- Pendahuluan
- Efektivitas Kondom: Bukti Ilmiah Terkini
- Kesalahpahaman tentang Kampanye Kondom
- Dimensi Hak Asasi Manusia yang Terlupakan
- Landscape Pencegahan HIV Kontemporer
- Data HIV/AIDS di Indonesia: Urgensi Tindakan Komprehensif
- Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Pencegahan HIV
- Pendekatan Komprehensif: Jalan Tengah yang Realistis
- Kesimpulan
- Catatan Kaki
- Referensi
Pendahuluan
Lebih dari empat dekade sejak Human Immunodeficiency Virus¹ (HIV) pertama kali diidentifikasi, dunia masih berjuang menghadapi epidemi yang terus berkembang. Di Indonesia, situasinya mengkhawatirkan: estimasi menunjukkan sekitar 503.000-570.000 orang hidup dengan HIV pada tahun 2024, menempatkan Indonesia di urutan ke-14 dunia dalam jumlah kasus HIV.1,2 Sepanjang tahun 2024, Kementerian Kesehatan mencatat 63.707 kasus HIV positif dan 21.536 kasus AIDS3,4—angka tertinggi dalam satu dekade terakhir.
Di tengah angka-angka yang memprihatinkan ini, kampanye kondom sebagai salah satu metode pencegahan HIV sering menuai kontroversi. Perdebatan tidak sekadar tentang efektivitas medis, melainkan juga menyentuh dimensi etika, nilai sosial, dan hak asasi manusia. Artikel ini mengkaji kembali pro-kontra kampanye kondom dengan perspektif yang lebih luas, didukung oleh bukti ilmiah terkini dan pemahaman tentang kompleksitas pencegahan HIV di masyarakat.
Efektivitas Kondom: Bukti Ilmiah Terkini
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa kondom, ketika digunakan secara konsisten dan benar, memiliki efektivitas 98% dalam mencegah penularan HIV.5 Data UNAIDS menunjukkan bahwa peningkatan penggunaan kondom sejak tahun 1990 telah mencegah diperkirakan 117 juta infeksi HIV baru secara global—hampir setengahnya (47%) di Afrika sub-Sahara dan lebih dari sepertiga (37%) di Asia dan Pasifik.6
Penelitian meta-analisis yang dipublikasikan oleh Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat menemukan bahwa penggunaan kondom secara konsisten mengurangi risiko penularan HIV sebesar 70-95%, tergantung pada populasi dan jenis hubungan seksual.7,8 Studi yang lebih spesifik menunjukkan bahwa pengguna kondom konsisten memiliki risiko 10-20 kali lebih kecil untuk terinfeksi HIV dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan kondom atau menggunakan secara tidak konsisten.9
Penting untuk memahami bahwa tidak ada metode pencegahan yang memberikan perlindungan 100%. Namun, efektivitas 90-98% dengan penggunaan yang benar menjadikan kondom sebagai salah satu alat pencegahan HIV yang paling terjangkau dan dapat diakses saat ini.10
Kesalahpahaman tentang Kampanye Kondom
Mitos: Kampanye Kondom Melegalkan Perilaku Seks Bebas
Salah satu kritik paling umum terhadap kampanye kondom adalah kekhawatiran bahwa pembagian kondom gratis atau promosi penggunaannya seolah-olah memberikan “lampu hijau” untuk perilaku seks bebas. Namun, pandangan ini perlu diluruskan dengan beberapa fakta penting:
Pertama, perilaku seksual seseorang tidak ditentukan oleh ketersediaan kondom, melainkan oleh kompleksitas faktor psikologis, sosial, ekonomi, dan budaya yang jauh lebih mendalam. Penelitian menunjukkan bahwa akses terhadap kondom dan edukasi penggunaannya tidak meningkatkan aktivitas seksual atau mendorong perilaku berisiko, bahkan di kalangan remaja.11
Kedua, kampanye kondom bukanlah satu-satunya strategi pencegahan HIV. WHO dan UNAIDS mempromosikan pendekatan komprehensif yang mencakup: abstinence† (tidak melakukan hubungan seksual), being faithful‡ (setia pada satu pasangan), dan condom use§ (penggunaan kondom)—yang dikenal dengan strategi ABC.12 Kampanye kondom bukan pengganti dari edukasi mengenai penundaan aktivitas seksual atau kesetiaan dalam hubungan, melainkan pelengkap yang realistis menghadapi kenyataan bahwa tidak semua orang akan atau mampu mengikuti dua pendekatan pertama.
Ketiga, target utama kampanye kondom adalah populasi kunci** yang memiliki risiko tinggi terpapar HIV, termasuk: pekerja seks komersial, lelaki yang berhubungan seksual dengan lelaki (LSL), pengguna narkoba suntik, waria, dan pasangan dari orang dengan HIV (ODHIV).13 Data menunjukkan bahwa di Indonesia, 60% kasus HIV terjadi pada kelompok usia produktif 25-49 tahun, dan 19% pada kelompok usia 20-24 tahun.14
Dimensi Hak Asasi Manusia yang Terlupakan
Salah satu aspek paling krusial namun sering diabaikan dalam perdebatan kampanye kondom adalah hak asasi ODHIV. Menolak kampanye kondom secara tidak langsung melakukan diskriminasi terhadap mereka yang hidup dengan HIV/AIDS.
Hak ODHIV untuk Hidup Normal
ODHIV memiliki hak fundamental untuk menjalani kehidupan yang bermartabat, termasuk dalam aspek kehidupan seksual dan reproduksi. Tema Hari AIDS Sedunia 2024, “Take The Rights Path: Hak Setara Untuk Semua,”15 menekankan bahwa setiap orang—termasuk ODHIV—berhak atas layanan kesehatan yang memadai tanpa diskriminasi.
Kondom menjadi alat penting bagi ODHIV untuk:
- Melindungi pasangan yang belum terinfeksi HIV (serodiscordant couples¶)
- Mencegah reinfeksi dengan strain HIV yang berbeda atau resisten obat
- Melindungi dari infeksi menular seksual (IMS) lain yang dapat memperburuk kondisi kesehatan mereka
Bahkan untuk sesama ODHIV yang menjalani terapi antiretroviral¶¶ (ARV) dan telah mencapai viral load†† yang tidak terdeteksi (undetectable = untransmittable atau U=U),16 penggunaan kondom tetap dianjurkan untuk mencegah IMS dan sebagai perlindungan tambahan.
Realitas Penularan HIV yang Kompleks
Tidak semua ODHIV terinfeksi melalui perilaku seks bebas atau penggunaan narkoba. Banyak yang terinfeksi melalui:
- Penularan dari pasangan dalam pernikahan yang tidak diketahui status HIV-nya
- Transfusi darah yang terkontaminasi
- Penularan dari ibu ke anak (mother-to-child transmission‡‡)
- Kekerasan seksual
Menyalahkan atau mendiskriminasi ODHIV—apapun jalur penularannya—adalah pelanggaran terhadap martabat kemanusiaan. Data menunjukkan bahwa stigma dan diskriminasi menjadi penghalang utama untuk mengakhiri epidemi HIV, menghambat orang untuk melakukan tes, mengakses pengobatan, dan mematuhi terapi ARV.17
Landscape Pencegahan HIV Kontemporer
Pencegahan HIV telah berkembang jauh melampaui sekadar promosi kondom. Saat ini tersedia berbagai metode pencegahan yang dapat dikombinasikan untuk memberikan perlindungan optimal:
1. Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP)
PrEP adalah obat antiretroviral yang dikonsumsi oleh orang yang negatif HIV namun berisiko tinggi terpapar virus. Ketika diminum sesuai anjuran, PrEP memiliki efektivitas lebih dari 90% dalam mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual.18
Indonesia meluncurkan program pilot PrEP pada tahun 2021 di 7 provinsi, kemudian diperluas menjadi 10 provinsi pada tahun 2023, dan secara resmi diintegrasikan ke dalam program nasional HIV pada tahun 2024.19,20 Petunjuk Teknis Kementerian Kesehatan RI tahun 2023 menyediakan panduan komprehensif untuk implementasi PrEP di fasilitas layanan kesehatan.21
Penting untuk dipahami bahwa PrEP bukan pengganti kondom, melainkan pelengkap. PrEP tidak melindungi dari IMS lainnya seperti gonore, sifilis, atau klamidia. Kombinasi PrEP dan penggunaan kondom konsisten memberikan perlindungan maksimal.22
2. Undetectable = Untransmittable (U=U)
ODHIV yang menjalani terapi ARV secara konsisten dan mencapai viral load yang tidak terdeteksi memiliki risiko nol untuk menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.23 Konsep U=U ini telah mengubah paradigma pencegahan HIV dan mengurangi stigma terhadap ODHIV.
Target global 95-95-95 yang ditetapkan UNAIDS bertujuan agar pada tahun 2030: 95% ODHIV mengetahui status mereka, 95% yang mengetahui statusnya mendapat pengobatan ARV, dan 95% yang mendapat pengobatan mengalami supresi virus.24 Indonesia berkomitmen mencapai target ini pada tahun 2027.25
3. Sirkumsisi Medis Pria Sukarela
Sirkumsisi medis telah terbukti mengurangi risiko penularan HIV dari perempuan ke laki-laki sebesar sekitar 60%.26 Namun, perlindungan ini tidak sempurna dan tetap memerlukan kombinasi dengan metode pencegahan lainnya.
4. Post-Exposure Prophylaxis (PEP)
PEP adalah pengobatan darurat yang dimulai dalam 72 jam setelah kemungkinan terpapar HIV, misalnya setelah kekerasan seksual atau kondom bocor. PEP diberikan selama 28 hari dan sangat efektif jika dimulai sesegera mungkin.27
Data HIV/AIDS di Indonesia: Urgensi Tindakan Komprehensif
Situasi HIV/AIDS di Indonesia menunjukkan tren yang mengkhawatirkan:
- Estimasi ODHIV hidup tahun 2024: 503.261-570.000 orang28,29
- Kasus baru HIV tahun 2024: 35.415-63.707 kasus30,31
- Kasus baru AIDS tahun 2024: 12.481-21.536 kasus31
- Kasus TB-HIV tahun 2024: 17.136 kasus, meningkat dari 15.375 kasus di tahun 202232
- Cakupan pengobatan: Hanya 31% ODHIV mengakses terapi ARV33
- Supresi viral: Hanya 14% ODHIV mencapai viral load tidak terdeteksi33
Data ini menunjukkan kesenjangan signifikan antara jumlah ODHIV dengan mereka yang mengetahui status dan mendapat pengobatan. Stigma, diskriminasi, dan keterbatasan akses layanan menjadi hambatan utama.
Distribusi kasus HIV menurut provinsi pada tahun 2024 menunjukkan Jawa Timur memiliki jumlah tertinggi (9.359 kasus AIDS baru atau 16% dari total nasional), diikuti oleh provinsi-provinsi lainnya.34
Tantangan dan Hambatan dalam Implementasi Pencegahan HIV
1. Stigma dan Diskriminasi
Stigma terhadap ODHIV dan populasi kunci tetap menjadi penghalang terbesar. Penelitian menunjukkan bahwa ODHIV sering menghadapi diskriminasi dalam bentuk dijauhi, dikucilkan dari lingkungan, bahkan kesulitan mengakses layanan kesehatan.35
2. Keterbatasan Sumber Daya
Program pencegahan HIV di Indonesia sangat bergantung pada pendanaan internasional. Global Fund mengalokasikan $102 juta untuk tiga tahun (2024-2026) untuk 178 distrik prioritas HIV di Indonesia, sementara pemerintah AS melalui USAID menyediakan $11 juta per tahun.33 Kondom, PrEP, dan alat tes mandiri HIV sebagian besar disediakan melalui dukungan Global Fund dan USAID.33
3. Akses Layanan yang Tidak Merata
Layanan pencegahan HIV, termasuk akses PrEP dan kondom, masih terkonsentrasi di kota-kota besar. Wilayah rural dan terpencil menghadapi tantangan aksesibilitas yang signifikan.36
4. Pengetahuan yang Masih Terbatas
Studi di Shanghai menunjukkan bahwa meskipun 91,6% siswa SMA mengetahui jalur penularan HIV, hanya 75,88% yang memahami jalur non-penularan. Edukasi komprehensif meningkatkan pengetahuan secara signifikan, termasuk pemahaman tentang efektivitas kondom.37
Pendekatan Komprehensif: Jalan Tengah yang Realistis
Menghadapi kompleksitas epidemi HIV, diperlukan pendekatan multifaset yang mengintegrasikan berbagai strategi:
1. Kombinasi Pencegahan (Combination Prevention)
UNAIDS merekomendasikan pendekatan kombinasi yang mencakup:
- Pencegahan biomedis: Kondom, PrEP, PEP, sirkumsisi medis, pengobatan ARV untuk U=U
- Pencegahan perilaku: Edukasi kesehatan reproduksi, konseling, pengurangan risiko
- Pencegahan struktural: Penghapusan stigma, reformasi kebijakan diskriminatif, penguatan sistem kesehatan38
2. Layanan Berbasis Komunitas
Organisasi berbasis komunitas memainkan peran krusial dalam menjangkau populasi kunci. Pendekatan peer-to-peer§§ terbukti lebih efektif karena membangun kepercayaan dan mengurangi stigma.39
3. Integrasi Layanan Kesehatan
Integrasi skrining dan pengobatan HIV dengan layanan kesehatan lainnya—termasuk TB, hepatitis, IMS, dan kesehatan reproduksi—meningkatkan akses dan efisiensi.40
4. Pendidikan Kesehatan Seksual Komprehensif
Edukasi yang dimulai sejak dini, disesuaikan dengan usia, dan mencakup aspek biologis, psikologis, sosial, dan etika terbukti efektif dalam membentuk perilaku seksual yang bertanggung jawab.41
Kesimpulan
Kampanye kondom bukanlah solusi tunggal untuk epidemi HIV/AIDS, tetapi merupakan komponen esensial dari strategi pencegahan yang komprehensif. Bukti ilmiah secara konsisten menunjukkan efektivitas kondom dalam mengurangi penularan HIV ketika digunakan dengan benar dan konsisten.
Menolak kampanye kondom dengan alasan moral tanpa menyediakan alternatif pencegahan yang efektif adalah sikap yang tidak realistis dan berpotensi meningkatkan penularan HIV. Lebih dari itu, penolakan tersebut secara tidak langsung mendiskriminasi ODHIV dan melanggar hak asasi mereka untuk hidup bermartabat.
Pendekatan yang seimbang mengakui bahwa:
- Idealisme dan realisme harus berjalan beriringan: Mendorong perilaku seksual yang bertanggung jawab sambil menyediakan alat pencegahan bagi mereka yang berisiko
- Hak asasi manusia tidak bisa dikompromikan: ODHIV berhak mendapat dukungan, bukan diskriminasi
- Kombinasi strategi lebih efektif: Kondom, PrEP, U=U, edukasi, dan penghapusan stigma harus berjalan simultan
- Sains harus memandu kebijakan: Keputusan kesehatan masyarakat harus berbasis bukti, bukan asumsi
Dalam konteks Indonesia yang menghadapi peningkatan kasus HIV di kalangan usia produktif, komitmen untuk mencapai target 95-95-95, dan tantangan aksesibilitas layanan, kampanye kondom—bersama dengan metode pencegahan HIV lainnya—menjadi semakin urgent. Hanya dengan pendekatan yang komprehensif, inklusif, dan berbasis bukti ilmiah, kita dapat berharap mencapai tujuan global “Akhiri AIDS 2030.”
Catatan Kaki
¹ Human Immunodeficiency Virus (HIV): Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, khususnya sel CD4, sehingga melemahkan kemampuan tubuh melawan infeksi
† Abstinence: Tidak melakukan hubungan seksual sama sekali
‡ Being faithful: Kesetiaan pada satu pasangan seksual
§ Condom use: Penggunaan kondom saat berhubungan seksual
** Populasi kunci: Kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terpapar HIV karena perilaku atau kondisi sosial tertentu
¶ Serodiscordant couples: Pasangan di mana satu orang HIV positif dan pasangannya HIV negatif
¶¶ Terapi antiretroviral (ARV): Pengobatan menggunakan kombinasi obat-obatan yang menghambat replikasi virus HIV
†† Viral load: Jumlah virus HIV dalam darah
‡‡ Mother-to-child transmission: Penularan HIV dari ibu kepada bayinya, bisa terjadi saat kehamilan, persalinan, atau menyusui
§§ Peer-to-peer: Pendekatan pendidikan atau dukungan dari sesama anggota kelompok yang memiliki pengalaman atau latar belakang serupa
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI. Laporan Penilaian Risiko Cepat 2024. Jakarta: Kemenkes RI; 2024.
- Indonesia.go.id. Hari AIDS Sedunia 2024: Hak Setara Untuk Semua. Tersedia dari: https://indonesia.go.id/kategori/editorial/8833/hari-aids-sedunia-2024-hak-setara-untuk-semua
- CNN Indonesia. Kemenkes Catat 35 Ribu Kasus HIV Baru Sepanjang 2024. 2024 Des. Tersedia dari: https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20241202104452-255-1172755/kemenkes-catat-35-ribu-kasus-hiv-baru-sepanjang-2024
- Databoks Katadata. Indonesia’s Reported HIV Positive and AIDS Cases Reach Record High in 2024. Oktober 2025. Tersedia dari: https://databoks.katadata.co.id/en/consumer-services/statistics/68ef4c14e8706
- World Health Organization. Condoms – Fact Sheets. Geneva: WHO; 2025. Tersedia dari: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/condoms
- UNAIDS. Condoms. Geneva: UNAIDS; 2025. Tersedia dari: https://www.unaids.org/en/keywords/condoms
- Smith DK, Herbst JH, Zhang X, Rose CE. Condom effectiveness for HIV prevention by consistency of use among men who have sex with men in the United States. J Acquir Immune Defic Syndr. 2015;68(3):337-344.
- Centers for Disease Control and Prevention. HIV Risk and Prevention Estimates. Atlanta: CDC; 2024. Tersedia dari: https://www.cdc.gov/hivpartners/php/riskandprevention/
- International Association of Providers of AIDS Care. Condoms – Fact Sheet. Tersedia dari: https://www.iapac.org/fact-sheet/condoms/
- Aidsmap. Do condoms work? London: NAM Publications; 2024. Tersedia dari: https://www.aidsmap.com/about-hiv/do-condoms-work
- Wang P, Yu X, Zhang B. Enhancing HIV/AIDS knowledge and attitudes through a healthcare-school collaborative model: a study among Shanghai high school students. AIDS Res Ther. 2025;22(1):122. DOI
- World Health Organization. Global health sector strategy on HIV, Hepatitis and Sexually Transmitted Infections, 2022–2030. Geneva: WHO; 2022.
- Kementerian Kesehatan RI. Petunjuk Teknis Tatalaksana Program Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP) untuk Orang dengan Risiko Tinggi Terinfeksi HIV di Indonesia. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
- Detikhealth. Data Kasus HIV menurut Kelompok Usia 2024. Jakarta; 2024.
- World Health Organization. World AIDS Day 2024: Take The Rights Path. Geneva: WHO; 2024.
- Cohen MS, Chen YQ, McCauley M, et al. Prevention of HIV-1 infection with early antiretroviral therapy. N Engl J Med. 2011;365(6):493-505.
- UNAIDS. 2024 Global AIDS Update – The Urgency of Now. Geneva: UNAIDS; 2024.
- China CDC Weekly. Synergizing Digital and Physical Approaches: Experience Summary of the HIV PrEP Promotion Project. 2025;8. Tersedia dari: https://weekly.chinacdc.cn/en/article/doi/10.46234/ccdcw2025.012
- Jocelyn, Nasution FM, Nasution NA, et al. HIV/AIDS in Indonesia: current treatment landscape, future therapeutic horizons, and herbal approaches. Front Public Health. 2024;12:1298297. DOI
- IJID Regions. HIV incidence and adherence after pre-exposure prophylaxis initiation in key populations in Indonesia: Findings from a real-world pilot program 2021-2023. 2025. Tersedia dari: https://regions.ijidonline.org/article/S2772-7076(25)00008-6/fulltext
- Ministry of Health Republic of Indonesia. Technical Instructions for the Management of the Oral Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) Program. Jakarta: Kemenkes RI; 2023.
- Bridge Connect Africa. Condoms, Consent & Conversations: What Every Young Person Should Know About HIV. 2025. Tersedia dari: https://health.bridgeconnectafrica.org/2025/06/05/condoms-consent-conversations
- Eisinger RW, Dieffenbach CW, Fauci AS. HIV viral load and transmissibility of HIV infection: undetectable equals untransmittable. JAMA. 2019;321(5):451-452.
- UNAIDS. 95-95-95 Targets. Geneva: UNAIDS; 2023.
- Dinas Kesehatan Provinsi Lampung. Pertemuan Penggalangan Komitmen Pencapaian Target Viral Load HIV Tahun 2024. September 2024. Tersedia dari: https://dinkes.lampungprov.go.id/pertemuan-penggalangan-komitmen-pencapaian-target-viral-load-hiv-tahun-2024/
- World Health Organization. Male circumcision for HIV prevention. Geneva: WHO; 2023.
- Centers for Disease Control and Prevention. Preventing HIV with PEP. Atlanta: CDC; 2024.
- Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Hari AIDS Sedunia 2024. Jakarta: Setjen Kemenkes; 2024. Tersedia dari: https://setjen.kemkes.go.id/berita/detail/hari-aids-sedunia-2024
- BPS Kabupaten Lampung Tengah. Hari AIDS Sedunia 2024. Desember 2024.
- Salihu HM, Murtala AM, Abdullahi AA, et al. Risks and predictors of HIV infection among adolescents in conflict regions of Nigeria. Int J Adolesc Med Health. 2025. DOI
- Databoks Katadata. Indonesia Reports 58,000 New AIDS Cases in 2024. Maret 2025.
- ANTARA News. Kemenkes: Kasus TB HIV 2024 naik jadi 17.136. Jakarta: ANTARA; Januari 2025. Tersedia dari: https://www.antaranews.com/berita/4607178/kemenkes-kasus-tb-hiv-2024-naik-jadi-17136
- UNAIDS. Status of HIV Programmes in Indonesia. Geneva: UNAIDS; Februari 2025. Tersedia dari: https://www.unaids.org/en/resources/presscentre/featurestories/2025/february/20250224_indonesia_fs
- Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia 2025. Jakarta: BPS; 2025.
- Dlamini NS, Chiao C, Lin WH. Do risky sexual behaviors mediate the association between non-consensual first sex and HIV among a national sample of sexually active women in Lesotho? J Interpers Violence. 2025. DOI
- Indonesia Development Circle. The Dichotomy of Progress: A Look at PrEP in Indonesia. Juli 2025. Tersedia dari: https://indodevcircle.org/the-dichotomy-of-progress-a-look-at-prep-implementation-for-hiv-prevention-in-indonesia
- Wang P, Yu X, Zhang B. Enhancing HIV/AIDS knowledge and attitudes through a healthcare-school collaborative model: a study among Shanghai high school students. AIDS Res Ther. 2025;22(1):122. DOI
- UNAIDS. Global AIDS Strategy 2021-2026 – End Inequalities. End AIDS. Geneva: UNAIDS; 2021.
- UNAIDS. Indonesia – 2024 Global AIDS Update. Juli 2024. Tersedia dari: https://crossroads.unaids.org/story/indonesia/
- World Health Organization. Consolidated guidelines on HIV prevention, testing, treatment, service delivery and monitoring. Geneva: WHO; 2021.
- UNESCO. International technical guidance on sexuality education. Paris: UNESCO; 2018.
Penting untuk diingat: Menurut PubMed, informasi dalam artikel ini menggunakan data dari berbagai sumber ilmiah terpercaya termasuk jurnal peer-review dan organisasi kesehatan internasional. Pembaca dianjurkan untuk selalu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan profesional untuk informasi medis yang spesifik dan personal.

Tinggalkan Balasan ke Antyo Rentjoko Batalkan balasan