Artikel Baru Terbit
- Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut. - Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi. - Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional. - Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia. - Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
4 tanggapan
-
hehe… melalui “Tulisan sejenis lainnya” saya menemukan artikel ini. Untungnya saya sebagai user diberikan “berkah” menikmati 2 pilihan OS. Windows dan Linux Ubuntu, namun belakangan saya intens menggunakan Ubuntu karena setelah upgrade ke versi Precise Pangoline. Perangkat lunak pengolah gambar GIMP sudah bisa dinikmati dengan versi terbarunya, 2.8. Jadi ketergantungan akan photoshop untuk proses mockup dan editing ikon yang saya butuhkan untuk website sudah bisa saya adaptasi dengan software GIMP. Masalah medium untuk menulis kode program, Windows dan Ubuntu menawarkan pilihan yang sama kuat. Bahkan software baik IDE atau text editor popular sudah mendukung untuk berjalan di keduanya.
Kedua OS ini memang memerlukan adaptasi untuk menggunakannya karena memang berbeda perlakuan. Jika menarik dari sudut pandang pengguna secara umum pasti akan bervariasi menurut sudut pandang masing-masing. Seperti pada ungkapan “banyak pilihan, banyak bingung”. 😀
-
Banyak pilihan memang membingungkan Mas, namun di sisi lain bagi yang suka cicip mencicip tentu adalah berkah tersendiri.
Saya senang melihat orang menemukan pilihannya sehingga dapat produktif dan kreatif. Kita semua punya kesempatan itu, dan mungkin sistem operasi terbuka memberikan pilihan yang lebih ringan di sisi anggaran.
-
-
Dulu saya hobi banget dengan dual boot, dengan linux yang menjadi “among”nya…, tapi sekarang entah kenapa jadi males juga…, untuk belajar Linux perlu banyak waktu, sedangkan masa-masa kepaniteraan mencari waktu luang pun susah, apalagi buat belajar programing dari awal lagi :)Apalagi kalau sistem belajar saya mengenai teknologi bener-bener nyaris autodidak, kalau ga ada yang ngebantuin pasti mandeg lama banget, paling-paling yang bisa dimintai bantuan adalah Bang Google, tanya sana-sini.Ya, Windows memang sangat rentan pada virus, itu yang bikin gemes terkadang, namun kini Linux pun semakin bermunculan virusnya walau jarang sekali seheboh virus-virus di WIndows.Kalau mau buat pertahanan di Linux memang lebih sederhana (namun perlu hapal setiap command yang berkaitan) dan karena kita hanya menggunakan sistem user (bukan superuser) saat berkomputer-ria, itu punya nilai keamanan tersendiri di Linux.Hmmm…, kalau Linux sesuai selera, saya dengar dulu pihak IGOS bersedia membuatkan distro yang sesuai dengan kebutuhan kita, namun entah bagaimana kabarnya sekarang. Pasaran Linux juga jarang saya ikuti, namun kini tampaknya banyak server yang menggunakan sistem operasi Linux betebaran di Internet.Saya setuju, kalau kita harus mencoba dulu. Sebelum saya ganti ke Travelmate 6293, rencananya saya akan pasangi OpenSuse, namun karena ternyata sudah bawa sistem Vista, jadinya malas kalau harus bongkar pasang…, kapan-kapanlah kalau ada komputer nganggur biar bisa dikerjai 🙂
-
saya juga masi pake windows dan linux. kl ada mac dan space tersisa utk freebsd, mungkin bakal saya pake jg :)intinya ngga fanatik lah.tp belakangan krn koneksi Inet lelet, jarang update antivirusdi windows, ya keseringan make linux. itu pun dah banyak lupa perintah terminalnya. ribet pas awal setting aja.setuju, yg plg modern dan mudah dipake itu opensuse. 🙂 tp tetep aja masing-2 distro punya kelebihan/kekurangan tersendiri. kembali ke selera masing-2 pengguna. coba dl baru pake seterusnya..
Tinggalkan Balasan