A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ketika kemarin saya menuliskan mengenai “Nasi Setengah Porsi”, kini ada lagi yang bisa membuat saya berpikir-pikir (walau tidak lama) ketika masuk ke rumah makan untuk beberapa mendapatkan sesuap nasi – maksud saya tentu untuk mendapatkan sejumlah nutrisi yang diperlukan oleh tubuh saya ini.

Jika kita memesan sesuatu di rumah makan, pastilah secara umum atau seringnya, pesanan kita terdiri dari menu makanan dan minuman – walau siapa pun boleh menambahkan menu pembuka atau penutup jika mereka ingin.

Ketika saya memesan minum, ada dua kecenderungan yang saya temukan di Jogja atau pun di Bali. Yaitu mengenai “sedotan”, hmm…, apa ya kira-kira?

Ada beberapa rumah makan yang langsung menyiapkan sedotan saat minuman yang dipesankan tiba. Konsepnya, minuman hangat biasanya tanpa sedotan, sedangkan minuman dingin atau jus biasanya sudah langsung dengan sedotan. Sedangkan rumah makan lainnya akan menyediakan sedotan di meja makan masing-masing atau pun di meja khusus bersama bumbu atau mesin kasir di sampingnya.

Minuman dingin memang lebih enak dengan sedotan, karena jika diminum langsung dari gelas pasti yang terasa cuma dinginnya es yang mengambang di permukaan minuman itu sendiri, sedangkan jus – semakin kental semakin cenderung rasanya lebih nyaman diminum dengan sedotan.

Jogja misalnya, walau pada musim hujan sekali pun, siang hari saat tidak ada hujan, cuaca bisa luar biasa panas dan gerah, apa lagi pada musim kemarau – rasanya seperti berjalan di dalam oven saja. Dan paling nikmat memang mengonsumsi minuman dingin.

Empat atau lima ribu tahun yang lalu, sedotan masih terbuat dari jerami yang digunakan oleh orang-orang Sumeria – begitu sih katanya – sebelum pada tahun 1888 seseorang bernama Marvin Stone memiliki ide untuk membuat sedotan dari kertas yang digulung, yang hingga kini berubah dengan bahan dasar polipropilen alias plastik.

Menggunakan sedotan berarti menambah limbah plastik – salah satu limbah yang tidak ramah bagi lingkungan. Menggunakan sedotan plastik lebih sering berarti ikut menuntut perbanyakan produksi sedotan oleh pabrik-pabrik yang juga dalam prosesnya tidak sepenuhnya ramah lingkungan.

Dulu saya pernah menulis “Katakan Tidak Pada Kantong Plastik” sebagai bagian dari kampanye ramah ekologi.

Kini saya harus berpikir kembali, ketika saya datang ke rumah makan. Apakah saya akan memilih menggunakan sedotan atau tidak? Minuman dingin mungkin tidak memerlukan sedotan, sehingga saya tidak sering menggunakan sedotan jika hanya sekadar memesan es teh misalnya.

Namun ketika tempat itu menyediakan sedotan secara langsung pada minuman dingin, semisal ketika saya duduk di angkringan ber-Wifi, apakah saya akan memilih minuman hangat sebagai gantinya walau saya sedang ingin minuman dingin.

Pertimbangan ini sederhana, kadang saya tidak memerlukan banyak waktu untuk memutuskan biasanya – jika saya dalam seketika itu ingat, apakah saya harus memilih antara menuruti kemanjaan dan kesenangan saya ataukah di sisi timbangan lain adalah sebuah ekologi bumi di mana orang-orang yang saya kasihi hidup di atasnya, dan saya pun mencintai bumi ini.

Satu buah sedotan mungkin bukan bencana bagi planet ini, namun mencoba untuk tidak menggunakannya ketika tidak terlalu perlu – mungkin sebuah langkah yang besar ketika orang secara bersama-sama bersedia untuk melakukan hal yang serupa.

Apa kita perlu hari tanpa sedotan sedunia?

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

28 tanggapan

  1. Avatar Asop
    Asop

    Harusnya dibuat sedotan dengan bahan yang dapat terurai dengan cepat…. ato buat pabrik daur ulang sedotan…. 😀

    1. Avatar Cahya

      Asop,

      Mungkin jika demikian, harga satu sedotan akan lebih mahal atau sama mahal dengan segelas es teh di warung pojok. Hmm…, tapi siapa tahu ada orang yang cukup kreatif untuk itu 😉

      1. Avatar Asop
        Asop

        Memang mahal awalnya, tapi memang harus ada biaya yang dikeluarkan kalo mau dunia ini bersih… 🙂

  2. Avatar TuSuda
    TuSuda

    Mari membiasakan diri peduli akan keasrian dan keramahan lingkungan, dengan memperhatikan hal-hal yang kecil.

    1. Avatar Cahya

      Hmm…, hal-hal kecil… walau saya sering mengucapkannya, namun jika teringat kembali benar-benar hendak bertanya, apa saya sudah memahaminya…

  3. Avatar H
    H

    paling diminimalkan penggunaannya mas 🙂

    1. Avatar Cahya

      Pak Huang,

      Asal jangan dipotong jadi dua saja Pak untuk meminimalkannya, apa lagi dipotong empat 🙂

      1. Avatar - H -
        – H –

        oh itu dipake buat mamang penjual es.. hehe..

        atau kalau nggak dipake untuk koncang arisan 😀

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca