A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Belum lama berselang kenaikan harga tarif dasar listri per 1 Juli 2010, beberapa hari kemudian harga makanan siap saji di sebuah warteg langgananku sudah mengalami kenaikan. Padahal biasanya di sana murah meriah.

Walau mungkin tidak terlampau mahal, sekitar lima ratus hingga seribu rupiah per porsi, tapi hitungan itu juga lumayan banyak jadinya kalau diakumulasi. Untung saja makanku tidak banyak, sehingga masih bisa mengencangkan ikat pinggang.

Ada ada saja memang pemerintah ini. Biar pun tarif listrik di negeri ini masih terbilang murah, kalau masyarakat kecil bilang kenaikan listrik akan membebani kok malah ndak didengarkan toh. Memangnya tidak percaya ya, kalau sekarang kenaikan harga barang mulai menunjukkan geliatnya di setapak-setapak pasaran rakyat.

Kalau untuk mengisi perut saja sudah ditambah mahal, maka segala sesuatunya akan ikut melambung bersama suara lambung yang makin sering kosong. Tidak ada yang namanya walau kenaikan listrik tidak dikenakan pada rakyat miskin berarti mereka tidak terkena imbasnya. Piye toh itung-itungane.

Inflasi mungkin tidak dapat dibendung, yang bisa selamat dari air bahnya mungkin bukan rakyat kecil yang untuk makan sesuap nasi pun jadi berpikir terlalu jauh.

Ah, jadi ke mana-mana ngomongnya. Saya hanya orang bodoh yang tidak mengerti ekonomi, baik makro maupun mikro.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca