A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Dengan kecerdasannya, manusia telah memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan peradabannya. Dari hal-hal sederhana sebagai “basic life skill” ia mampu menciptakan berbagai “basic life device”, menciptakan berbagai peralatan guna membantu dalam berbagai kerjanya.

Berawal dari penciptaan dan penemuan alat-alat yang sederhana, hingga alat-alat yang dapat kita katakan luar biasa saat ini. Mulai dari pisau dapur hingga teknologi yang membantunya menyentuh batas alam semesta. Kini dapat kita sampaikan bahwa “Nearly no human life without gadgets” alkisah hampir tak ada manusia yang dalam kehidupannya tidak memanfaatkan peralatan guna membantu kehidupannya sehari-hari. Mungkin ada di suatu tempat nan jauh dari apa yang kabar dapat sampaikan pada kita, bahwa ada orang-orang yang hidup tanpa peralatan apapun, maka mungkin bukanlah manusia biasa seperti kita, “But still human at all”.

Beberapa peradaban menghasilkan kebudayaan dimana mereka meyakini bahwa manusia harus menghargai peralatannya karena semua itu telah membantunya dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kita menyalahgunakan apa yang telah terlahirkan dari kecerdasan yang kita miliki, dan menggunakannya hanya untuk kebaikan sedemikian hingga tidak merugikan sesama.

Aku mengenal sebuah kebudayaan dimana masyarakatnya diingatkan untuk menghargai peralatan setiap jangka waktu tertentu melalui sebuah perayaan yang sederhana sesungguhnya.

Menawan sungguh dibuatnya, karena tercampur apik dengan berbagai kesenian yang selalu berkembang. Segalanya berjalan dengan kehidupan masyarakat yang majemuk dengan berbagai dinamikanya.

Malam ini kusempatkan sesaat memandang bulan penuh, keadaan sungguh cerah. Sayup angin menerpa rendah rerumputan yang hampir tertidur membuatnya bergetar dalam dingin yang menghangatkan. Awan putih terasa bergilir bergulir menuju hilir cakrawala. Sesaat saja kehidupan terasa terhenti, ketika seluruh indera telah memenuhi fungsinya guna menjelahi semesta, aku telah berada di sana, tempat yang begitu menakjubkan di alam raya ini.

Aku tersenyum pada diriku, walau telah kuketahui sejak dahulu, kecerdasan manusia tak dapat menghantarkanku dalam kedamaian itu, apalagi peralatan yang terlahirkan dari kecerdasan. Namun selalu saja semua ini menjadi sesuatu yang baru setiap kali aku berada di sana.

Peralatan begitu berguna, kita tak dapat memungkiri hal itu, kecerdasan mungkin adalah yang utama. Sayang kita seringkali menggunakan semua itu untuk hal-hal yang tidak bermakna, bahkan hanya demi kesenangan kita telah menggunakan semua itu sehingga merusak unsur-unsur keseimbangan kehidupan ini. Sebuah fakta yang tak mungkin kita pungkiri.

Seperti pisau yang selalu diasah guna mempertahankan atau menambah ketajamannya, demikian pula pikiran sebagai salah satu alat manusia. Manusia hidup dalam pergulatan guna membuat semuanya peralatannya tetap berfungsi, dan semua itu adalah kewajaran dalam hukum sebab akibat.

Manusia tak akan mengasah pisaunya lagi ketika ia menemukan bahwa tak ada sesuatu pun yang masih perlu dipotong atau sesungguhnya memang tak perlu dipotong.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca