A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Aku baru saja menghabiskan banyak waktu untuk berbincang dengan seorang sahabat lama, percakapan kami dimuali dengan pertanyaan yang kurang lebih berisikan pilihan, seandainya dihadapkan antara memilih bersama orang yang kita cintai atau bersama orang yang mencintai kita, singkat kata, bahasa umumnya adalah memilih dicintai atau mencintai? Tentunya dalam hal ini adalah hubungan antar dua manusia, dan kami tidak sedang berfilosofi mengenai cinta yang universal, kami berbicara mengenai perasaan antar manusia, sesuatu yang mendasar. 

Engkau dapat berkata ini bukanlah hal yang rumit, jika tidak berada langsung dalam situasi ini. Namun ternyata, hal yang sederhana belum tentu akan sederhana untuk seterusnya. Di dalamnya ada sebuah perasaan yang berkecamuk, ada kebimbangan dan ada keraguan, pikiran layaknya permukaan kolam yang tertiup angin, tak bisa tenang dan selalu gelisah. Pilihan seperti ini tidaklah selalu menjadi hal yang menyenangkan, jika kita tak pernah siap akan kejutan kehidupan, maka hingga kapan-pun kita akan selalu merasa kesulitan ketika dihadapkan pada sebuah tantangan.

Dan kebanyakan orang memang tidak menyukai kejutan, terkecuali jika mereka tahu itu akan menjadi kejutan yang menyenangkan, maka itu bukanlah lagi kejutan, karena ia telah menyiapkan dirinya untuk menyambut hal yang menyenangkan itu. Alangkah baiknya jika kita dapat bersama orang yang kita cintai sekaligus mencintai kita, karena itulah dasar sebuah kemanusian. Cinta ada ketika dua hati saling memahami dan bertindak dari kehalusan yang luar biasa akan kepemahaman itu.

Jika cinta hanya ada untuk dirimu sendiri, maka aku tidak dapat melihat itu sebagai cinta yang seutuhnya. Inilah sebuah harmonisasi alam semesta yang luar biasa. Malangnya, ketika seseorang merasa ia telah fall in love with somebody, getaran asing yang mulai ia rasakan, kerinduan dan perasaan suka yang tak dapat terjelaskan, dan terkadang tak beralasan, serta sedikit menjadi sentimentil, dari apa yang ia ketahui, ia pun menyebut itu sebagai cinta, kata sederhana yang dapat ia temukan dalam kamus yang telah ia kumpulkan sepanjang hidupnya. Gambaran akan berbagai suka cita masuk ke dalam dirinya dan menjadikannya luar biasa suka. Namun ia tetap saja manusia dengan semua rasa itu, sudahkah ia memahami cinta secara seutuhnya?

Karena ketika manusia melihat cinta dengan pandangan yang terpecah-pecah, maka keterpecahan itu akan menimbulkan gesekan di sana-sini, dan mungkin dari gesekan ini akan timbul sesuatu rasa yang terbalik dari semuanya. Dan kita telah menyebut ini sebagai suka dukanya cinta. Duka terkadang muncul, ketika orang yang membuatnya fall in love, tampaknya tidak menunjukkan sesuatu yang ia harapkan, yaitu juga mencintainya. Nah, singkat cerita, sang duka pun datang merundung dengan berbagai komplikasinya. Mengapa? Semua itu begitu sederhana, karena manusia seperti kita jarang dapat melihat cinta secara utuh, ia hanya tampak seperti kilauan kepingan yang begitu memikat bagi kita dan tercium aroma yang dapat membahagiakan diri kita, tanpanya kita menjadi kosong dan sedih. Aku tak dapat menjelaskan ini pada kalian semua, karena apa yang kujelaskan tak akan ada manfaatnya, bagaimana kalian dapat memahami panasnya nyala api dariku, kecuali kalian sendiri yang merasakannya.

Namun satu hal bagi mereka yang terundung oleh kemalangan di antara pemilihan yang tak pasti ini, cobalah kenali cinta secara mendalam, bagaimana? Anda akan menemukan cinta dengan memilah dan menyingkirkan apa-apa yang bukan cinta, setelah semua yang bukan cinta tersingkirkan, maka di sanalah ia, sebuah keutuhan yang luar biasa.

  Copyright secured by Digiprove © 2010 Cahya Legawa

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar geLLy
    geLLy

    diva met tahun baru ya moga hari2 km jauh lbh baik amieNN

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca