A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

";” alt=””/>

Vitus

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Jika Anda penggemar film drama bernuansa musik klasik, tentunya ke dua film ini tidak akan terlewatkan. Meskipun memiliki latar cerita yang benar-benar berbeda, namun kekuatan ceritanya justru terletak di situ. Kedua film ini sama-sama menceritakan anak yang lahir dengan bakat musik yang luar biasa.

Vitus mengisahkan seorang anak yang terlahir dengan bakat yang musik yang luar biasa, bahkan ia jenius dengan kecerdasan di atas rata-rata. Saat teman-temannya masih di bangku sekolah dasar, ia sudah memasuki jenjang sekolah menengah atas, bahkan hendak dimasukkan ke universitas.

Namun ia menjadi “kikuk” dengan kecerdasaannya sendiri, ia menjadi tidak nyaman. Orang tuanya menuntut sangat banyak padanya, ia harus berlatih musik dengan jadwal ekstra padat.

Ini menunjukkan seorang anak yang mencari pendewasaan dirinya dengan menggali kebijaksanaan di antara tiang-tiang tinggi kecerdasannya. Berbekal nasihat dari kakeknya yang menjadi satu-satunya sahabatnya. Ia memutuskan untuk keluar dari dunia yang mengurungnya dengan cara pelolosannya sendiri.

";” alt=””/>

Sedangkan di film yang kedua mengisahkan seorang anak bernama August yang terlahir secara tidak sah dari pasangan musisi. Ia terpisah dari orang tuanya karena kekejaman sang kakek. Orang tuanya sendiri terpisah.

Ia tumbuh di panti asuhan, namun menunjukkan bakat yang kuat akan musik. Seakan-akan anak ini dapat mendengarkan alam bermelodi dan menyatu dengannya. Sampai dikisahkan ia terdampar di kota dan mulai perjalanan menemukan jati dirinya serta panggilan hatinya terhadap musik, dengan berbagai dilema yang membumbui.

Walau akhir cerita masing-masing film tidak dibuat pasti. Namun kita bisa menduga dengan kekuatan latar cerita yang begitu indah. Ini adalah film keluarga yang layak dikoleksi.

Tag Technorati: {grup-tag}Vitus,August Rush,Musical,Movie,Favorite

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. Avatar .gungws
    .gungws

    wah…boleh nih nyari 'vitus'..klo august rush emang keren! 😀

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca