Bagian III: Rahasia Ombak · Bab 14
Raka tidak bicara.
Ia mengambil pelita dari dapur, menemukan korek dengan tangan yang sudah hafal tempatnya dalam gelap, dan memasukkan kaki ke sandal tanpa melihat. Di kamar Oma kelambu tidak bergerak. Baru di pintu belakang ia berhenti, sebab pikirannya sampai pada satu hal yang belum ia hitung. Besok pagi kapsul kesebelas, dicampur bubur, dan di rumah ini tidak ada siapa-siapa.
Bunyi sandal yang tidak diangkat datang dari jalan setapak pagar samping. Perempuan berbadan kecil itu berhenti di bawah pohon jambu air dengan tikar tergulung di ketiak. Dua puluh tahun lalu tangan itu memegang sapu lidi. Rambutnya sudah kelabu, dan ia masih harus mendongak untuk memandang siapa pun yang pernah ia pukul.
“Kapsul di mana?”
“Di meja kecil, Mama, di bawah salib. Satu, dengan bubur. Mama, Sari…”
“Beta tahu Sari.”
Ia memandang anaknya, yang berdiri di ujung jalan setapak dengan satu tangan di dinding dan memandang ke tempat lain. Lalu ia memandang Raka. “Dokter itu orang Jawa, tapi dia tahu bicara dengan orang tua. Selasa beta su dengar semua. Ose kira ose saja yang pintar diam?”
Raka tidak punya jawaban. Semua yang ia jaga selama enam hari ternyata sudah dibawa pulang oleh perempuan ini di dalam tas kain, bersama jeruk dan sisir.
“Tadi beta larang dia, di depan orang itu. Beta bilang, ose pergi, ose mati di tebing. Ose tahu dia bilang apa? Dia bilang, Mama pegang beta punya tas sebentar, beta mau ikat sandal.” Tangan kecil itu mencengkeram pergelangan Raka. Keras, kering, dan lebih kuat daripada yang ia ingat. “Beta pukul kalian pakai lidi bertahun-tahun. Tidak pernah ada gunanya. Angkat dia baik-baik.”
Ia melepaskannya dan naik lewat pintu belakang. Dari balik kelambu suara Oma keluar, parau dan jelas, suara orang yang sudah menyapa tetangganya selama enam puluh tahun.
“Rahel? Ose su makan?”
Raka membawa nama itu ke luar, ke gelap.
Suami Mama Telly sudah disuruh Sari membangunkan Om Dominggus, tetapi air sedang kering. Jonson biru-putih itu duduk di atas pasir di balik karang, dan sebelum pasang naik tidak ada perahu yang bisa keluar dari Ohoi Woma. Jadi tinggal tebing. Mereka menyusuri pantai ke utara dengan langkah Sari, yang dalam gelap lebih pendek daripada langkah anak kelas satu. Raka berjalan di depan dan menahan diri setiap sepuluh langkah. Sari tidak batuk. Ia menyimpan batuknya seperti orang menyimpan uang.
Di kaki tanjakan pertama Raka berjongkok, membelakanginya.
“Naik.”
“Beta bukan karung enbal.”
“Ose mau bicara,” kata Raka, “atau ose mau naik?”
Sebentar tidak ada suara selain ombak. Lalu dua lengan melingkar di lehernya, tas kain itu membentur rusuknya, dan pelita berpindah ke tangan yang terulur di samping pipinya. Ia berdiri. Ia sudah bersiap untuk berat seorang perempuan dewasa, dan tubuhnya hampir terhuyung ke depan karena yang terangkat lebih ringan dari itu. Ia pernah mengangkat karung beras di Passo. Tidak ada yang mengajarinya bahwa seorang bidan bisa seringan ini.
“Tulang punggung ose macam dayung,” kata suara di belakang telinganya. “Kiri sedikit. Di situ batunya lepas.”
Ia naik. Karang tajam menembus sandal. Bayangannya sendiri berayun di depan, besar dan berkepala dua. Di tanjakan kedua napasnya mulai berbunyi, dan di dekat puncak ia mendengar bunyi yang lain, yang tidak datang dari telinga. Di antara tulang belikatnya, menembus blus dan kemeja, ada sesuatu yang memukul. Pukulan itu datang, berhenti, datang dua kali cepat, berhenti lama sekali, lalu datang lagi. Ia pernah merasakannya, kemarin, di bagian dalam pergelangan tangan, sambil berdiri di laut sampai pinggang. Ia berjalan terus. Ia tidak ingin tahu apa artinya.
“Ose jangan tanya beta takut atau tidak,” kata Sari.
“Beta tidak tanya.”
“Bagus.”
Di tempat yang tinggi angin datang dari timur dan api pelita merunduk. Sari memagarinya dengan telapak tangan, dan cahaya merah menembus jari-jarinya.
Rumah Mama Telly berdiri di tengah ohoi, berdinding gaba-gaba, dan pintunya terbuka. Dari jauh sudah tercium bau yang Raka kenal dari pasar ikan dan yang tidak pernah ia kira akan ia temukan di dalam rumah. Di ambang pintu berdiri perempuan tua yang dulu menatapnya lama dan bertanya apakah ia anak Marthen. Ia memandang Raka yang menurunkan Sari dari punggungnya. Ia tidak bertanya apa-apa soal itu, dan Raka tahu pertanyaan tersebut hanya ditunda.
Sari berdiri sampai hitungan dua puluh, satu tangan di tiang. Lalu ia masuk, dan Raka melihat punggung itu menjadi lurus di dalam pintu.
Mama Telly berbaring di dipan dengan wajah sewarna abu tungku. Kain di bawahnya basah, gelap, nyaris hitam, tidak sebanyak yang dibayangkan Raka dari suara suaminya. Dari depan pintu ia melihat tangan Sari menekan perut itu di beberapa tempat, dan ia mendengar perempuan di dipan itu menjerit dengan mulut tertutup. Sari menempelkan corong kayu, menunduk, memejamkan mata, dan melihat jam kecil yang ia lepaskan dari tangannya sendiri. Lama sekali. Ia memindahkan corong itu dan menghitung lagi.
Kemudian ia keluar dan duduk di bangku di bawah cucuran atap. Ia butuh waktu untuk mulai.
“Perut keras macam papan. Tidak lembek-lembek di sela sakit. Darah yang keluar cuma sebagian. Yang lain ada di dalam, di belakang ari-ari.” Tarik napas. “Ari-ari su lepas dari tempatnya sebelum waktu. Anak itu makan dan bernapas dari situ, Raka. Detaknya sembilan puluh. Ose ingat Sina punya? Seratus empat puluh. Macam orang dayung belan.”
“Tual.”
“Air naik dua jam lagi. Sesudah itu jonson sampai sini, sesudah itu empat jam ke Tual, kalau laut baik. Anak ini tidak punya enam jam. Beta tidak tahu dia punya satu.” Ia memandang tangannya, membalik, memandang telapaknya. “Mulut rahim su lebar. Kepala rendah. Kalau ketuban beta pecahkan sekarang dan beta pimpin dia, anak itu bisa keluar di sini. Sesudah itu ari-ari. Sesudah itu darah, dan itu yang bunuh dorang punya mama kalau orang lengah. Dua jam, tiga jam. Berlutut di dipan itu.”
Raka mengingat suara dokter muda itu, asap kretek, mata merah. Menolong persalinan semalam suntuk. Ia berjongkok supaya wajahnya sejajar dengan wajah Sari.
“Mama tua itu su sambut seratus anak. Ose duduk di sini. Ose bilang, dia kerja.”
“Dia tidak bisa dengar jantung.”
“Sari. Dokter bilang…”
“Beta yang pegang amplop itu, Raka. Dua tahun. Ose kira beta lupa isinya?” Suaranya tidak naik, sebab ia tidak punya udara untuk itu. Ia menyelipkan dua jari ke tas, mengeluarkan bungkus kertas kecil, dan menelan sebutir tablet putih tanpa air. “Beta tahu nama tiga mama itu. Beta tahu dorang punya anak yang sekarang makan di rumah orang. Ose su tanya kenapa beta pulang. Jawabannya ada di dalam, di atas dipan. Kalau beta tinggal di bangku ini supaya beta bisa hidup tiga tahun lagi, ose mau beta pakai untuk apa tiga tahun itu?”
Dari dalam rumah terdengar jeritan yang tertutup itu lagi, lebih pendek.
Raka membuka mulutnya. Semua yang ia ketahui tentang berdebat ada di sana, kuliah, skripsi, kalimat bapanya, dan tidak ada satu pun yang bisa dipakai. Sari memandangnya dan barangkali melihat semua itu lewat, sebab ujung bibirnya bergerak sedikit.
“Lagi pula beta tidak bisa lama berlutut. Kalau napas habis, beta harus tegak, dan tidak ada yang bisa tahan beta tegak. Ose duduk di belakang beta.”
“Di dalam?”
“Ose kira untuk apa beta bawa ose sampai sini? Pelita?”
Perempuan tua itu menghalangi pintu dengan badannya ketika ia melihat Raka hendak masuk. Laki-laki tidak masuk ke tempat ini. Di ohoi mana pun, sejak dulu. Sari tidak berhenti berjalan.
“Dia bukan laki-laki, Mama,” katanya. “Dia beta punya tiang.”
Maka Raka Notanubun, Sarjana Pendidikan, duduk di ujung dipan dengan wajah menghadap dinding gaba-gaba, punggung tegak, dua kaki menjejak tanah, dan seorang perempuan bersandar padanya dari dada sampai pinggul. Ia menghitung pelepah di dinding. Tiga puluh satu. Ia mendengar bunyi kecil air yang pecah, dan bau itu bertambah. Ia mendengar suara Sari dalam potongan-potongan pendek, tiga kata, berhenti, tiga kata, sekarang, tahan, sekarang, Mama, sekarang. Setiap kali ia menunduk ke depan, beratnya meninggalkan Raka. Setiap kali ia kembali, kepalanya jatuh ke bahu Raka, dan di sana ada napas yang semakin basah, dan ia menopangnya dan memandang pelepah ketiga puluh satu dengan mata kering, seperti tiang.
Berapa lama, ia tidak pernah tahu. Ayam pertama sudah lewat. Pukulan di punggungnya berlari, tersandung, berlari lagi.
Lalu ada suara lain di ruangan itu, suara cairan dan sesuatu yang licin, dan suara perempuan tua: “Ah.” Lalu tidak ada apa-apa.
Tidak ada apa-apa.
Raka menoleh. Ia tidak diizinkan, dan ia menoleh. Di atas kain di lutut Sari ada anak yang panjang dan biru keabu-abuan, tangannya terkulai seperti sirip ikan yang sudah lama di darat. Sari menyedot lendir dari hidung kecil itu dengan selang karet, meludah, menggosok punggungnya dengan handuk. Keras. Sekali lagi. Perempuan tua itu mulai berbisik sesuatu dalam bahasa Kei. Sari membungkuk, menutup hidung dan mulut anak itu dengan mulutnya sendiri, dan meniup. Tiup yang sangat kecil, sepipi saja, seperti meniup bara yang tinggal satu. Ia mengangkat wajah, mengambil napas, dan bunyi napas itu mengerikan. Ia membungkuk lagi. Satu. Dua. Tiga.
Raka tahu dari mana udara itu diambil. Ia baru saja memikulnya naik tebing. Di sana hampir tidak ada apa-apa lagi, dan yang hampir tidak ada itu sedang diberikan semuanya.
Empat. Lima.
Dada biru itu bergerak sendiri. Satu sentakan. Mulutnya terbuka, tertutup, lalu dari benda sekecil itu keluar bunyi seperti pintu berkarat, kemudian lagi, lebih panjang, dan warna merah naik dari dadanya ke leher seperti pasang naik di atas karang.
