A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

  1. Pendahuluan
  2. Efektivitas Kondom: Bukti Ilmiah Terkini
  3. Kesalahpahaman tentang Kampanye Kondom
    1. Mitos: Kampanye Kondom Melegalkan Perilaku Seks Bebas
  4. Dimensi Hak Asasi Manusia yang Terlupakan
    1. Hak ODHIV untuk Hidup Normal
    2. Realitas Penularan HIV yang Kompleks
  5. Landscape Pencegahan HIV Kontemporer
    1. 1. Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP)
    2. 2. Undetectable = Untransmittable (U=U)
    3. 3. Sirkumsisi Medis Pria Sukarela
    4. 4. Post-Exposure Prophylaxis (PEP)
  6. Data HIV/AIDS di Indonesia: Urgensi Tindakan Komprehensif
  7. Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Pencegahan HIV
    1. 1. Stigma dan Diskriminasi
    2. 2. Keterbatasan Sumber Daya
    3. 3. Akses Layanan yang Tidak Merata
    4. 4. Pengetahuan yang Masih Terbatas
  8. Pendekatan Komprehensif: Jalan Tengah yang Realistis
    1. 1. Kombinasi Pencegahan (Combination Prevention)
    2. 2. Layanan Berbasis Komunitas
    3. 3. Integrasi Layanan Kesehatan
    4. 4. Pendidikan Kesehatan Seksual Komprehensif
  9. Kesimpulan
  10. Catatan Kaki
  11. Referensi

Pendahuluan

Lebih dari empat dekade sejak Human Immunodeficiency Virus¹ (HIV) pertama kali diidentifikasi, dunia masih berjuang menghadapi epidemi yang terus berkembang. Di Indonesia, situasinya mengkhawatirkan: estimasi menunjukkan sekitar 503.000-570.000 orang hidup dengan HIV pada tahun 2024, menempatkan Indonesia di urutan ke-14 dunia dalam jumlah kasus HIV.1,2 Sepanjang tahun 2024, Kementerian Kesehatan mencatat 63.707 kasus HIV positif dan 21.536 kasus AIDS3,4—angka tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Di tengah angka-angka yang memprihatinkan ini, kampanye kondom sebagai salah satu metode pencegahan HIV sering menuai kontroversi. Perdebatan tidak sekadar tentang efektivitas medis, melainkan juga menyentuh dimensi etika, nilai sosial, dan hak asasi manusia. Artikel ini mengkaji kembali pro-kontra kampanye kondom dengan perspektif yang lebih luas, didukung oleh bukti ilmiah terkini dan pemahaman tentang kompleksitas pencegahan HIV di masyarakat.

Efektivitas Kondom: Bukti Ilmiah Terkini

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kondom, ketika digunakan secara konsisten dan benar, memiliki efektivitas 98% dalam mencegah penularan HIV.5 Data UNAIDS menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan kondom sejak tahun 1990 telah mencegah diperkirakan 117 juta infeksi HIV baru secara global—hampir setengahnya (47%) di Afrika sub-Sahara dan lebih dari sepertiga (37%) di Asia dan Pasifik.6

Penelitian meta-analisis yang dipublikasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menemukan bahwa penggunaan kondom secara konsisten mengurangi risiko penularan HIV sebesar 70-95%, tergantung pada populasi dan jenis hubungan seksual.7,8 Studi yang lebih spesifik menunjukkan bahwa pengguna kondom konsisten memiliki risiko 10-20 kali lebih kecil untuk terinfeksi HIV dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan kondom atau menggunakan secara tidak konsisten.9

Penting untuk memahami bahwa tidak ada metode pencegahan yang memberikan perlindungan 100%. Namun, efektivitas 90-98% dengan penggunaan yang benar menjadikan kondom sebagai salah satu alat pencegahan HIV yang paling terjangkau dan dapat diakses saat ini.10

