A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Mereka mengatakan bahwa dunia dihiasi oleh bermacam hal yang indah, dikaruniai dengan pelbagai sumber kehidupan, dan manusia telah bermandikan cahaya yang berwarna-warni dari pelangi kehidupan itu sendiri, sedemikian hingga dalam perjalanannya, ia mampu mengungkap apa itu cinta.

Namun di antara banyak kisah, banyak yang terlepas dan menimbulkan relung yang terlalu dalam dan lebar dalam jangkauan keterbatasan yang diciptakan oleh manusia sendiri untuk sesuatu yang mereka sebut meraih cinta…, demikianlah sehingga sesuatu harus dibangun di antara dua cinta …, untuk menjembatinya.

Namun adakah jembatan ini sesungguhnya?

Love Bridge

Dunia di mana kita tinggal dipenuhi oleh berbagai warna, dan warna-warna ini merupakan gradasi yang saling menyeimbangkan. Ya, gradasi adalah perbedaan dalam kata lainnya (yang sungguh lebih sering digunakan, dan aku pun tak begitu menyukainya). Dengan kata lain, dunia di mana kita tinggal penuh dengan berbagai perbedaan.

Beberapa waktu yang lalu aku membaca tulisan dengan judul unik “Cinta di antara Dua Tuhan”, yang mungkin merupakan salah satu dari sekian banyak apa yang terjadi di sekeliling kita. Terkadang cinta bukanlah hanya sekadar hubungan di antara dua insan. Pun mungkin demikian adanya, aku tak hendak membenarkan paradigma yang mana pun, karena setiap sudut pandang akan memiliki bintik butanya masing-masing.

Warna-warna ini…, perbedaan-perbedaan ini…, kemudian memberikan apa yang dikenal sebagai jarak di antara dua hal, di antara dua sikap, di antara dua perasaan. Si kaya dan si miskin, si baik dan si buruk, si punya dan si tiada…, antara agama, pendidikan, dan lain sebagainya, manusia telah mendirikan di antara rumah-rumah tinggalnya, sekat yang lebih tinggi dari pada langkah angin kebebasan tuk masuk ke dalam jendela hatinya. Dan sekat ini, tembok ini yang juga telah menghalangi mentari membagi kehangatan ke dalam rumah-rumah kecil yang menyedihkan dan lembab oleh kecurigaan serta penolakan.

Bagi mereka yang “merasa” terpisahkan, seakan jarak tercipta begitu jauhnya walau tangan saling menggenggam. Mereka melihat cerminan sendiri dalam dua warna yang berbeda, dan semburat di antaranya adalah garis kelam yang seakan tak hendak sedia untuk menyatukan. Untuk sesaat atau selamanya, yang tampak adalah sebuah ruang keputusasaan. Dan tak ada yang pernah tahu, akankah mereka membangun sebuah jembatan di lembah yang mereka sendiri belum tentu mampu tuk pahami.

Manusia menebarkan banyak hal di muka bumi, dan mengingatkan sesamanya, betapa indah warna-warna yang ada di sekeliling mereka. Mereka telah menulis banyak kisah, mengukir banyak simbol, menyanyikan berbagai pujian tentang segala maha karya ini. Sayang dan teramat sayang, mereka bernyanyi sembari membangun pagar yang lebih tinggi, dan ketika mereka kembali menulis dan mengukir kisah-kisah itu, mereka pun bertanya, “Mengapa engkau dan aku tetap terpisah?”

Dan sahabat, kau pun kini mungkin tahu mengapa manusia selalu berusaha membangun jembatan antara cinta. Ya, karena pertanyaan sederhana itu, “mengapa kita terpisah?”

Seandainya dua insan tidak terpisah, adakah jembatan itu nyata. Bukankah cinta adalah satu adanya, bukankah cinta adalah semua yang bisa menyatukan perbedaan, jika demikian jembatan apa yang engkau bangun melebihi cinta itu sendiri? Adakah itu hanya angan dan imajinasimu? Ah…, aku pun tak mengerti. Namun tetaplah melangkah ke mana hati membawamu pergi.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca