Kadang ada saja proses yang berjalan dan tidak mau dimatikan dengan cara standar pada antarmuka pengguna. Sehingga proses ini mungkin perlu diterminasi dengan jalan yang lebih kejam. ‘Kill Pid‘ merupakan salah satu perintah yang paling sering digunakan oleh seorang newbie seperti saya saat bersentuhan dengan kompleksitas sistem operasi Linux/Unix.
‘Kill‘ sendiri merupakan sebuah perintah (command) yang bersifat universal pada hampir semua jenis shell, dan PID menunjukkan identitas sebuah proses yang sedang berjalan secara numerik. Jadi perintah ‘kill pid‘ adalah perintah untuk membunuh sebuah proses sesuai dengan identitas numeriknya.
Dalam pengalaman saya, ada beberapa proses yang sering tumpang tindih dalam menjalankan program di Linux. Misalnya antara automatic update dengan manual update. Ketika pembaruan otomatis berjalan di balik layar, maka pembaruan secara manual tidak bisa dijalankan karena proses dihalangi oleh pembaruan otomatis. Jadi jika saya ingin menjalankan pembaruan secara manual, maka proses pembaruan otomatis harus diterminasi terlebih dahulu.
Contoh terminasi proses dengan kill pid melalui baris perintah di OpenSUSE
Ada sebuah contoh kasus yang unik – mungkin karena saya tidak sepenuhnya paham. Baik dalam tampilan antarmuka pengguna maupun baris perintah ada sebuah proses yang berjalan sehingga proses lain tidak bisa dimulai, namun ketika ditelusuri melalui ‘system monitor‘ PID untuk proses itu tidak tampak sedang berjalan/dijalankan.
Pada contoh gambar di atas sebuah proses dengan ID 8749 sedang bekerja dan menghalangi pemasangan repositori melalui baris perintah. Maka untuk membunuh proses ini, saya menuliskan perintah:
sudo kill pid 8749
Walau kemudian tampil bahwa proses ID dinyatakan tidak valid, namun pasca perintah ini diberikan, permasalahan atau isu konflik sebelumnya sudah tidak ditemukan lagi. Tapi karena saya tidak begitu memahaminya, saya rasa tidak ada gunanya memikirkan hal ini terlalu keras (atau parahnya, saya-lah yang selama ini salah menggunakan command yang sesuai, he he).
Pneumonia aspirasi terjadi saat isi mulut atau lambung salah jalan ke saluran napas. Kenali kelompok berisiko, cara membedakannya dari pneumonitis, prinsip pengobatan terkini, dan langkah pencegahan sederhana di rumah.
Artikel ini membahas pentingnya Infection Control Risk Assessment (ICRA) dalam pengelolaan risiko infeksi di rumah sakit, melampaui hanya penilaian risiko sebelum renovasi. ICRA mencakup penilaian risiko infeksi dalam pelayanan klinis rutin, dan mengingatkan perlunya sinergi antara Komite PPI dan Komite Mutu untuk memastikan keselamatan pasien melalui integrasi data risiko yang efektif.
Gemini 4 Carbon dirilis terbatas untuk pembela siber, laporan dugaan distilasi model OpenAI, dan agen AI yang menulis banyak pull request di GitHub.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Habisnya yang harusnya ngajarin ngumpet di kost terus sih :p.
Ya, antarmuka pengguna versi saya 😀 – kalau bukan dengan baris perintah tentunya yang model grafis Bli (apa ada tipe lain?).
Pak Aldy,
Saya sependapat dengan yang disampaikan Bli Dani, karena beliau lebih berpengalaman – alias pernah merasakan sendiri salah satu dampak peretas di blognya.
untuk jelasnya apa saja yang bisa dilakukan perintah berbasis teks:
<code>man kill</code> (manual untuk perintah kill).
Cahya,
maksudnya kalimat "lebih memilih antarmuka pengguna" mungkin "lebih memilih antarmuka pengguna model grafis"?
Pak Aldy,
tentang akun WordPress itu, jika memang bukan kealpaan pengguna sendiri, coba hubungi admin server WordPress.com. Laporkan telah disusupi. Cek surel Bu Siti, apakah dikuasai orang lain juga. Berikutnya, lebih berhati-hati saja.
Yang terjadi di blog itu – menurut hemat saya jika tidak keliru – adalah admin yang hanya mengizinkan blog dilihat/diakses oleh admin dan member saja.
Pengaturannya ada di /wp-admin/options-privacy.php, dan sayangnya – setahu saya ini hanya bisa dilakukan oleh akun yang memiliki kuasa admin blog. Dan menurut hemat saya juga, pihak WordPress tidak akan melakukan hal ini karena kan tidak ada diperjanjian pengguna akhir – yang ada hanya suspend blog atau penghapusan blog.
Kemungkinannya, seseorang dengan kuasa akun admin membuat setelan itu di blog tersebut.
OOT, mas Cahya
mohon informasi, apakah pernah pihak wordpres.com membuat laman blog menjadi terkunci? (bukan disuspen, beda kasus dengan freesmsc.wordpress.com).
Laman blog sudah tidak bisa ditampilkan kecuali menggunakan kata kunci.
Padahal saya tidak pernah membuat pengaturan seperti itu.
“This blog is protected; to view it, you must log in.”
Saya lebih nyaman dengan antarmuka pengguna, tapi jika terpaksa menggunakan baris perintah – saya rasa sama juga, mesti buka kamus terlebih dahulu – bukan native linux sih :|.
Tinggalkan Balasan