Di luar, di bawah cucuran atap, seseorang mulai menangis tanpa ditahan.
“Perempuan,” kata Sari. Hanya gerak bibir. “Jangan berhenti. Mama. Perut.”
Ia memberi suntikan di paha Mama Telly dengan tangan yang tidak gemetar. Ari-ari keluar disertai gumpalan hitam sebesar dua kepalan, yang diangkatnya dan diperlihatkan kepada perempuan tua itu seperti memperlihatkan bukti. Perempuan tua itu menaruh kedua tangannya di atas perut Mama Telly dan menggosok, menggosok, sesuai perintah, sampai perut itu mengeras di bawah telapak tangannya seperti buah yang tiba-tiba matang. Darah melambat. Sari menghitung kain. Ia menyuruh bayi itu diletakkan di dada ibunya. Ia menanyakan apakah Mama Telly bisa mendengarnya, dan Mama Telly, dengan bibir putih, berkata iya.
Setelah itu ia menoleh ke arah Raka seakan hendak mengatakan sesuatu yang lucu, dan batuk. Batuknya panjang dan tidak bisa lagi dilipat ke dalam handuk. Busa merah muda keluar di sudut mulutnya, turun ke dagu, jatuh ke blus krem. Di bawah pelita semua orang di ruangan itu melihatnya.
Perempuan tua itu memandang blus itu. Ia sudah menyambut seratus anak dan menutup mata lebih banyak orang lagi. Ia mengambil kain bersih, menyeka dagu Sari, melipatnya dengan bagian merah ke dalam, dan memandang Raka di atas kepala bidan itu.
“Orang kecapekan,” katanya. “Begitu, to?”
Raka memegang Sari dengan dua tangan. Tubuh itu tidak lagi bersandar padanya. Tubuh itu jatuh padanya.
Mereka mendudukkannya di kursi yang diganjal bantal, dekat pintu yang terbuka, tempat udara lewat. Tablet kedua ia telan dari tangan Raka. Sesudah itu tidak ada yang bisa dilakukan selain menunggu air naik. Raka duduk di tanah di samping kursi dengan satu tangan memegang kaki kursi, seolah kursi itu bisa berlayar. Kemejanya menempel di punggung. Ketika ia menyentuh bahunya, jarinya merah muda.
Perempuan tua itu keluar membawa dua gelas kopi. Satu ia taruh di dekat lutut Raka. Yang satu ia pegang sendiri, dan ia berdiri memandang gelap di arah laut, dengan tangan yang masih berbau darah dan minyak kelapa.
“Marthen juga begitu,” katanya. “Orang bilang jangan, dia angkat saja.”
Raka mengangkat kepala. “Angkat siapa, Mama?”
Perempuan itu meniup kopinya. Lama. Di dalam rumah bayi itu berhenti menangis dan mulai mencari.
“Minum, Nyong. Ose masih harus angkat dia sekali lagi.”
Jonson biru-putih merapat di pantai ohoi sebelah ketika langit di atas Kei Besar mulai pucat, dengan Abdul di haluan. Abdul melihat apa yang ada di dipan dan apa yang ada di pelukan Raka, dan untuk pertama kali selama hidupnya ia tidak mengatakan apa pun yang berbau lelucon. Mama Telly diangkat dengan pintu rumahnya sendiri, yang dilepas suaminya dari engsel. Bayi itu dibawa di dalam kain, di dada ibunya. Sari duduk di lambung jonson di antara kaki Raka, tegak, sebab hanya tegak ia bisa bernapas. Air di luar tanjung sudah penuh dan rata. Om Dominggus melihat ke barat daya sekali, lalu menjalankan mesinnya sampai ke batas yang belum pernah Raka dengar.
Minggu pagi di Tual lonceng gereja sudah berbunyi ketika pikap pedagang Buton itu berhenti di tangga berpot bunga. Dokter muda itu keluar ke selasar dengan rambut basah. Ia memandang Sari, memandang Raka, dan memandang jam tangannya.
“Kemarin jam sepuluh saya tanda tangan surat pulangnya,” katanya.
Tidak ada yang menyahut. Selang oksigen, tabung hijau, jarum di punggung tangan yang sama, dengan memar kemarin masih di sana. Di ujung bangsal, di ranjang yang lain, Melki, suami Mama Telly, yang lengannya baru diikat dengan kain kasa, duduk memandang botol darahnya sendiri turun ke tubuh istrinya. Sesudah semua itu dokter itu duduk di bangku kayu di samping Raka dan mengeluarkan kretek. Ia tidak menyalakannya.
“Solusio. Di kampung, jauh dari mana-mana, tengah malam, dan anaknya hidup, ibunya hidup. Siapa yang tolong?”
Raka memandang ke ujung bangsal yang satunya.
Dokter itu lama diam. Ia memutar rokok di antara jari-jarinya. “Saya sekolah enam tahun, Pak,” katanya. “Kalau katup seperti itu yang masuk ujian, saya akan tulis, pasien ini tidak bisa berjalan ke kamar mandi.” Ia mengembalikan rokok ke bungkusnya. “Air di parunya bisa saya tarik. Sekali ini. Dia harus ke Ambon, secepatnya kapal ada, saya tulis rujukan. Dan tembusannya saya kirim ke Puskesmas. Jangan minta saya diam. Kalau dia mau marah, biar marah kepada saya.”
Raka tidak memintanya. Ia hanya mengangguk. Ia heran pada tubuhnya, yang lelah sampai ke gigi, dan pada rasa yang pelan-pelan naik di belakang kelelahan itu, yang setelah ia periksa ternyata lega, dan ia malu.
Menjelang tengah hari Sari membuka mata. Bibirnya kembali berwarna, warna orang sakit tetapi warna. Ia memandang langit-langit, kipas angin, selang, dan terakhir Raka. Tangannya bergerak di atas selimut, mencari sesuatu. Raka menaruh jam kecil itu di telapaknya.
“Berapa detaknya tadi?”
“Anak itu? Beta tidak tahu. Keras. Dia menangis dari tanjung sampai dermaga.”
Tirai di ujung ranjang tersibak. Melki berdiri di sana dengan lengan berbalut, topinya di tangan, dan sesudah itu berkata dengan susah payah bahwa Telly menyuruhnya datang. Bayi mereka belum punya nama. Telly bilang, kalau Ibu Bidan izinkan, mereka mau kasih nama Sari.
Sari memandangnya beberapa lama. Selang di hidungnya mendesis.
“Jangan,” katanya. “Beta masih pakai.”
Melki tertawa, lalu menangis, lalu pergi sambil membungkuk-bungkuk, menabrak ujung ranjang orang lain. Raka memandang lantai. Di lantai itu ada semut berbaris membawa remah biskuit. Ia ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin mengatakan bahwa dokter menulis surat, bahwa tiga puluh satu pelepah, bahwa ia mendengar jantungnya dari punggung di tanjakan kedua dan bunyinya sama dengan bunyi di air. Ia marah, dan ia tidak bisa menemukan siapa yang harus ia marahi.
“Beta su pilih,” kata Sari. “Ose tidak usah bikin muka begitu.”
“Beta tahu.”
“Beta pilih lagi kalau malam ini ada lagi.”
“Beta tahu, Sari.”
Ia diam. Tangannya menggenggam jam kecil itu, dan jarum detiknya bergerak di antara jari-jari. Kipas di atas mereka berputar, lambat, seperti sesuatu yang belum memutuskan.
“Malam itu beta dengar Oma,” katanya. Suaranya lebih pelan, dan Raka harus mendekat. “Di jendela. Ombak akan memanggilnya. Beta pikir, orang tua itu su lihat apa? Di gereja waktu dia nyanyi, beta takut macam anak kecil. Beta bidan, Raka. Beta tahu apa itu katup. Beta tetap takut sama lagu.” Tarik napas. Hitung. “Kalau beta mati, kuburkan beta di dekat dermaga.”
“Sari.”
“Jangan di belakang gereja. Di sana sunyi, dan semua orang su tidak bicara. Di dekat dermaga. Supaya beta masih bisa dengar ombak.”
Raka tidak menjawab. Ia mengambil tangan yang memegang jam itu, dan untuk pertama kali sejak mereka berumur dua belas tahun tangan itu tidak menariknya kembali. Ia merasakan jarum kecil itu berdetak melawan kulitnya, teratur, tidak peduli. Mereka tetap begitu sampai kipas dan semut dan bau karbol tidak lagi terasa seperti apa-apa, dan Sari tertidur dengan mulut sedikit terbuka, seperti waktu ia berumur sembilan tahun dan lututnya sebesar jambu.
Besok Senin. Ia ingat itu dari jauh, seperti mengingat nama seorang kenalan. Rencana pelajaran mesti lewat Pak Elias. Kertas Maria masih di dalam buku.
Bayangan tiang selasar sudah panjang ketika seseorang berdiri di pintu bangsal dan tidak masuk. Abdul. Pagi tadi ia pulang ke Woma bersama Om Dominggus membawa kabar, dan sekarang ia ada di sini lagi, dengan baju yang sama dan garam yang sudah kering di alisnya, dan Raka bangkit sebelum ia mengangkat tangan, sebab tidak ada orang yang berlayar ke Tual dua kali sehari untuk urusan yang bisa menunggu.
“Oma?”
Abdul menggeleng, mengangguk, lalu tidak tahu harus berbuat apa dengan kepalanya. Mereka berjalan ke ujung selasar.
“Tidak sakit. Kaki baik. Bukan itu.” Ia mengusap wajahnya dengan telapak tangan yang lebar. “Tadi sesudah Mama Rahel kasih bubur, Oma minta sisir. Dia gelung rambut sendiri. Dia pakai dia punya sandal, yang biru di kiri. Lalu dia duduk di kursi rotan, dan dia panggil Mama Rahel pakai nama, dan tanya Sari sakit apa, dan tanya hari apa, tanggal berapa, dan tahun berapa, Raka. Tahun.”
Angin dari pelabuhan membawa bau solar. Raka merasa kulit di lengannya mengencang satu per satu.
“Dia tahu sekarang tahun sembilan lima. Dia tanya siapa pasang kayu di dia punya tangga. Dia tidak marah. Mama Rahel bilang dia cuma pandang lama-lama.” Abdul menelan ludah. “Lalu dia tanya ose. Bukan Marthen, Nyong. Bukan Pak Guru. Beta dengar sendiri dari pintu belakang. Raka di mana, katanya. Bawa Raka pulang.”
Di belakang mereka, dari bangsal delapan ranjang itu, bayi kecil yang belum bernama mulai menangis lagi.
“Dia suruh beta bilang begini.” Abdul memandang ke laut, ke arah jonson yang menunggu dengan mesin hidup, dan mengucapkannya pelan-pelan, sepatah-sepatah, seperti anak yang disuruh menghafal. “Bilang dia cepat. Beta tidak tahu berapa lama beta ada di sini.”
Catatan kecil. Gaba-gaba: pelepah sagu yang dikeringkan, dipakai sebagai dinding rumah di Maluku; Solusio plasenta: lepasnya ari-ari dari dinding rahim sebelum bayi lahir, keadaan gawat bagi ibu dan bayi; Ergometrin: obat suntik yang membuat rahim berkontraksi untuk menahan perdarahan sesudah bersalin; Tembusan: salinan surat yang dikirim kepada pihak lain untuk diketahui.
Bab 15: Lucid Moment terbit Sabtu, 7 November 2026, pukul 05.00 WIB.
Kalau kisah Raka dan Ohoi Woma menemani pagimu, kamu bisa ikut menjaga nyala cerita ini dengan secangkir dukungan untuk penulis.





Tinggalkan Balasan