A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Salah satu fungsi blog yang banyak digunakan oleh narablog adalah sebagai buku harian. Saya percaya bahwa blog bisa menjadi alternatif dari sebuah diary yang ditulis dan dibawa ke mana-mana. Tunggu dulu, rasanya saya pernah menulis seperti ini sebelumnya, ah…, tapi sudahlah, biar saya menulisnya kembali.

Saya membayangkan diri saya duduk di sebuah bus dalam perjalanan panjang menuju rumah. Jika saya ingin mencatat perjalanan saya itu pada sebuah lembaran, tentunya akan sangat nyaman jika kita memiliki buku harian. Atau di sisi lain, saya akan mengambil ponsel mungil saya, mengetik beberapa kalimat dan push it through email, dan saya sudah menulis buku harian saya secara daring.

Saya sudah lama menggunakan layanan Posterous untuk mengelola buku harian secara daring, hanya saja tidak selalu saya gunakan. Tidak banyak alasan khusus, hanya saja Posterous lebih mudah digunakan untuk fungsi-fungsi seperti ini, pengiriman tulisan via surel-pun lebih terjamin keamanannya.

l'énigme

Buku harian apapun bentuknya, sebenarnya bukan konsumsi publik namun tidak mesti menjadi hal yang super confidential, sehingga blog sebagai sebuah catatan/buku harian bukanlah sesuatu yang pas untuk dipromosikan atau dielu-elukan untuk diikuti – siapa juga yang tertarik menjadi diary follower – nanti justru menciptakan kultus yang tidak sehat.

Itulah mengapa saya membuat blog sebagai sebuah buku catatan secara terpisah dari blog di mana saya menuangkan ide-ide yang memang sengaja saya bagikan, seperti tulisan ini misalnya.

Namun tentunya saya tidak berkata bahwa narablog yang mencampur adukan tulisan yang berupa catatan harian dan tuangan idenya ke dalam satu blog itu tidak benar. Ada banyak narablog yang mampu menuangkan catatan hariannya dan meramunya dengan pemikiran-pemikiran unik sehingga nyaman dibaca, sebut saja salah satu, misalnya yang gurih untuk dibaca adalah “Blogombal” yang diracik oleh Antyo Rentjoko.

Bagi saya pribadi, catatan harian hanya sekadar mengisi kekosongan waktu dan menulis kembali apa yang baru saja dilewati. Itu hanya akan menjadi sebuah kubangan celoteh yang tidak bermakna, tertitip waktu untuk kemudian ditinggalkan oleh perjalanan hidup di lembaran yang baru.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

15 tanggapan

  1. Avatar Abu Furqan
    Abu Furqan

    Saya termasuk penganut 'anti curhat pribadi' di blog.

    Salam kenal,

    Abu Furqan

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca