A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Rasanya saya ingat ada yang pernah bertanya, apakah rokok rendah tar lebih aman untuk kesehatan? Ah…, saya agak bingung juga sih menjawabnya, bukan perokok lha ditanya tentang rokok, bahkan jujur saya tidak tahu apa-apa tentang rokok, kecuali teori sederhana yaitu, “rokok buruk untuk kesehatan”.

Namun pertanyaan ini mengusik saya, sehingga saya pun mencari tahu. Saya menemukan, entah apa yang digunakan istilahnya di dalam negeri, namun di luar negeri, seperti Amerika ada produsen rokok yang menyematkan jargon/istilah “light”, “low” atau “mild” ke dalam produk rokok mereka, untuk menunjukkan tipe rokok yang rendah tar (salah satu kandungan dalam rokok).

Sayangnya, entah kenapa – atau karena strategi pasar sukses – rokok dengan label istilah seperti itu dianggap oleh para perokok (bahkan juga non-perokok) lebih kurang berbahaya (efek kesehatannya lebih sedikit). Namun semua itu tentu saja mitos.

Setahun yang lalu, tepatnya 22 Juni 2009, Preside Obama menandatangani apa yang dikenal sebagai “Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act” yang memberikan kewenangan terhadap otoritas lembaga pangan dan obat (Sejenis Badan POM) untuk mengatur regulasi rokok. Kini salah satu aturan yang baru dirilis adalah melarang pendeskripsian “light” atau “mild” atau sejenisnya dalam label, kemasan dan iklan rokok.

Put Out The Myth of Light, Low or Mild Ciggarets | FDA

Ya mungkin karena misinterpretasi yang muncul dari penggunaan istilah seperti ini. Namun mengonsumsi rokok ini tidak mengurangi risiko perokok terkena kanker terkait rokok atau pun penyakit lainnya. Pada intinya, semua rokok itu berbahaya, jadi sebaiknya dihindari saja.

Tapi terus terang, saya belum paham benar regulasi kalau di Indonesia. Menonton televisi tentang perdebatan tembakau dalam undang-undang saja sudah membuat risih.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

21 tanggapan

  1. Avatar Edy
    Edy

    Perokok berat yang kecanduan memerlukan sekian gram nikotin / tar di otaknya, apabila merokok dengan kandungan nikoti/tar yang rendah, otak akan merangsang perokok untuk lebih banyak merokok low tar agar memenuhi kebutuhan nikotin / tar nya sehingga akan merokok lebih banyak jumlah batang rokok yang low tar

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca