A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Hari ini aku mengantarkan ibu untuk apel pagi dalam rangka Hari Kebangkitan Nasional. Aku tak akan protes, walau entah mengapa aku hanya merasa ini sesuatu yang hanya sekadar rutinitas. Itu-itu saja, tanpa ada sesuatu yang baru sebagai pendobrak kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Sementara saat kembali ke rumah, siaran televisi pun penuh dengan isu-isu hangat seputar pembaharuan untuk melangkah ke arah yang lebih baik. Mungkin menjadikan Hari Kebangkitan Nasional sebagai sebuah lecutan energi semangat, maka banyak pihak berharap kita akan menuju sebuah negeri yang lebih baik lagi.

Tapi jika kita sebagai sebuah bangsa merefleksikan kembali diri kita sebagai suatu bangsa yang utuh dan merdeka. Lalu apa yang akan tampak dalam bayangan cerminan kita?

Apakah sebuah negeri yang dihuni oleh bangsa yang cinta kekerasan tapi berkata cinta damai, cobalah lihat mulai dari kenakalan remaja, geng motor, preman yang suka memalak, penghakiman masa pada orang yang dicurigai melakukan santet, kekerasan pada anak dan dalam keluarga, hingga anggota dewan yang suka beradu mulut hingga beradu tinju dan disaksikan oleh rakyat yang diwakilkannya?

Apakah akan kita saksikan bangsa yang tidak acuh pada sejarahnya atau tidak belajar dari masa yang telah menghantarkannya pada kekinian. Suara-suara yang katanya masih bisa dibeli saat pemilihan, dan kemudian mengeluh karena pimpinannya tidak mendengarkan suara mereka. Perjudian yang semakin gesit menghindari hukum, dan konon juga bisa bercengkrama dengan hukum hingga perjudiannya merambah ke ranah politik. Rakyat kecil tetap tertekan, dan yang harta dan kekuasaan konon bisa tetap melaju dengan mangatasnamakan suara rakyat.

Ataukah kita akan berubah dengan menggunakan momen ini sebagai pelontar raksasa bangsa yang besar ini?

Kita sendiri yang memiliki jawabannya, tidak perlu dikabarkan, tidak perlu disiarkan, tidak perlu diperbincangkan, diperdebatkan, disidangkan, apalagi dikomersialkan. Silakan ambil langkah nyata kita sebagai suatu bangsa yang memiliki jati diri.

Perubahan atau tidak, quo vadis perubahan itu, semuanya ada pada bangsa ini. Saya mungkin terlalu lelah dengan hiruk pikuk panggung banyak pihak banyak bintang di negeri ini, karena saya lebih suka semangat dan kesunyian kampung pedesaan yang lebih sederhana.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional ke-102.

Terkirim dari telepon Nokia E71 | http://www.legawa.com

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca