Bagian II: Nyanyian yang Hilang · Bab 10
Sari mengusirnya sebelum matahari tergelincir.
“Pulang sudah,” katanya dari ranjang, tanpa membuka mata. Ia sudah bisa berbaring sedikit lebih rendah sekarang, dua bantal di punggungnya, satu lagi pinjaman dari perempuan tua di ranjang sebelah yang tidak bertanya untuk apa. “Oma tidak bisa ditunggu Mama Ani terus. Mama Ani punya anak tujuh.”
“Lima.”
“Tujuh. Ose su lama pergi.” Sari membuka satu mata. “Ose ada kelas besok. Pak Elias akan hitung ose punya hari bolos macam dia hitung kuku anak-anak.”
Raka tidak bergerak dari kursi kayunya. Di pangkuannya ada sebungkus roti yang ia beli di toko dekat apotek dan tidak ia makan. Di meja kecil di samping ranjang, perawat sudah meninggalkan obat dalam kertas lipat: tablet-tablet putih kecil yang harus diminum pagi dan malam, yang namanya ditulis dengan pulpen dan tidak bisa Raka baca.
“Dokter bilang empat, lima hari.”
“Beta dengar dokter bilang apa.” Sari memandang langit-langit. “Abdul bawa beta punya mama besok pagi. Mama akan tidur di lantai sini, bawa tikar, bawa ikan kuah, marah-marah sama perawat karena bubur di sini tidak pakai garam. Ose mau ada di sini waktu beta punya mama datang?”
Raka berpikir tentang itu. Ia berpikir tentang mamanya Sari, perempuan berbadan kecil yang dulu suka memukul pantat mereka berdua dengan sapu lidi setiap kali mereka pulang basah dari dermaga, dan yang sekarang akan duduk di kursi ini, memandang anaknya, dan bertanya kepada Raka dengan matanya apa yang sebenarnya terjadi. Raka tidak tahu apakah ia bisa diam di bawah mata seperti itu.
“Tidak,” katanya.
“Nah.” Sari menutup matanya lagi. “Pulang sudah. Jaga Oma. Itu ose punya syarat juga, to? Beta su terima ose punya syarat. Sekarang ose terima beta punya.”
Ketika ia berdiri, Sari menahan ujung kemejanya dengan dua jari, tidak kuat, hanya cukup untuk membuatnya berhenti.
“Raka.”
“Hm.”
“Surat dari Ambon itu.” Ia tidak membuka mata. “Om Dominggus su cerita ose?”
Raka memandangnya. Ia tidak pernah menceritakan percakapan di depan gudang ikan itu kepada siapa pun. Ia baru saja kembali dari sana satu jam lalu.
“Ose tahu?”
“Satu kampung tahu ada surat.” Jari Sari melepas kemejanya. “Tidak ada yang tahu isinya. Hati-hati, Nyong. Ada barang yang orang simpan bukan karena lupa buang.”
Jonson biru-putih itu meninggalkan Tual waktu matahari sudah rendah di atas Kei Kecil, dan seluruh teluk berwarna seperti tembaga yang baru digosok. Abdul duduk di haluan dengan kaki terjulur dan topi menutupi muka, tidur lagi atau pura-pura tidur. Om Dominggus di buritan. Raka di tengah, di tempat Sari tadi malam duduk bersandar ke dadanya, dan papan perahu di sana masih basah oleh sesuatu yang bukan air laut.
Ia tidak bertanya apa-apa kepada Om Dominggus. Ia sudah memutuskan itu di dermaga. Lelaki tua itu sudah memberinya lebih banyak kata dalam dua hari ini daripada dalam dua puluh satu tahun, dan Raka merasa, tanpa bisa menjelaskan kenapa, bahwa satu pertanyaan lagi akan membuat sumur itu kering.
Tetapi di tengah perjalanan, ketika tanjung Ohoi Woma mulai kelihatan sebagai garis hitam di depan, Om Dominggus mengurangi gas. Mesin jonson turun dari raungan menjadi gumam. Perahu melambat, lalu hanyut sedikit ke kiri, ke arah barat daya, dan Om Dominggus membiarkannya.
“Ose punya mama,” katanya, “tulisannya bagus.”
