A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sejarah secara resmi mencatat bahwa bangsa ini telah 100 tahun mengalami kebangkitan nasional, terhitung sejak berdirinya Budi Utomo 20 Mei pada 100 tahun yang silam. Mengesampingakan semua kontroversi lainnya, pendapat lainnya mengenai apakah saat ini layak dijadikan peringatan kebangkitan nasional, bukannya saat-saat yang lainnya, meskipun di luar sana begitu banyak pendapat bahwa seharusnya momen A atau B-lah yang layak menjadi tonggak kebangkitan nasional. Kita tak melupakan sejarah begitu saja, walau sebagian besar dari kita bukanlah saksi sejarah itu sendiri.

Mungkin kebenarannya akan pudar bersama dengan waktu, namun semangat untuk menjadikan bangsa ini besar dan jaya tak pernah menghilang dari hati putra dan putrinya. Kita menutup mata, bahwa negeri ini sedang dalam masa yang ‘menyedihkan’ di mana setiap pihak hanya melihat dirinya sebagai suatu pribadi dan kelompok, namun rasa dalam satu panji merah-putih sedang redup. Ketika kesenjangan melanda negeri yang konon kaya raya ini, warga negaranya menjadi serba kesusahan, petani tak lagi bisa menikmati hasil taninya sendiri, nelayan kita harus bersaing untuk dapat bertahan hidup dengan kapal-kapal pencuri ikan yang serba canggih. Orang-orang tak terdidiki hadir dimana-mana, karena pendidikan menjadi barang yang begitu mahal dan elit, jika pun mereka meraihnya, pendidikan tak memberikan banyak harapan kecuali mengambil waktu yang bisa mereka gunkan untuk mencari sesuap makan. Orang-orang terdidik tak dapat berbuat apa-apa, karena mereka sendiri kesulitan, kesulitan karena tak tahu bagaimana bisa membantu, karena tak tahu bahwa birokrasi begitu sulit dibandingkan bantuan tunai, atau karena mereka tak bisa menemukan nurani lagi diantara hitungan yang diajarkan pada mereka untuk menumpuk sedikit rejeki menjadi kekayaan. Negeri ini kaya akan rempah, namun dipelosok atau jutaan warganya yang tak pernah makan makanan berbumbu, dan lidah mereka menjadi hambar sehambar mimpi kesejahteraan di era kemerdekaan. Negeri ini kaya akan hasil perut bumi, namun rakyatnya harus membeli minyaknya sendiri seolah itu datang dari negeri seberang. Negeri ini kaya akan budaya, namun kini sebagian besar hanya sebuah kenangan yang tersisa menjadi hitam di atas putih dalam museum atau kepustakaan negara, atau lusuh teronggok antara ketidakpedulian.

Lagu kesedihan bunda pertiwi terus berdendang di pelosok negeri. Aku bahkan tak bisa menduga apalagi yang bisa terjadi di masa yang mendatang pada bangsa yang sedang terpecah ini. Dendangan lagu nenek moyangku tentang negeri yang damai, tentram dan sejahtera bak siluet di antara terbenamnya sang surya. Walau demikian kita memandang bangsa ini, bukanlah selayaknya kita berkecil hati, tidak ada langkah yang melompat dari sebauh kekacauan kecuali keajaiban, dan kita bukanlah para pemimpi keajaiban itu, langkah yang perlahan namun pasti, itulah yang kini dapat diberikan setiap orang. Pasti menjadi lebih baik di hari esok, pasti bersedia berbagi dengan sesama, pasti tak akan terhenti berusaha walau halangan dan kekacauan ini tak tampak ujung pangkalnya, pasti kita aka menjadi lebih dari sekadar kebodohan yang melekat pada kita saat ini. Karena setiap langkah kita akan m membuat kita belajar berjalan, dan mungkin berlari. Kita bisa untuk tidak mewarisi kekacauan masa kini pada generasi mendatang, dengan kepastian kita tidak membuat sesuatu yang lebih kacau lagi. Sebagaimana yang dideklarasikan oleh Bapak Presiden SusiloBambang Yudhoyono dalam peringatan 100 tahun kebangkitan Nasional, Indonesia Bisa!

Dan ingatlah, Indonesia adalah sebutan bagi sebuah bangsa yang besar, dengan semua kemajemukannya, janganlah pernah menyangkal kemajemukan ini, karena itu akan menyangkal bangsa yang besar ini, bangsa Indonesua.

Artikel Baru Terbit

  • Indah di Mata, Perlu Ditimbang di Ruang Rawat: Bunga, Tanaman, dan Hiasan Dinding dalam Kacamata Pencegahan Infeksi
    Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
  • Virus untuk Melawan Kanker: Menimbang Kisah Virolog yang Menjadi Pasien Sekaligus Peneliti
    Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
  • Ketika Kelamin Bayi Tak Sesuai “Buku Panduan”: Mengenal Differences in Sex Development
    DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
  • Ketika Diabetes Mengancam Penglihatan: Mengenal Retinopati Diabetik
    Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
  • Ketika Diabetes Menjadi Kegawatdaruratan: Mengenal Ketoasidosis Diabetik
    Ketoasidosis diabetik adalah kegawatdaruratan metabolik diabetes melitus berupa trias hiperglikemia, ketonemia, dan asidosis, dipicu terutama oleh infeksi atau penghentian insulin. Tata laksana berpusat pada terapi cairan, insulin intravena kontinu, dan koreksi kalium, dengan pemantauan ketat untuk mencegah hipoglikemia, hipokalemia, dan komplikasi mengancam nyawa lainnya.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca