Les pèlerins au-dessus des nuages

Hari keenam setelah lahir, seorang ibu muda di sebuah desa di Kabupaten Banyumas membawa bayinya ke Puskesmas. Kelopak mata kanan si bayi bengkak, dan pagi tadi kedua kelopaknya lengket oleh cairan kekuningan. Bidan yang memeriksa tidak menganggapnya sepele, karena mata merah pada bayi baru lahir adalah salah satu keluhan yang tidak boleh ditunda. (Kasus ini ilustratif, bukan pasien nyata.)

Diperbarui: 25 Oktober 2026.

Ilustrasi tangan bersarung tangan membersihkan mata bayi baru lahir dengan kasa steril, di samping salep mata dan larutan garam
Ilustrasi: pembersihan mata bayi baru lahir secara steril.

Apa itu konjungtivitis neonatal?

Konjungtivitis neonatal, atau ophthalmia neonatorum (oftalmia neonatorum), adalah peradangan pada selaput bening yang melapisi bagian dalam kelopak dan permukaan depan bola mata (konjungtiva) pada bayi dalam bulan pertama kehidupan. Penyebabnya beragam: infeksi bakteri atau virus yang tertular dari jalan lahir, iritasi bahan kimia, atau sekadar saluran air mata yang belum terbuka sempurna. Menurut tinjauan Cochrane 2020, penyebab infeksius yang paling dikhawatirkan adalah Neisseria gonorrhoeae (gonore), yang paling berat dan dapat merusak penglihatan bila tidak ditangani, serta Chlamydia trachomatis, yang lebih sering dijumpai dan dapat meninggalkan jaringan parut pada mata.1

Di dunia, kondisi ini masih berkontribusi pada kebutaan kornea anak, terutama di negara berpendapatan rendah-menengah; Cochrane memperkirakan sekitar 0,4 hingga 5 persen kebutaan atau gangguan penglihatan berat di berbagai wilayah, tergantung konteksnya.1 Data prevalensi khusus untuk Indonesia belum ditemukan dari sumber yang dapat diverifikasi, sehingga angka nasional tidak dicantumkan di sini.

Waktu muncul membantu menebak penyebab

Salah satu petunjuk klinis yang paling berguna adalah kapan mata mulai bermasalah setelah lahir. Tabel berikut merangkum gambaran dari ulasan berbahasa Indonesia di Cermin Dunia Kedokteran 2025 dan pedoman CDC.2,3,4

PenyebabPerkiraan waktu munculCiri yang khas
Iritasi kimia (misalnya perak nitrat, kini jarang dipakai)Dalam 24 jamBiasanya sembuh sendiri
Gonokokus (N. gonorrhoeae)2–5 hariNanah kental dan banyak, kelopak bengkak, risiko cepat menembus kornea
Bakteri lain4–7 hariSekret kuning-hijau, mata lengket
Klamidia (C. trachomatis)5–14 hariSekret encer-lengket; infeksi dapat disertai pneumonia pada bulan-bulan awal
Virus herpes simpleksSekitar 6 hari sampai 2 mingguSering satu mata, dapat mengenai kornea
Waktu muncul hanyalah petunjuk, bukan pengganti pemeriksaan dan uji laboratorium.

Tanda yang perlu dikenali

Mata merah, kelopak bengkak, dan sekret (belekan) yang membuat kelopak lengket saat bayi bangun merupakan gambaran umum. Yang membedakan kegawatan adalah nanah yang banyak dan cepat bertambah, kelopak yang sangat bengkak, kornea (bagian hitam mata) tampak keruh atau berbintik putih, bayi demam, rewel, atau malas menyusu. Kombinasi seperti ini patut dicurigai sebagai infeksi gonokokus, yang tanpa terapi dapat menyebabkan tukak kornea, perforasi bola mata, kebutaan permanen, hingga penyebaran ke seluruh tubuh (sepsis atau meningitis).2

Tidak semua belekan pada bayi adalah infeksi. Saluran air mata yang tersumbat juga lazim menimbulkan mata berair dan lengket, biasanya tanpa mata merah yang jelas.1 Karena sulit dibedakan di rumah, bayi dengan sekret purulen pada bulan pertama sebaiknya selalu diperiksa tenaga kesehatan.

Pencegahan: salep mata saat lahir

Pencegahan rutin yang paling dikenal adalah pemberian salep atau tetes mata antibiotik segera setelah lahir. Pedoman CDC merekomendasikan salep mata eritromisin 0,5 persen satu kali pada kedua mata sesegera mungkin setelah persalinan, dan bila tertunda, pastikan seluruh bayi mendapatkannya dalam 24 jam.3 WHO mencantumkan beberapa pilihan: tetrasiklin 1 persen, eritromisin 0,5 persen, povidon-iodin 2,5 persen, perak nitrat 1 persen, atau kloramfenikol 1 persen.1