Kesalahpahaman tentang Kampanye Kondom

Mitos: Kampanye Kondom Melegalkan Perilaku Seks Bebas

Salah satu kritik paling umum terhadap kampanye kondom adalah kekhawatiran bahwa pembagian kondom gratis atau promosi penggunaannya seolah-olah memberikan “lampu hijau” untuk perilaku seks bebas. Namun, pandangan ini perlu diluruskan dengan beberapa fakta penting:

Pertama, perilaku seksual seseorang tidak ditentukan oleh ketersediaan kondom, melainkan oleh kompleksitas faktor psikologis, sosial, ekonomi, dan budaya yang jauh lebih mendalam. Penelitian menunjukkan bahwa akses terhadap kondom dan edukasi penggunaannya tidak meningkatkan aktivitas seksual atau mendorong perilaku berisiko, bahkan di kalangan remaja.11

Kedua, kampanye kondom bukanlah satu-satunya strategi pencegahan HIV. WHO dan UNAIDS mempromosikan pendekatan komprehensif yang mencakup: abstinence (tidak melakukan hubungan seksual), being faithful (setia pada satu pasangan), dan condom use§ (penggunaan kondom)—yang dikenal dengan strategi ABC.12 Kampanye kondom bukan pengganti dari edukasi mengenai penundaan aktivitas seksual atau kesetiaan dalam hubungan, melainkan pelengkap yang realistis menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang akan atau mampu mengikuti dua pendekatan pertama.

Ketiga, target utama kampanye kondom adalah populasi kunci** yang memiliki risiko tinggi terpapar HIV, termasuk: pekerja seks komersial, lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki (LSL), pengguna narkoba suntik, waria, dan pasangan dari orang dengan HIV (ODHIV).13 Data menunjukkan bahwa di Indonesia, 60% kasus HIV terjadi pada kelompok usia produktif 25-49 tahun, dan 19% pada kelompok usia 20-24 tahun.14

Dimensi Hak Asasi Manusia yang Terlupakan

Salah satu aspek paling krusial namun sering diabaikan dalam perdebatan kampanye kondom adalah hak asasi ODHIV. Menolak kampanye kondom secara tidak langsung melakukan diskriminasi terhadap mereka yang hidup dengan HIV/AIDS.

Hak ODHIV untuk Hidup Normal

ODHIV memiliki hak fundamental untuk menjalani kehidupan yang bermartabat, termasuk dalam aspek kehidupan seksual dan reproduksi. Tema Hari AIDS Sedunia 2024, “Take The Rights Path: Hak Setara Untuk Semua,”15 menekankan bahwa setiap orang—termasuk ODHIV—berhak atas layanan kesehatan yang memadai tanpa diskriminasi.

Kondom menjadi alat penting bagi ODHIV untuk:

  1. Melindungi pasangan yang belum terinfeksi HIV (serodiscordant couples)
  2. Mencegah reinfeksi dengan strain HIV yang berbeda atau resisten obat
  3. Melindungi dari infeksi menular seksual (IMS) lain yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka

Bahkan untuk sesama ODHIV yang menjalani terapi antiretroviral¶¶ (ARV) dan telah mencapai viral load†† yang tidak terdeteksi (undetectable = untransmittable atau U=U),16 penggunaan kondom tetap dianjurkan untuk mencegah IMS dan sebagai perlindungan tambahan.

Realitas Penularan HIV yang Kompleks

Tidak semua ODHIV terinfeksi melalui perilaku seks bebas atau penggunaan narkoba. Banyak yang terinfeksi melalui:

  • Penularan dari pasangan dalam pernikahan yang tidak diketahui status HIV-nya
  • Transfusi darah yang terkontaminasi
  • Penularan dari ibu ke anak (mother-to-child transmission‡‡)
  • Kekerasan seksual

Menyalahkan atau mendiskriminasi ODHIV—apapun jalur penularannya—adalah pelanggaran terhadap martabat kemanusiaan. Data menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi menjadi penghalang utama untuk mengakhiri epidemi HIV, menghambat orang untuk melakukan tes, mengakses pengobatan, dan mematuhi terapi ARV.17

