Les pèlerins au-dessus des nuages

Bagian III: Rahasia Ombak · Bab 11

Raka menunggu kalimat berikutnya.

Ia menunggu dengan punggung tegak di tepi ranjang, seperti murid yang menunggu soal kedua dibacakan, dan kalimat itu tidak datang. Oma sudah berhenti memandangnya. Mata yang tadi tidak tersesat ke mana pun kini turun ke kertas biru di pangkuannya. Tangannya turun juga, mencari kertas itu, menemukannya, menggenggamnya. Bahunya mulai bergetar.

Raka mengira itu tangis. Selama beberapa tarikan napas ia bahkan merasa berhak atasnya. Ada satu pertanyaan di tenggorokannya, pertanyaan yang sudah berumur dua puluh satu tahun meski baru lima menit ia ketahui bentuknya, dan ia mengucapkannya lebih keras dari yang ia kehendaki.

“Kenapa, Oma? Kenapa Oma tulis begitu?”

Gigi Oma beradu. Ia bisa mendengarnya, bunyi kecil dan cepat seperti kerikil di dalam kaleng.

“Dingin,” kata Oma.

Malam itu tidak dingin. Tidak pernah ada malam yang dingin di Ohoi Woma, hanya malam yang berangin, dan malam ini angin pun tidak ada. Raka mengulurkan tangan. Punggung jarinya menyentuh pipi neneknya, lalu tertarik kembali, seperti tangan orang yang menyentuh periuk di atas tungku.

Ia membaringkan Oma. Tubuh itu tidak melawan, dan ringannya mengejutkan dia lagi, seperti setiap kali. Ia menyelimutinya dengan sarung, lalu dengan sarung kedua, lalu dengan selimut dari kamarnya sendiri, dan gemetar itu terus berjalan di bawah semua kain seperti perahu kecil di bawah ombak. Pelita ia dekatkan. Ia memeriksa apa saja yang bisa ia periksa, tanpa tahu apa yang ia cari, sampai ia tiba di kaki kanan dan mencium sesuatu yang lain dari bau kapas dan obat merah.

Kasa yang dipasang Sari hari Sabtu sudah kelabu. Oma memakainya berjalan ke gereja, ke sumur, ke beranda, dan tak seorang pun mengganti apa-apa, sebab orang yang biasa menggantinya sedang berbaring di Tual dengan dua bantal di punggung. Raka membuka lilitannya pelan-pelan. Luka panjang di punggung kaki itu sudah tidak lagi berupa garis. Bibirnya bengkak dan mengilap, dan warna merah merambat dari sana ke arah pergelangan kaki, seperti air pasang yang naik di pasir. Ketika ia meletakkan telapak tangannya di atas kulit itu, panasnya terasa sampai ke siku.

Ia berdiri di ruang depan dengan pelita di tangan dan tidak tahu mau ke mana.

Polindes kosong. Abdul belum pulang dari Tual. Di dinding, di bawah nyala kecil itu, jadwal dari kertas bungkus rokok menatapnya dengan huruf-huruf besar Mama Ani, dan ia mendengar kalimat perempuan itu sejelas kalau ia berdiri di sini: lain kali jangan tunggu Oma hilang dulu baru datang minta.

Rumah Mama Ani ada di dekat sumur. Raka berlari tanpa sandal. Ia sudah menyiapkan kata-kata, seperti biasa, kalimat panjang yang sopan dengan permintaan maaf di depannya karena malam sudah larut, tetapi ketika pintu papan itu terbuka dan Mama Ani berdiri di sana dengan rambut tergerai dan pelita di bawah dagu, yang keluar dari mulutnya hanya empat kata.

“Mama. Beta minta tolong.”

Mama Ani memandangnya sebentar. Di belakangnya seorang anak bergumam dalam tidur, dan seorang lagi, dan seorang lagi; barangkali memang tujuh.

“Nah,” kata Mama Ani. Ia sudah mengikat rambutnya sebelum selesai bicara. “Itu baru.”


Polindes berbau dingin. Sejak Minggu malam tidak ada yang menyalakan api di sana, dan bau kapur barus sudah mengambil alih seluruh ruangan. Seseorang, Neles barangkali, sudah merapatkan pintunya dan menaruh kursi kayu itu kembali di tempatnya. Tidak ada yang melihat sandal jepit hijau di bawah meja. Raka memungutnya, memegangnya sejenak, lalu menaruhnya di dekat pintu dengan ujung menghadap ke dalam, seperti sandal orang yang akan pulang.