Raka menunggu.
“Dia guru juga. Ose tidak tahu itu, to?” Om Dominggus meludah ke air. “Bukan guru sekolah. Dia ajar anak-anak perempuan baca tulis di belakang gereja, sore-sore, waktu SD belum ada kelas lima. Pakai papan tulis kecil. Pakai arang. Beta punya kakak perempuan belajar tulis nama dari ose punya mama.”
Ia menambah gas lagi sebelum Raka bisa menjawab. Mesin meraung. Perahu kembali lurus menuju tanjung.
Raka duduk diam dengan tangan di lutut. Ia mencoba membayangkan ibunya memegang arang, menulis huruf-huruf di papan kecil, dan ia tidak bisa. Ia hanya punya satu wajah ibunya, wajah di foto hitam-putih yang retak di pojok kiri, perempuan berkebaya yang menggendong bayi berselendang dan tidak memandang ke kamera. Perempuan itu memandang ke samping. Raka tidak pernah bertanya-tanya ke mana. Sekarang ia bertanya-tanya, dan pertanyaan itu terasa terlambat dua puluh tahun.
Mama Ani menunggunya di beranda, di kursi rotan yang jebol satu sisi, dengan pelita di lantai dan rantang di pangkuan.
“Oma su makan,” katanya sebelum Raka sampai di anak tangga pertama. “Su minum obat, setengah. Su tidur. Tadi sore dia cari ose. Dia bilang Marthen pergi tidak pamit.” Ia berdiri, menggoyang-goyangkan pinggangnya yang kaku. “Bidan bagaimana?”
“Kecapekan, Mama.”
Mama Ani memandangnya. Mata itu, mata perempuan yang sudah membesarkan lima atau tujuh anak, yang sudah memandikan orang mati dan menolong kambing melahirkan, berhenti di wajah Raka sedikit terlalu lama.
“Kecapekan,” ulangnya.
“Iya, Mama.”
“Baik.” Mama Ani mengambil rantangnya. “Besok Neles. Beta su kasih tahu dia.” Di anak tangga terakhir ia berhenti tanpa menoleh. “Orang kecapekan itu, Nyong, biasanya tidak diangkat ke jonson pakai kursi.”
Ia pergi ke arah sumur, dan pelita yang ia tinggalkan di beranda bergoyang ditiup angin dari laut.
Raka masuk. Genset sudah menyala. Neon di ruang depan berdengung seperti lebah yang terjebak di dalam kaca. Di dinding, di sebelah kalender gereja, jadwal jaga dari kertas bungkus rokok masih menempel dengan nasi, dan di sebelahnya catatan Sari dari minggu lalu: Kamis. Sina datang. Tiga kilo lebih. Huruf-huruf Sari miring ke kanan, terburu-buru, seperti orang yang menulis sambil berdiri.
Ia membuka pintu kamar Oma pelan-pelan.
Oma tidur telentang di bawah kelambu bertambal, tangan terlipat di atas dada seperti orang yang sudah dibaringkan, dan untuk satu detik yang panjang Raka berdiri di ambang pintu dan tidak bisa bernapas. Lalu dada di bawah tangan itu naik. Turun. Naik lagi. Sandal biru dan hijau dijajarkan di bawah ranjang, ujungnya menghadap pintu, siap untuk dipakai pergi.
Raka menutup pintu lagi dan duduk di lantai ruang depan dengan punggung di dinding bambu.
Oma tidak pernah buang apa-apa, Nyong. Ose cari saja.
Ia mulai dari Alkitab, karena hanya itu yang ia tahu.
Alkitab Oma tebal dan bersampul kulit hitam yang sudah mengelupas di sudut-sudutnya, lebih tua dari Raka, barangkali lebih tua dari Marthen. Selalu diletakkan di meja kecil di bawah salib kayu, dan tidak pernah dipindah kecuali hari Minggu. Raka mengangkatnya dengan dua tangan. Beratnya seperti ikan besar.
Karangan itu ada di sana, di antara Mazmur. Selembar kertas bergaris dari buku tulis anak SD, terlipat empat, tepinya sudah cokelat. Laut, tulisan tangan anak kelas lima yang menekan pensil terlalu keras. Laut itu seperti Oma. Nilai 6 di sudut kanan atas, dengan tinta merah Guru Elias. Raka membacanya sekali, lalu melipatnya lagi dan mengembalikannya ke tempat yang sama, ke halaman yang sama, karena ia merasa Oma akan tahu kalau karangan itu berpindah satu halaman saja.
Tetapi Alkitab itu menyimpan lebih banyak lagi. Ia membalik halaman-halamannya pelan dan barang-barang kecil berjatuhan ke pangkuannya seperti daun kering dari pohon yang digoyang. Sehelai bunga kamboja yang sudah tipis seperti kertas minyak. Kartu sidi Marthen, dengan foto kecil anak laki-laki berkemeja putih yang rambutnya disisir basah. Selembar daftar belanja: minyak tanah, gula, sabun, benang. Kartu Natal bergambar salju, entah dari siapa, salju yang tidak pernah turun di pulau mana pun yang Oma pernah datangi. Sejumput rambut bayi yang diikat benang merah. Raka memegangnya lama. Ia tidak tahu itu rambut siapa. Rambutnya sendiri, barangkali. Atau rambut Marthen. Atau rambut seseorang yang tidak pernah diceritakan kepadanya.
Tidak ada surat.
Ia mencari di lemari kecil di kamarnya sendiri, yang diikat tali rafia. Ia mencari di kaleng biskuit bergambar mawar, di balik gula. Ia naik ke bangku dan meraba-raba para-para di atas tungku, di antara kayu bakar, dan tangannya menyentuh bungkusan daun pisang berisi ikan asar untuk Marthen. Bungkusan itu sudah kering dan ringan. Ia tidak memindahkannya.
Genset mati pukul sepuluh. Neon padam dengan bunyi kecil, seperti orang menghela napas. Raka menyalakan pelita dan duduk lagi di lantai dengan semua barang dari Alkitab berserakan di depannya, dan ia sadar ia sedang menggeledah rumah neneknya seperti pencuri, malam-malam, sementara neneknya tidur di kamar sebelah.
Dari kamar itu, suara Oma.
Bukan nyanyian. Bicara, pelan, dalam bahasa Kei, dengan nada orang yang sedang menawar sesuatu. Raka menangkap satu kata yang ia kenal, nama, nama ibunya. Yuliana. Lalu sesuatu yang lain. Lalu diam.
Ia mengembalikan semuanya ke dalam Alkitab, satu per satu, sebisa yang ia ingat urutannya, dan tidur di lantai ruang depan tanpa tikar.
Pak Elias tidak menyebut hari Senin. Itu lebih buruk daripada kalau ia menyebutnya.
Ia hanya berdiri di depan ruang guru ketika Raka datang pagi itu, dengan kemeja krem yang dikancing sampai leher dan tangan di belakang punggung, dan berkata, “Bidan itu kecapekan?”
“Iya, Pak.”
“Hm.” Pak Elias memandang ke arah laut. “Beta dengar di Tual ada dokter muda dari Jawa. Dokter PTT. Mereka datang tiga tahun, lalu pulang.” Ia memandang Raka lagi. “Orang yang datang tiga tahun lalu pulang tidak perlu bohong kepada siapa pun. Mereka tidak tinggal untuk lihat akibatnya.”
Lalu ia berjalan pergi dengan bunyi kunci di rantai ikat pinggangnya, dan Raka berdiri di selasar dengan buku paket di tangan, tidak yakin apakah ia baru saja ditegur atau dinasihati.
Di kelas dua, Maria mengangkat tangan sebelum Raka sempat menulis apa pun di papan.
“Pak. Bidan Sari meninggal?”
Delapan belas kepala menoleh kepadanya sekaligus. Bahkan Hasan berhenti menyikut Paulus.
“Tidak,” kata Raka. “Siapa yang bilang begitu?”
“Hasan punya adik.”
“Beta punya adik bilang diangkat pakai kursi,” kata Hasan cepat, membela diri. “Kalau diangkat pakai kursi, orang su mau mati, Pak. Beta punya Opa dulu diangkat pakai kursi.”
“Bidan Sari kecapekan,” kata Raka. Kata itu sudah lebih mudah diucapkan pada kali keempat. Itu yang membuatnya takut. “Dia istirahat di Tual. Beberapa hari. Lalu pulang.”
Maria memandangnya dengan mata cepatnya, dan Raka melihat anak itu menimbang-nimbang jawabannya seperti menimbang ikan di pasar, merasakan beratnya di telapak tangan, tahu kalau ada yang kurang. Tetapi ia tidak bertanya lagi. Ia menulis sesuatu di pinggir bukunya, kecil sekali, dan Raka tidak bisa melihat apa.
Yosef tidak masuk. Air bagus hari itu. Bangkunya di dekat jendela kosong, dengan ukiran kapal bertiang tiga di atas garis gelombang yang tertimpa cahaya pagi.
Raka mengajar tentang surat. Itu sudah ada di rencana pelajaran sejak minggu lalu, ditulis sebelum Om Dominggus berdiri di belakangnya di depan gudang ikan, dan ia merasa ganjil berdiri di depan kelas menjelaskan bagian-bagian surat pribadi: tempat dan tanggal, salam pembuka, isi, salam penutup, tanda tangan. Di buku paket ada contoh surat dari seorang anak di Jakarta kepada neneknya di desa. Anak itu bercerita tentang liburan sekolah dan kebun binatang.
“Pak,” kata Theresia, ketua kelas, setelah ia selesai membacakan contoh itu. “Kalau mau kirim surat ke Jakarta, berapa lama?”
“Kapal perintis dari Tual dua minggu sekali. Ke Ambon tiga hari. Dari Ambon ke Jakarta, dengan kapal Pelni, seminggu, barangkali lebih.”
“Jadi kalau nenek mau balas, anak di Jakarta itu su lupa dia tanya apa.”
Kelas tertawa. Raka juga tertawa, dan ia mendengar tawanya sendiri seperti dari jauh.
“Kadang,” katanya. “Kadang surat datang terlambat sekali. Orang yang tulis su tidak ada waktu surat itu dibaca.”
Kelas diam. Ia tidak bermaksud mengatakan itu. Ia mengambil kapur dan menulis di papan, besar-besar, Tempat dan tanggal, dan menggarisbawahinya dua kali.
Neles datang siang dengan anak bungsu di gendongan dan sekeranjang kasbi rebus. Ia menemukan Raka di kamar Oma, berlutut di lantai di samping ranjang, menarik sesuatu dari kolong.
“Ose cari apa?”
“Peti.”
Peti itu terbuat dari kayu besi, hitam, dengan engsel kuningan yang sudah hijau dan gembok kecil yang tidak dikunci. Raka ingat peti ini. Waktu kecil ia dilarang menyentuhnya, dan karena dilarang ia pernah mencoba membukanya sekali, dan Oma memukul punggung tangannya dengan sendok kayu, tidak keras, tetapi cukup untuk membuatnya tidak pernah mencoba lagi. Ia tidak pernah tahu isinya. Ia lupa peti itu ada, sampai pagi tadi, sampai ia berdiri di depan kelas berbicara tentang tempat dan tanggal.
Oma duduk di tepi ranjang, di atas mereka, memperhatikan dengan wajah anak kecil yang menonton orang dewasa memperbaiki perahu.
“Itu beta punya,” kata Oma.
“Iya, Oma.”
“Ose mau ambil?”
Raka berhenti. Tangannya di engsel kuningan.
“Beta boleh buka, Oma?”
Oma memiringkan kepala. Ia memandang peti itu, lalu memandang Raka, lalu memandang Neles yang berdiri di pintu dengan bayi yang mengenyot jempol.
“Pak Guru mau buka beta punya peti,” kata Oma kepada Neles, dengan nada orang yang melaporkan sesuatu yang lucu.
“Biar sudah, Oma,” kata Neles lembut. “Pak Guru orang baik.”
Oma berpikir lama. Lalu ia mengangkat bahunya yang kurus.
“Buka sudah. Di dalam cuma ada beta punya lagu-lagu.”
Isinya kain. Kain tenun yang dilipat rapi, dua lembar, warna merah tua dan hitam dengan motif yang Raka tidak tahu namanya, bau kapur barus yang begitu kuat sampai Neles bersin. Di bawah kain, sebuah sisir tanduk yang patah satu giginya. Sepasang anting emas kecil yang dibungkus kertas. Dan di bawah semua itu, di dasar peti, sebuah buku.
Buku tulis biasa, buku tulis sekolah, tetapi sampulnya dibungkus kain belacu yang dijahit tangan dengan benang hitam. Tebal, karena ada halaman-halaman yang ditempelkan dari buku lain. Raka membukanya dan melihat tulisan tangan Oma, tulisan tangan yang lebih tegak dan lebih muda daripada yang ia kenal, kalimat-kalimat dalam bahasa Kei disusun dalam bait-bait pendek, dengan nomor di atasnya. Satu. Dua. Tiga. Di beberapa halaman ada garis-garis kecil di atas kata-kata, naik dan turun, seperti gelombang yang digambar anak-anak. Raka butuh waktu untuk mengerti bahwa itu nada. Oma menuliskan nada dengan caranya sendiri, dengan gelombang.
“Beta punya lagu-lagu,” kata Oma lagi, dengan bangga, kepada Neles.
Ada puluhan lagu. Raka membalik halaman demi halaman. Beberapa ia kenali dari judulnya yang ditulis dalam bahasa Indonesia di pinggir: lagu panen, lagu menurunkan perahu, lagu untuk orang mati. Lagu-lagu yang ia dengar waktu kecil dari jauh, dari pantai, dari rumah-rumah orang yang berduka, dan tidak pernah ia tanyakan artinya. Sebagian besar ia tidak kenal sama sekali.
Di tengah buku, lagu pengantar tidur.
Ia tahu itu karena ada judul kecil di pinggir halaman, dalam bahasa Indonesia, dalam tulisan yang lebih baru dan lebih goyah: untuk Marthen kecil. Lalu, di bawahnya, dengan pulpen yang lain, tinta yang lain: untuk Raka.
Bait pertama. Bait kedua. Gelombang-gelombang kecil di atas kata-kata, naik dan turun.
Bait ketiga kosong.
Ada nomornya, angka tiga yang ditulis dengan rapi di atas halaman. Ada garis-garis gelombang di bawah angka itu, nada yang sudah digambar, naik dan turun dan naik. Tetapi di bawah gelombang tidak ada kata-kata. Hanya kertas yang menguning, dan sesuatu yang terlipat di antara halaman itu dan halaman berikutnya, begitu tipis sampai Raka tidak merasakannya waktu membalik.
Kertas surat. Kertas surat biru muda, tipis seperti kulit bawang, jenis yang dulu dijual di kantor pos untuk surat udara. Terlipat tiga. Di bagian luar, satu kata dengan tulisan tangan yang bukan tulisan Oma.
Mama.
Raka mendengar Neles menarik napas di pintu. Ia mendengar bayi di gendongan Neles berhenti mengenyot jempol. Ia mendengar laut, di luar jendela, seperti selalu.
Ia memandang Oma.
Oma memandang kertas biru itu di tangannya dengan wajah yang tidak bisa Raka baca. Bukan wajah anak kecil lagi. Bukan juga wajah Oma yang jernih, yang menyanyi di gereja hari Minggu. Wajah seseorang yang melihat perahu di kejauhan dan belum tahu apakah itu perahu yang ia tunggu.
“Neles,” kata Raka tanpa menoleh. “Tolong bawa Oma ke beranda. Kasih Oma kasbi.”
Ia membacanya di dapur, di bangku itu, bangku tempat Oma duduk sampai malam tanpa menyalakan api dua puluh tahun lalu. Ia tidak memutuskan untuk duduk di sana. Kakinya membawanya ke sana.
Tulisannya bagus. Om Dominggus benar. Huruf-huruf bersambung yang condong rapi ke kanan, huruf yang diajarkan di sekolah rakyat zaman dulu dengan pena celup, setiap ekor huruf g dan y melengkung seperti kail. Tetapi di beberapa tempat tulisan itu goyah, menurun, lalu naik lagi, seperti tangan yang menulisnya harus berhenti dan beristirahat di tengah kalimat. Di sudut kanan atas: Ambon, 9 November 1975. Di bawahnya, lebih kecil: Rumah Sakit, bangsal perempuan.
Raka menghitung tanpa sengaja. Bapanya hilang Desember 1974. Ia sendiri tujuh tahun waktu surat ini ditulis. Ia tidak ingat November 1975. Ia tidak ingat ibunya pergi.
Mama Hendrika yang beta hormati dan sayangi,
Beta tulis surat ini dari ranjang. Su lima hari demam. Dokter bilang demam berdarah, ada nyamuk di Ambon sini lebih banyak dari di kampung. Beta tidak tahu beta bisa pulang atau tidak. Jadi beta tulis sekarang, waktu tangan masih bisa pegang pena, supaya Mama tidak dengar dari orang lain.
Mama jangan marah beta pergi. Beta tahu Mama tidak setuju. Tapi beta harus coba. Beta su bawa perkara Marthen ke sini, ke kantor-kantor, ke orang-orang yang Pendeta bilang bisa dengar. Mereka dengar. Mereka baik. Tapi mereka cuma pegang surat yang dikirim dari Tual, dan di surat itu tulis badai. Mereka tanya, ada saksi? Beta bilang ada, satu kampung tahu laut tenang pagi itu. Mereka tanya, siapa mau datang ke Ambon bicara? Beta tidak bisa jawab, Mama. Mama tahu kenapa beta tidak bisa jawab.
Jadi beta su berhenti. Beta tidak mau Mama dan orang kampung susah karena beta.
Ada dua permintaan.
Pertama, Raka. Mama tolong besarkan dia. Dia anak yang suka tanya, macam bapanya. Kalau dia tanya terus, jangan pukul dia, kasih dia buku. Kirim dia sekolah jauh kalau bisa, supaya dia lihat dunia lebih besar dari tanjung.
Kedua. Jangan biarkan Raka tahu tentang ayah. Biarlah laut yang menyimpannya. Beta tidak mau anak beta tumbuh dengan dendam di dada. Dendam itu macam karang, Mama, diam di bawah air, tapi perahu mana pun yang lewat akan robek. Biar dia pikir bapanya kalah sama badai. Badai tidak bisa dibenci. Orang bisa.
Mama jangan nyanyi lagu itu lagi di pantai. Mama su nyanyi tiga malam. Laut su dengar. Biar laut yang simpan juga.
Kalau Tuhan kasih beta sembuh, beta pulang dengan kapal bulan depan dan Mama boleh marah-marah sepuasnya. Kalau tidak, beta tunggu Mama di tempat Marthen tunggu kita.
Cium Raka untuk beta. Bilang dia, Mama dia sayang dia lebih dari laut.
Anakmu,
Yuliana
Di bawah nama itu ada sesuatu yang lain. Satu baris lagi, ditambahkan dengan tinta yang sama tetapi tulisan yang jauh lebih goyah, hurufnya besar-besar dan saling bertabrakan, seperti ditulis dalam gelap atau dalam demam.
Bait ketiga Mama simpan. Jangan kasih dia.
Raka membaca surat itu tiga kali. Pada kali ketiga ia tidak lagi membaca kata-kata. Ia hanya memandang bentuk huruf-huruf itu, ekor-ekor yang melengkung seperti kail, dan berusaha membayangkan tangan yang membuatnya, tangan yang memegang arang di belakang gereja dan mengajar kakak perempuan Om Dominggus menulis nama. Tangan yang pernah menggendongnya. Ia tidak ingat tangan itu. Ia tidak ingat apa pun.
Kertas biru itu bergetar sedikit di jarinya. Bukan karena angin. Dapur itu tidak berangin.
Badai tidak bisa dibenci. Orang bisa.
Di luar, di beranda, ia mendengar Neles bernyanyi pelan untuk bayinya, lagu gereja yang Raka kenal, dan di sela-selanya bunyi Oma mengunyah kasbi, dan ombak, dan seekor anjing yang menggonggong di arah sumur. Hari masih siang. Matahari masih tinggi. Tidak ada yang berubah di Ohoi Woma kecuali di dapur ini, di bangku ini, dan ia merasa dunia di luar pintu dapur itu sudah bukan dunia yang sama dengan yang tadi pagi ia tinggalkan untuk mengajar tentang tempat dan tanggal.
Ia melipat surat itu kembali, tiga lipatan, mengikuti bekas lipatan yang sudah dua puluh tahun, dan menyelipkannya ke saku kemeja di atas dada.
Malam itu Oma tidak mau tidur.
Ia duduk di tepi ranjang dengan kebaya tidur dan rambut tergerai, menolak berbaring, menolak minyak kayu putih, menolak Raka. Setiap kali Raka masuk, Oma memandangnya dengan curiga dan bertanya ose siapa, dan Raka menjawab beta tinggal di sini, Oma, dan Oma berkata beta tidak kenal ose, dan Raka keluar lagi. Itu terjadi empat kali. Pada kali kelima, sesudah genset mati, Oma tidak bertanya apa-apa. Ia hanya mengulurkan tangannya, telapak menghadap ke atas, ke arah Raka di ambang pintu.
“Kasih beta,” katanya.
Raka berdiri diam dengan pelita di tangan.
“Kasih beta,” ulang Oma. Suaranya tidak keras. Suara orang yang meminta garam di meja makan. “Itu beta punya. Ose ambil dari beta punya lagu.”
Raka masuk. Ia meletakkan pelita di lantai, di dekat sandal biru dan hijau, dan duduk di tepi ranjang di samping neneknya. Lalu ia mengeluarkan kertas biru itu dari saku kemeja dan meletakkannya di telapak tangan yang terulur itu.
Oma tidak membukanya. Ia memegangnya saja, di pangkuan, dengan dua tangan, seperti memegang burung kecil yang jatuh dari sarang. Jari-jarinya meraba tepi kertas, meraba satu kata di bagian luar, Mama, seolah ia bisa membacanya dengan ujung jari.
“Yuliana punya tulisan bagus,” kata Oma.
“Iya, Oma.”
“Dia ajar anak-anak tulis nama. Pakai arang.” Oma tersenyum ke kertas itu. “Beta tidak setuju dia pergi ke Ambon. Beta bilang, perempuan sendiri ke kantor-kantor, orang akan pikir apa. Dia bilang, Mama, kalau beta tidak pergi, siapa?”
Raka tidak bergerak. Ia takut kalau ia bergerak, kalau ia bernapas terlalu keras, Oma akan pergi lagi ke tempat yang jauh itu dan memanggilnya Pak Guru.
“Oma,” katanya, sangat pelan. “Surat yang dikirim ke Tual. Yang tulis badai. Siapa yang tulis?”
Oma diam. Pelita di lantai menyala tegak, tidak ada angin. Di luar, laut naik. Raka bisa mendengarnya, bunyi pasang yang berbeda dengan bunyi surut, lebih dekat, lebih berat, seperti seseorang yang berjalan pelan menaiki tangga rumah.
Lalu Oma mengangkat tangannya dari kertas biru itu. Punggung tangannya, kurus dan berbintik dan berurat, naik ke mulutnya dan menutupnya. Gestur itu. Gestur bait ketiga. Raka sudah melihatnya ratusan kali waktu kecil dan tidak pernah tahu apa artinya.
Ketika tangan itu turun lagi, suara Oma rendah dan jernih dan sepenuhnya miliknya sendiri.
“Yuliana tidak mau,” katanya. “Beta yang paksa dia diam. Surat ke Tual itu, Nyong.” Ia memandang Raka langsung, dan matanya tidak tersesat ke mana pun. “Beta yang tulis. Beta yang tulis badai.”
Catatan kecil. Kayu besi: sebutan di Maluku untuk kayu merbau yang sangat keras dan tahan air, lazim dipakai untuk peti, tiang, dan lunas perahu; Sidi: peneguhan iman dalam gereja Protestan, biasanya ditempuh remaja sebelum boleh ikut Perjamuan Kudus; Kertas surat udara: kertas surat biru muda yang sangat tipis dan ringan, dijual di kantor pos supaya ongkos kirim lebih murah; Sekolah Rakyat: sebutan sekolah dasar pada masa kolonial akhir sampai tahun 1950-an; Pelni: perusahaan pelayaran milik negara yang melayani kapal penumpang antarpulau.
Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.





Tinggalkan Balasan