Landscape Pencegahan HIV Kontemporer

Pencegahan HIV telah berkembang jauh melampaui sekadar promosi kondom. Saat ini tersedia berbagai metode pencegahan yang dapat dikombinasikan untuk memberikan perlindungan optimal:

1. Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP)

PrEP adalah obat antiretroviral yang dikonsumsi oleh orang yang negatif HIV namun berisiko tinggi terpapar virus. Ketika diminum sesuai anjuran, PrEP memiliki efektivitas lebih dari 90% dalam mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual.18

Indonesia meluncurkan program pilot PrEP pada tahun 2021 di 7 provinsi, kemudian diperluas menjadi 10 provinsi pada tahun 2023, dan secara resmi diintegrasikan ke dalam program nasional HIV pada tahun 2024.19,20 Petunjuk Teknis Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menyediakan panduan komprehensif untuk implementasi PrEP di fasilitas layanan kesehatan.21

Penting untuk dipahami bahwa PrEP bukan pengganti kondom, melainkan pelengkap. PrEP tidak melindungi dari IMS lainnya seperti gonore, sifilis, atau klamidia. Kombinasi PrEP dan penggunaan kondom konsisten memberikan perlindungan maksimal.22

2. Undetectable = Untransmittable (U=U)

ODHIV yang menjalani terapi ARV secara konsisten dan mencapai viral load yang tidak terdeteksi memiliki risiko nol untuk menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.23 Konsep U=U ini telah mengubah paradigma pencegahan HIV dan mengurangi stigma terhadap ODHIV.

Target global 95-95-95 yang ditetapkan UNAIDS bertujuan agar pada tahun 2030: 95% ODHIV mengetahui status mereka, 95% yang mengetahui statusnya mendapat pengobatan ARV, dan 95% yang mendapat pengobatan mengalami supresi virus.24 Indonesia berkomitmen mencapai target ini pada tahun 2027.25

3. Sirkumsisi Medis Pria Sukarela

Sirkumsisi medis telah terbukti mengurangi risiko penularan HIV dari perempuan ke laki-laki sebesar sekitar 60%.26 Namun, perlindungan ini tidak sempurna dan tetap memerlukan kombinasi dengan metode pencegahan lainnya.

4. Post-Exposure Prophylaxis (PEP)

PEP adalah pengobatan darurat yang dimulai dalam 72 jam setelah kemungkinan terpapar HIV, misalnya setelah kekerasan seksual atau kondom bocor. PEP diberikan selama 28 hari dan sangat efektif jika dimulai sesegera mungkin.27

Data HIV/AIDS di Indonesia: Urgensi Tindakan Komprehensif

Situasi HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:

  • Estimasi ODHIV hidup tahun 2024: 503.261-570.000 orang28,29
  • Kasus baru HIV tahun 2024: 35.415-63.707 kasus30,31
  • Kasus baru AIDS tahun 2024: 12.481-21.536 kasus31
  • Kasus TB-HIV tahun 2024: 17.136 kasus, meningkat dari 15.375 kasus di tahun 202232
  • Cakupan pengobatan: Hanya 31% ODHIV mengakses terapi ARV33
  • Supresi viral: Hanya 14% ODHIV mencapai viral load tidak terdeteksi33

Data ini menunjukkan kesenjangan signifikan antara jumlah ODHIV dengan mereka yang mengetahui status dan mendapat pengobatan. Stigma, diskriminasi, dan keterbatasan akses layanan menjadi hambatan utama.

Distribusi kasus HIV menurut provinsi pada tahun 2024 menunjukkan Jawa Timur memiliki jumlah tertinggi (9.359 kasus AIDS baru atau 16% dari total nasional), diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya.34

Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Pencegahan HIV

1. Stigma dan Diskriminasi

Stigma terhadap ODHIV dan populasi kunci tetap menjadi penghalang terbesar. Penelitian menunjukkan bahwa ODHIV sering menghadapi diskriminasi dalam bentuk dijauhi, dikucilkan dari lingkungan, bahkan kesulitan mengakses layanan kesehatan.35

2. Keterbatasan Sumber Daya

Program pencegahan HIV di Indonesia sangat bergantung pada pendanaan internasional. Global Fund mengalokasikan $102 juta untuk tiga tahun (2024-2026) untuk 178 distrik prioritas HIV di Indonesia, sementara pemerintah AS melalui USAID menyediakan $11 juta per tahun.33 Kondom, PrEP, dan alat tes mandiri HIV sebagian besar disediakan melalui dukungan Global Fund dan USAID.33

3. Akses Layanan yang Tidak Merata

Layanan pencegahan HIV, termasuk akses PrEP dan kondom, masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Wilayah rural dan terpencil menghadapi tantangan aksesibilitas yang signifikan.36

4. Pengetahuan yang Masih Terbatas

Studi di Shanghai menunjukkan bahwa meskipun 91,6% siswa SMA mengetahui jalur penularan HIV, hanya 75,88% yang memahami jalur non-penularan. Edukasi komprehensif meningkatkan pengetahuan secara signifikan, termasuk pemahaman tentang efektivitas kondom.37

Pendekatan Komprehensif: Jalan Tengah yang Realistis

Menghadapi kompleksitas epidemi HIV, diperlukan pendekatan multifaset yang mengintegrasikan berbagai strategi:

1. Kombinasi Pencegahan (Combination Prevention)

UNAIDS merekomendasikan pendekatan kombinasi yang mencakup:

  • Pencegahan biomedis: Kondom, PrEP, PEP, sirkumsisi medis, pengobatan ARV untuk U=U
  • Pencegahan perilaku: Edukasi kesehatan reproduksi, konseling, pengurangan risiko
  • Pencegahan struktural: Penghapusan stigma, reformasi kebijakan diskriminatif, penguatan sistem kesehatan38

2. Layanan Berbasis Komunitas

Organisasi berbasis komunitas memainkan peran krusial dalam menjangkau populasi kunci. Pendekatan peer-to-peer§§ terbukti lebih efektif karena membangun kepercayaan dan mengurangi stigma.39

3. Integrasi Layanan Kesehatan

Integrasi skrining dan pengobatan HIV dengan layanan kesehatan lainnya—termasuk TB, hepatitis, IMS, dan kesehatan reproduksi—meningkatkan akses dan efisiensi.40

4. Pendidikan Kesehatan Seksual Komprehensif

Edukasi yang dimulai sejak dini, disesuaikan dengan usia, dan mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, dan etika terbukti efektif dalam membentuk perilaku seksual yang bertanggung jawab.41

Kesimpulan

Kampanye kondom bukanlah solusi tunggal untuk epidemi HIV/AIDS, tetapi merupakan komponen esensial dari strategi pencegahan yang komprehensif. Bukti ilmiah secara konsisten menunjukkan efektivitas kondom dalam mengurangi penularan HIV ketika digunakan dengan benar dan konsisten.

Menolak kampanye kondom dengan alasan moral tanpa menyediakan alternatif pencegahan yang efektif adalah sikap yang tidak realistis dan berpotensi meningkatkan penularan HIV. Lebih dari itu, penolakan tersebut secara tidak langsung mendiskriminasi ODHIV dan melanggar hak asasi mereka untuk hidup bermartabat.

Pendekatan yang seimbang mengakui bahwa:

  1. Idealisme dan realisme harus berjalan beriringan: Mendorong perilaku seksual yang bertanggung jawab sambil menyediakan alat pencegahan bagi mereka yang berisiko
  2. Hak asasi manusia tidak bisa dikompromikan: ODHIV berhak mendapat dukungan, bukan diskriminasi
  3. Kombinasi strategi lebih efektif: Kondom, PrEP, U=U, edukasi, dan penghapusan stigma harus berjalan simultan
  4. Sains harus memandu kebijakan: Keputusan kesehatan masyarakat harus berbasis bukti, bukan asumsi

Dalam konteks Indonesia yang menghadapi peningkatan kasus HIV di kalangan usia produktif, komitmen untuk mencapai target 95-95-95, dan tantangan aksesibilitas layanan, kampanye kondom—bersama dengan metode pencegahan HIV lainnya—menjadi semakin urgent. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif, inklusif, dan berbasis bukti ilmiah, kita dapat berharap mencapai tujuan global “Akhiri AIDS 2030.”


Catatan Kaki

¹ Human Immunodeficiency Virus (HIV): Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4, sehingga melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi

Abstinence: Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali

Being faithful: Kesetiaan pada satu pasangan seksual

§ Condom use: Penggunaan kondom saat berhubungan seksual

** Populasi kunci: Kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar HIV karena perilaku atau kondisi sosial tertentu

Serodiscordant couples: Pasangan di mana satu orang HIV positif dan pasangannya HIV negatif

¶¶ Terapi antiretroviral (ARV): Pengobatan menggunakan kombinasi obat-obatan yang menghambat replikasi virus HIV

†† Viral load: Jumlah virus HIV dalam darah

‡‡ Mother-to-child transmission: Penularan HIV dari ibu kepada bayinya, bisa terjadi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui

§§ Peer-to-peer: Pendekatan pendidikan atau dukungan dari sesama anggota kelompok yang memiliki pengalaman atau latar belakang serupa


Referensi

  1. Kementerian Kesehatan RI. Laporan Penilaian Risiko Cepat 2024. Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
  2. Indonesia.go.id. Hari AIDS Sedunia 2024: Hak Setara Untuk Semua. Tersedia dari: https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8833/hari-aids-sedunia-2024-hak-setara-untuk-semua
  3. CNN Indonesia. Kemenkes Catat 35 Ribu Kasus HIV Baru Sepanjang 2024. 2024 Des. Tersedia dari: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20241202104452-255-1172755/kemenkes-catat-35-ribu-kasus-hiv-baru-sepanjang-2024
  4. Databoks Katadata. Indonesia’s Reported HIV Positive and AIDS Cases Reach Record High in 2024. Oktober 2025. Tersedia dari: https://databoks.katadata.co.id/en/consumer-services/statistics/68ef4c14e8706
  5. World Health Organization. Condoms – Fact Sheets. Geneva: WHO; 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/condoms
  6. UNAIDS. Condoms. Geneva: UNAIDS; 2025. Tersedia dari: https://www.unaids.org/en/keywords/condoms
  7. Smith DK, Herbst JH, Zhang X, Rose CE. Condom effectiveness for HIV prevention by consistency of use among men who have sex with men in the United States. J Acquir Immune Defic Syndr. 2015;68(3):337-344.
  8. Centers for Disease Control and Prevention. HIV Risk and Prevention Estimates. Atlanta: CDC; 2024. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/hivpartners/php/riskandprevention/
  9. International Association of Providers of AIDS Care. Condoms – Fact Sheet. Tersedia dari: https://www.iapac.org/fact-sheet/condoms/
  10. Aidsmap. Do condoms work? London: NAM Publications; 2024. Tersedia dari: https://www.aidsmap.com/about-hiv/do-condoms-work
  11. Wang P, Yu X, Zhang B. Enhancing HIV/AIDS knowledge and attitudes through a healthcare-school collaborative model: a study among Shanghai high school students. AIDS Res Ther. 2025;22(1):122. DOI
  12. World Health Organization. Global health sector strategy on HIV, Hepatitis and Sexually Transmitted Infections, 2022–2030. Geneva: WHO; 2022.
  13. Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Tatalaksana Program Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP) untuk Orang dengan Risiko Tinggi Terinfeksi HIV di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
  14. Detikhealth. Data Kasus HIV menurut Kelompok Usia 2024. Jakarta; 2024.
  15. World Health Organization. World AIDS Day 2024: Take The Rights Path. Geneva: WHO; 2024.
  16. Cohen MS, Chen YQ, McCauley M, et al. Prevention of HIV-1 infection with early antiretroviral therapy. N Engl J Med. 2011;365(6):493-505.
  17. UNAIDS. 2024 Global AIDS Update – The Urgency of Now. Geneva: UNAIDS; 2024.
  18. China CDC Weekly. Synergizing Digital and Physical Approaches: Experience Summary of the HIV PrEP Promotion Project. 2025;8. Tersedia dari: https://weekly.chinacdc.cn/en/article/doi/10.46234/ccdcw2025.012
  19. Jocelyn, Nasution FM, Nasution NA, et al. HIV/AIDS in Indonesia: current treatment landscape, future therapeutic horizons, and herbal approaches. Front Public Health. 2024;12:1298297. DOI
  20. IJID Regions. HIV incidence and adherence after pre-exposure prophylaxis initiation in key populations in Indonesia: Findings from a real-world pilot program 2021-2023. 2025. Tersedia dari: https://regions.ijidonline.org/article/S2772-7076(25)00008-6/fulltext
  21. Ministry of Health Republic of Indonesia. Technical Instructions for the Management of the Oral Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) Program. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
  22. Bridge Connect Africa. Condoms, Consent & Conversations: What Every Young Person Should Know About HIV. 2025. Tersedia dari: https://health.bridgeconnectafrica.org/2025/06/05/condoms-consent-conversations
  23. Eisinger RW, Dieffenbach CW, Fauci AS. HIV viral load and transmissibility of HIV infection: undetectable equals untransmittable. JAMA. 2019;321(5):451-452.
  24. UNAIDS. 95-95-95 Targets. Geneva: UNAIDS; 2023.
  25. Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Pertemuan Penggalangan Komitmen Pencapaian Target Viral Load HIV Tahun 2024. September 2024. Tersedia dari: https://dinkes.lampungprov.go.id/pertemuan-penggalangan-komitmen-pencapaian-target-viral-load-hiv-tahun-2024/
  26. World Health Organization. Male circumcision for HIV prevention. Geneva: WHO; 2023.
  27. Centers for Disease Control and Prevention. Preventing HIV with PEP. Atlanta: CDC; 2024.
  28. Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Hari AIDS Sedunia 2024. Jakarta: Setjen Kemenkes; 2024. Tersedia dari: https://setjen.kemkes.go.id/berita/detail/hari-aids-sedunia-2024
  29. BPS Kabupaten Lampung Tengah. Hari AIDS Sedunia 2024. Desember 2024.
  30. Salihu HM, Murtala AM, Abdullahi AA, et al. Risks and predictors of HIV infection among adolescents in conflict regions of Nigeria. Int J Adolesc Med Health. 2025. DOI
  31. Databoks Katadata. Indonesia Reports 58,000 New AIDS Cases in 2024. Maret 2025.
  32. ANTARA News. Kemenkes: Kasus TB HIV 2024 naik jadi 17.136. Jakarta: ANTARA; Januari 2025. Tersedia dari: https://www.antaranews.com/berita/4607178/kemenkes-kasus-tb-hiv-2024-naik-jadi-17136
  33. UNAIDS. Status of HIV Programmes in Indonesia. Geneva: UNAIDS; Februari 2025. Tersedia dari: https://www.unaids.org/en/resources/presscentre/featurestories/2025/february/20250224_indonesia_fs
  34. Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia 2025. Jakarta: BPS; 2025.
  35. Dlamini NS, Chiao C, Lin WH. Do risky sexual behaviors mediate the association between non-consensual first sex and HIV among a national sample of sexually active women in Lesotho? J Interpers Violence. 2025. DOI
  36. Indonesia Development Circle. The Dichotomy of Progress: A Look at PrEP in Indonesia. Juli 2025. Tersedia dari: https://indodevcircle.org/the-dichotomy-of-progress-a-look-at-prep-implementation-for-hiv-prevention-in-indonesia
  37. Wang P, Yu X, Zhang B. Enhancing HIV/AIDS knowledge and attitudes through a healthcare-school collaborative model: a study among Shanghai high school students. AIDS Res Ther. 2025;22(1):122. DOI
  38. UNAIDS. Global AIDS Strategy 2021-2026 – End Inequalities. End AIDS. Geneva: UNAIDS; 2021.
  39. UNAIDS. Indonesia – 2024 Global AIDS Update. Juli 2024. Tersedia dari: https://crossroads.unaids.org/story/indonesia/
  40. World Health Organization. Consolidated guidelines on HIV prevention, testing, treatment, service delivery and monitoring. Geneva: WHO; 2021.
  41. UNESCO. International technical guidance on sexuality education. Paris: UNESCO; 2018.

Penting untuk diingat: Menurut PubMed, informasi dalam artikel ini menggunakan data dari berbagai sumber ilmiah terpercaya termasuk jurnal peer-review dan organisasi kesehatan internasional. Pembaca dianjurkan untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional untuk informasi medis yang spesifik dan personal.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

5 tanggapan

  1. Antyo Rentjoko Avatar

    Saya termasuk pro. Bagi saya lebih baik kita realistis saja bahwa promiskuitas berlangsung pada beberapa kalangan. Yang tidak disadari oeh kaum puritan adalah penularan PMS secara "tradisional" juga bisa menggapai mereka. Ibarat baju selalu bersih tapi di jalan raya kan bisa kecipratan mobil. 🙂

    Saya pernah beropini di sini (http://blogombal.org/2007/11/11/kampanye-kondom-nasional/) dan nyentil soal alat uji kehamilan di sini (http://blogombal.org/2008/04/15/tes-kehamilan-untuk-siapa/).

    Maaf dengan pelampiran tautan, maksud saya supaya tak perlu menyesaki kotak komen ini dengan hal yang sama dengan artikel saya. 🙂

    Suka

  2. Agung Pushandaka Avatar
    Agung Pushandaka

    Ya, saya mengerti pro kontra kampanye kondom ini. Keduanya sama-sama bagus, tapi targetnya harus dibedakan.

    Kampanye kondom dilakukan kepada mereka yang sudah berusia dewasa. Misalnya dilakukan dengan iklan layanan masyarakat di majalah dewasa, mendatangi klub malam, pub atau diskotik, dsb. Sementara kampanye anti seks bebas dilakukan kepada remaja yang beranjak dewasa, seperti pelajar di sekolah.

    Suka

  3. TuSuda Avatar
    TuSuda

    untuk hal2 yg sensitif mesti dipromosikan kepada sasaran audience, waktu dan tempat yg tepat.

    Suka

  4. Padly Avatar
    Padly

    @Iskandaria

    Yeah… terserah saja dah. Mau dibilang pikiran dangkal atau goblok sekalipun, aku masih berfikiran begitu… bahwa membagi-bagikan kondom pada kampanye anti HIV/AIDS adalah suatu cara terselubung para penjahat agama manapun (kecuali agamanya memang melegalkan) untuk melegalkan free sex.

    Aku takut… suatu saat bangsa ini akan mengalami seperti apa yang terjadi dengan Sodom dan Gommorah.

    Suka

  5. iskandaria Avatar
    iskandaria

    Itulah kalau belum apa-apa sudah langsung curiga dan menilai negatif. Logika berpikirnya terlalu dangkal. Penggunaan kondom dinilai bisa memacu seks bebas. Padahal itu cuma kekhawatiran yang kurang beralasan.

    Mungkin tidak banyak yang punya pandangan sejauh seperti yang mas Cahya tulis di atas. Yang menolak kampanye penggunaan kondom nggak mikir bahwa tujuan utamanya ialah untuk menyelamatkan para pelaku seks bebas itu sendiri dari kemungkinan terinfeksi HIV.

    Yang dipikirkan cuma potensi terjadinya seks bebas oleh mereka yang belum melakukan atau semakin mendorong yang sudah melakukan untuk terus melakukan.

    Kalau itu mah masalahnya lain lagi kali ya.

    Suka

Tinggalkan Balasan ke Agung Pushandaka Batalkan balasan