Bukti ilmiahnya perlu dibaca apa adanya. Tinjauan Cochrane 2020 yang menggabungkan 30 uji (79.198 bayi) menemukan profilaksis menurunkan kejadian konjungtivitis dari sebab apa pun dalam satu bulan (rasio risiko 0,65; kepastian bukti sedang). Akan tetapi tidak ada uji yang melaporkan kebutaan, bukti untuk konjungtivitis gonokokus dan klamidia berkepastian rendah, dan tidak ada satu obat yang jelas lebih unggul. Beberapa negara seperti Belanda, Swedia, dan Norwegia tidak lagi melakukannya secara rutin, sementara AS dan Kanada masih melanjutkannya.1 CDC menegaskan bahwa profilaksis eritromisin tidak efektif mencegah oftalmia klamidia, sehingga pencegahan terbaik adalah skrining dan pengobatan ibu hamil.4

Untuk Indonesia, ketentuan profilaksis mata rutin pada bayi baru lahir di tingkat nasional belum diverifikasi dari dokumen resmi Kemenkes, jadi sebaiknya mengacu pada pedoman neonatal yang berlaku di fasilitas masing-masing.

Penanganan oleh tenaga kesehatan

Bayi dengan dugaan konjungtivitis neonatal infeksius perlu diperiksa dokter, idealnya dengan pewarnaan Gram dan pemeriksaan untuk gonore serta klamidia bila fasilitas memungkinkan. Berikut gambaran terapi menurut CDC, yang sebaiknya hanya diberikan oleh tenaga kesehatan:

Dugaan penyebabTerapi sistemikCatatan
GonoreSeftriakson 25–50 mg/kgBB, IV atau IM, dosis tunggal, maksimal 250 mgHati-hati pada bayi dengan hiperbilirubinemia, terutama prematur. Bila ada kalsium IV, sefotaksim 100 mg/kgBB dosis tunggal menjadi alternatif.3
KlamidiaEritromisin basa atau etilsuksinat 50 mg/kgBB/hari per oral, dibagi 4 dosis, selama 14 hariObat tetes atau salep saja tidak memadai. Efektivitas sekitar 80 persen sehingga kadang perlu kursus kedua; bayi di bawah 6 minggu perlu dipantau terhadap stenosis pilorus hipertrofik. Pertimbangkan pneumonia bersamaan.4
Herpes simpleksAntivirus (asiklovir), dirujukDapat mengenai kornea dan menjadi infeksi sistemik; ulasan Indonesia mencantumkan pemberian intravena minimal 2 minggu.2
Dosis gonore dan klamidia dikutip dari pedoman CDC; selalu sesuaikan dengan kondisi bayi dan pedoman setempat.

Ibu dan pasangan seksualnya juga perlu dievaluasi dan diobati, karena bayi hanyalah penanda infeksi yang sama pada orang tuanya.4 Pada kasus gonokokus, irigasi mata berulang dengan larutan garam fisiologis dianjurkan untuk membantu membersihkan nanah, dan bayi yang sakit berat sebaiknya dirujuk ke rumah sakit yang memiliki dokter spesialis mata dan anak.2

Yang dapat dilakukan orang tua dan kader

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh area mata bayi, dan jangan berbagi handuk atau kain.
  • Bersihkan sekret dengan kasa atau kapas bersih yang dibasahi air matang yang sudah dingin atau larutan NaCl 0,9 persen, dari sudut dalam ke arah luar, satu usapan satu kapas.
  • Jangan meneteskan obat tetes mata sisa, ASI, atau ramuan ke mata bayi tanpa petunjuk tenaga kesehatan.
  • Segera bawa ke Puskesmas atau rumah sakit bila nanah banyak, kelopak sangat bengkak, kornea keruh, bayi demam atau tidak mau menyusu.
  • Ibu hamil dianjurkan menjalani pemeriksaan kehamilan rutin agar infeksi menular seksual dapat dideteksi dan diobati sebelum persalinan.

Baca juga

Catatan transparansi

Versi lama artikel ini adalah salinan manual klinis 2006 yang memuat obat dan dosis yang kini tidak lagi menjadi rujukan utama (misalnya salep tetrasiklin sebagai pencegahan utama dan spektinomisin). Dosis gonore dan klamidia pada artikel ini diambil dari halaman pedoman CDC; waktu muncul dan keterangan herpes simpleks berasal dari ulasan sekunder berbahasa Indonesia. Angka prevalensi nasional dan ketentuan Kemenkes tentang profilaksis tidak dimuat karena belum terverifikasi. Artikel ini bersifat edukasi dan tidak menggantikan pemeriksaan oleh dokter.

Rujukan

  1. Kapoor VS, Evans JR, Vedula SS. Interventions for preventing ophthalmia neonatorum. Cochrane Database Syst Rev. 2020;(9):CD001862. PMC8524318
  2. Suki RM. Diagnosis dan Tata Laksana Oftalmia Neonatorum. Cermin Dunia Kedokteran. 2025;52(3):167–170. cdkjournal.com
  3. CDC. Gonococcal Infections Among Neonates, Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines. cdc.gov
  4. CDC. Chlamydial Infections, Sexually Transmitted Infections Treatment Guidelines. cdc.gov

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca