A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Belakangan ini wacana pemanasan global dan upaya-upaya penghentiannya semakin gencar. Walau sementara ini mungkin sebagian besar dari kita hanyalah sekumpulan penonton dari wacana-wacana yang sering diungkapkan tersebut. Sedangkan kita sadar betul, bahwa ini adalah ancaman bagi kita semua.
Topik yang akan kita urai kali ini adalah “Save The Forest” atau selamatkan hutan kita. Karena kita semua pasti tahu betapa pentingnya hutan bagi dunia, hutan memiliki jutaan manfaat bagi manusia dan dunia, mereka merupakan salah satu penyangga keseimbangan ekologi di planet ini. Rusaknya penyangga ini berarti kiamat bagi seluruh penghuni planet ini. Walau hutan memiliki kemampuan untuk beregenerasi jika terdapat kematian ataupun kerusakan, namun kemampuan itu adalah sebuah kemampuan alami yang memiliki batas-batas tertentu, di mana jika kerusakan yang terus-menerus terjadi, maka hutan sendiri tidak akan mampu mengembalikan keseimbangan di dalam dirinya. Indonesia sendiri telah kehilangan hampir 50% hutan hujan tropisnya, bahkan di beberapa daerah telah melebihi separuh hutan alami, dan sisanya mungkin hanya hutan produksi. Bagaimana tidak, setiap 12 detik dunia kehilangan hutan seluas satu lapangan sepak bola! Dan jika ini belangsung terus-menerus, kita sendiri mungkin akan menjadi saksi sebuah tragedi yang paling besar dalam sejarah rusaknya lingkungan oleh mahluk yang katanya paling mulia ini, setidaknya kini kita telah melihat dampak yang cukup jelas dari tragedi tersebut.
Mungkin kita bukanlah orang yang telah secara langsung merusak hutan-hutan ini, kita mungkin tidak melakukan penebangan liar (jika ya – segeralah ganti pekerjaan Anda), namun kita bisa jadi salah satu faktor pemicu kerusakan hutan ini. Kita adalah konsumen dari hasil-hasil hutan, kita-lah yang sesungguhnya menunjang eksploitasi berlebihan terhadap hutan.
Pertambahan penduduk, dan permintaan akan hasil hutan juga merupakan pukulan yang telak terhadap upaya pelestarian hutan kita. Hutan akan semakin banyak ditebang tentunya untuk memenuhi permintaan pasar dan masyarakat.
Kertas adalah satu penyebab utama kenapa hutan ditebang (selain digunakan sebagai bahan perkakas rumah tangga serta bahan bangunan). Sebuah pohon yang cukup tua, cukup matang, dan cukup layak sebagai sebagai penghasil pulp (bubur kertas), jika ia tumbuh, maka setiap harinya pertumbuhannya sendiri hanya menghasilkan beberapa helai kertas (4-5 lembar kertas A4 70gram) saja. Nah … pernahkah Anda menghitung berapa kertas yang Anda (atau instansi tempat dimana Anda bekerja setiap harinya) telah menghabiskan kertas dalam sehari. Jika kita menggunakan kertas, lebih banyak dari apa yang dapat dihasilkan sebatang pohon setiap harinya, maka kita layak disebut sebagai penyokong hancurnya hutan kita. Namun saya rasa kita telah menciptakan sistem di mana kertas-kertas dipakai begitu banyaknya dalam keseharian kita, seperti berkas-berkas di perkantoran, rekam medik di rumah sakit. Kita dapat menghemat kertas tentunya untuk mengimbangi penggunaannya. Jika memang tidak terlalu memerlukan sebaiknya kita tidak menggunakan kertas. Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam menghemat kertas. Namun semuanya tergantung dari kesadaran dan tekad kita, karena apa yang dapat kita lakukan hari ini dapat berdampak dikemudain hari. Bahkan saat menarik uang di ATM-pun, Anda dapat menolak pencetakan bukti penarikan, itu salah satu kreativitas dalam menyelamatkan hutan kita ^_^, nah sekarang tingkatkan kreativitas Anda, jangan sia-siakan intelegensi yang Anda miliki, termasuk jangan terlalu boros dalam mencetak berbagai email dan isi blog yang menarik (seperti yang satu ini), cetaklah email dan halaman web yang benar-benar Anda anggap penting untuk didokumentasikan secara tercetak…
Kita dapat memulai secara acak, dari manapun, untuk belajar berhemat.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca