Dion, 28 tahun, bekerja sebagai staf gudang di Surabaya. Sudah dua tahun ia sering terbangun dini hari karena punggung bawahnya kaku. Suatu pagi, mata kanannya mendadak merah, nyeri, dan terasa silau bahkan oleh lampu kamar. Ia mengira itu “sakit mata biasa” dan membeli tetes mata antibiotik di apotek. Tiga hari kemudian mata itu tak membaik, penglihatannya mengabur, dan pupilnya tampak lebih kecil daripada mata kiri. Di poli mata, dokter menyebutkan satu kata yang asing baginya: uveitis anterior.
Cerita seperti ini cukup lazim. Uveitis anterior adalah bentuk uveitis yang paling sering dijumpai, tetapi kerap tertukar dengan konjungtivitis (mata merah biasa) sehingga terlambat ditangani. Padahal, pada sebagian orang ia merupakan petunjuk pertama adanya penyakit radang sistemik di tubuh.
Apa yang sebenarnya meradang?
Uvea adalah lapisan tengah bola mata yang kaya pembuluh darah. Ia terdiri dari iris (bagian berwarna di sekeliling pupil), badan siliar (otot dan penghasil cairan mata), dan koroid (lapisan di belakang). Peradangan pada uvea disebut uveitis. Menurut American Academy of Ophthalmology (AAO), uveitis dibedakan menurut bagian yang terkena: anterior, intermediat, posterior, atau menyeluruh. Pada uveitis anterior, yang meradang adalah iris dan atau badan siliar, sehingga namanya juga iritis atau iridosiklitis.
Ketika iris meradang, pembuluh darahnya bocor. Protein dan sel darah putih keluar ke bilik mata depan, ruang berisi cairan di antara kornea dan lensa. Dokter mata melihatnya di bawah lampu celah (slit lamp) sebagai “sel” dan “flare” (kekeruhan seperti sinar yang menembus asap). Endapan sel pada permukaan dalam kornea disebut keratic precipitates.

Penamaan dan penilaian derajatnya kini mengikuti kesepakatan internasional Standardization of Uveitis Nomenclature (SUN) yang diterbitkan pada 2005. Menurut kesepakatan itu, uveitis dikelompokkan berdasarkan awal timbulnya (mendadak atau perlahan), lamanya (terbatas atau menetap), dan polanya (akut, kambuhan, atau kronik). Pengelompokan ini penting karena menentukan seberapa jauh dokter perlu mencari penyebab dan berapa lama obat dipakai.
Gejala yang perlu dikenali
Uveitis anterior akut biasanya muncul pada satu mata dan berkembang dalam hitungan jam sampai hari. Gejalanya meliputi mata merah (terutama kemerahan di sekeliling kornea), nyeri tumpul atau berdenyut, silau terhadap cahaya (fotofobia), mata berair, dan penglihatan kabur. Pupil sering tampak lebih kecil atau berbentuk tidak bulat. Seperti dicatat AAO, gejala dapat berlangsung beberapa minggu, ada yang terus-menerus, ada pula yang hilang lalu kambuh.
Ada pula bentuk yang nyaris tanpa keluhan. Pada anak dengan artritis idiopatik juvenil (JIA), misalnya, mata bisa tampak putih dan tenang sementara peradangan diam-diam merusak lensa dan sudut mata. Karena itulah anak dengan JIA perlu diperiksa mata secara berkala meski tidak mengeluh apa pun.
Bedakan dari mata merah lainnya
Tidak semua mata merah sama. Tabel berikut membantu membedakan tiga penyebab yang paling sering membingungkan. Perlu diingat, tabel ini hanya panduan awal dan tidak menggantikan pemeriksaan dokter.
| Ciri | Konjungtivitis | Uveitis anterior | Glaukoma sudut tertutup akut |
|---|---|---|---|
| Penglihatan | Biasanya normal | Kabur ringan sampai sedang | Sangat kabur, sering melihat halo di sekitar lampu |
| Nyeri | Ringan, rasa mengganjal atau gatal | Tumpul, memberat saat melihat cahaya | Hebat, sering disertai sakit kepala, mual, muntah |
| Silau | Jarang | Khas, sering nyata | Bisa ada |
| Kemerahan | Merata, terutama di bagian putih mata | Lebih pekat di sekeliling kornea | Merah difus, kornea tampak keruh |
| Sekret | Ada (air atau nanah) | Tidak ada, hanya berair | Berair |
| Pupil | Normal | Kecil, bisa tidak bulat | Lebar, menetap, tidak bereaksi |
| Tindakan | Dapat dirawat di layanan primer | Rujuk ke dokter mata segera | Darurat, rujuk hari itu juga |
Pembahasan lengkap tentang kondisi di kolom kanan ada pada artikel Glaukoma Sudut Tertutup Akut.
Mengapa bisa terjadi?
Pada banyak pasien, dokter tidak menemukan penyebab pasti (idiopatik). Namun, AAO mencatat risiko meningkat pada orang yang pernah atau sedang mengalami infeksi (misalnya herpes zoster, herpes simpleks, sifilis, toksoplasmosis), penyakit radang sistemik (seperti penyakit radang usus, artritis, atau lupus), cedera mata, serta pada perokok. Beberapa kelompok sebab layak dikenali:
- Terkait HLA-B27. Gen HLA-B27 berkaitan dengan spondiloartritis, seperti ankylosing spondylitis, artritis psoriatik, artritis reaktif, dan penyakit radang usus. Uveitisnya khas muncul mendadak pada satu mata, sering kambuh, dan bergantian antara mata kanan dan kiri.
- Artritis idiopatik juvenil. Bentuk kronik yang sering tanpa mata merah pada anak, terutama dengan antibodi antinuklear (ANA) positif.
- Infeksi. Virus herpes simpleks dan varisela zoster, sifilis, serta tuberkulosis. Dua yang terakhir relevan di Indonesia dan tidak boleh terlewat, mengingat sifilis kini punya pedoman nasional.
- Penyakit sistemik lain. Sarkoidosis, penyakit Behçet, dan lupus.
- Cedera mata, termasuk benturan atau benda asing.
Bagaimana dokter memastikan diagnosisnya?
Diagnosis ditegakkan oleh dokter mata lewat pemeriksaan lampu celah. Ketajaman penglihatan dan tekanan bola mata juga diukur, karena tekanan dapat naik maupun turun pada uveitis. Pupil biasanya dilebarkan untuk memeriksa bagian belakang mata dan memastikan tidak ada peradangan di sana.
Pemeriksaan penunjang tidak perlu dilakukan pada semua orang. Pada serangan pertama yang ringan, unilateral, dan sembuh cepat, dokter sering cukup melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik teliti. Tes darah (misalnya HLA-B27, serologi sifilis, atau penapisan tuberkulosis), foto toraks, atau pemeriksaan ANA pada anak dipertimbangkan bila serangannya berat, kambuhan, kronik, mengenai kedua mata, atau ada gejala yang mengarah ke penyakit tertentu seperti nyeri punggung inflamasi, diare berdarah berkepanjangan, atau ruam kulit.
Pengobatan: cepat, terarah, dan jangan berhenti sendiri
Tujuan terapi ada tiga: meredakan peradangan, mencegah perlengketan dan kerusakan, serta mengobati penyebab bila ditemukan. Pilar utamanya, sesuai uraian AAO, adalah tetes mata kortikosteroid untuk menekan radang dan tetes mata pelebar pupil (sikloplegik) untuk mengurangi nyeri serta mencegah iris menempel pada lensa. Steroid biasanya diberikan sering pada awal, lalu diturunkan bertahap selama beberapa minggu. Berhenti mendadak berisiko membuat radang kambuh kembali.
Bila penyebabnya infeksi, obat penyebabnya ikut diberikan, misalnya antivirus untuk herpes atau terapi khusus untuk sifilis dan tuberkulosis. Untuk uveitis yang kronik, sering kambuh, atau tidak terkendali dengan tetes mata, dokter bekerja sama dengan dokter reumatologi dan dapat memberikan obat sistemik. Pada anak dengan uveitis akibat JIA, pedoman American College of Rheumatology dan Arthritis Foundation 2019 menganjurkan kortikosteroid topikal sebagai terapi awal, lalu metotreksat atau obat anti-TNF (adalimumab, infliksimab) bila diperlukan. Uji klinis acak SYCAMORE menunjukkan bahwa menambahkan adalimumab pada metotreksat mengurangi kegagalan terapi pada anak dengan uveitis JIA yang aktif.
Bahaya membeli tetes mata sendiri
Kebiasaan membeli tetes mata di apotek atau warung untuk “mata merah” patut diwaspadai. Antibiotik tidak menolong uveitis. Sebaliknya, tetes mata steroid yang dipakai tanpa diagnosis dapat memperburuk infeksi herpes pada kornea, menaikkan tekanan bola mata (glaukoma steroid), dan mempercepat katarak. Dokter mata perlu memastikan dulu apakah matanya radang, infeksi, atau keduanya.
Komplikasi bila terlambat
Peradangan yang dibiarkan dapat membuat iris menempel pada lensa (sinekia posterior), memicu glaukoma sekunder, katarak, dan pembengkakan makula (edema makula kistoid) yang menurunkan ketajaman penglihatan. Pada JIA, endapan kalsium di kornea (band keratopathy) juga dapat terbentuk. Hampir semua komplikasi ini bisa dicegah atau dikurangi bila radang terkendali sejak dini dan pasien kontrol teratur.
Kapan harus segera ke dokter mata?
Segera periksakan diri bila mata merah disertai salah satu tanda berikut: nyeri, silau, penglihatan menurun, pupil tampak kecil atau tidak bulat, atau keluhan tidak membaik dalam satu-dua hari. Segera juga bila Anda sudah punya penyakit yang berkaitan, seperti spondiloartritis atau penyakit radang usus, lalu mata tiba-tiba merah dan nyeri. Bagi pasien yang sudah terdiagnosis, kunjungan kontrol tetap dijalani walau mata terasa sudah baik, sebab dokter perlu memastikan tidak ada sel yang tersisa dan tekanan mata aman.
Pesan utama
Mata merah yang disertai nyeri, silau, dan penglihatan kabur bukanlah konjungtivitis biasa sampai terbukti sebaliknya. Uveitis anterior dapat diobati dengan baik bila ditangani cepat oleh dokter mata, dan kemunculannya sering membuka kesempatan untuk menemukan penyakit sistemik yang mendasari. Bagi Dion, pemeriksaan lanjutan memastikan ia memang membawa HLA-B27 dan menderita spondiloartritis aksial, sehingga ia kini ditangani dokter mata dan dokter penyakit dalam secara bersamaan.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan pemeriksaan serta nasihat dokter. Kasus Dion adalah ilustrasi rekaan.
Rujukan
- American Academy of Ophthalmology. What Is Uveitis?
- Standardization of Uveitis Nomenclature for Reporting Clinical Data. Am J Ophthalmol. 2005;140(3):509-16.
- Angeles-Han ST, et al. 2019 ACR/Arthritis Foundation Guideline for JIA-Associated Uveitis. Arthritis Rheumatol. 2019;71(6):864-77.
- Ramanan AV, et al. Adalimumab plus Methotrexate for Uveitis in Juvenile Idiopathic Arthritis (SYCAMORE). N Engl J Med. 2017.





Tinggalkan Balasan