Pelita membuat lemari kaca itu penuh bayangan. Ia tidak pernah membuka lemari ini. Botol-botol cokelat itu berlabel plester, dan di atas setiap plester ada tulisan Sari, huruf-huruf miring yang terburu-buru itu. Parasetamol 500. Dewasa satu, tiga kali. Ia mengambil sepuluh butir dan membungkusnya dengan kertas dari buku register, lalu menulis di halaman yang sama apa yang ia ambil dan hari apa, karena ia tahu Sari akan menghitung.

Di rak paling atas ada kotak karton kecil yang sudah tinggal separuh. Kata di sisinya berakhir seperti nama suntikan yang disebut dokter PTT itu. Pada plester yang melintang di tutupnya Sari menulis dengan huruf yang lebih besar.

Ose tidak tahu berapa, jangan sentuh.

Raka berdiri lama di depan kalimat itu. Ose siapa? Tidak ada yang berhak membuka lemari ini selain Sari sendiri. Barangkali ia menulisnya untuk dirinya yang capek, untuk jam-jam ketika matanya sudah tidak mau membaca. Barangkali untuk siapa saja yang kelak datang sesudah dia. Raka mengangkat tangannya dari kotak itu. Ia juga mengambil alkohol, yang tinggal segaris di dasar botol, dan kasa, dan keluar.


Mama Ani sudah menguasai rumah itu ketika ia kembali. Api menyala di tungku, air garam menghangat di baskom, dan dari dapur terdengar bunyi bawang merah diiris cepat di atas talenan. Oma sudah berhenti menggigil. Itu lebih buruk. Wajahnya memerah gelap dan bibirnya kering dan terbelah, dan matanya terbuka sedikit, tidak memandang apa pun.

Mereka memberinya tablet itu dengan sendok, digerus dalam air, setetes-setetes, dan separuhnya kembali lewat sudut bibir. Mereka mencuci luka di kaki dengan air garam sementara Oma merintih seperti anak anjing, lalu Raka menuang alkohol yang segaris itu dan Oma berteriak, satu kali, dalam bahasa Kei. Mama Ani melumurkan bawang yang sudah dilumat dengan minyak kelapa ke telapak kakinya yang sehat dan ke dadanya. Raka tidak bertanya untuk apa. Ia memeras kain di air sumur dan meletakkannya di dahi neneknya, dan ketika kain itu hangat ia memerasnya lagi.

Kerjanya sederhana. Ia menemukan iramanya sesudah beberapa kali: celup, peras, lipat dua, letakkan, hitung sampai seratus, angkat. Tangannya bisa melakukannya sendiri, dan itu berarti kepalanya bebas, dan itu yang tidak ia kehendaki.

Beta yang tulis badai.

Ia memandang wajah di bawah kain basah itu. Wajah yang mengoleskan minyak kayu putih ke pelipisnya waktu ia demam. Tangan yang memukulnya dengan sendok kayu. Perempuan yang berdiri di hadapan satu gereja selama puluhan tahun memberi nada pertama, dan yang pada suatu hari di akhir 1974 duduk, entah di meja mana, dan menuliskan kata itu di atas kertas. Mengatakan kepada pemerintah di Tual bahwa anaknya sendiri kalah oleh cuaca. Lalu membesarkan cucunya di dalam kata itu seperti orang membesarkan anak di dalam rumah, dua puluh satu tahun, tanpa satu kali pun tangannya gemetar waktu menyuapkan bubur.

Badai tidak bisa dibenci. Orang bisa.

Ia mencoba. Ia sungguh-sungguh mencobanya, di sana, di tepi ranjang, sambil memeras kain. Ia ingin tahu seperti apa rasanya. Air menetes dari sela jarinya ke baskom. Dahi di bawah tangannya panas seperti batu yang seharian dijemur, dan dari dalam tenggorokan yang kering itu keluar bunyi kecil yang haus, dan ia menyelipkan tangan di bawah tengkuk neneknya dan mengangkat kepalanya supaya air dari sendok bisa masuk.

Ia hitung sampai seratus. Ia celup lagi.


Ayam belum berkokok ketika Oma mulai bicara.

Mula-mula dalam bahasa Kei, cepat dan rendah, dengan nada orang yang berbantah di balik dinding. Raka membungkuk. Ia hanya menangkap bunyinya, tinggi dan turunnya, seperti mendengar percakapan dari perahu lain di malam gelap. Lalu kalimat itu berganti, tanpa batas, seperti air tawar masuk ke air asin, dan tiba-tiba ia mengerti.

“Itu perahu tidak boleh pergi.”

Ia berhenti memeras kain.

“Tidak boleh pergi. Beta su bilang. Ose bilang dorang, itu perahu tidak boleh pergi.” Tangan Oma keluar dari bawah sarung dan menangkap pergelangan tangannya. Tangan kiri. Yang kanan masih mengepal di dada, menggenggam kertas biru yang tidak bisa dibuka oleh siapa pun sejak tadi. “Marthen. Marthen, air tenang begini jangan ose percaya.”

“Oma…”

“Siapa kasih turun perahu itu?”

Raka melepaskan pergelangannya pelan-pelan, satu jari demi satu jari, dan bangkit. Buku rencana pelajarannya ada di meja kecil di bawah salib. Ia membawanya ke tepi ranjang bersama pensil, membukanya di halaman paling belakang, dan tanpa berpikir, karena tangannya sudah melakukan itu sepanjang pagi di depan delapan belas anak, ia menulis di sudut kanan atas: Ohoi Woma, Selasa malam.

Tempat dan tanggal.

Lalu ia menulis apa yang ia dengar, persis, seperti Yosef menulis di buku utang. Bagian bahasa Kei ia tuliskan menurut bunyinya saja, dengan tanda tanya, supaya kelak bisa ia tanyakan. Ia tidak tahu siapa yang akan ia tanyai. Ia tidak menulis apa yang ia pikirkan. Di antara dua ucapan ia celup, peras, lipat, letakkan. Pensilnya basah oleh tangannya, dan huruf-hurufnya kelabu dan lembap.

Perahu tidak boleh pergi (3 kali). Air tenang jangan percaya. Siapa kasih turun perahu?

Di dapur, bunyi Mama Ani menggeser kayu bakar. Lalu Oma tertawa. Tawa pendek, kering, tawa seseorang yang mendengar harga yang terlalu tinggi.

“Beta su janji,” katanya kepada langit-langit kelambu. “Beta su janji sama kewang. Kurang apa lagi? Beta punya tangan, beta punya tulisan, ambil sudah.” Suaranya turun, menjadi suara yang Raka kenal dari gereja, suara yang menetapkan nada. “Janji sama kewang tidak bisa dibawa ke Tual. Tidak bisa dibawa ke Ambon. Ose dengar, Yuliana? Kasih kembali itu pena.”

Janji sama kewang. “Beta punya tangan, beta punya tulisan, ambil sudah.” Tidak bisa dibawa ke Tual, ke Ambon. Yuliana: kasih kembali pena.

Pensil Raka berhenti. Ia mendengar sesuatu di belakangnya dan menoleh. Mama Ani berdiri di ambang pintu kamar dengan cerek di tangan. Ia tidak tahu sudah berapa lama. Wajah lebar itu, wajah yang selalu lebih dulu sampai ke mana-mana, tiba-tiba seperti rumah yang pintunya ditutup dari dalam.

“Orang demam bicara macam-macam,” kata Mama Ani. Ia meletakkan cerek di lantai dan tidak masuk.

Oma berbisik sekarang. Raka harus mendekatkan telinganya sampai ia mencium bau bawang dan bau napas yang panas, napas orang yang sudah tidak minum.

“Satu perahu, Yuliana,” bisik Oma, sabar sekali, seperti menjelaskan kepada anak kecil. “Satu perahu. Semua dapur.”

Ia menulisnya. Ia memandang empat kata itu lama. Lalu ia membuka bagian tengah kepalanya, tempat ia menyimpan kertas biru yang sudah ia baca tiga kali, dan menaruh kalimat-kalimat itu di sampingnya. Mereka tanya, siapa mau datang ke Ambon bicara? Beta tidak bisa jawab, Mama. Mama tahu kenapa beta tidak bisa jawab. Ia sudah mengira ada ketakutan di balik kalimat itu, kampung yang takut kepada orang berkuasa di Tual. Sekarang ia melihat ada sesuatu yang lain di sana, yang lebih tua dari ketakutan. Satu kampung tidak mau bicara, sebab mereka sudah berjanji. Dan orang yang mengikat janji itu dengan tulisan tangannya sendiri sedang terbaring di sini dengan kain basah di dahi.


Ayam pertama sudah lewat ketika panas itu naik ke puncaknya.

Raka tahu dari tangannya. Kain tidak lagi sempat dingin sampai hitungan seratus, tidak sampai lima puluh. Napas Oma berubah cepat dan dangkal, dan ia berhenti bicara. Mama Ani akhirnya masuk. Ia duduk di sisi lain ranjang, memegang kaki Oma yang sehat dengan dua tangan, dan bibirnya bergerak. Doa Bapa Kami, lalu doa yang lain, lalu Bapa Kami lagi. Pasang sudah penuh. Dari jendela kamar yang terbuka terdengar laut bekerja di bawah tanah yang tinggi itu, berat dan teratur, dan bau asin masuk sampai ke kelambu, begitu kuat sehingga Raka menyentuh lantai untuk memastikan lantai itu kering.

Oma memalingkan wajahnya. Dengan sisa tenaga yang entah dari mana, kepalanya berputar di atas bantal, menjauhi Raka, menghadap ke jendela.

Raka mengikuti arah wajah itu.

Jendela kamar Oma menghadap ke selatan, ke tanjung, dan di sudut bawahnya, di celah antara kusen dan bayangan pohon jambu air, ada sepotong laut yang gelap. Ia sudah berkali-kali melihat ke sana malam-malam sejak kembali, dari jendela kamarnya, dari ujung dermaga, dan tidak pernah ada apa-apa sejak subuh pertama itu. Sekarang di sana ada setitik kuning. Kecil dan tidak berkedip. Letaknya di luar karang, di tempat air berubah menjadi biru hitam, dan cahaya itu tidak bergerak naik turun seperti lampu perahu.

Ranjang berderit. Mama Ani sudah berdiri. Ia melintasi kamar itu dengan tubuhnya yang lebar, tanpa menoleh ke luar sekejap pun, dengan mata ke lantai seperti orang yang berjalan melewati orang mandi, dan menarik daun jendela papan itu sampai tertutup. Palangnya ia pasang. Lalu ia kembali ke tempatnya dan memegang kaki Oma lagi.

“Mama lihat?” kata Raka.

“Beta tidak lihat apa-apa.”

“Mama…”

“Beta tidak lihat apa-apa, Nyong.” Ia tidak mengangkat matanya. “Peras ose punya kain.”

Raka memeras kainnya.

Entah berapa lama sesudah itu, kamar yang tertutup itu mulai pengap dan pelita mulai berasap, dan ia melihat setitik air muncul di pelipis Oma, di bawah garis rambut putih yang tipis. Ia mengira itu air dari kain. Lalu muncul setitik lagi, di atas bibir, dan di leher. Dalam beberapa menit seluruh wajah itu basah, dan kebaya tidurnya basah, dan sarung yang berlapis-lapis itu lembap di bawah tangannya. Napas Oma memanjang. Satu tarikan panjang, lalu satu lagi. Mama Ani berhenti berdoa di tengah kalimat dan mengembuskan napasnya sendiri, dan bunyinya seperti orang menurunkan karung.

Mereka mengganti kebayanya bersama-sama, seperti melipat kain yang sangat tua. Ketika itulah kepalan tangan kanan Oma terbuka, sendiri, tanpa diminta. Kertas biru itu jatuh ke seprai dalam keadaan lembek dan keriput. Raka memungutnya dengan kedua tangan. Keringat satu malam sudah masuk ke lipatannya; tinta di bagian luar menyebar seperti akar halus, dan satu kata yang ditulis Yuliana dua puluh tahun lalu di Ambon, Mama, kini hanya bayangan biru yang tidak bisa dibaca kalau orang belum tahu apa bunyinya.

Sisanya ada di telapak tangan Oma. Noda biru pucat di tengah garis-garis tangan yang dalam, bentuknya tidak jelas, seperti pulau di peta yang digambar anak-anak.

Mama Ani melihatnya. Ia mengambil kain basah dari tangan Raka untuk mengelapnya, lalu tidak jadi. Ia menyelimutkan tangan itu begitu saja.


Mereka duduk di dapur, di lantai, dengan pintu belakang terbuka. Langit di atas Kei Besar belum terang, tetapi sudah kehilangan kepastiannya. Mama Ani memegang gelas kopi dengan dua tangan dan tidak minum. Raka membuka buku itu di lututnya, dan menulis di bawah semua catatan tadi, pelan-pelan, sambil memilih kata. Bukan untuk dirinya.

Sari. Oma demam tinggi sejak malam tadi. Luka panjang di kaki kanan bengkak, merah sampai pergelangan, panas. Parasetamol dua butir (beta ambil 10, sudah beta catat). Pagi ini panas turun. Kotak di rak atas tidak beta sentuh. Ose bilang berapa. Raka.

Ia merobek halaman itu dengan hati-hati dan melipatnya. Om Dominggus akan ke Tual kalau diminta. Ia tidak tahu apakah Sari sudah boleh membaca surat, atau apakah mamanya akan membacanya lebih dulu.

“Mama,” katanya, tanpa mengangkat kepala. “Waktu Bapa hilang, Mama su di sini?”

Mama Ani diam begitu lama sehingga ia mengira perempuan itu tertidur dengan mata terbuka.

“Beta baru kawin,” katanya akhirnya. “Perut besar. Yang sulung.” Ia memutar gelas di tangannya. “Oma nyanyi di pantai tiga malam. Ose su dengar itu dari orang. Sesudah malam ketiga suaranya habis, tidak ada lagi, cuma angin keluar dari mulut. Hari keempat beta bawa air ke sini, karena tidak ada yang masak di rumah ini. Bapa-bapa tua ada di ruang depan. Duduk di tikar. Pintu ditutup, siang-siang, panas begitu.” Ia berhenti. “Beta taruh air di belakang, beta pulang. Itu yang beta lihat.”

“Siapa bapa-bapa tua itu?”

“Su mati semua.” Mama Ani akhirnya minum, satu teguk, dan meringis seolah kopinya pahit, padahal ia sendiri tadi yang menambah gula. “Tinggal satu. Bapa Kedua. Dan Bapa Kedua tidak bicara dengan orang yang tidak dia panggil. Jangan tanya beta lagi, Nyong. Beta punya anak tujuh.”

Jadi tujuh. Raka mengangguk. Ia menyadari ia baru saja akan tersenyum, dan bahwa wajahnya sudah terlalu lelah untuk melakukannya.

Mama Ani bangkit dengan satu tangan di pinggang. Sebelum pulang ia menjenguk ke kamar. Oma tidur dengan mulut sedikit terbuka, dan dadanya naik turun dengan teratur, dan bau bawang memenuhi kelambu. Dahinya masih hangat, tetapi hangat orang, tidak lagi hangat batu. Mama Ani membetulkan sarungnya, lalu berjalan melewati ruang depan menuju beranda, dan Raka mengikuti dengan kertas terlipat di tangan, karena hari sudah cukup terang untuk mencari Om Dominggus.

Perempuan itu berhenti di ambang pintu.

Ia berhenti begitu tiba-tiba sehingga Raka nyaris menabrak punggungnya. Mama Ani tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri, dan tangannya, yang tadi di pinggang, turun perlahan ke samping.

Raka melihat lewat bahunya.

Tiga anak tangga kayu. Pagar bambu yang miring. Pohon jambu air, hitam di atas langit yang mulai pucat. Dan di tanah, tepat di kaki tangga, tepat di tempat orang harus meletakkan kaki kalau hendak turun, ada sebatang kayu seukuran lengan yang ditancapkan tegak. Di ujungnya terikat seikat janur kelapa, kuning muda dan masih basah oleh embun. Tidak ada satu helai pun yang layu.

Ia tahu benda itu. Setiap anak Kei tahu. Ia sudah melihatnya di batang-batang kelapa, di pinggir kebun, di karang yang sedang ditutup, dan setiap anak tahu apa yang terjadi kalau tangan melewati tanda itu. Hawear. Ia belum pernah seumur hidup melihatnya di depan pintu rumah orang.

Tidak ada jejak yang bisa ia baca di tanah yang keras. Semalaman ia terjaga. Semalaman pelita menyala di rumah ini, dan tidak ada anjing yang menyalak.

“Mama,” katanya. Suaranya serak. “Apa yang ditutup?”

Mama Ani berpaling. Ia tidak memandang wajah Raka. Ia memandang buku rencana pelajaran yang terjepit di bawah ketiaknya, buku dengan halaman belakang yang penuh tulisan pensil, lalu ia memandang kertas terlipat di tangannya, dan lalu mulutnya, lama, seperti orang yang menaksir berat ikan.

Kemudian ia berbalik, berjalan kembali melewati ruang depan dan dapur, dan keluar dari pintu belakang. Perempuan yang selama tiga tahun selalu datang dan pergi lewat tiga anak tangga itu pulang menyusuri pagar samping, lewat semak, supaya tidak perlu lewat di dekat tiang itu.

Angin pagi yang pertama datang dari laut. Janur di ujung kayu bergerak sedikit, lalu diam, seperti jari yang diletakkan di depan bibir.


Catatan kecil. Sasi: larangan adat di Maluku untuk mengambil hasil laut atau darat tertentu selama masa yang ditetapkan, supaya hasil itu pulih dan terbagi adil; Kewang: penjaga adat yang mengawasi berlakunya sasi di laut dan di darat; Hawear: sebutan orang Kei untuk sasi dan tandanya, biasanya janur kelapa yang diikat pada tiang atau batang pohon, pertanda tempat atau hasil itu sedang dilarang disentuh; Parasetamol: obat penurun panas dan pereda nyeri yang lazim tersedia di Polindes.

Bab 12: Kewang dan Sasi terbit Rabu, 4 November 2026, pukul 05.00 WIB.

Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan