Diperbarui: 9 Oktober 2026. Tulisan ini pertama kali terbit pada 28 Maret 2008 sebagai catatan pribadi penulis; kerangka pengalamannya dipertahankan, sementara data dan rujukannya telah disegarkan.
Setelah cukup lama berkecimpung di dunia kesehatan, saya menemukan satu pengamatan yang sampai kini tetap mengusik: masyarakat kita menginginkan kesehatan, tetapi sikap sehari-harinya sering tidak sejalan. Para ilmuwan perilaku menyebut jarak antara niat dan tindakan ini sebagai intention-behaviour gap. Ia bukan semata soal tidak tahu, melainkan soal bagaimana pengetahuan itu berubah menjadi kebiasaan.

Gambaran yang saya lihat di lapangan
Bayangkan seorang bapak di sebuah desa di Lombok Timur. Setiap hari ia membeli rokok dengan uang yang jika dikumpulkan sebulan cukup untuk membeli beberapa kali obat hipertensi di puskesmas, tetapi ia menunda kontrol tekanan darah karena merasa “belum ada keluhan”. Di sudut lain, seorang karyawan di Jakarta Selatan tahu betul bahaya makanan tinggi lemak dan gula, tetapi tetap memilih yang paling cepat dan enak karena jam kerjanya padat. Dua orang ini berbeda latar sosial-ekonomi, namun sama-sama menempatkan kesehatan di urutan belakang sampai sakit datang.
Menilai diri sendiri adalah titik awal yang jujur: seberapa banyak sumber daya, baik waktu, uang, maupun tenaga, yang sudah kita alokasikan untuk menjaga kesehatan, dibandingkan dengan yang kita tuntut dari layanan kesehatan ketika sakit?
Apa kata data terbaru
Pengamatan pribadi perlu diuji dengan angka. Beberapa data nasional berikut menggambarkan kesenjangan antara keinginan hidup sehat dan perilaku nyata.
| Indikator | Temuan | Sumber |
|---|---|---|
| Kurang aktivitas fisik (usia 10 tahun ke atas) | 37,4% | Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, SKI 2023 |
| Perokok aktif | Sekitar 70 juta orang | Kementerian Kesehatan, berdasarkan SKI 2023 |
| Rokok kretek filter terhadap garis kemiskinan (Maret 2025) | 10,72% di perkotaan dan 9,99% di perdesaan; terbesar kedua setelah beras | Pemaparan BPS, 25 Juli 2025 |
| Kepesertaan JKN (31 Desember 2025) | 282,7 juta jiwa, lebih dari 98% penduduk; kepesertaan aktif 81,45% | BPJS Kesehatan, UHC Awards 27 Januari 2026 |
Dua hal menonjol. Pertama, kebiasaan yang merugikan kesehatan, terutama merokok, bukan hanya persoalan paru-paru: menurut BPS, rokok kretek filter menyumbang hampir sepersepuluh dari garis kemiskinan, artinya uang yang seharusnya untuk gizi dan kebutuhan dasar ikut terserap. Kedua, akses finansial ke layanan kesehatan sudah jauh membaik lewat JKN, namun selisih antara kepesertaan (lebih dari 98%) dan kepesertaan aktif (81,45%) menunjukkan bahwa memiliki jaminan belum otomatis berarti memanfaatkan dan menjaganya.
Mengapa niat sering tidak menjadi tindakan
Dalam 2008 saya menulis dengan nada kesal, bahkan menyebut orang yang sudah mengerti tetapi tak acuh sebagai “kurang ajar”. Hari ini saya lebih berhati-hati. Ada beberapa penjelasan yang lebih adil dan lebih berguna:
- Manfaat jauh, kenikmatan dekat. Rokok atau makanan enak memberi imbalan seketika, sedangkan manfaat berhenti merokok atau berolahraga baru terasa bertahun-tahun kemudian.
- Literasi kesehatan terbatas. Deklarasi Shanghai WHO menyebut health literacy sebagai determinan kritis kesehatan yang perlu diinvestasikan lewat pendidikan sejak sekolah dan strategi lintas sektor (WHO, Shanghai Declaration). Tahu bahwa rokok berbahaya tidak sama dengan mampu menilai informasi, menimbang risiko, dan bertindak.
- Lingkungan yang tidak mendukung. Rokok mudah dibeli eceran, ruang untuk berjalan kaki dan berolahraga terbatas, dan makanan murah umumnya tinggi garam, gula, dan lemak. Memilih sehat menjadi pilihan yang mahal dalam tenaga.
- Anggapan “sehat sampai terbukti sakit”. Penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes sering tanpa gejala, sehingga skrining dianggap tidak perlu.
Kesehatan memang mahal, tetapi bukan hanya soal uang
Salah satu kalimat dalam tulisan lama saya masih berlaku: kesehatan itu mahal, bukan hanya secara materiil tetapi juga psikologis. Jaring pengaman seperti JKN memang meringankan beban biaya, tetapi tidak mengganti rasa sakit, waktu yang hilang, dan kecemasan keluarga. Jaminan kesehatan paling efektif bila dipadukan dengan pencegahan, sehingga kita menjadi pengguna layanan yang bijak, bukan sekadar penerima layanan.
Mulai dari yang sederhana
Awal yang bijaksana tidak perlu rumit. Beberapa langkah yang realistis bagi keluarga di kota maupun desa adalah mengelola stres dengan tidur cukup dan berbagi cerita, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat seperti mencuci tangan dan mengelola sampah, menambah aktivitas fisik secara bertahap, menyisihkan sebagian uang rokok (bagi yang merokok) untuk kebutuhan gizi dan kontrol kesehatan, serta memanfaatkan puskesmas dan Posyandu secara rutin, termasuk memastikan kepesertaan JKN tetap aktif.
Penutup
Semua orang berminat pada hidup yang sehat, tetapi minat pada upaya menjaganya masih kurang. Mungkin bila kita memandang kesehatan bukan lagi sebagai teori dan hafalan, melainkan sebagai aset yang dirawat setiap hari, kita mulai menghargainya dengan sungguh-sungguh. Dan seperti yang saya tulis dulu, mulailah dari diri sendiri.
Rujukan utama: Kemenkes (SKI 2023: aktivitas fisik); Kemenkes (perokok aktif); BPS via Republika; BPJS Kesehatan via Warta Ekonomi; WHO Shanghai Declaration.





Tinggalkan Balasan