berdiri di pintu depan rumah celup, dengan kedua sepatu bagus terendam sampai mata kaki dalam genangan nila yang tumpah. Ia memandang sepatunya, bukan Kaelen. Kaelen tidak menunggu.

Mereka turun ke Sump lewat tangga batu yang berlendir, melewati pasar ikan yang baunya menempel di lidah, dan tiba di dermaga ketika lonceng pelabuhan berbunyi satu. Gudang Dockworkers’ Guild berdiri di ujung jalan papan, bangunan panjang dari kayu hitam bekas tar, dengan kait besi bergantungan di langit-langit seperti gigi. Bau garam, tali basah, dan getah menyambut mereka di pintu. Borin, mandor berlengan seperti paha, mengangguk tanpa bicara dan menutup pintu di belakang mereka dengan palang.

Brenn menunggu di antara tumpukan peti di bagian belakang. Lelaki lima puluhan itu berdiri dengan lengan terlipat, kulit lengannya bergaris bekas tali dari pergelangan sampai siku. Ia memandang tangan Kaelen yang kini biru sampai pergelangan, lalu memandang Wren yang tangannya sama, dan tidak bertanya.

“Saya perlu tempat untuk menyimpan sesuatu,” kata Kaelen. “Tidak lama. Mungkin satu minggu, mungkin lebih.”

“Isinya?”

“Saya tidak akan memberi tahu.”

Brenn mengangguk sekali. “Bagus. Aku tak suka tahu hal yang bisa dibayar dengan nyawa.” Ia memberi isyarat pada Borin, yang membawa mereka ke sudut gudang di bawah timbangan besar. Di sana tergulung tambang kapal setebal betis, tumpukan yang tak pernah dipindahkan sejak Kaelen bisa mengingat. Borin menyingkirkannya dengan dua tarikan, mencongkel balok lantai dengan linggis, dan memperlihatkan kotak perkakas tukang kapal yang berkarat di rongga di bawahnya, setengah terendam air asin.

“Kering di dalam,” kata Borin, pendek. “Sudah dua puluh tahun, tidak pernah basah.”

Kaelen menaruh bungkusan kain minyak di dalamnya. Balok lantai dikembalikan, tambang digulung ke tempatnya, dan dalam satu menit tidak ada tanda bahwa tempat itu pernah dibuka. Brenn mengamati dengan mulut rapat, lalu berkata, seperti baru teringat, “Belum ada kiriman baru, kalau kau mau tahu. Label kosong itu belum dipesan ulang. Tapi anak-anak saya berjaga di tiap dermaga, dan setiap peti bertanda hijau, saya buka sendiri.”

“Terima kasih.”

“Jangan.” Brenn menatapnya. “Kau yang pertama kali mengatakan air itu bohong. Aku cuma membayar kembali.”

Dalam perjalanan pulang, Kaelen baru sadar bahwa itu pertama kalinya sejak pemecatannya lima belas tahun lalu seseorang menyebut jasanya tanpa nada mengasihani. Ia tidak tahu bagaimana harus menyimpannya. Wren, yang berjalan di depannya dengan topi rempah miring, tidak berkata apa-apa soal itu, dan Kaelen berterima kasih padanya dalam hati karena diam.


Pukul delapan malam, setelah lonceng, Kaelen duduk di kursinya dan memandang papan ventilasi yang kembali terpaku rapat. Di bawah sana, dalam gel, sebuah telinga yang separuh kaca sedang menunggu. Sepanjang sore ia dan Wren menyusun naskahnya di sabak, dan Wren, yang ternyata lebih pandai daripada dugaan siapa pun, menambahkan dua bagian yang membuatnya terdengar seperti percakapan sungguhan.

“Kau sudah makan?” tanya Wren, cukup keras, sambil meletakkan mangkuk di meja.

“Nanti.” Kaelen memutar cangkirnya setengah putaran. “Aku harus menyelesaikan satu urusan lebih dulu. Salinan sandi itu tidak boleh tetap di sini. Laboratorium ini sudah dua kali didatangi orang.”

“Jadi kau taruh di mana?”

“Film kaca dan salinannya sudah kubungkus dengan kain minyak. Ada tempat di ruang dingin Watch-house, di Silversmith Lane. Di bawah papan batu tempat Rourke dibaringkan, ada ubin yang longgar. Tidak ada yang memeriksa ruangan itu setelah jenazah dibawa Synod.” Ia berhenti sedikit. “Aku akan mengambil dan memindahkannya malam ini, setelah lonceng dua belas, saat jaga bergantian dan Inspektur belum datang.”

“Kenapa tidak menyimpannya di sini saja?”

“Karena kunci ruang dingin ada di tangan Inspektur, dan Inspektur sudah berhenti.” Kaelen mengucapkannya tanpa nada, dengan kerataan yang ia pakai ketika membaca angka dari spektroskop. “Maka tidak seorang pun akan membukanya.”

Wren menunduk pada mangkuknya supaya wajahnya tidak terlihat. Bahunya bergetar sekali. Kaelen tahu, dari cara ia menahan napas, bahwa ia sedang berusaha keras untuk tidak tertawa atau menangis, dan tidak yakin yang mana.

Setelah satu jam yang diisi percakapan kosong tentang sup dan harga garam, Wren menulis di sabak: Kau bicara seperti membaca resep.

Itu satu-satunya cara saya berbohong, balas Kaelen.

Ia tidak pergi ke Silversmith Lane. Ia duduk di meja dengan lampu diturunkan dan kotak timah terbuka di sisinya. Keping G-84 berdenyut dalam kegelapan, satu lalu dua, dengan jeda yang kini lebih pendek dari tiga menit. Wren tertidur di balik rak dengan sabak di dada. Dan di balik papan ventilasi, setiap jam, burung itu menyanyikan sebelas nadanya, tidak tahu bahwa semua yang ia dengar hari ini adalah dongeng.


Pagi hari ketujuh dimulai dengan kebohongan kecil lain. Wren berkeliling laboratorium sambil mengeluhkan harga garam, kaus kakinya yang bolong, dan bubur yang terlalu encer, dengan kegigihan orang yang tahu seorang penonton sedang menunggu setiap kalimatnya. Kaelen menjawab seperlunya, dengan suara datar, sementara tangannya menyalin catatan lama yang tidak ia butuhkan. Setelah dua jam, ia menulis di sabak: Cukup. Jangan terlalu rajin. Orang yang terlalu rajin berbicara terdengar seperti orang yang menyembunyikan sesuatu.

Kau sendiri tak pernah bicara sebanyak itu, tulis Wren. Kalau kau tiba-tiba cerewet, mereka curiga.

Kaelen tidak punya bantahan untuk itu.

Menjelang siang ia naik ke atap lewat jendela dapur apotek, sendirian, membawa kompas saku dan lensa. Atap Crucible Lane adalah hamparan genteng tanah liat yang kusam, ditumbuhi lumut di bagian talang, dan dari sana kabut sisa pagi menyingkap barisan cerobong Mid-Tiers sampai tepi kaldera. Ia merangkak di sepanjang talang sampai menemukan tempat yang digambarkan Wren: segumpal lumut hijau tua yang kelihatan lebih rapi daripada lumut di sekitarnya.

Daun kaca itu terselip di dalamnya. Selembar tipis seukuran kuku ibu jari, bening, dengan urat halus yang bercabang seperti urat daun sungguhan. Benang dari cerobong ventilasi bersambung ke tangkainya. Kaelen tidak menyentuhnya. Ia menelungkup di genteng, mendekatkan lensa, dan melihat bahwa permukaan daun itu tidak rata. Ada lengkung halus, dan lengkung itu menghadap ke satu arah.

Ia membuka tutup kompas. Jarum bergetar sebentar, lalu diam. Ia menyejajarkan tepi kotak dengan garis lengkung daun itu, menunggu napasnya stabil, dan membaca: timur laut, sedikit ke utara. Ke seberang atap-atap, ke seberang kabut, tegak menembus langit pagi seperti jarum hitam, berdiri Obsidian Spire.

Tentu saja itu belum bukti. Setengah kota ada di arah yang sama bila ditarik garis dari sebuah atap Mid-Tiers, dan selembar daun kaca bisa saja melengkung ke mana pun ketika tumbuh. Tetapi ia sudah belajar bahwa sebuah garis yang lurus ke sebuah menara tidak patut dilupakan hanya karena kebetulan itu masuk akal. Ia mencatatnya dalam notasi pribadi di tepi buku, dengan tulisan sekecil kutu, dan menutup kompas.

Dari atap itu, sambil menunggu keringat dinginnya mengering, ia memandang jalan di bawah. Dua lelaki berjas abu-abu berdiri di depan lapak kain kosong, yang satu menggulung-gulung kain seolah mencari sesuatu, yang lain menghitung genteng seberang dengan jarinya. Ia tidak pernah terbiasa diperhatikan. Tetapi ia sudah mulai terbiasa mengetahui siapa yang memperhatikan.


Sersan Halvard datang ke gudang Brenn pukul satu siang, lewat pintu samping, tanpa seragam. Ia berbahu lebar, hidungnya pernah patah, dan topi Watch yang tak ia pakai diremasnya di satu tangan sampai bentuknya tidak karuan. Ia memandang Kaelen dengan sopan yang kikuk, seperti orang yang diperintahkan atasannya untuk percaya pada seseorang yang belum ia putuskan layak dipercaya.

“Inspektur titip pesan,” katanya. “Di sini Anda boleh bicara bebas. Tuan Brenn sudah menyisir setiap tiang.”

Kaelen tetap memeriksa tiang-tiang itu dengan lensa sebelum duduk. Brenn memandangnya dan tidak tersinggung.

“Mulai dari yang kemarin malam,” kata Kaelen.

Halvard mengangguk. Ia tidak perlu catatan. “Saya jaga meja di Watch-house. Pukul delapan, pos kami belum diubah apa-apa. Pukul sebelas lewat empat puluh, empat orang Quicksilver Guard datang bawa surat dari Komisaris. Meminta kunci ruang dingin. Saya bilang kunci dipegang Inspektur. Mereka bilang tidak perlu, dan mendobrak.” Ia menghela napas. “Empat puluh menit. Papan batu diangkat, ubin dicungkil satu-satu, saluran airnya dikuras. Pulang tanpa bawa apa-apa kecuali kotoran di sepatu. Pemimpinnya tidak mengucapkan sepatah kata pun waktu pergi.”

Kaelen tidak menunjukkan apa-apa. Dalam kepalanya ia menghitung. Pukul delapan, ia berbicara di bawah sebuah telinga. Pukul sebelas lewat empat puluh, empat orang bersenjata berdiri di pintu Silversmith Lane dengan surat resmi. Tiga setengah jam. Seseorang di ujung benang itu tidak tidur. Ia menulis laporan, laporan itu naik ke tangan yang berwenang, tangan itu menandatangani, dan empat orang berjalan dalam gelap ke sebuah ruang dingin. Mesin sebesar Synod tidak bergerak secepat itu kecuali sudah ada yang menunggu.

“Itu semua?” tanyanya.

“Bukan.” Halvard meremas topinya lebih keras. “Itu yang malam ini. Yang kemarin pagi lebih ganjil. Sebelum Anda bicara apa pun pada burung itu, Komisaris sudah mengeluarkan perintah pemindahan. Delapan orang dari patroli Silversmith Lane dan Crucible Lane dikirim ke gerbang Upper Tier. Dua sersan kepercayaan Inspektur dikirim ke pelabuhan. Jaga di depan lab Anda ditarik, Tuan Vance, sejak tengah hari kemarin. Sekarang jalan itu kosong dari Watch. Yang ada di sana orang-orang berjas abu-abu yang mengaku pedagang kain, dan tidak ada satu pun dari mereka yang pernah saya lihat menjual kain.”

Brenn bersiul pelan. Kaelen menyimpan informasi itu di tempat yang sama dengan sorot mata Thorius di aula, tidak bisa dibuktikan, terlalu rapi untuk diabaikan. Seseorang sedang mengosongkan papan catur di sekelilingnya sebelum menggerakkan buah mana pun.

“Orang-orang abu-abu itu bukan cuma di jalan Anda,” kata Brenn. Ia bersandar pada peti dengan lengan terlipat. “Dua hari ini ada tiga di dermaga saya. Mereka menanyakan jadwal kapal garam dan siapa yang memegang kunci pintu air. Pura-pura pedagang. Pedagang tidak menghitung palang pintu.”

“Pintu air,” ulang Kaelen.

“Pintu air besar di hulu dan kanal pembuangan. Guild saya yang memegang kunci cadangan sejak zaman kakek saya.” Brenn mengangkat bahu. “Aku bilang kuncinya hilang dan tukangnya sedang mabuk. Mereka mencatat itu dengan sangat serius.”

Kaelen mencatat kalimat itu, tanpa tahu mengapa, di bagian buku yang ia khususkan untuk hal-hal yang belum punya tempat. Pintu air. Kunci cadangan. Ia ingat angka empat ribu liter di daftar belanja dalam film kaca, jumlah yang tidak masuk akal bagi satu orang dan terlalu banyak bagi satu ruangan. Ia belum bisa menyambungkan keduanya. Ia hanya tahu dua benda yang jauh letaknya, bila terus muncul di halaman yang sama, biasanya berhubungan.

“Juru rawat jaringan?”

“Anak muda tangan merah itu.” Halvard menggeleng. “Dibawa dari Hall melalui pintu belakang, ke wisma tamu Korps Medis di belakang Obsidian Spire. Katanya demam mendadak. Tidak ada yang boleh menjenguk, bahkan keluarganya. Saya sudah tanya dua kali. Dua kali pula dijawab dengan kata yang sama: istirahat.”

“Dan buku jaga pintu ruang penyetelan?”

“Hilang dari lemari. Penjaga yang mengisinya bilang ia menyerahkannya sendiri kepada Kolegium pukul tujuh malam.” Halvard mengangkat bahu yang lebar. “Mungkin benar. Mungkin tidak. Tidak ada yang bisa membuktikan keduanya.”

Tidak ada data. Kaelen sudah mulai membenci kalimat itu, tetapi ia tetap mencatatnya. Perintah pemindahan yang mendahului kebohongannya berarti Thorius tidak sekadar bereaksi terhadap burung. Ia sudah menggerakkan orang-orang sebelum burung itu mendengar apa pun yang baru, dan itu bisa berarti satu dari dua hal: ia ingin Kaelen sendirian, atau ia ingin Watch pergi dari tempat-tempat tertentu. Mungkin keduanya. Mungkin ada hal ketiga yang belum terlihat.

“Satu lagi,” kata Halvard, dan untuk pertama kalinya ia memandang Kaelen langsung. “Inspektur menyuruh saya bertanya. Dia bilang, apa pun yang Anda sembunyikan, jangan sembunyikan dari dia.”

“Besok pagi saya akan membuka sesuatu yang selama ini tertutup,” kata Kaelen. “Dia boleh datang.”

Halvard mengangguk, memakai topinya yang sudah tak berbentuk, dan pergi lewat pintu samping sebelum Brenn sempat menawarinya teh.


Kembali ke Crucible Lane menjelang magrib, mereka melewati dua lelaki berjas abu-abu yang menawarkan kain dari lapak kosong. Kaelen mengangguk sopan pada keduanya. Mereka mengangguk balik, dan tak seorang pun dari mereka menatap tangannya yang biru.

Di dalam laboratorium, ia menyalakan lampu dan makan sup yang Wren hangatkan tanpa berbicara. Burung itu menyanyi tepat ketika lonceng berbunyi, sebelas nada dengan jeda di antara kelima dan keenam. Wren mengangkat sendoknya sedikit seperti menyapa, lalu menaruhnya kembali.

“Kita bicara seperti biasa?” tanyanya pelan, hampir tanpa suara.

Kaelen mengambil kapur dan menulis di sabak, lalu memutarnya supaya Wren bisa membaca. Ia menulis lambat, dan tulisannya tidak serapi biasa.

Besok pagi. Atelier ayahku.

Wren membacanya sekali. Alisnya berkerut. Kau punya atelier? tulisnya di bawah. Kau tak pernah bilang.

Kaelen memandang dua baris kapur itu cukup lama, lalu mengambil kapur lagi. Aku sendiri tak pernah membukanya.

Ia menghapus semuanya dengan ujung lengan baju sebelum Wren sempat bertanya lagi. Di dinding atas, di balik papan yang dipaku rapat, burung itu menyanyikan sebelas nadanya sekali lagi, dan untuk malam ini, tidak ada satu pun yang ia dengar yang benar.


Bab 9: Jurnal Zemfira terbit Senin, 2 November 2026, pukul 22.00 WIB.

Kalau kisah Kaelen dan sandi para alkemis ini menemani malammu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan